Thursday, May 31, 2007

Fernando Colunga

Buat saya, selalu ada yang bisa dikenang dari tiap pertemuan dengan Fernando Colunga. Iya, si aktor telenovela nomor wahid itu. Saya akui saya beruntung bisa dua kali mengobrol dengannya langsung. Kendati, ya maaf-maaf saja, kesan saya tentang Fernando maupun telenovela-telenovelanya tetap sama: nggak suka!
Pekerjaan menuntun (atau menuntut?) saya bertemu aktor yang - saya harus akui - sangat ganteng itu. Pertemuan pertama, November 2000, jadi memori menyebalkan. Soalnya dia kayaknya sadar akan kegantengan dan popularitasnya, jadi rada-rada belagu gitu, deh. Habis wawancara, dia lupa mengambil jaketnya yang tersandar di punggung sebuah kursi. Saya dan Enno, rekan kerja saya waktu itu, terus terang tak memperhatikan jaket itu. Kami sibuk ngobrolin hal lain. Sampai Fer teringat akan jaketnya dan kembali ke ruangan, kami belum beranjak. Dan dia dengan senyum dipaksa bilang begini, "Jaket saya ketinggalan. Nanti kalian ambil." Duh. SEBEEEEELLLLL! Lagian kami ini kan imut, jadi nggak mungkin pakai jaket segede gambreng itu.
Nah, kalau begitu ngerti kan, kalau saya malas ketemu Fer lagi. Tapi ya, tetap harus ditemui lagi, kalau nggak nanti pembaca protes. Jadi, dalam tugas kedua ke Meksiko, April 2003, saya kembali menjadwalkan wawancara dengan Fer. Karena guide saya yang juga menangani bagian talenta Televisa, Nagelly, sibuk, ia minta kurirnya, Jose Luis (kalau nggak salah), mengantar saya dan fotografer, Panji, menemui Fer di lokasi syutingnya. Tiba di sana, kru memberi tahu, Fer masih syuting. Kami (masih beserta Jose Luis) menunggu di lorong. Setelah 15 menitan, Fer keluar. Dan tak disangka ia langsung melabrak Jose Luis! Saya tak ingat persisnya kata-katanya dalam bahasa Spanyol, tapi kurang lebih begini, "Saya nggak suka diganggu kalau lagi syuting begini!" Ia tak peduli pembelaan diri Jose Luis. Saya mengamati kejadian itu dengan malas. Duh, kalau dia nggak mau diwawancara, masa bodoh, begitu pikir saya waktu itu.
Tapi kemudian yang tak disangka-sangka, terjadi lagi. Sehabis memarahi Jose Luis, tiba-tiba dia menghampiri saya. Saya kira dia mau mengusir, tapi sebaliknya, malah merangkul saya! Tutur katanya berbalik halus. "Hai, kalian dari mana? Kita wawancara di luar saja, ya, biar enak," sapanya dalam bahasa Inggris dengan ramah. Saya nyaris tak bisa berkata-kata saking herannya. Si Fer ini maunya apa, toh?
Kami pun berjalan keluar - dia masih merangkul saya - dan berhenti di luar lorong syuting yang cenderung tenang suasananya. Saya tak bisa menahan diri lagi. Saya tanya padanya, "Kenapa kau tadi memarahi Jose Luis?" Ganti dia yang heran. "Lho, memangnya kamu mengerti bahasa Spanyol?" Saya jawab apa adanya: ngerti tapi kalau ngomong parah - kecuali sama sopir taksi yang mana saya bisa pakai bahasa "pasar". Tapi dia "memaksa" saya, dengan kata-kata yang lebih manis lagi, "Kalau begitu, kamu harus wawancara saya pakai bahasa Spanyol. Ayolah, mumpung di Meksiko, kamu harus praktekkan bahasa Spanyol kamu." Mampus. Alhasil, hanya untuk 5 pertanyaan pertama saya sukses. Selebihnya balik lagi ke bahasa Inggris.
Kesan saya tentang Fer di dua wawancara berbanding terbalik. Yang pertama jengkel, yang kedua, awalnya memang jengkel gara-gara insiden Jose Luis, tapi kemudian kagum. Maksud saya, kok bisa Fer yang dulu saya kenal menjengkelkan, berubah begitu hangat? Apalagi dia menjelaskan alasan kemarahannya pada Jose Luis - sepertinya Nagelly bikin appointment dengan orang yang salah. Ya ampun, sumpah, kalau yang dikirim wawancara sama Fer adalah reporter cewek penggila telenovela, itu orang pasti bakalan melambung, melayang, terbang, apalah, mendengar tutur katanya yang halus dan manis selama menjawab pertanyaan. Tapi sayang yang dikirim saya, jadi nggak pengaruh-pengaruh amat. Ya, sejauh ini belum ada aktor telenovela yang betul-betul memukau saya. Tidak juga Mario Cimarro dan Michel Brown yang saya bilang nggak kalah ganteng itu, rasanya.

Kecanduan Apfelstrudel

Apfelstrudel di kafe rumah sakit di Jerman saja enaaaaaaakkknyaaaa...
Ya, waktu jalan-jalan di Eropa Barat Juni tahun lalu (pas banget setahun kemarin) saya kecanduan apfelstrudel alias apple strudel. Masuk kafe atau restoran mana pun, yang dicari apfelstrudel. Gara-garanya, sebelum terbang ke Munich, Jerman, 1 Juni 2006, saya lagi doyan-doyannya makan roti isi apel-nya 2nd Bite. Nah, begitu ketemu apfelstrudel di San Francisco Coffee, kafe di Odeonsplatz, Munich, sehari kemudian, saya kegirangan. Saya baru ingat, apfelstrudel itu kan hidangan penutup khas Austria yang tetangganya Jerman (setelah saya cek di Wikipedia, nggak sepenuhnya benar. Apfelstrudel juga hidangan khas Jerman Selatan yang berpusat di Munich). Jadi, mestinya di Jerman banyak dong yang jualan apfelstrudel.
Jadilah selama 10 hari jalan-jalan, saya 4 kali menyantap apfelstrudel. Sampai teman saya, Dedes, bosan melihatnya. Payahnya, waktu mampir ke sebuah kafe di Salzburg, Austria, malah nggak ada menu apfelstrudel. Piye toh. Uniknya lagi, apfelstrudel terenak yang saya cicipi bukanlah di Jerman, melainkan di Liechtenstein! Itu lho, negeri kecil yang dibatasi Austria dan Swiss. Ya ampun, itu dessert terlezat seumur hidup yang pernah saya makan. Bodohnya, saya lupa memotret apfelstrudel ala Liechtenstein itu. Bentuknya cantik sekali - apfelstrudel bujursangkar dihiasi potongan stroberi, dengan sekeliling piringnya berlumur saus vanila! Saya menikmati lamat-lamat apfelstrudel itu, tak ingin kehilangan sensasi setiap potongnya. Setelah itu, apfelstrudel atau dessert lain lewat begitu saja di mulut saya; belum ada yang bisa mengalahkan apfelstrudel Liechtenstein. Tidak di Jerman, tidak juga di Swiss. Di Jakarta dan Bali, saya juga belum lagi melihat dessert seindah dan senikmat itu. Tidak juga sizzling brownies-nya Queen's Tandoor, yang saya puja-puji waktu jalan ke Bali April lalu.

Pencopet di Metro Paris

Selama di Paris, saya rutin menggunakan metro sebagai sarana transportasi. Metro adalah sebutan orang Prancis buat subway, kereta bawah tanah. Karena telanjur nyaman dengan istilah metro, semua subway di Eropa saya sebut metro. Tak terkecuali di Jerman, yang sebetulnya bernama U-Bahn dan S-Bahn.
Metro Paris sebenarnya tergolong apik. Tak ada pengamen atau pengemis berkeluyuran, seperti di Barcelona atau Mexico DF. Penumpang yang rasnya berbeda-beda - Paris kota yang sangat multikultural - pun tak perlu ditakuti. Makanya, selama tiga hari pertama di Paris, apalagi ke mana-mana ditemani Sandy, saya merasa aman-aman saja. Toh tampang saya agak bule, bukan yang menarik pandangan dan komentar usil cowok-cowok Paris yang suka cewek eksotis asal Asia - eh, itu menurut teman-teman saya yang tinggal di Eropa lho. Dan biarpun nggak fasih, saya mengerti bahasa Prancis. Miskomunikasi mestinya gampang teratasi.
Makanya, waktu dilepas teman Sandy, Sam, untuk balik dari zona universitas Paris ke apartemen Sandy yang terletak di ujung kota lain, tepatnya di zona banlieu Ermont-Eaubonne, saya santai-santai saja. Mulanya sih sempat cemas. Bagaimana rasanya, ya, naik metro sendirian di tempat yang asing? Di perjalanan dari zona universitas ke Gare du Nord, lancar-lancar saja. Walau kelabakan mencari terminal RER B di Gare du Nord, saya juga nggak kalut. Kalau sampai nggak ketemu, bisa tanya, 'kan? Ya, sudah, begitu menemukan jalur RER B, saya naiki metro bertingkat itu dengan tenang dan ambil bangku di bagian bawah, paling dekat dengan pintu.
Di Saint-Denis, perhentian pertama setelah Gare du Nord, tahu-tahu duduklah dua cowok berkulit hitam berhadapan dengan saya. Tapi hanya beberapa detik, mereka meninggalkan bangku itu. Sebagai gantinya, duduklah cowok berkulit hitam yang lain. Tahu-tahu, kejadian ini berlangsung secepat kilat, cowok hitam kurus itu menghilang dari hadapan saya. Dengan cara menghilangnya saja, saya takjub. Makin takjub lagi begitu sadar, cowok itu menghilang bersama ponsel yang dipakai seorang wanita berkulit hitam di bangku deretan berikutnya! Oh-mi-God. Berarti, cowok tadi pencopet! Saya kontan merinding. Hiii, ternyata metro Paris nggak aman dari sentuhan pencopet! Ketakutan saya pun menjadi. Saya mencengkeram tas makin erat. Selain paspor, di situ ada uang sedikit, kamera, dan ponsel juga! Yah, nggak seberapa mahal sih, tapi itulah hartanya traveler.
Saya lantas menguping perbincangan antara tiga orang kulit hitam yang duduk di deretan bangku di samping saya. Mereka menasihati wanita tadi agar jangan sekali-kali membuka ponsel di stasiun maupun kereta. Saya mencoba ikut masuk pembicaraan dengan bertanya, "Excusez-moi, je suis étrangère ici, cela se passe souvent dans le train?" Cieeehh, gaya bener, ngoceh pakai bahasa Prancis! Eits, tapi saya tanya begitu bukan karena mau gaya, melainkan lantaran benar-benar ketakutan. Salah satu dari mereka menyuruh saya melupakan kejadian itu, agar perjalanan saya di Paris tidak terbebani. Saya sih tidak bisa lupa. Tapi tidak sampai membuat saya pantang naik metro. Malah di perjalanan-perjalanan berikutnya, Roma dan Barcelona, saya ketagihan naik metro. Cuma, ya, mesti ekstra hati-hati. Ketika saya ceritakan soal pencopet tadi begitu sampai di apartemennya, Sandy kaget. "Gue di sini nggak pernah ketemu copet, eh, kok lo malah ketemu!" katanya heran. Dan ketika adik saya mampir di Paris akhir April kemarin, satu nasihat saya buatnya: "Awas copet!"

Bandara Munich

Antrean Kedatangan Bandara Franz Josef Strauss, Munich, 1 Juni 2006 (hey, it's been a year!), 18.00 waktu setempat.

"Do you speak English?"
"Yes."
"Do you ..." (saya tidak bisa menangkap suara petugas pabean dari balik jendela kacanya)
"Excuse me?"
(Petugas itu kemudian mengajukan sekitar empat pertanyaan lagi, tapi saya tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya. Ia kemudian mengamati saya dengan cermat, memastikan saya dan sosok dalam foto paspor orang yang sama).
"Alright, you go," kata sang petugas, memasrahkan saya masuk ke Munich tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan pentingnya - saya menjawab pertanyaan paling tak penting yang diajukannya.

Antrean Keberangkatan Bandara Franz Josef Strauss, Munich, 11 Juni 2006, 11.00 waktu setempat.

(Sang petugas yang berkacamata dan berambut pendek keemasan, he's cute somehow, memelototi saya dari atas ke bawah. Saya mengerti setiap kata dalam bahasa Inggris yang diucapkannya, dengan nada menyelidik, jadi dialog berikut tak perlu saya tulis dalam bahasa Inggris).
"Anda bicara bahasa Inggris?"
"Ya."
"Apa tujuan Anda datang ke Munich?"
"Pariwisata."
"Datang bersama siapa?"
"Sendiri, tapi saya di sini tinggal bersama teman saya."
"Bersama siapa Anda berwisata?"
"Bersama dua teman saya yang tinggal di sini."
"Berapa lama Anda di sini?"
"Satu setengah minggu." (sebetulnya saya waktu itu lupa berapa lama, jadi saya jawab sekadarnya. Untungnya benar).
Ada satu pertanyaan lagi, tapi saya tak ingat. Soalnya saya telanjur sebal. Wong waktu masuk Munich saja tak susah (gara-gara saya tak mengerti apa yang ditanyakan, sih, hihihi), mau pulang kok repot. Huh. Untungnya petugas itu lumayan oke tampangnya, walaupun kaku, jadi saya nggak bete-bete amat.

Trauma Keju Kambing

Hari pertama di Paris, 28 April 2005. Saya langsung disambut aneka makanan. Yang punya ide Julien, pacar teman saya, Sandy. Selain dimasakkan hidangan ala China dan dibelikan éclair, saya disuguhi tiga macam keju Prancis, lengkap dengan baguette. Tahu, 'kan, Prancis itu 'kan terkenal dengan kejunya.
Keju pertama, rasa bawang putih. Wah, ini sih enak. Kecuali dalam bentuk aslinya, saya umumnya suka makanan yang berasa bawang putih. Yang kedua, keju khas Prancis yang aromanya sangat kuat, Roquefort. "Orang Indonesia belum tentu suka. Orang Prancis saja nggak semua suka," kata Sandy. Dan memang saya tidak suka. Sulit mendeskripsikan rasanya. Pokoknya nggak asin, seperti keju di sini. Dan pokoknya nggak enak! Yang terakhir, oh, oh, keju kambing! Saya malas menyentuh, karena nggak doyan makan segala yang ada kambingnya. "Gue dulu juga nggak suka kambing. Tapi sejak makan keju ini, gue suka," Sandy berpromosi. Yaaah, nggak ada salahnya dicoba, toh kapan lagi ketemu keju macam ini, kalau bukan di Prancis? Saya iris sedikit keju berbentuk bulatan gepeng itu. Rasanya? Dengan pertimbangan kesopanan terhadap Sandy dan Julien, saya paksakan diri menelan irisan keju kambing itu. Padahal, maunya sih saya muntahkan! Sandy dan Julien tertawa melihat reaksi saya. Saya dorong keju kambing itu menjauh, dan sebagai gantinya kembali mengambil keju bawang putih. Dan dengan agak terburu-buru saya oleskan keju bawang putih ke atas baguette, lalu segera saya santap untuk melenyapkan aroma kambing keparat yang masih lengket di lidah.
Kasus keju kambing ini kembali saya temui sehari menjelang kepulangan saya ke Jakarta, 17 Mei 2005. Karena lapar dan kedinginan pas jalan-jalan, sudah jam 10 malam pula, saya minta Sandy mengantar beli crêpe. Kami lantas ke area Saint-Michel. Sandy membeli panini dengan isi campuran keju, saya mencoba crêpe rasa marron, sejenis kacang merah, yang kata Sandy crêpe khas Prancis. Di Stasiun Saint-Michel, sembari menunggu RER B yang lewat 30 menit sekali kalau sudah malam, Sandy menawari saya, yang sudah menghabiskan crêpe, untuk sedikit mencicipi panini-nya. Sialnya, panini yang saya gigit berisi keju kambing! "Padahal gue dari tadi cari-cari keju kambing, malah lo yang dapat!" ceplos Sandy menertawakan saya. Keju kambing keparat!

Euro

Dalam setiap perjalanan, bagian paling menarik bagi saya, selain pemandangan, adalah bahasa. Dari beberapa negara Eropa yang alhamdulillah sudah saya kunjungi, cuma Swiss yang tidak kenal mata uang euro - mereka pakai franc swiss, tapi terima euro di toko-toko tertentu. Apa hubungan antara euro dan bahasa? Ada. Bukan saya sengaja hubung-hubungkan. Pengejaan kata euro di 13 negara yang memberlakukan umumnya berbeda. Mulanya saya pikir di mana pun euro itu dieja "yu-ro", sebagaimana pelafalan dalam bahasa Inggris. Di Prancis, begitu teman saya Sandy mengucapkannya. Dan saya rasa pun begitu rata-rata orang Prancis, kecuali khusus buat huruf r-nya sedikit "kumur-kumur", lazimnya pelafalan dalam bahasa Prancis. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, wajar saja kalau di negara lain yang mengadaptasi mata uang ini, euro tidak diucapkan "yu-ro". Toh negara-negara berbahasa Inggris di Eropa, seperti Inggris dan Irlandia, tidak kenal euro, bukan?
Maka, saya dapati orang-orang Jerman menyebut euro "o-i-ro". Di Spanyol seperti adanya tertulis, "e-u-ro". Demikian pula di Italia. Tapi, bergaul beberapa minggu dengan euro tetap tidak membuat saya pintar. Saya tetap susah membedakan koin euro: mana yang nilainya 5 sen, 10 sen, 20 sen, 50 sen, atau 1-2 euro. Jadi, kalau saya kebetulan sedang jalan dengan teman saya, begitu tiba waktunya membayar sesuatu, saya suruh saja teman saya yang menghitung. Seperti saat saya dan Widya, teman saya yang waktu itu masih bekerja di KBRI Roma, membeli es krim di dekat Vatikan. "Udah Wid, lo aja yang ngitung, pusing gue ngebedainnya," kata saya kepada Widya yang memaklumi. Bukan maksud saya seenaknya, Wid, cuma, ya saya sudah terlalu pusing membaca peta, jadi tak sempat memikirkan koin euro!

Monday, May 28, 2007

Ojalá

Ojalá. Ya, pekan lalu saya tiba-tiba teringat pada sepotong kata berbahasa Spanyol itu. Ojalá (baca: ohala) termasuk kata yang pertama saya pahami penggunaannya dalam bahasa Spanyol, dan banyak saya pakai dalam perjalanan saya ke Meksiko 6,5 tahun silam.
Waktu itu, saya mendapat pengetahuan tentang asal-usul kata ojalá. Kalau tidak salah, yang memberitahukan Dulce, seorang Meksiko yang sangat fasih berbahasa Indonesia, ketika kami sedang makan siang di sebuah restoran, Sanborns kalau tak salah namanya, yang menyajikan cake cokelat sangat lezat. Entah bagaimana mulanya, Dulce menjelaskan, ojalá berasal dari kata insya Allah, yang biasa kita sisipkan dalam pembicaraan sehari-hari di sini. Masuk akal, kalau mengingat penerapannya dan mengingat dulu Spanyol pernah berada di bawah pendudukan bangsa Arab. Ojalá dilontarkan untuk mengucap harapan, artinya semacam "mudah-mudahan."
Jadi, ketika saya akhirnya harus pulang ke Jakarta, seingat saya 13 November 2000, saya disapa Juan, seorang petugas kebersihan di KBRI Meksiko. Ia bertanya, "Te vas a regresar a México? (Kau akan kembali ke Meksiko?)?" Saya menjawabnya sambil tersenyum, "Ojalá." Dan betul, 2,5 tahun kemudian, saya kembali ke Meksiko untuk keperluan sama: wawancara artis-artis telenovela. Saya sempat juga mampir di KBRI, tapi tak banyak bicara pada Juan. Mungkin karena dia sepertinya sudah lupa pada saya, karena dia tidak lagi bertanya akankah saya kembali lagi. Dan sampai hari ini, saya belum kembali. Tapi tak apa. Juan tak mencoreng kenangan saya tentang Meksiko, dan saya bahkan tak punya kenangan buruk tentang dia.
Ya, ojalá... Mudah-mudahan saya bisa menjenguk Meksiko lagi. Yang paling saya kangen, Televisa. Ya ampun. Hampir separo hidup saya di Meksiko, yang totalnya 1 bulan 10 hari, saya habiskan di situ. Dari saya tidak becus berbahasa Spanyol, sampai saya mengerti apa yang orang-orang Televisa bicarakan. Dan saya kangen makan di kafetarianya, dengan menu andalan salad buah dengan madu atau omelet. Ojalá, que pueda regresar otra vez. Me encantaría.