Saturday, March 17, 2007

Belajar Bahasa Katalan

Tadinya saya tak mengerti, kenapa sebuah klub sepak bola di Spanyol bernama Espanyol. Bukankah kalau menuruti kaidah bahasa Spanyol yang baik dan benar, klub itu sepatutnya bertuliskan Español (ñ dibaca ny)? Saya juga dibuat bingung singkatan klub Barcelona, Barça. Kan nggak ada huruf ç (dibaca s) dalam bahasa Spanyol?
Sebelum bertolak ke Barcelona akhirnya saya mengerti, Espanyol dan Barça itu termasuk dalam bahasa Katalan. Bahasa yang sebenarnya sudah saya kenal sejak kecil, tepatnya sejak membaca seri anak-anak Tini - jangan-jangan sejak TK, ya? -, yang selain diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, juga 95 bahasa lain berikut Katalan. FYI, saya pun belum lama tahu kalau di Spanyol juga ada bahasa Basque dan Galicia. Nah, 5 hari sebelum berangkat ke BCN, pacar teman saya, seorang Jerman bernama Wolfgang, memberi tahu, bahasa Katalan itu ibarat duet antara bahasa Prancis dan Spanyol.
Wolf ada benarnya. Sortida, atau jalan keluar dalam bahasa Katalan, perpaduan antara sortie-nya bahasa Prancis dan salida-nya bahasa Spanyol. Tapi nggak mesti begitu, sih. Intinya, kalau tahu salah satu dari sekian bahasa yang berakar pada bahasa Latin - percaya deh, sebaiknya bahasa Prancis -, nggak bakal susah mengidentifikasi yang lainnya. Saat lewat area Passeig de Gracia dengan Vicki, seorang penggila klub Barcelona memberikan poster bertuliskan Felicitats Campions, sebagai ungkapan kegembiraan atas keberhasilan Barcelona menjuarai Liga Spanyol malam sebelumnya. Kalau dalam bahasa Spanyol, mestinya poster itu bertuliskan Felicidades Campeón. Di sepanjang tur di Barcelona, saya jadi rajin memperhatikan tulisan berbahasa Katalan. Benvinguts, ciutat, els, tant, estadi, tot, barri, carrer, estació, mercat, caixa, itulah antara lain kata dalam bahasa Katalan yang saya lihat. Hihihi, kalau saya ingat, lucu juga saya berusaha mengartikan setiap kata dalam bahasa Katalan. Saya sempat menangkap maksud yang disampaikan seorang petugas metro di stasiun, stasiun apa ya, Catalunya mungkin, yang mengatakan metro tidak melewati stasiun tertentu karena ada perbaikan. Waktu itu saya banggaaaaaaa sekali. Ya pastilah, soalnya saya kan nggak pernah belajar bahasa Katalan.
Sejak saat itu, saya tergila-gila pada bahasa Katalan. Pada dasarnya saya suka bahasa, tapi nggak banget kalau bahasa Jepang. Bukan trio huruf Hiragana-Katakana-Kanji yang bikin pusing, melainkan tata bahasanya. Habis beda dengan bahasa Indonesia dan Inggris - juga Prancis dkk -, objek kok letaknya mendahului predikat! Eh, kok jadi ngawur ngomongin bahasa Jepang? Ya sudah, kembali ke bahasa Katalan. Saking senangnya pada bahasa itu, saya suka menggunakannya dalam blog atau situs jaringan sosial seperti MySpace. Sampai-sampai seorang kenalan saya di MySpace bertanya, "Kau bisa bicara bahasa Katalan?" Ya nggaklah. Wong bahasa Spanyol saja belum becus, Katalan lagi.

10 Euro Cuma Buat Beli Sayur

"Saya hanya membelanjakan 10 euro untuk semua ini," seorang cewek London berkata pada saya sehabis membeli sayur-mayur di La Boqueria, pasar paling terkenal di Barcelona. "I am so proud of myself!"
"Apa? Kau butuh waktu 15 jam dari Paris ke Barcelona dengan naik bus? Kenapa tidak naik pesawat?" usul seorang cewek London lain.
FYI, pendapatan per kapita Indonesia belum pernah menyamai, bahkan mengungguli Inggris, dalam sejarah. Lagian, 10 euro cuma buat sayur yang isinya nggak lebih dari tomat dan lalap-lalapan (a.k.a. salad)?

Bisakah Kami Duduk di Luar?

Podemos sentarnos afuera? (Bisakah kami duduk di luar?)
Cuma itu kata-kata dalam bahasa Spanyol yang saya praktekkan waktu mengunjungi Barcelona - tentu saja di luar ungkapan standar macam hola (halo), gracias (terima kasih), dan buenos días (selamat pagi/siang). Saya mengucapkan kata-kata di atas waktu menanyai seorang pramusaji di sebuah kafe di belakang La Sagrada Familia, Katedral yang sangat sangat sangat unik di tengah kota Barcelona. Penginnya sih saya berkata lebih dari itu. Tapi karena saya jalan-jalan bareng Vicki yang Newyorker, rasanya lebih mudah mengobrol dalam bahasa Inggris dong (banyak alasan. Ngaku aja nggak pede, hehehe).
Eh, tunggu. Saya juga mengucapkan kata-kata lain, kok. Seperti pada seorang penyapu jalanan di Plaça Catalunya dan seorang pramusaji di sebuah kafe di La Rambla. Tapi saya nggak ingat apa persisnya yang saya ucapkan, mengingat waktu itu saya terlalu lelah mencari di mana hostel saya. Juga pada seorang pelayan restoran lokal - saya mewanti-wantinya agar tidak menambahkan daging merah ke dalam makanan saya (sin carne rojo, por favor).
Kangen juga nih ngoceh dalam bahasa Spanyol. Bahasa Spanyol saya sih belum bagus-bagus amat - tanya deh sama Julio Iglesias, yang saya wawancarai beberapa bulan lalu -, tapi ya lebih bagus dibanding 6,5 tahun lalu, ketika saya mendarat di Mexico City dengan perbendaharaan kata amat amat minim. Mudah-mudahan saya bisa balik ke Barcelona - di mana sajalah, selama masih di Spanyol. Di mana saja, walaupun Barcelona dan Córdoba rasanya akan lebih menyenangkan.

Barcelona=Bombay?

"Dalam 20 tahun, London bakal jadi Bombay!" teman saya, Manda, meyakinkan sekitar 3 tahun lalu.

***

Tiba-tiba, dua pria yang berdiri di depan saya - salah satunya kenalan saya, Phanindra - bertukar kata dalam bahasa yang asing buat saya. Saya tak mengerti sepatah kata pun - kedengarannya seperti mereka sedang merapalkan mantra. Apa mereka berbicara dalam bahasa Hindi? Maksud saya, Phanindra berasal dari India.
"Tahu nggak, pemilik hostel ini," Phanindra merujuk pada pria yang barusan diajaknya bicara, selagi kami keluar dari hostelnya yang mungil tapi manis, Sun & Moon, "ternyata orang India. Itu sebabnya kau tak paham apa yang kami bicarakan." Karena pria itu tak bisa memenuhi kebutuhan Phanindra, yakni sebuah kamar kosong, dia memberi referensi ke hostel lain. Yang kebetulan juga dimiliki seorang India.
Di mana saya?
Bombay? Saya belum berencana ke India, jadi jawabannya NGGAK.
London? NGGAK banget (eh, bukan karena banyak orang India, lho. Tapi apa ciri khas London? Big Ben? Di Bukittinggi juga ada Jam Gadang). Mendingan saya balik ke Paris.
Ummm, ngomong-ngomong, saya di Barcelona. Barcelona yang di Spanyol itu.

***

Sumpah, banyak banget India di BCN. Saya mulanya kaget. Teman saya memang telah memberitahukan soal besarnya komunitas mereka di London. Dan sepanjang perjalanan Paris-Barcelona dengan bus Eurolines, saya mengobrol dengan dua pria India - salah satunya Phanindra - jadi saya rasa cukup. Bukan berarti tak menyenangkan - ya ampun, betapa membosankannya menempuh 15 jam perjalanan tanpa teman mengobrol. Kedua pria itu, bak orang Asia umumnya, sangat ramah dan sopan. Bahkan berwawasan luas, kelihatan dari cara mereka bicara dan yang mereka bicarakan. Kalau nggak salah, mereka dikirim badan sosial negeri mereka ke Paris buat penelitian. Salah satunya - saya lupa namanya, Vijay? Udah deh jangan ngarang - sempat menyatakan keinginan buat bekerja di dunia politik. Kendati menurutnya dunia politik India carut-marut, toh itu dianggapnya tantangan. Tapi mereka tak serius-serius amat. Begitu saya ceritakan soal pekerjaan saya di media hiburan, mereka kontan meributkan soal perangai artis-artis Bollywood, seperti Aishwarya Rai dan Viveik Oberoi yang mereka nilai menyebalkan.
Masalahnya, saya nggak pernah membayangkan ada begitu banyak orang India di Barcelona! Mereka ada di mana-mana. Sebagian terjun dalam bisnis hostel dan warung shwarma di La Rambla. Sebagian lagi, sepengetahuan dan sepenglihatan saya, menggelar dagangan berupa aksesoris wanita seperti pashmina. Entah di tepi pantai Barceloneta atau di kawasan elite Passeig de Gracia - kayaknya sih yang terakhir pedagang ilegal. Belum cukup? Saat saya berfoto di depan Parc Güell, tanpa saya sadari seorang cowok India ikutan nampang. Halah!

Friday, March 16, 2007

Bon Viatge!

Bon viatge!
Maksudnya, have a nice trip atau bon voyage dalam bahasa Prancis. Mirip versi Prancisnya, yah? Bon viatge diambil dari bahasa Katalan, yang masih serumpun dengan bahasa Prancis-Spanyol-Italia-Portugis - bahasa-bahasa ini sama-sama berakar pada bahasa Latin. Malah bahasa Katalan bisa dibilang "adiknya" bahasa Spanyol. Di Spanyol, selain bahasa Spanyol yang memang bahasa nasional, di sejumlah wilayah dipakai bahasa Katalan, Galicia, dan Basque. Nah, bahasa Katalan ini eksis di wilayah Catalunya, yang beribukota Barcelona. Karena saya pernah ke Barcelona, nggak salah dong pakai judul Bon Viatge buat blog ini. Eits, jangan salah, bukan berarti saya mengerti bahasa Katalan. Cara melafalkannya saja saya nggak tahu. Saya suka bahasa ini karena kelihatannya lucu saja. Lucu maksudnya cute gitu, bukan lucu menggelikan.
Blog Bon Viatge ini saya buka buat berbagi soal perjalanan dan pengalaman saya di beberapa negara Eropa. Juga Meksiko - satu-satunya negara di benua Amerika yang 2 kali saya kunjungi, sayang selalu buat urusan pekerjaan. Tapi karena saya bukan frequent traveler, ya nggak banyak negara yang bisa saya bahas di sini. Tapi mudah-mudahan berkenan buat Anda yang kebetulan kesasar ke blog ini.