Saturday, April 7, 2007

Naik-naik ke Puncak... Parc Güell

Kalau saja enggak ada Vicki, entah bagaimana nasib saya di Barcelona.
Di lingkungan saya di Jakarta, saya memang terbilang nekat. Bisa-bisanya keliling Eropa sendiri. Ya bisalah kalau niat dan minat! Soal berani atau tidak, sudah enggak kepikir lagi sama saya. Pokoknya saya mau jalan-jalan di Eropa sendiri, titik. Masalahnya saya enggak terbiasa dengan pola hidup masyarakat Eropa. Makanya, kalau bukan karena jasa Vicki, saya mungkin enggak akan sampai tuh jalan-jalan di Camp Nou dan Parc Güell. Habis saya enggak terbiasa baca peta metro. Eh, mestinya saya lebih hebat, ya, karena sudah menaklukkan angkutan umum di Jakarta yang boro-boro ada petanya, hehehe.
Bersama Vicki, salah satu tujuan wisata kami adalah Parc Güell, taman yang tersusun atas bangunan-bangunan unik kreasi Antonio Gaudi. Nah, dari Camp Nou, atas saran Vicki, kami turun di perhentian metro Lesseps. Kalau mencermati peta metro nih, Lesseps itu sepertinya jaraknya tak jauh dari Parc Güell. Saya setuju. Makin senang kami ketika begitu keluar dari Lesseps membaca petunjuk jalan yang mewartakan, jarak ke Parc Güell hanya 450 meter. "Wah, sepertinya lebih dekat ketimbang jarak dalam peta!" kata saya girang. "Iya, kadang-kadang peta itu menipu," timpal Vicki sepakat.
Apa betul Parc Güell sedekat itu dari Lesseps? Mestinya begitu. Kalau saja kami tidak dihadang kurang lebih 100 anak tangga yang menjulang tinggi! Damn. Begitu berdiri di kaki tangga a.k.a jalan masuk menuju Parc Güell, saya nyaris menjerit histeris. Ya ampun, apa kurang tuh naik-naik ke puncak Sacré Coeur di Paris dan Provins? "Ya ampun, ini yang dimaksud dosen saya!" Maksud saya, Bu Apsanti, yang dulu mengajar saya di Sastra Prancis UI. Dia pernah cerita, disarankan naik bus ke sebuah objek wisata di Spanyol, alih-alih metro. Tapi ia ngeyel dan memutuskan naik metro saja, karena menurutnya lebih simpel. Tentu, ia salah pilih kendaraan, karena seturun dari metro mesti mendaki jalan naik yang menjulang tinggi, yang tidak bakal dialaminya kalau saja menurut naik bus. Dan kalau saja kami naik bus, perhentian kami adalah gerbang utama Parc Güell yang jalan masuknya tidak berupa anak-anak tangga itu. Eh, tapi saya lupa, Bu Apsanti itu terkecoh di Parc Güell atau di Alhambra yang di Granada, ya? Wah, mesti saya cek dulu nih di Granada, apa betul jalan masuknya juga curam. Doain ya mudah-mudahan sebelum akhir tahun ini saya sampai ke Granada : )!
Maka, sambil misuh-misuh saya terpaksa mendaki anak-anak tangga Parc Güell. Untungnya menjelang puncak tersedia fasilitas eskalator. Duh, pemerintah Barcelona ternyata ngertiin kesusahan turis pemalas kayak saya, ya, yang enggak biasa olahraga di Jakarta. Tapi enggak nyesel pakai acara gempor dan ngomel-ngomel dalam rangka menuju Parc Güell. Soalnya Parc Güell-nya cantik sekali! Enggak heran Meteor Garden 2 menjadikannya sebagai salah satu lokasi syuting - kata teman-teman saya lho, saya sih enggak banget nonton tuh serial!

Friday, April 6, 2007

Keliling Barcelona Jalan Kaki

Selain Habana Home, hostel tempat menginap 2 malam, tempat pertama yang saya tuju di Barcelona adalah Kantor Wisata Barcelona. Setelah mengitari Plaça Catalunya dengan bingung bersama Phanindra - kami mengira letaknya di antara sekian gedung yang berjejer di empat sisi Plaça Catalunya - akhirnya kami temukan kantor itu di bawah tanah! Kantor itu berpintu masuk di dua sudut Plaça Catalunya. Tinggal pilih, sudut yang di dekat department store El Corte Ingles (kalau enggak salah, kalau salah ya maap) atau sebaliknya.
Petugas di sana membekali saya dengan peta bus dan peta metro Barcelona. Mencermati peta itu, sepertinya tempat-tempat yang ingin saya kunjungi letaknya berjauhan. Tadinya malahan saya kira perlu naik metro dari Plaça Catalunya ke La Rambla. Ternyata, jarak antara stasiun metro Plaça Catalunya dan La Rambla paling jauh 200 meter! Konyol sekali, buang-buang uang 1,10 euro untuk selembar tiket metro sekali jalan.
Dari La Rambla, kawasan turis, sudah pasti harus ambil metro untuk mengunjungi Camp Nou (markasnya FC Barcelona), Zona Universitaria, La Sagrada Familia, dan Parc Guell. Dari Parc Guell yang menakjubkan - menurut saya ini tempat wisata dan pemandangan terbaik di Barcelona! Antonio Gaudi sungguh jenius -, saya dan teman jalan saya, Vicki, memutuskan tujuan berikutnya adalah Casa Battlo. Masih dengan metro, kami sampai di tempat itu, yang ternyata hanya bersimpangan jalan dengan La Pedrera-Casa Mila, masih bangunan kreasi Gaudi. Habis itu, Vicki mengajak menyusuri Passeig de Gracia. Menyenangkan, sebetulnya, apalagi mengingat area itu tidaklah sesumpek La Rambla. Masalahnya, kaki saya agak gempor! Maklum, baru dikejutkan banyaknya anak tangga curam yang harus saya daki di Parc Guell. Naik ke Sacré Coeur saja saya enggak habis-habis mengeluh, apalagi Parc Guell. Karena juga merasa agak letih, Vicki berinisiatif istirahat sejenak seraya minum teh di sebuah kafe.
Setelah minum teh, Vicki menunjuk ke belakang kafe, "Bukankah itu Arc de Triomf-nya Barcelona?" Ya, memang betul! Kami pun berjalan ke sana. Di balik Arc de Triomf, tampaklah Parc de la Ciutadella! Wah, senangnya melihat ada objek wisata saling berdekatan. Di bagian taman, setiap sudut dipadati orang. Ada yang duduk-duduk, tidur-tiduran, atau berkejar-kejaran dengan anjing. Makin jauh kami berjalan, kami menemukan Parc de la Ciutadella juga dihiasi danau kecil, yang berfungsi untuk tempat berdayung. Di sisi lainnya, ada monumen dan tempat sekian banyak pasangan berlatih menari! Vicki, yang datang ke Spanyol salah satunya untuk mempelajari tari flamenco, berhenti sesaat untuk menyaksikan mereka.
Keluar dari gerbang kebun binatang, yang bersebelahan dengan Parc de la Ciutadella, kami tiba di sekitar Pantai Barceloneta! Sayang saya tidak terlalu menyukai laut setelah tragedi Aceh. Tepi pantai kawasan itu, selain dipenuhi orang yang jalan-jalan dan sejumlah pedagang, juga dihuni bangunan persis mal. Seingat saya, di situ juga ada bioskop dan restoran. Natasha dan Helen makan malam bersama teman-teman mereka di restoran itu. Selesai dengan pantai, kami mencari jalan pulang. Dalam waktu dua setengah jam, Vicki harus berangkat ke Madrid. Kami pikir metro fasilitas terbaik untuk mengangkut kami kembali ke Habana Home. Tapi siapa sangka, pantai itu ternyata terletak di belakang kawasan La Rambla! Jadi, kami tak perlu pakai kendaraan untuk pulang. Dan saya agak kesal, karena tanpa saya sadari, saya menginap di area dekat pantai. Seperti yang saya sebutkan tadi, saya tak terlalu suka laut.
Kesimpulan saya, kalau ingin kunjungan di Barcelona efektif, di hari pertama, cukup kunjungi La Rambla-Plaça Catalunya-Barri Gotic-Passeig de Gracia-Arc de Triomf-Parc de la Ciutadella-Barceloneta. Di hari berikut, baru naik metro atau bus ke tempat-tempat lainnya. Jangan terlalu percaya pada peta, pakai insting saja. Walau sebetulnya berdekatan, lumayan melelahkan, lho. Tapi lumayan juga mengirit biaya metro yang untuk sehari sekitar 6 euro. Sepulang dari Barceloneta, Vicki membanggakan diri pada Natasha. "Tahu nggak, Natasha, aku waktu kembali ke sini nanti nggak akan naik bus hop on hop off (sehari 21 euro, dua hari 24 euro). Hari ini aku mendapatkan cukup banyak dengan naik metro," katanya.

Aroma Indonesia di Barcelona

Di Amsterdam, Belanda, banyak orang Indonesia, wajar - Indonesia-Belanda kan punya ikatan historis yang kuat. Di Paris juga wajar, apalagi di butik Louis Vuitton yang megah di Champs-Elysées - ternyata banyak orang Indonesia yang kaya, ya? Tapi di Barcelona, terus terang saya tak pernah menyangka. Ekspektasi saya di Barcelona, ngoceh dalam bahasa Spanyol dengan penduduk lokal dan makan paella (yang batal lantaran mesti menunggu dimasak selama 25 menit, sementara saya telanjur kelaparan). Nggak terbayang ketemu orang Indonesia atau menemukan hal-hal yang berbau Indonesia. Tapi Barcelona mengejutkan saya.

Bermula saat saya ikut Picasso Walking Tour yang diorganisir Kantor Informasi Turis Barcelona, 5 jam setelah tiba di Barcelona. Sebetulnya tur ini nggak ada dalam jadwal saya. Tapi sebagai komplimen atas pembelian Barcelona Card - kartu yang mempermudah saya dalam penggunaan transportasi lokal - di kantor turis, saya mendapat tur gratis. Saya sadar nggak tahu apa-apa soal Picasso. Tapi kalau lewar tur ini saya bisa mengenal tempat-tempat yang menarik, kenapa disia-siakan? Toh gratis. Jadi, selama 2 jam, saya dan sekitar 20-an turis - malangnya saya sendiri yang tanpa pasangan, huh - dipandu seorang guide perempuan, berjalan menyusuri Barri Gotic, area cantik yang dikelilingi bangunan-bangunan tua. Saya nggak menyesal deh ikut tur, walau kaki rada gempor karena belum sempat istirahat setelah 15 jam perjalanan dari Paris dengan bus. Saya jadi tahu kalau Pablo Picasso muda biasanya hang out di sebuah kafe yang cute, El Quatro Gats (bahasa Katalan, artinya The Four Cats). Tapi yang nggak pernah kepikiran, kenyataan bahwa tepat di seberang El Quatro Gats - hmmm, mungkin tepatnya di depan, wong jalannya sempit kok - berdiri sebuah tempat berlabel Betawi! Sementara turis lain sibuk memotret El Quatro Gats, saya satu-satunya yang pandangannya beralih ke lain tempat. Sambil berusaha mengintip ke dalam si Betawi, saya menerka-nerka tempat apa kiranya itu. Toko? Restoran? Saya menarik kesimpulan restoran, cuma dari namanya dan letaknya. Maksudnya letaknya yang di depan El Quatro Gats. Habis acara intip-mengintip saya nggak menghasilkan apa-apa. Tapi biar begitu saya cukup pede, Betawi itu betulan restoran. Buktinya ketika teman saya berniat ke Barcelona pada Desember 2005 dan minta rekomendasi rumah makan, dengan yakin saya menyebut Betawi. Tapi tanpa denah, soalnya saya nggak ingat. Di hari terakhir saya di Barcelona, 16 Mei 2005, saya sebetulnya ingin kembali ke sekitar El Quatro Gats dan Betawi - yang pertama buat kepentingan memotret El Quatro Gats, momen yang terlupakan gara-gara melihat Betawi, dan yang kedua karena penasaran betul tidak Betawi itu restoran. Tapi, ya itu, saya lupa jalan kembali ke sana. Tapi akhirnya rasa penasaran saya dijawab artikel tentang Barcelona yang dimuat harian Kompas sekitar 5 bulan lalu. Waktu itu saya berteriak-teriak girang, "Eh, benar kan, waktu itu yang gue lihat emang restoran Indonesia!"

Aroma Indonesia belum berhenti menguntit saya. Di Barcelona, saya tinggal di kamar hostel berkapasitas 6 perempuan - saya booking kamar khusus perempuan. Malam pertama menginap, saya pikir kamar sedikit lega, lantaran cuma dihuni 4 perempuan. Tapi toh kamar kami nggak lega-lega amat. Pasalnya ada 2 koper super besar, yang tergeletak begitu saja di tengah kamar, menghambat gerak kami. Yang mengherankan, 2 koper itu tak bertuan (apa mestinya tak bernyonya?). Maka seorang dari kami berinisiatif menyingkirkan koper-koper yang juga super berat itu keluar kamar, seizin staf hotel yang juga heran.

Tapi hanya sebentar 2 koper itu menghilang dari pandangan kami. Tiba-tiba masuk 2 perempuan, sembari menggotong koper-koper itu masuk kembali ke dalam kamar. Saya memperhatikan wajah mereka berdua. Rasanya kok familier. Yang satu agak gemuk, berkulit cokelat, berambut hitam. Satunya lagi tinggi kurus, berkulit putih, berambut kepirangan hasil cat. Orang Indonesia? Kejutan lagi. Tapi saya menunggu sampai mereka membuka mulut, untuk meyakinkan tebakan saya benar.

Setelah beberapa saat, harapan saya terkabul. Perempuan yang berkulit cokelat berkata, "Tasnya ditaruh di mana?" Positif, orang Indonesia! Saya langsung menyambar, "Mbak, dari Indonesia, ya?" Mereka sama terkejutnya. Mereka rupanya telah memperhatikan saya, tapi mengira saya asal Filipina. Sumpah, senang banget ketemu orang setanah air nun jauh di sana! Di Barcelona lagi. Makin senang lagi waktu tahu, ternyata kami punya teman yang sama. Dua cewek itu, Elma dan Grace, pernah sekantor dengan kakak teman saya, Risna. Nggak salah ada yang bilang, dunia cuma selebar daun kelor. Bukan kali pertama saya mengalami kejadian di atas. Di Meksiko 6,5 tahun lalu, saya pernah mengobrol dengan pengasuh anak seorang staf KBRI. Selidik demi selidik, ternyata dia tante seorang teman kuliah saya! Duh, sudah jauh-jauh, ketemunya bukan orang jauh.

Serangan Panik

Pada 14-16 Mei 2005, saya keliling Barcelona, Spanyol. Lima jam pertama di sana habis begitu saja buat mencari di mana hostel saya - dan setelah menemukannya pun, saya masih mesti bekerja keras membangunkan pemiliknya - dan ikut tur jalan kaki 2 jam di kawasan indah Barri Gotic. Saya terkagum-kagum mendapati sinagog dari abad ke-12 tersembunyi di sebuah jalan sempit, kalau tidak mau dibilang gang. Saya Muslim, tapi saya sangat menghargai betapa Barcelona merawat dengan baik warisan sejarah. Di ujung perjalanan, kami berhenti di sebuah tempat yang sangat bermakna buat pengagum Picasso, Museu Picasso atau Museum Picasso. Di situ disimpan rapi lukisan-lukisan karya sang maestro. Tapi saya memutuskan melewatkannya - toh saya bukan penggemar Picasso - dan bertanya pada sang pemandu bagaimana caranya kembali ke hostel. Dan pada poin ini saya mendapat kejutan tidak menyenangkan; katanya hari Senin (16 Mei) itu hari besar, jadi toko dan restoran di Barcelona tutup. Apaaaaaa???

Kalut - panik sebenarnya -, saya berjalan kembali ke hostel. Maklum deh ya, saya datang dengan informasi minim, jadi saya nggak menyangka kalau hari libur, toko-toko juga libur. Tapi kekalutan saya kontan berganti jadi optimisme, ketika seorang cewek London, Natasha, yang sekamar dengan saya di hostel, mengajak saya ke pasar dan supermarket dekat hostel. Yah, mungkin saja nggak ada restoran buka di hari libur, tapi setidaknya saya bisa menyetok makanan. Saking takut kelaparan, saya membeli tiga kotak kecil susu, dua botol besar air natural, sepotong sandwich (atau dua potong?), roti, dan yang paling konyol, sekantong besar Twix, yang berisi 20 keping cokelat! Eh, di supermarket itu saya nyaris melakukan kesalahan. Saya sempat lupa, di Eropa kasir tidak bertugas membungkus barang belanjaan. Untungnya saya ingat, sebelum tiba giliran pelanggan lain dilayani kasir. Kalau tidak, bisa-bisa saya didamprat.

Reaksi panik saya, seperti biasa, berlebihan. Natasha meyakinkan, nggak mungkin tujuan wisata sepopuler Barcelona menutup pintu dari turis, di hari libur sekalipun. Dia tertawa mendengar serangan panik saya, tapi dia, juga cewek-cewek lain yang sekamar, nggak bisa menolak Twix. Saya juga menawari seorang cewek New York, Vicki, buat membawa sebotol air natural saya untuk menemani perjalanannya ke Sevilla. Dan di hari Senin, tak ada pintu tertutup, setidaknya di area La Rambla, tempat hostel saya berada, dan Plaça Catalunya. Saya bisa membeli T-shirt buat adik saya di Hard Rock di Plaça Catalunya, dan tentunya makan siang saya di restoran lokal. Setelah mengagumi Barri Gotic sekali lagi - saya sempat tersesat sekali di jalan-jalannya yang sempit dan berliku-liku -, saya bertolak ke Sants untuk mengejar bus ke Paris. Hasta luego, Barcelona!