Monday, June 25, 2007

Teori Terbalik dengan Kenyataan

Sebelum jalan-jalan di Eropa, saya memiliki impresi tertentu tentang bangsa tertentu. Entah dari berita yang saya lihat di teve, baca di koran, atau dari obrolan dengan teman. Tapi begitu sampai di Eropa, fakta berkata lain. Hampir semua teori saya terbalik. (sSetidaknya berlaku buat saya, barangkali lain orang, lain pengalaman!)
Nah, teori saya mengemukakan, orang Inggris, seperti negerinya yang jarang bersimbah cahaya matahari, dingin. Mungkin saya terpengaruh protokoler kerajaan Inggris yang ketat. Ternyata, ya ampun, mereka termasuk makhluk paling menyenangkan di dunia ini! Ketika saya terbengong-bengong di hostel saya di Barcelona, mereka mengajak mengobrol sembari makan siang. Juga makan malam, walau saya tolak karena kecapekan. Dan menunjukkan tempat-tempat yang mungkin bermanfaat buat saya. Sumpah, saya syok. Memang betul kata pepatah, don’t judge a book by its cover.
Yang lucu, kami sampai pada kesimpulan yang sama tentang satu bangsa (sebaiknya tidak saya tulis di sini). Itu terjadi setelah Natasha, salah satu dari mereka, bertanya kota mana saja di Eropa yang sudah saya singgahi. Ketika saya menyebut kota itu, Natasha memotong, “Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang di sana? I don’t like them. They're snob.” Really? Saya dibuatnya terkejut lagi. Karena saya juga tidak menyukai mereka. Ketika Natasha mengajukan argumennya, saya bisa mengerti. Tepat seperti itulah perasaan saya. Bayangkan saja, dari sekian banyak orang di kota itu, masa yang saya kategorikan baik cuma tetangga teman saya, yang pasangan kakek-nenek? Dan jangan kira teman saya betah tinggal di situ. Ketika saya tanyakan kemungkinannya menetap dan menikahi pria lokal, dia langsung memandang saya dengan ngeri: ”Enggak maulah, gue mau nikah sama orang Indonesia!” Padahal, duh, kalau jalan-jalan, dia yang ribut tentang gantengnya cowok-cowok lokal. ”Ka, lihat tuh, sopir bus aja ganteng banget!” begitu contoh kehebohannya. Tapi tekadnya buat tidak terlibat dengan pria lokal tetap bulat. Dan, hampir 2 tahun kemudian dari hari itu, dia menikahi seorang pria Indonesia : ).
Impresi dingin juga melekat dalam benak saya tentang Jerman. Iya, sampai sekarang pun saya masih berpendapat bahwa Jerman itu dingin (maksudnya cuacanya tetap saja dingin, walau mau masuk musim panas), bangunan-bangunannya sama dingin (kebanyakan bentuknya kotak-kotak), orang-orangnya apalagi. Sumpah, saya enggak terkesan sama sekali dengan salah satu dari mereka yang mencoba menabrak teman saya dengan sepeda. Pokoknya Jerman, dalam segala segi, nyaris semua dingin! Eh, kecuali 2 keajaiban: Wolfgang dan Biss. Yang pertama, ya siapa lagi kalau bukan suaminya Dedes itu – sampai sekarang saya masih terkagum-kagum, ada makhluk seramah itu. Yang kedua, majalah yang menurut oknum H diciptakan buat mengakomodasi orang-orang yang enggak punya pekerjaan. Biss banyak digenggam sejumlah penjual di pusat kota Munich, Marienplatz-Odeonsplatz. Sekitar 500 meter sekali, boleh dibilang kelihatan orang menawarkan Biss. Pemandangan yang lumayan mencolok, apalagi area jualan mereka tak dilengkapi media cetak lain dan kios. Ya, adanya cuma seorang pria – kadang ditemani anjing – menggenggam beberapa eksemplar Biss.
Sejarah terbitnya Biss, kalau enggak salah nih, berawal dari banyak pabrik dialihkan ke China yang biaya pekerjanya lebih murah – pantas Perancis sempat menentang China juga Amerika. Alhasil banyak orang Jerman kehilangan pekerjaan. Nah, buat mereka yang enggak mau merepotkan negara, disediakanlah Biss. Konon seluruh keuntungan dari penjualan majalah itu – yang konon juga artikelnya ditangani penulis serius (duh konon melulu, mesti dicek nih benar atau enggak!) – buat para penjual. Yang beli majalah itu, kata oknum H lagi, ada saja, walau motifnya entah suka, butuh, atau kasihan.
Hmmm, dari kisah Biss itulah, setidaknya ada simpati saya buat Jerman. Tapi negara sebelumnya, tetap tidaaaaaaaaakkkkk (keukeuh, hehehe)! Soal impresi yang salah itu, juga saya temukan pada orang Perancis. Padahal sebelum menginjak Paris, satu-satunya orang Perancis yang tampangnya enggak jutek cuma M Ghislain de Rozieres yang mengajar saya dan teman-teman waktu kuliah dulu. Eh, tapi siapa coba yang paling sering menolong saya di Eropa? Orang Perancis. Dan itu mereka lakukan sebelum mendengar satu patah kata pun dalam bahasa Perancis terlontar dari mulut saya! Misalnya, cewek asal Grenoble yang duduk di hadapan saya dalam kereta Eurostar Milan-Roma, yang tanpa saya minta menawarkan untuk membenahi travel bag saya ke tempat penyimpanan tas - yang tak mampu saya jangkau karena terlalu tinggi buat saya : (. Juga beberapa orang lain - seperti cewek yang membantu saya membeli tiket lewat mesin tapi kok gagal juga (apalagi saya yang enggak pernah berurusan dengan mesin begituan), belum lagi Julien, pacarnya teman saya, Sandy, yang masak ini-itu buat nyenang-nyenangin saya! Huoh, enggak nyangka deh Paris itu full senyum! Apalagi hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine... jadi saya pasti bakal balik lagi ke sana!

Parfum-parfum CDG

Bandara Dubai, Uni Emirat Arab, 20 Mei 2005, jam 04.00 waktu setempat, di bangku tunggu penumpang. Satu jam menjelang kepulangan saya ke Jakarta, dengan penerbangan Emirates.
”Where are you going?” tanya seorang pria dengan rambut mulai memutih, tersisir rapi ke belakang – saya perkirakan usianya 50 tahunan.
Saya mulai merespons pertanyaannya dengan senyuman. Habis, si Bapak ini tampangnya sedikit Jawa. Dia terkecoh rambut cokelat saya, rupanya. Maka, saya dengan santai menyahut, ”Ke Jakarta, Pak.”
Bapak itu terkejut. ”Lho, orang Indonesia toh,” katanya. Saya mengangguk. Lalu kami berbasa-basi, saling bertanya dari mana saja dan dengan siapa. Dia makin terkejut saat tahu saya jalan sendirian ke Eropa. Sementara ke benua yang sama, dia ikut tur bersama beberapa puluh rekannya. Ya ampun, Pak, saya bukan pelopor jalan-jalan ke Eropa sendirian, juga bukan yang terakhir. Bahkan di kalangan teman baik saya sendiri. Manda dan Risna yang mengawali, saya cuma terinspirasi.

***

Dan itu bukan interaksi pertama saya dengan orang Indonesia di bandara luar negeri – maksudnya yang belum saya kenal sebelumnya. Yang pertama terjadi lebih dari 2 tahun sebelumnya, sekitar pertengahan April 2003. Waktu itu saya dan Panji sedang transit di Bandara Charles de Gaulle (CDG), Paris. Waktu transit yang cukup panjang, 6 jam, memungkinkan saya hunting suvenir di Terminal B yang tak seberapa luas itu. Tapi cukup luas lho buat menampung koleksi ratusan parfum. (Seorang penulis rubrik kecantikan menyebut, CDG dan Bandara Vancouver punya koleksi makeup terlengkap.)
Ya, di situ saya mencoba-coba parfum sampai ”mabuk” dengan seorang kenalan dadakan, Sulianto. Kebetulan, orang-orang Indonesia yang transit di CDG, berasal dari negara keberangkatan yang tak lazim jadi tujuan wisata. Seperti sekelompok cowok bertampang cuek yang main gaple (di CDG!), yang dalam perjalanan menjauhi tempat kerja mereka, Pantai Gading. Atau saya dan Panji dari Meksiko. Atau Sulianto yang habis dikirim ke Ekuador oleh kantornya, Astra. Selagi Panji mengobrol dengan cowok-cowok dari Pantai Gading itu, saya dan Sulianto memutuskan membunuh waktu dengan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan main-main parfum. Habis Perancis, kan terkenal sebagai negeri penghasil parfum. Lagi pula siapa tahu, siapa tahu lho, parfum di CDG lebih murah.
Eh, ternyata enggak juga. Setidaknya parfum yang saya pakai, harganya sama saja dengan di Jakarta. Tapi Sulianto ngotot membeli sebotol parfum dengan kemasan ungu – saya lupa mereknya – karena dipesan temannya. Nah, sebelum membungkus parfum itu, asyiklah kami menyemprotkan aneka parfum ke pergelangan tangan. Habis setiap jengkal pergelangan tangan – sampai kami bingung, parfum mana yang disemprotkan ke mana, hihihi – barulah kami beralih ke kertas tester. Sumpah saking banyak, saya cuma ingat satu parfum: Glow by Jennifer Lopez. Pasti berkesanlah, soalnya waktu itu baru dirilis sama JLo dan dipajang di depan jalan masuk gerai.
Sayang sampai di situ saja saya interaksi saya dengan Sulianto. Soalnya di pesawat tempat duduk kami terpisah jauh; kami di sektor depan kabin ekonomi, sedangkan dia jauh di belakang. Dan saya pun tak menemukannya ketika sudah sampai Bandara Soekarno-Hatta - sibuk mengurusi diri sendiri, mana kartu imigrasi saya terselip. Yah, mana tahu nanti kita main-main di bandara lagi. Di Bandara Internasional OR Tambo misalnya? Maunya tuh.

Wednesday, June 20, 2007

Tradisi Pinjam Baju

“Haaa… Tante Ika, bajunya baru,” kata Rizka sembari menunjuk foto di mana saya mengenakan kaos lengan tiga perempat berwarna putih garis-garis biru muda.
“Bukan,” sahut saya mesem-mesem. “Itu baju teman gue, Manda.”

”Ka, bagus deh kalau lo pakai kaus ini,” Ita mengacu pada kaus bercorak dedaunan yang saya pakai waktu jalan-jalan sore di Paris, 6 Juni 2006.
”Punya Sandy,” kata saya capek. ”Bukan cuma kausnya. Jaket sama celana jinsnya juga.”

”Ini pasti bukan punya elo,” kata Deedee yakin waktu melihat saya pakai mantel hitam panjang dalam foto di Salzburg.
Pinter. Buat apa saya, yang berdomisili di Indonesia, koleksi mantel?

Teman-teman saya yang tinggal di luar negeri – entah buat keperluan kerja maupun ikut suami – tak pernah bosan meminjamkan baju pada saya. Juga tak bosan mengingatkan saya agar jangan memenuhi koper dengan baju, setiap kali menengok mereka. Walau Sandy curiga sebetulnya saya lebih berhasrat menengok Paris, menengok pertandingan bola, menengok Alpen (ya, ya, Eropa selalu menggoda), sampai-sampai dia bilang, ”Gue kira mau nengokin gue, ternyata nengokin bola (World Cup 2006 maksudnya).” Hehehe. Bercanda, San. Ya sudah, alhasil dalam sebagian hasil foto di Eropa, saya terlihat mengenakan baju teman Sandy, Manda, Dedes. Mungkin juga Rita, kalau saja waktu itu Rita sudah tinggal di Paris. Bahkan Hari : ). Habis ukuran tubuh kami tak jauh beda. Tak hanya baju, saya juga suka pinjam tas buat sekadar jalan-jalan. Untuk tas, yang jadi korban Widya dan Dedes. Widya enggak punya kesempatan buat berkontribusi dalam soal baju, kecuali baju tidur. Soalnya ketika saya di Roma, cuaca panas terus. Alhasil saya tak perlu pakaian ekstra buat membalut kaus atau jaket saya yang standar Indonesia. Jaket yang suka bikin gemas teman-teman saya. Yang jangankan buat musim dingin, buat musim semi yang cuacanya tak menentu pun diragukan kehangatannya.
Suatu sore saya menolak pakai mantel panjang Sandy dan bertahan dengan jaket Indonesia dua lapis. Sandy memutar matanya, ”Terserah.” Anami, temannya, bertanya khawatir, ”Memang kuat (cuma pakai) jaket begitu?” Tapi saya bersikeras. Mereka akhirnya membiarkan saya membungkus diri (cuma) dengan sehelai kaus oranye dan dua jaket standar Indonesia.
Keluar apartemen lama Sandy di kawasan Ermont-Eaubonne, pinggir Paris, saya baru pakai satu jaket. Brrr, ternyata udara sore itu dingin juga. Jaket yang satu lagi pun saya pindahkan dari genggaman ke tubuh saya. Satu jam kemudian, setelah menempuh perjalanan dengan metro, saya dan Sandy berpisah dengan Anami. Kami pun menghabiskan sore terakhir saya di Paris 2 tahun lalu itu antara lain dengan mengunjungi apa tuh ya, semacam museum Iptek gitu deh kalau nggak salah (San, koreksi dong!), melihat Eiffel yang bercahaya di malam hari, naik metro tanpa pengemudi (M14), dan makan crepe. Saya memang minta Sandy agar mengantar saya beli crepe. Masa sudah jauh-jauh ke Paris, tapi melewatkan camilan khas ini. Tapi belum lagi mengunyah crepe, saya sudah mengeluh. ”San, pulang saja yuk, dingin,” kata saya. Waktu itu gelap baru menyelimuti langit, sekitar pukul 9.30 malam (waktu saya di sana sedang musim semi, dengan malam baru turun sekitar pukul 9 lewat). Sandy langsung memelototi saya sambil ngedumel, ”Udah gue bilang kan, pakai mantel yang panjang, enggak percaya. Sekarang kedinginan kan.” Tapi teuteup, jajan crepe nggak boleh lupa. Jadi sambil menggigil kedinginan, saya mengikuti Sandy ke Saint-Michel buat beli crepe marron alias crepe kacang merah kesukaan orang Prancis yang memang lezat! Jajanan kaki lima saja rasanya selangit, apalagi yang di restoran.
Sejak saat itu, saya enggak ngeyel lagi kalau disuruh pakai mantel panjang. Seperti waktu Manda menyuruh saya mengganti jaket hitam bertudung andalan saya dengan mantel hitam panjangnya. ”Jaket Indonesia kayak begini mana bisa dipakai di sini!” katanya. Hihihi, itu bukan jaket Indonesia Man, tapi dibeli di Meksiko. Tapi sumpah deh, enggak bakal saya sok tahu lagi.

Friday, June 15, 2007

Melihat Paus Benediktus XVI

"Gila, kita saja yang sudah lama kerja di sini enggak pernah melihat Paus, kok bisa-bisanya lo lihat?" protes Widya setengah bercanda, ketika saya melaporkan pandangan mata saya di Vatikan, 4 Mei 2005.
Mulanya saya malas ke Vatikan. Saya pikir lokasi ziarah umat Katolik itu jauh dari Roma. Dan pertimbangan paling utama, waktu itu, 4 Mei, sehari menjelang peringatan Kenaikan Isa Almasih. Nah, mestinya Vatikan ramai banget kan? "Enggak ramai deh. Di Italia, tanggal 5 bukan tanggal merah," Widya meyakinkan.
Maka bertolaklah saya ke Stasiun Octaviano-S Pietro, Vatikan, naik metro dari Stasiun Termini, Roma. Oh, ternyata Vatikan enggak jauh. Cukup lewat beberapa stasiun saja. Setelah saya perhatikan seisi gerbong metro, sepertinya bukan saya satu-satunya yang ingin ke Vatikan. Ada beberapa orang bertampang asing - maksud saya non-Italia - yang membolak-balik peta. Lumayan, bisa mengikuti mereka kalau-kalau nanti kesasar lagi, hehehe.
Dan itulah yang saya lakukan sesampai di Stasiun Octaviano-S Pietro. Saya berjalan mengikuti arus saja  Setelah mendaki beberapa anak tangga, tibalah saya di luar stasiun. Sebelum mencapai Basilika San Pietro atau Santo Peter yang megah itu, saya harus menyusuri satu jalan besar. Di depan gerbang masuk Vatikan, tampaklah beberapa petugas kepolisian berdiri di samping mesin yang mendeteksi barang bawaan para turis. Kok kayak di bandara saja, ya? Saya pikir mungkin itulah prosedur yang harus dilalui setiap kali memasuki negara lain. Jangan lupa, Vatikan, kecil-kecil begitu, kan negara yang diakui PBB.
Lewat mesin deteksi, saya terkejut memperhatikan sekeliling Vatikan. Ramai banget! Ratusan, bahkan ribuan orang, sudah berkumpul di muka basilika. Sebagian melambai-lambaikan bendera dari beberapa negara. Waduh, Widya salah banget, nih. Vatikan minta ampun ramainya! Kira-kira ada apa gerangan, ya? Pertanyaan saya terjawab beberapa saat kemudian. Dari kejauhan, dengan, sepertinya dan saya cukup yakin, ribuan orang menghalangi pandangan, saya lihat Paus Benediktus XVI, berbaju putih, muncul dari tepi basilika. Ia, diusung sejumlah pengawal, menembus barisan publik yang mengelu-elukannya. Saya terkena serangan panik. Saya memang bukan penganut Katolik. Tapi itu Paus! Pemandangan semacam ini mungkin hanya saya lihat sekali seumur hidup. Berhubung sulit bagi saya memotret – maklum saya imut banget di tengah turis Eropa - saya minta bantuan seorang turis Jerman untuk mendapatkan gambarnya. Turis yang baik hati itu memenuhi permintaan saya, dan saya berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Paus Benediktus XVI, duduk di singgasananya, membacakan sejumlah kalimat berbahasa Italia. Umatnya bersorak-sorai menyambutnya. Saya terjebak dalam eforia itu sejenak, meski tak mengerti satu patah kata pun yang diucapkannya. Saya hanya bisa memperkirakan, Paus keluar dari sarang masih dalam rangka peringatan Kenaikan Isa Almasih. Apa pun alasannya, kehadiran Paus membuat perjalanan saya ke Eropa kemarin makin berwarna.

Cek Visa di Perbatasan (Kecuali Perancis)

Mendapatkan visa Schengen di Kedubes Perancis atau Jerman, sama saja mendapatkan keleluasaan menjelajahi sejumlah negara Eropa. Untuk itu saya bebas memasuki masuk wilayah yang ingin saya tuju selain Perancis dan Jerman - Italia, Spanyol, Austria (buat Liechtenstein, saya pakai visa Swiss - Swiss baru bergabung dengan Schengen pada 2008). Tapi bukan berarti bebas melenggang tanpa pemeriksaan.
Kecuali di Perancis 1-2 tahun lalu. Waktu Sarkozy belum berkuasa. (Well, ya, oke, bukan berarti sekarang sudah ada perubahan. Buktinya di rumah Sarko saja ada pekerja imigran ilegal.) Waktu itu, saya bolak-balik keluar masuk Perancis nyaris tanpa pemeriksaan. Pertama, di Bandara Charles de Gaulle. Cuma visa yang dicek petugas. Tapi tidak barang bawaan! Koper, travel bag, serta ransel saya, percaya atau tidak, lolos tanpa lewat detektor. Lainnya lewat perbatasan Spanyol (sekali) dan Jerman (dua kali). Dan tidak sekali pun perjalanan saya maupun penumpang lain diganggu gugat petugas perbatasan Perancis. Padahal buat perjalanan Munich-Paris, saya selalu beli tiket tanpa menunjukkan visa, entah nitip sama suami Manda atau sama Wolf (ya iyalah nitip, soalnya sayanya belum nongol di Munich). Ya, wajar sekarang Sarko kelabakan dengan melimpah ruahnya imigran ilegal.
Lucunya, karena tampang saya yang bule ini (iya, kan guys?), ada kalanya saya dibiarkan masuk begitu saja. Seperti terjadi waktu bus Eurolines Paris-Barcelona dihentikan di perbatasan Spanyol. "Anda orang Perancis, kan?" petugas perbatasan itu tadinya hampir meloloskan saya tanpa pemeriksaan. Tapi saya mengaku datang dari Indonesia, daripada nanti timbul masalah.
Karena saya memang punya visa yang disyaratkan pemerintah Spanyol, saya tak mengalami kesulitan masuk ke Barcelona. Percaya deh, kalau Anda enggak membekali diri dengan dokumen yang dibutuhkan, Anda akan ditindak seperti halnya seorang penumpang Eurolines - yang digelandang turun dari bus dan entah bagaimana nasibnya kemudian. Modal tiket saja sungguh tidak cukup. Oh ya, paspor dan visa juga kadang-kadang diperlukan saat berbelanja pakai kartu kredit. Setidaknya begitulah yang saya alami 2 tahun lalu di Barcelona dan Paris, waktu beli suvenir dan tiket Eurolines. Walau tahun lalu enggak perlu begitu sih di Munich dan Zurich - entah apa kebijakannya sudah berubah.
Lewat Austria, pemeriksa tiket kereta ada kemungkinan menanyakan paspor dan visa kepada pemilik tiket bertampang non-Eropa. Seperti terjadi pada Risna, teman saya. Tapi waktu saya lewat Innsbruck dan Kufstein, Austria, dalam perjalanan Roma-Munich, si pemeriksa cuma minta saya menunjukkan tiket - juga penumpang lain yang asal negerinya. Jadi, ada diskriminasi terhadap Risna? Mungkin. Saya jadi ingat cerita teman saya yang lain, Cordel, yang digeledah polisi Prancis dalam perjalanan kereta Amsterdam-Paris. Gara-garanya sepele. Cordel tak sengaja memandangi polisi perempuan itu, yang sebetulnya berstatus penumpang juga dan tak sedang bertugas. Karena tak suka mungkin, maka ia menggeledah Cordel berikut barang bawaannya - Cordel satu-satunya penumpang di gerbong itu yang diperlakukan demikian. Cordel jadi sebal dan malu sama penumpang lain dong, enggak salah apa-apa tapi kok dianggap seperti penjahat. Dan ya karena memange nggak punya salah, polisi itu tak punya alasan buat menahannya.
Soal diskriminasi itu pernah melibatkan saya waktu mau balik ke Jerman, habis jalan-jalan sama Dedes dan Wolf naik mobil ke Liechtenstein dan Swiss. Di perbatasan Swiss-Jerman, petugas Jerman menghentikan mobil kami - padahal ia tidak menyetop mobil-mobil lain. Maklum deh, waktu itu Jerman jadi tuan rumah Piala Dunia 2006, jadi pengawasan di perbatasan rada ketat. (Naik Eurolines saja berangkat pulang diperiksa. Tapi saya enggak keberatan, soalnya polisinya cakep, hihihi). Waktu Wolf meminggirkan mobilnya di perbatasan, ia berkata, "We got three problems here." Saya lupa masalah pertamanya apa. Yang kedua menurutnya, paspor saya. Soalnya saya ngotot masih merekatkan paspor lama saya dengan yang baru .(Habis di paspor lama itu ada visa Meksiko, kenang-kenangan bo. Enggak penting ya?) Yang ketiga, tampang Dedes yang enggak bule. Huh. Enggak penting juga. Sepuluh menit kami menunggu, akhirnya dokumen kami dikembalikan dan kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Lucunya, si petugas itu membubuhkan cap perbatasan Jerman di paspor saya, tapi tidak di paspor Dedes. Dedes yang sempat jadi tertuduh gara-gara tampang doang, berteriak-teriak dari dalam mobil, "Hey what about my passport? Give me the stamp!" Halah.

San Siro Yang Gersang dan Susah Dicari

Di Milan, kunjungan ke stadion AC Milan dan Inter Milan, Giuseppe Meazza, San Siro (selanjutnya San Siro saja), sayang dilewatkan. Bagaimana pun caranya, pokoknya mesti ke San Siro. Kesasar sekalipun.
"Dari Stasiun Lotto, ke San Siro mesti jalan kaki cukup jauh," Val, teman saya di Italia, mewanti-wanti. Dia enggak bisa mengantar karena enggak bisa meninggalkan pekerjaannya. Jadi didroplah saya di Stasiun FS Centrale dengan selembar tiket metro pemberiannya di tangan, tapi cuma yang berlaku 1 jam! Dalam hati saya memaki-maki. Memang dia pikir saya cuma mau keliling Milan 1 jam? Huh. Dengan masih kesal saya mengantre di loket, buat membeli tiket 24 jam yang harganya berapa yah, 3 atau 4 euro-an. Untung saya masih ingat bahasa Italia 24 jam. Dan untung juga Val bermurah hati membelikan saya tiket kereta Eurostar Milan-Roma. Lumayan mengirit 50 euro. Dia masih mengira saya berangkat jam 8 malam dari Milan, seperti pesan saya. Tapi setelah melihat bakal sampai jam berapa saya di Roma, yang tertera di tiket, saya berpikir ulang. Memang si Widya mau jemput saya di Stasiun Termini Roma persis tengah malam? Yang benar saja. Maka, tanpa sepengetahuan Val yang sudah meninggalkan saya, dengan bahasa tarzan saya berhasil menukar jam keberangkatan, dari jam 8 malam ke jam 4 sore.
Yang tak kalah kacau, Val tak tahu apakah ada tempat penitipan barang di FS Centrale. Sudah begitu saya tak bisa menitipkan barang di kantornya - yang akhirnya ada hikmahnya, soalnya saya enggak perlu nungguin dia pulang kerja jam 7 malam. Habis menukar tiket, dengan petunjuk seorang petugas pemberi informasi - yang hebatnya ada di setiap sudut stasiun dan bisa berbahasa Inggris! -,saya mendaki belasan anak tangga menuju ke lantai 2. Hmmm, sebetulnya stasiun ini lumayan antik dengan kubah besarnya, tapi saya enggak punya waktu buat mengagumi lantaran keberatan bawaan dan kebelet pipis, hehehe. Jadi selesai menitipkan travel bag - biayanya lumayan tinggi, buat 8 jam saya mesti bayar 10 euro - saya langsung melesat ke toilet. Sebenarnya cara membayar toilet sih sama dengan umumnya toilet di negara Eropa lain: Cemplungkan koin euro ke lubang di palang pintu. Tapi bedanya, di FS Centrale kita masukkan koin itu sehabis menggunakan jasa toilet, bukan sebelumnya saat masuk. Jadi kalau enggak bayar, enggak bisa keluar!
Jadi, selesai problem saya di Milan? Belum. Saya kebingungan baca peta metro Milan. Ada kali hampir 1 jam saya tercenung di depannya. Padahal peta metro Milan tak seberapa rumit dibandingkan peta metro Paris. Cuma ada 3 jalur - Paris punya belasan. Tapi lantaran di Paris ke mana-mana tinggal membuntuti Sandy, saya enggak terbiasa "bergaul" dengan peta metro. Setelah memeras otak, baru saya menemukan cara mencapai Lotto, juga Duomo, tujuan pertama saya. Karena saya naik metro Milan jam 8 pagi, alhasil di metro saya melihat pemandangan menarik: cowok-cowok Italia yang lucu-lucu terbalut jas mahal. Wuhuuuu... lumayan penyegaran sebelum memulai perjalanan panjang.
Di Duomo, ternyata nyaris enggak ada apa-apa. Yang saya sukai hanya kerumunan merpati yang memadati piazza atau alun-alunnya. Katedralnya yang terkenal itu sedang direnovasi. Jadi saya di situ cuma meluruskan kaki saja. Habis istirahat sejenak, saya dengan antusias lanjut naik metro ke Stasiun Lotto. San Siro, I'm coming! Eh, tapi Lotto punya 4 pintu keluar. Yang mana ke arah San Siro? Ya sudah saya putari semua pintu, tapi tak ada tanda-tanda San Siro. Baru sesudah menyeberang, jalan sedikit, ada deh papan besar bertuliskan "SAN SIRO", tanpa panah. Praktis saya pikir San Siro adanya tak jauh-jauh dari papan itu dong. Menyeberangi 2 lampu merah, saya melewati papan itu dan menyusuri area apartemen. Sekitar 15 menit berjalan, kok sepertinya jalan itu tak berujung, ya? Yang kelihatan malah stadion berkuda. Apa iya San Siro di sekitar situ? Saya balik lagi ke arah papan San Siro tadi, yang tentunya menghabiskan 15 menit lagi, dengan terengah-engah. Maklum belum sarapan dan semalam cuma ngemil keripik kentang di Eurolines.
Satu jam sudah saya mencari San Siro, hasilnya nihil. Sementara waktu terus bergerak. Sudah jam 10.30 waktu Milan. Cuma tersisa 5,5 jam waktu saya di Milan. Tanya-tanya pada sejumlah orang, cuma 1 yang bisa berbahasa Inggris. Itu pun sedikit sekali. Dengan bahasa Inggris campur Italia (Italia campur Inggris sebetulnya), perempuan itu memberitahukan dengan ramah, saya mestinya belok kanan dan melalui 5 semafori atau lampu merah. Saya pun mengikuti penjelasannya dengan patuh. Di Eropa, antara 1 lampu merah dan yang lainnya dekat, tidak sejauh di sini, jadi saya santai saja. Tapi lewat 5 lampu merah, kok San Sironya belum kelihatan? Aduh, sebetulnya San Siro itu ada enggak, sih? Yah, pada akhirnya, saya menemukan juga yang dimaksud San Siro itu. Ternyata, bagian luar stadion tidak semegah dalamnya, seperti yang kita lihat di layar kaca kalau AC Milan atau Inter Milan bertanding. Stadionnya bertembok kelabu, dengan sekeliling gersang. Pepohonan tumbuh agak jauh. Tanda-tanda kehidupan paling dekat dengan stadion cuma perhentian trem. Itu pun, sejauh penglihatan saya, tak ada penumpang menanti trem lewat. Jadi, saya enggak tahu apakah stasiun trem itu berfungsi atau tidak.
Sampai di San Siro, saya belum boleh merasa lega. Yang mana pintu masuknya? Ada lebih dari 20 gerbang bernomor. Melihat ada petugas berjaga di pintu nomor 6, yang mengharuskan saya menyusuri stadion hingga ke belakang, saya pikir dari situlah saya bisa masuk. Tapi saya terkecoh, begitu pula sejumlah turis Jerman. Masuknya ternyata melalui pintu 21 yang letaknya di depan! Ya ampun. Balik lagi dong. Bagaimana saya terpikir ke arah situ, wong enggak ada penjaganya. Agak tersembunyi di balik pintu 21, berdirilah Museum San Siro. Di situ saya mendaftar ikut tur keliling San Siro, dengan membayar 12,5 euro. (Di Milan apa-apa mahal yah. Bandingkan dengan 5 euro saja di Olympiastadion, bekas stadionnya Bayern Munich.) Saya malas lama-lama di museum, soalnya menurut saya sih kurang menarik. Komplet sih, dengan penghargaan, foto bertanda tangan pemain, plakat, dan artikel-artikel penting menyangkut dua tim yang berkandang di situ terpajang. Sisi kiri untuk Inter Milan, sisi kanan untuk AC Milan. Tapi buat museum dua klub besar, ruangan itu terlalu sempit dengan pencahayaan yang kurang memadai. Apalagi pemain bola favorit saya, Marc Overmars dan Claudio Lopez, enggak pernah main di Milan. Jadi, ya memang enggak ada yang menahan saya buat berlama-lama.
Jadi, menunggu waktu tur tiba, saya melihat-lihat suvenir di toko suvenir resmi yang hampir bersebelahan dengan museum. Berhubung anggaran saya terbatas (lagian diperas 20 euro lebih buat tur dan nitip tas, hiks), saya bertanya-tanya dulu dong soal harga suvenir yang saya ingin beli. Salah satu penjaga tokonya, yang mengira saya tak paham bahasa Italia sama sekali (ya dikit-dikit masih bisalah), ngedumel, "Kenapa sih mereka (para turis) mesti bertanya dulu soal harga?" Ia menyinggung saya dan juga beberapa turis Jepang di dalam toko. Berhubung saya capek, enggak saya debat. Tapi besok-besok, awas (doh, memang siapa yang mau balik ke Milan?)!
Tur di San Siro berlangsung setengah jam. Pemandunya, seorang perempuan, sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Dia membimbing saya dan sekitar 20-an turis dari berbagai latar belakang (yang pasti ada Jerman dan Jepang) untuk melihat lapangan dari berbagai sudut bangku penonton. Kami juga boleh mencoba duduk di bangku VIP yang berwarna putih, yang menurut sang pemandu biasanya sudah dipesan habis sponsor buat tamu-tamu mereka. Lalu kami dibawa ke ruang ganti pemain. Sang pemandu menunjukkan kamar ganti tim AC Milan dan Inter Milan yang dipisah. Kalau AC Milan tidak bertanding derby, kamar ganti Inter Milan diisi tim away, begitu pula sebaliknya. Selain sejumlah shower, kamar ganti itu juga diisi tempat pemijatan. Fasilitas yang biasa saja, tidak ada istimewanya. Mungkin karena para pemain juga segan berlama-lama di situ. Sama dong.
Sepanjang tur, saya dan 2 turis Jepang bergantian minta difoto. Kayaknya turis Asia Timur sangat tertarik sama Milan. Selain turis-turis Jepang di San Siro, saya juga ketemu beberapa turis China di Duomo. Mungkin mereka mengincar acara belanja di butik-butik ternama kali, ya. Kalau buat saya sih, tidak banyak yang bisa dinikmati di kota mode sekaligus industri ini. Tapi ya, kalau ada waktu, San Siro tetap patut kok dikunjungi. Terutama buat penggila bola, wajib hukumnya.
Untung Val punya ide menjemput saya dan mengajak saya makan siang usai tur jam 12.30. Kalau neggak, bisa-bisa saya pingsan! Kelaparan berat soalnya.

Thursday, June 14, 2007

Televisa Si Kantong Ajaib

Adik saya enggak jadi ke Barcelona alias BCN. Tapi tujuan dia berikutnya malah membuat saya tambah excited: Mexico City alias Mexico DF alias DF saja deh! Begitu dia memberi tahu, saya langsung sambar, "Entar gue bikinin daftar CD trus lo beliin semua ya!" Dia manyun.
DF akan selalu ada di hati saya. Perjalanan pertama saya ke luar negeri, ya ke DF itu. Waktu itu saya baru kerja 3 bulan, status masih magang, tapi dikirim jauh betul. DF masih pegang rekor perjalanan terjauh yang saya tempuh. Bayangkan, beda waktu antara Jakarta dan DF saja 12-13 jam. Jangankan DF, lokasi transit dalam menuju ke sana pun jauh juga. Tokyo, Vancouver, Paris, yang kebetulan menarik. Maksudnya, suvenir-suvenir yang dijual di bandaranya menarik - ya iyalah, wong enggak boleh keluar dari situ, kecuali di Tokyo, hihihi.
Huhu... jadi kangen DF. Terutama, definitely absolutely, Televisa San Angel. Itu lho, produsen telenovela Meksiko yang berjaya di layar kaca kita akhir 1990-an-awal 2000-an. Dua kali ke DF, saya kayak ngantor di situ. Bisa 12 jam alias separuh hari saya habiskan di sana. Buat wawancara, juga menunggu artis datang. Terutama kali kedua saya terbang ke DF. Begitu keras usaha Nagelly, kontak saya di Televisa, untuk memberikan servis terbaiknya, sampai-sampai ia tak rela membiarkan jadwal saya kosong sedikit pun. Misalnya ada celah 1 jam antara wawancara satu dan yang lainnya, dengan bersemangat ia akan mengatur artis lain buat menemui saya. Bahkan weekend sekalipun! Sampai akhirnya saya dan Panji mesti berbohong akan sowan ke KBRI. Habis kalau enggak begitu, enggak ada istirahatnya. Enggak heran dalam tempo 8 hari kerja, kami mendapatkan 49 artis!
Di Televisa, tujuan pertama pasti lantai 6, ruangnya Nagelly. Dari luar, Televisa kelihatan enggak menarik. Produsen telenovela paling top kok kantornya biasa banget. Bentuknya cuma 2 bangunan bertembok kuning yang dingin, menjulang di tepi jalan yang tak terlalu besar. Enggak ada deh kaca-kaca jendela yang menyilaukan, yang di sini lazimnya melindungi kantor-kantor penting. Tapi justru karena terlalu biasa itulah, Televisa memberi kesan misterius bagi mereka yang mengikuti sepak terjangnya. Adakah yang disembunyikan dari publik? Hmmm, kita lihat nanti.
Sebelum masuk ke Televisa, biasanya saya memastikan punya permen atau tidak. Lumayan kan buat iseng-iseng sambil menunggu artis. Kalau kebetulan enggak punya - permen itu soalnya mesti dibagi sama Panji, jadi cepat habis - saya biasanya beli di pengasong yang mangkal di trotoar luar Televisa, seorang nenek. Iya, kantor top itu membiarkan seorang tua mencari nafkah dengan menumpang lokasi. Bahkan nenek itu juga berjualan kalung ID Televisa. Kalau hari ini si nenek kehabisan warna kalung ID yang kita inginkan - biasanya sih standar, merah biru - bisa pesan dan besoknya pasti tersedia di pikulannya.
Buat siapa pun yang bukan karyawan atau artis, seperti saya, kalau mau menembus barikade tembok kuning Televisa, mesti mengantre daftar di ruang resepsionis. Televisa, kan banyak pengunjungnya, mulai dari sekadar fans telenovela yang pengen tur - ada lho tour de Televisa - sampai wartawan. Ruang resepsionis Televisa, seperti tampak luar gedungnya, dibanding lobi teve-teve swasta di sini enggak ada apa-apanya. Sangat enggak representatif, kalau ingat bintang-bintang telenovela mereka yang glamor. Ruang ini letaknya bukan di lobi yang megah, atau sekadar baguslah. Melainkan di sebuah sisi tempat parkir! Ya, buat masuk ke ruang ini, saya harus menyusuri trotoar khusus pejalan kaki di pinggir tempat parkir. Usai mengurus tanda masuk di resepsionis, barulah naik ke lantai 6 lewat lift di samping ruang resepsionis. Jangan juga bayangkan lift yang mewah dan nyaman.
Di lantai mana pun, selalu ada petugas berjaga di dekat lift. Pada awal kunjungan, petugas itu selalu memeriksa identitas saya dengan cermat. Tapi lama-lama dia membiarkan lewat begitu saja, sudah hafal sih. Belok kiri, nah barulah Televisa terasa nuansa "kantornya". Ruang besar di lantai 6 itu penuh karyawan yang mengerjakan tugas masing-masing. Tapi bukan di situ ruang Nagelly. Kalau pada kunjungan pertama saya biasanya belok kiri lagi - ke ruangnya Hector - kali itu saya mengarah ke kanan. Masuk ke sebuah ruang kecil, yang diisi sekitar 4-5 meja. Salah satunya meja Nagelly? Bukan juga. Bak kantong ajaib, ruang sekecil itu masih memuat 2, atau 3 ya, ruang pribadi yang pastinya lebih sempit. Salah satunya, yang paling dekat dengan pintu, itulah ruang Nagelly.
Iya, Televisa memang bak kantong ajaib Doraemon. Selain lantai 6, persinggahan saya yang lain lantai 2. Berhubung di situlah umumnya aktivitas syuting dalam ruang, juga bermacam acara seperti kuis, variety show dan program hiburan lain, berlangsung, pengawasannya lebih ketat dengan 2 pos penjaga. Satu seperti biasa menghadang tak jauh dari lift, satunya lagi setelah menuruni sejumlah anak tangga. Saya lupa istilahnya, gedung atau ruang, ya yang dipakai buat syuting jumlahnya belasan. Yang nomornya belasan buat aneka acara hiburan di luar telenovela.
Saya biasanya singgah di nomor 2, 3, 5. Nomor 2 itu waktu itu jadi lokasi syuting Amor Real, yang dibintangi Fernando Colunga dan Adela Noriega. Tapi memasuki si nomor 2 itu, tak lantas saya berhadapan dengan aneka perlengkapan syuting. Yang tidak saya sangka-sangka, lokasi syuting dalam ruang Televisa itu letaknya nun jauh di bawah tanah! Buat mencapai lokasi, saya mesti turun 1 lantai lagi. Tiba di bawah, yang saya temukan hanya gang-gang sempit berlampu neon dengan sejumlah kursi di kanan kirinya, yang diisi beberapa orang yang sepertinya berkepentingan dengan syuting. Mata mereka terpaku pada televisi 14 inci yang tergantung di langit-langit - yang ternyata memampangkan syuting yang tengah berjalan.
Lha, lantas di mana syutingnya? Ya ampun, sudah "terjerumus" jauh di bawah tanah pun, Televisa masih misterius! Ternyata, syutingnya itu berlangsung di balik pintu lorong sebelah kanan! Ya, setidaknya begitulah pengetahuan saya yang melihat langsung dari situlah para artis keluar buat berganti baju. Tapi saya curiga, jangan-jangan di balik pintu itu masih ada pintu-pintu lain. Pokoknya yang enggak ada urusan dengan syuting macam saya, dilarang melongok ke balik pintu itu. Jadi saya menanti Fernando dan Adela sambil duduk di lorong, seraya memantau perkembangan syuting seperti yang lain lewat televisi.
Si nomor 2 itu jadi tempat yang menyenangkan buat saya, karena penjaganya ramah. Cukup sekali saya datang, dia sudah mengenali dan mengajak ngobrol. Dan ia tak peduli saya membuntuti Adela masuk ke ruang ganti sekalipun - pokoknya asal jangan coba-coba sentuh pintu menuju lokasi syuting. Beda dengan di nomor 3, di mana saya mesti hati-hati bergerak. Ketatnya penjagaan ini disadari kontak saya yang lain, Lizbeth. Sebab itulah ketika si penjaga tak awas, diam-diam dia menyelundupkan saya dan Panji ke kamar ganti Juan Soler. Gracias, Liz! Si penjaga sama sekali tak sadar setengah jam mengobrol dengan Juan, yang dengan manisnya memamerkan foto pacarnya, foto kegiatan terbang layangnya, dan beberapa foto pribadi lain.
Tapi tempat yang paling saya sukai di Televisa, kafetarianya. Letaknya terbilang paling ujung, tapi bukan berarti terabaikan. Untuk ukuran kafetaria, cukup memadai buat tempat makan, dengan kursi dan meja kayu yang bersih. Makanannya harganya murah untuk ukuran kafetaria langganan artis. Apalagi servisnya sama bagusnya dengan restoran - kafetaria ini juga menyuguhkan roti, biskuit, dan selai gratis sebagai makanan pembuka. Saya pernah bertemu Miguel de Leon sedang membeli jus pepaya, Gerardo Murguia sedang mengobrol dengan penggemar, juga Roberto Vander. Biar fisik enggak drop, saya biasanya memesan semangkuk salad buah yang isinya lumayan banyak. Panji, ya apalagi kalau bukan omelet tercinta yang dia incar. Saking ketakutan enggak cocok sama makanan lokal, ke mana-mana dia membawa sambal sachet, hihihi. Nah, setiap memesan salad buah, pelayannya enggak kapok-kapok bertanya apakah saya ingin tambahan miel (madu) atau apa gitu satu lagi, grasa, kali ya. Saya selalu minta miel bukan karena enggak suka yang satunya, tapi karena enggak ngerti artinya, hihihi. Huoh, Televisa. Entah kapan saya kembali. I'd really really really love to.

Wednesday, June 13, 2007

Mamma Mia!

Saya terbilang banyak belanja di Roma. Suvenir-suvenir murah saja kok, yang kayaknya enggak menarik hati staf Emirates yang bongkar-bongkar koper saya - atau staf bandara? Hmmm. Gara-garanya, ya si Widya. Habis dia rajin banget keluar masuk toko suvenir. Maksudnya sih baik, biar saya tahu harga. Tapi hasilnya malah boros. Sudah begitu dia pakai tanya, "Enggak pengen beli skarf di Trevi? Murah kok." Aduh!
Harga suvenir di toko jelas enggak bisa ditawar. Biasanya sudah dilabeli harga. Tapi di jalan, boleh banget. Misalnya, kalung ID card di dekat Piazza di Spagna. Widya menawar 10 euro untuk 5 kalung ID. Sang pedagang tidak setuju. Setelah tawar-menawar lebih lanjut, si pedagang memberikan harga 2 euro untuk 1 kalung ID. "Apa bedanya dengan 10 euro dapat 5, ya?" ucap Widya sambil cekikikan.
Oh ya, seperti kata Widya, jangan lupa beli skarf di Fontana di Trevi. Dengan 5 euro (sekitar 60 ribu rupiah), dapat 3 skarf! Skarfnya pun lebar, pantas dipakai sebagai kerudung. Biasanya bertuliskan Roma atau bergambar karyanya Pablo Picasso (bukannya Picasso orang Spanyol?). Yang berjualan perempuan-perempuan asal Vietnam. Sebetulnya saya sudah melihat mereka berkeliling menjajakan skarf ini pada kunjungan pertama ke Trevi, 4 Mei 2005. Tapi berhubung enggak tahu harga dan enggak fasih berbahasa Italia, saya lewati saja mereka. Baru waktu balik bareng Widya, saya beli skarf. Itu pun setelah Widya ngotot menawar. "Mamma mia!" gerutu seorang perempuan Vietnam saat mendengar Widya menawar 5 euro untuk 3 skarf. Ia maunya menjual 10 euro untuk 3. Widya enggak mau mengalah. "Ah, kemarin waktu Novia Kolopaking ke mari, 5 euro dapat 3, kok," ia bersikeras. Akhirnya wanita Vietnam tadi menghampiri kami lagi, menyepakati harga yang diinginkan Widya.

Gagap Berbahasa Inggris, eh, Italia

Saya datang ke Milan, 3 Mei 2005, dengan bahasa Italia seadanya (sampai hari ini juga masih seadanya sih). Dalam perbendaharaan saya cuma ada kata si, non, ciao, come stai (apa kabar), scusi (maaf, itu pun sering terbalik dengan scusa, yang tak sopan dilontarkan pada orang yang belum dikenal), dove si trova (di mana letaknya), lontano (jauh), posso io (bisakah saya), enggak jauh-jauh dari situ, deh. Makanya, waktu dilepas teman saya, Valerio alias Val, jalan-jalan sendirian di Duomo dan San Siro, saya lebih mengandalkan bahasa Inggris. Pikir saya, ini Milan, kota industri dan mode. Masa penduduknya gagap berbahasa Inggris?
Kacaunya, mungkin kebetulan, begitulah yang saya temui. Di Stasiun FS Centrale, seorang perempuan berbusana elegan yang saya tanyai soal penukaran tiket, mengaku terus terang tak paham bahasa Inggris. Untung saya tak perlu tanya siapa-siapa tentang jalan menuju Duomo (walau buat itu saya mesti berpikir 1 jam). Dari Duomo ke San Siro, markas AC Milan, saya pikir tak perlulah tanya-tanya lagi. Salah banget! Akibatnya saya tersesat di sekitar Stasiun Lotto. Saya baru tahu jalannya setelah menegur perempuan lain yang kebetulan lewat di dekat papan bertuliskan "SAN SIRO" (duh please deh, papannya di mana, San Sironya di mana). Saya telan saja penjelasannya dalam bahasa campur aduk Italia-Inggris. Untung ada kata kunci semafori (lampu merah). Menurutnya, dari sekitar Lotto, ke San Siro harus melalui 5 lampu merah alias cinque semafori. Padahal sih kalau dihitung-hitung lebih dari 5!
Dalam perjalanan kembali ke FS Centrale - sore itu juga mesti cabut ke Roma - saya kesasar lagi. Gara-garanya, salah dengar ucapan Val - padahal dibanding orang Italia lain yang saya temui, Val ini bahasa Inggrisnya bagus sekali. Buat ke jalur FS Centrale, dari Stasiun Cadorna mesti naik metro 10 menit dulu ke Duomo. Tapi ya karena kasus salah dengar itu, saya kira Duomo bisa dicapai dari Cadorna dengan 10 menit jalan kaki! Pinter banget, kan. Sebetulnya saya berusaha memastikan tak salah jalan, dengan bertanya-tanya pada sejumlah orang di Cadorna. Tapi enggak satu pun dari mereka fasih, bahkan ada yang sama sekali enggak bisa, berbahasa Inggris! Pinter juga. Jalan kaki 10 menit, ya mana kelihatan si Duomo. Saya malah terdampar di stasiun metro kecil, yang saya lupa namanya. Di situ saya bertanya-tanya pada 2 petugas stasiun dan seorang pria lokal (saking paniknya yang saya tanya cuma Duomo, enggak ingat soal FS Centrale). Tapi semua memberi informasi dalam bahasa Italia. Gawat, tersisa 1 jam saja menjelang keberangkatan saya ke Roma. Di saat-saat krusial itu, tadaaaa, muncul seorang pria bertampang non-Italia di lorong stasiun itu. Saya berharap dia bisa membantu memecahkan kendala bahasa di Milan ini. Alhamdulillah, betul begitu adanya. Tak cuma berbahasa Inggris sangat lancar dan jelas, dia menerangkan jalan menuju Duomo dan FS Centrale dengan membawa saya ke depan peta metro. "Pokoknya kuncinya adalah Duomo. Kalau ke FS Centrale pun harus ke Duomo dulu," katanya sembari menyarankan kepada saya untuk kembali ke Cadorna dulu. Setelah mengucapkan terima kasih, saya berlari menerjang mesin pemeriksa tiket dan mencari metro ke Cadorna. Ciao, Milano!

Enggak Mandi 3 Hari

Dalam kunjungan pertama saya di Eropa, kebiasaan mandi saya payah banget. Kalau enggak kelamaan, enggak mandi berhari-hari. Beneran. Kelamaan lantaran terlalu menikmati hangatnya shower - sementara udara di luar dingin. Enggak mandi, sama alasannya. Hahaha, kalau Sandy tahu saya sempat enggak mandi, berhari-hari, dia bisa ngerap. "Mendingan bau minyak kayu putih daripada nggak mandi," cerocosnya pada saya, yang kena flu sepulang dari Munich 2 tahun lewat. Kalau di apartemen Sandy, jangan khawatir, saya enggak pernah absen mandi. Bukan karena takut sama Sandy, hehehe, tapi karena shower-nya gampang dikontrol.
Saya mulai jarang mandi sejak di Milan. Tiba di Milan jam 7 pagi, dan harus bertolak ke Roma hari yang sama jam 4 sore, kapan punya waktu buat mandi? Lebih baik jalan-jalan ,kan? Untungnya cuaca di Eropa bersahabat buat orang yang malas mandi. Tinggal semprot wewangian, yuk mari jalan. Setiba di Roma, pun saya enggak langsung mandi. Air baru menyentuh badan saya besok paginya. "Gue sih mandi dua hari sekali," kata Widya, teman yang saya menampung saya di Roma.
Iya, di Roma saya ikut Widya saja, deh. Habis suhu Roma pagi-pagi masih dingiiiiinnnn.... Biasanya kami mandi malam, biar enggak terburu-buru keluar besok paginya. Soalnya, berhubung Widya cuma pegang satu kunci flat, saya mesti keluar jalan-jalan bersamaan dengan dia berangkat ke kantor, yang makan waktu hampir 1 jam perjalanan. Kami meluncur jam 8 pagi, dan balik setelah jam 6 sore. Selain karena alasan itu, saya malas memanaskan air, yang mengucur lewat shower. Menunggu air hangat makan waktu setengah jam. Kalau 15 menit, masih dingin. Pernah saya enggak sabar, baru 15 menit sudah menyalakan shower. Hasilnya, brrrrrrr...
Tiga hari di Barcelona, saya malah enggak mandi sama sekali! Shower di hostel sulit dikendalikan soalnya. Sudah susah ditekan, enggak kenal suhu hangat. Kalau panas, panaaas sekali... Sementara saya enggak tahan terlalu panas maupun terlalu dingin. Alhasil selama menginap di Habana Home, ya gitu deh, enggak ada acara mandi. Yang penting gosok gigi dan pakai wewangian di sana-sini. Ssstt... jangan cerita  kepada siapa-siapa, ya?

Kuliah Linguistik di Munich

Hmmm, saya lupa nama universitas itu. Maklum, namanya dalam bahasa Jerman yang tak saya pahami. Pokoknya letak universitas itu tidak jauh dari sebuah stasiun metro alias U-bahn. Nah, di 9 Mei 2005, saya dan oknum H terlambat mengejar U-bahn jam 09.30. Kami mesti tunggu setengah jam lagi. Karena itu saya enggak jadi diantar ke Marienplatz dulu. Soalnya dia ada kuliah jam 10.30. Dia membujuk saya ikut kuliah saja. Katanya, dosennya enggak bakal ngeh ada penyusup. Soalnya kuliahnya dilangsungkan di ruang besar dan diikuti banyak mahasiswa. Dan ia menjanjikan enggak bakal ada tes segala. "Hari ini kuliahnya cuma membaca," katanya. Lagi pula, katanya lagi, lebih baik mendekam di ruang kuliahnya yang hangat, ketimbang jalan-jalan di luar yang bersuhu 3-4 derajat Celsius.
Ya, sudah, saya susuri langkahnya masuk ke kampusnya. Kampus yang terbuka - tidak dibatasi pagar, dinding, atau sejenisnya. Di depan gedung kampus yang bentuknya mirip-mirip Sorbonne itu, ada beberapa tempat melingkar untuk duduk-duduk. Mengingatkan saya pada almarhum Teater Kolam di FSUI. Masuk ke kelasnya, hampir seluruh bangku terisi. Yang tersisa cuma di deretan depan. Kami pun duduk di situ. Mahasiswa yang ikut kuliah itu mayoritas bule. Ada minoritas orang Asia, seperti kami dan orang-orang China. Saya tak mengerti mata kuliah apa yang diajarkan dosen perempuan yang bertampang tegas itu. "Pura-pura menulis saja," bisik H. Pokoknya yang penting kelihatan memperhatikan kuliah. Malah sekali-sekali saya menatap dosen itu, berlagak seolah saya salah seorang mahasiswanya.
Seperti disarankan H, saya pun berlagak mencatat yang diajarkan dosen itu di buku cokelat yang saya bawa-bawa di Eropa. Kalimat pertama yang saya tulis adalah, "It's so cold in Munich..." Beda dengan kalimat pertama yang dipancarkan proyektor, text=schriftlich [literatur; allstagsverständnis]. Maksudnya? Ya, enggak tahu.
Tapi akhirnya saya mengerti maksud pelajaran itu. Saat mengangkat kepala untuk kesekian kalinya, saya terkejut melihat deretan kata yang dipancarkan proyektor. Isotopie, syntax, lexix, kohasion, kohärenz. Oh. Ini, positif, kelas linguistik. Oh, ada lagi yang saya kenal, anafora-katafora. Ya, linguistik. Mata kuliah yang kebetulan saya benci. Dan saya terjebak di tengah kuliah linguistik di Munich! Tapi somehow saya tak keberatan. Saya malah senang mendengarkan dosen dan mahasiswanya berbicara dalam bahasa Jerman. Bukannya bahasa Jerman tak menarik. Hanya memang tak seindah bahasa Perancis. Benar nasihat teman saya, Dian, sewaktu dulu kami memilih jurusan untuk kuliah. "Elo enggak akan suka bahasa Jerman, deh, soalnya enggak seindah Perancis." Elle avait raison, malheureusement. Dan H, bagaimana pun, danke schoen sudah memberi saya pengalaman unik di Munich!

Tuesday, June 12, 2007

Pasar Murah yang Pindah-pindah

Kamis itu, 5 Mei 2005, bukan hari besar di Italia. Tapi berhubung hari itu diperingati sebagai Kenaikan Isa Almasih di Indonesia, alhasil teman saya yang waktu itu kerja di KBRI Roma (sekarang dia sudah di Indo lagi), Widya, dapat jatah libur. Pagi-pagi ia membawa saya melihat-lihat pasar murah di dekat flatnya. "Pasarnya pindah-pindah. Besok buka di tempat lain. Dan siang biasanya sudah tutup," beri tahu Widya. Untuk taraf Roma, pasar kaget itu pantas disebut pasar murah. Yang paling saya ingat, pasti harga sepatu. Soalnya berhubung sepatu yang saya pakai dari Indonesia bikin kaki lecet - maklum sepatu baru, hihihi - saya memutuskan beli lagi. Sepatu termurah yang dipajang di toko-toko Roma maupun Paris seingat saya di kisaran 29 euro. Tapi di situ, sepatu-sepatu beragam ukuran dan model cuma 10-20 euro. Saya beli sepasang sepatu kulit cokelat dengan harga 10 euro.
Pasar murah itu luasnya tidak seberapa; setiap gerai dibatasi terpal. Penjualnya dari beragam latar belakang; ada orang Italia asli, tapi tak kurang-kurang juga orang Sri Lanka. Barang yang diperdagangkan pun macam-macam; mulai dari sepatu, jaket, kaos, pakaian dalam, baju kerja, stoking, tas, sampai perkakas rumah tangga. Di situ pula saya melihat jaket kulit, bukan asli sih, buatan China dilego 5 euro saja! Jaket yang masih terbayang-bayang di benak saya; jaket kulit palsu dengan harga setara pun belum tentu bisa saya peroleh di Jakarta. Tapi ya terpaksa harus saya lewatkan karena dua alasan. Pertama, tujuan utama saya cari sepatu, dan kedua, saya tak yakin masih ada ruang kosong di travel bag untuk menyimpannya.
Walau judulnya pasar murah, bukan berarti seluruh dagangan dikenai harga di bawah rata-rata. Yang betul-betul murah biasanya sudah dilabeli harga, enggak perlu pakai acara tawar-menawar. Yang harganya terbilang tinggi adalah setelan kerja perempuan, yang nilainya bisa mencapai 50 euro! Kalau pintar pilih dan pilah barang sih, di department store bahkan ada yang lebih murah.

Belanja Murah di Paris

Paris yang kota mode sudah pasti identik dengan butik. Dari 4 lokasi pergelaran busana paling top dunia, konon cuma dua lokasi yang diperhitungkan para pelaku mode: Paris dan Milan (well, setidaknya begitu saya baca di novel Devil Wears Prada, versi terjemahan tentunya : )). Jadi, tak heran di Avenue des Champs-Elysées bertebaran butik perancang terkenal. Tapi Paris tidak hanya punya LV dan segala yang serba mahal di Champs-Elysées. Pada 7 Juni 2006 sore, saya menemukan barang murah di area Champs-Elysées. Persisnya di department store Monoprix. Saya masuk ke situ bukan karena niat belanja. Champs-Elysées gitu lho, yang benar saja! Saya "terpaksa", mengantar Sandy beli baju buat anaknya yang badung, Lukas. Lukas mengotori bajunya saat main di Versailles. "Gara-gara kamu nakal nih, Mama mesti keluar uang lagi buat beliin kamu baju!" begitu ia mengomeli Lukas di metro. Hihihi.
Eh, ternyata harga barang di Monoprix masih taraf menengah buat Prancis. Sweter-sweter cewek, masih adalah yang harganya 30-40 euro. Kalau ditelusuri lebih lanjut, cocok juga Monoprix dibilang tarafnya menengah ke bawah. Ada slippers dari bahan kain seharga 5 euro saja (sekitar 60 ribu perak)! Kebetulan saya pengin banget punya slippers. Tapi di Jakarta harganya berlebihan buat saya, di atas 120 ribu rupiah. Saking pengennya, di Paris jalan-jalan saya pinjam slippers Sandy yang warnanya pink keunguan. Ternyata slippers itu membawa keberuntungan. Pakai slippers, dapat slippers biru toska 5 euro di Monoprix! Hebat, kan ada barang sebegitu murah di Champs-Elysées yang elite? Ya memang slippers-nya bukan buatan Prancis, melainkan Bangladesh. Tapi kan tetap saya bisa membanggakan slippers itu dibeli di Champs-Elysées!
Yang juga barang murah di Champs-Elysées, parfum Yves Rocher. Yang kata Sandy, parfum pasaran di Paris. Bagaimana enggak murah. Eau de toilette dengan wewangian natural 100 ml, bisa didapatkan dengan harga 7,5 euro saja! Wanginya awet lagi, semprotan sekali di leher saja bisa tahan setengah hari. Kalau lagi diskon gede-gedean, 50 persennya serius! Mulai dari eau de toilette lavender (dari 18 euro jadi 9 euro), pelembap bibir, sampai lipstik dengan harga 1-2 euro saja. Dengan harga begitu, saya enggak pernah mengira Yves Rocher buka gerai di Champs-Elysées. Ya, tadinya saya pikir gerai Yves Rocher cuma ada di Gare du Nord - wajar dong parfum pasaran dijual di stasiun. Ternyata di Champs-Elysées yang megah itu juga ada, toh. Tapi enggak lantas saya kalap memborong. Yang kalap itu adik saya, yang berkunjung ke Paris hampir setahun setelahnya. Saya memang berpesan pada dia agar membawakan eau de toilette Yves Rocher yang 30 ml (dari 3 euro, tahun ini naik jadi 4 euro) dengan wangi pêche alias peach dan mûr alias apa ya, blackberry atau apa gitu. Mungkin saking kagum dengan harga murahnya, dia membawa pulang 3 eau de toilette lavender 100 ml, 2 eau de toilette orange 100 ml, dan 9 eau de toilette pêche dan mûr 30 ml! Setelah dibagi-bagikan kepada tante-tante saya, di rumah masih tersisa beberapa. Maka saya pun sekarang ke kantor setiap hari pakai parfum; mana parfum yang dulu saya beli di Yves Rocher belum habis lagi.
Di luar Champs-Elysées, makin banyak barang murah. Di Montmartre, tepatnya sepanjang jalan menuju Sacré-Coeur, berdiri beberapa toko yang memasarkan baju sisa stok. Atasan macam kaus, kemeja ditaruh di rak berlabel harga 5 euro, celana jins biasanya 10 euro. Baju anak-anak 5-10 euro. Lumayan bermereklah; saya sendiri mendapatkan sepotong atasan Naf Naf seharga 6 euro. Cuma, seperti barang sisa stok lain di belahan dunia mana pun, jangan asal sambar barang sebelum diteliti. Mana tahu ada jahitan atau kancing yang lepas. Seperti juga kasus di Monoprix, mulanya saya, eh kami (saya dan Sandy) enggak berencana mampir. Berhubung saya pengin melihat pemandangan Paris dari atas Sacré-Coeur, mau enggak mau melintasi toko itu. Dan, voila, kami pun tersangkut di situ 1 jam, tergiur harga murah yang terpampang jelas dari dalam toko tanpa penghalang kaca itu.
Beli suvenir murah, pun ada tempat khusus. Tapi boro-boro nama tempatnya, letaknya saja saya lupa. Pokoknya itu toko grosir, yang jualan orang China. Suvenir macam miniatur Eiffel berharga separuh lebih murah daripada di tempat-tempat wisata. Tas selempang mini berwarna hitam dengan jahitan Eiffel berwarna kuning di depannya, harganya variatif mulai 1,5-3,5 euro. Ada juga aneka kaus, tapi karena tak berminat, saya tak mengecek harganya. Yah, itulah arena jualan barang murah yang saya tahu di Paris. Kalau mau tahu lebih lanjut, tanya Sandy, okeh!

Lo Gue di Butik LV

Saya belum pernah masuk ke butik ini. Bahkan butik label mewah mana pun. Di mana pun. Sumpah.
Tapi dengan Louis Vuitton (LV) Paris, saya punya cerita sendiri. Tadinya saya enggak tahu apa-apa soal LV ini apalagi kehebohan yang ditimbulkannya. Lambangnya saja saya enggak hafal. Tapi LV menarik perhatian saya waktu saya berada di Paris hampir 3 tahun lalu, tepatnya 29 April 2005. Seperti turis lain, saya pengin tahu dong kayak apa sih Champs-Elysées itu. Apalagi bos saya bilang sempat jalan-jalan di sini waktu dia ke Eropa 2 tahun sebelumnya. Saya enggak mau kalah dong. Walaupun saya sudah pasti enggak bakal masuk ke butik mana pun yang berjajar di Champs-Elysées. Lha beli CD 10 euro saja mikirnya lama banget, apalagi beli barang di butik.
Nah, di Champs-Elysées, Sandy, teman saya yang mengantar jalan-jalan di Paris, sudah wanti-wanti enggak akan mau memotret saya dengan latar belakang butik. "Malu-maluin, norak!" begitu katanya. Tapi ia menyerah ketika saya memaksanya memotret saya dengan latar belakang LV. Waktu itu, LV dari kejauhan sudah terlihat mencolok. Di depannya menjulang koper raksasa dengan monogram LV dengan gambar buah ceri, sementara di samping kanannya menjulang koper lain dengan monogram standar LV. Memang butiknya keren begitu, ya San? "Bukan," jawab teman saya dengan sedikit dongkol. "Butik LV-nya lagi direnovasi, makanya dipasang koper kayak begitu." Kalau enggak direnovasi sih, menurut Sandy, tampilan luarnya nggak beda-beda amat sama butik lain.
Waktu itu, enggak kepikiran buat saya melongok LV dari dekat. Habis saya pikir, ya buat apa juga, wong enggak sanggup beli produknya. Tapi kali kedua saya ke Paris, saya pengin banget sekadar melihat-lihat sebentar. Gara-garanya saya baca entah di media cetak atau elektronik, kalau pengunjung LV itu antreannya gila-gilaan! Saya cuma pengin merasakan antrean gila-gilaan itu - yang wajar kalau antre masuk Menara Eiffel, tapi ini butik LV yang mahal! - dan pengin tahu dalamnya seperti apa sih. Tapi Sandy, yang kembali mengantar saya, menolak mentah-mentah ide saya itu. Dia tidak melihat ada gunanya mengantre lama-lama, sementara dalam waktu 5 jam saya harus mengejar bus balik ke Munich dan masih banyak yang mesti saya lihat. Tapi ya, namanya juga penasaran. Tapi Sandy tetap tidak mengizinkan. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali menyusuri Champs-Elysées - saya masih mengincar foto ulang di Arc de Triomphe, hihihi. Eh, dalam perjalanan, ada seorang ibu bermata sipit menyapa Sandy. "Anda dari Asia?" Saya tadinya tergerak ingin menjawab, tapi belum sempat Sandy sudah menyahutinya dengan kata-kata penolakan. Saya bingung, kenapa Sandy terkesan tidak ramah pada ibu itu? Oh, ternyata ibu itu ada maunya, dan maunya itu menyebalkan. "Ibu itu minta kita buat bantu antre di LV," kata Sandy dengan muka bersungut-sungut. Kenapa bisa begitu? Menurutnya, banyak orang Asia membeli barang di LV buat dijual lagi di negara mereka. Taktik dagang macam begini eksis lantaran konon harga produk LV di Paris jatuhnya lebih murah 1-2 juta rupiah dibandingkan di tempat lain! Untuk mengantisipasi, maka LV Paris membatasi pembelian produk maksimal 2, pun jenisnya harus berbeda. Karena cuma bisa beli 2 itulah, banyak orang Asia minta bantuan orang lain - biasanya sih orang Asia yang gampang dibujuk -membelikan buat mereka dengan imbalan tertentu. Oh, gitu toh.
Teman saya yang lain, Linong, yang pernah 2 kali ke Paris, menggulirkan cerita yang hampir sama tentang kisah LV-Asia. Kali kedua ke Paris, dia dititipi temannya membelikan sebuah tas LV. Temannya yang mengantarnya, Alvina, meyakinkan, di LV dia bakal banyak dengar orang berceloteh dengan kata-kata lo gue, pertanda orang itu datang dari Indonesia, khususnya Jakarta. Tadinya Linong susah percaya. WSelama di Paris dia enggak pernah papasan dengan orang Indonesia, termasuk di Menara Eiffel yang kondang, masa di LV ketemu? "Eh, ternyata memang benar di LV itu banyak yang ngomong lo gue," kata Linong terheran-heran.

Monday, June 11, 2007

Nonton Bareng Piala Dunia 2006 di Munich


Hari yang saya tunggu-tunggu tiba! Pembukaan Piala Dunia 2006! Oh ya, cita-cita terbesar saya, selain keliling Eropa, BERBAUR DENGAN RIBUAN PENGGILA BOLA BUAT NONTON BARENG PIALA DUNIA, MAU DI LAPANGAN KEK, MAU DI TENGAH KOTA KEK, TERSERAH! Duh kok jadi emosi begini ya, hihihi. Habis saya sebal, begitu saya pulang dari Munich, banyak yang bilang, ”Kalau gue jadi elo, gue sih cari tiket buat nonton langsung.” Sayang gue bukan elo. Malah ada yang lebih ngeyel lagi, ”Tiket mah gampang dicari, pasti banyak calo.” Yaaaah, dia enggak tahu bertaburan orang di Marienplatz yang mengalungkan karton di leher bertuliskan: "I need ticket".
Ya, di hari itu, bukan cuma saya, Manda, dan Dedes pun bersemangat berangkat ke Olympiapark, arena nonton bareng Piala Dunia terbesar di Jerman. Suasana Piala Dunia sudah terasa bahkan sebelum kami menginjak Olympiapark. Berlimpah orang mengenakan kostum aneh-aneh di Stasiun Marienplatz, bahkan kostum negara-negara yang belum bertanding seperti Argentina dan Meksiko - waktu itu partai pembukanya Jerman vs Kosta Rika. Dan dasar bule, biasanya tak cuma kostum aneh yang mereka bawa di badan, tapi juga bir di tangan. Untungnya mereka enggak mengganggu satu sama lain. Masyarakat Jerman yang nggak biasa ribut di metro, mendiamkan saja orang-orang Meksiko yang menyanyi kencang-kencang. Pokoknya kalau PBB lihat, bangga deh, begitu banyak bangsa berbaur dengan damai.
Sampai di gerbang Olympiapark, kami disambut begitu banyak polisi. Mereka tidak membiarkan penggila bola dengan bir di tangan masuk. Yah mana tahu nanti di dalam rusuh, terus ada acara lempar-lemparan botol segala, iya kan? Jadi, kami masuk ke dalam Olympiapark dengan tenang, tak khawatir bakal terkena pecahan botol. Tapi ya ampun. Di mana layar tancap Piala Dunia, ya? Sejauh mata memandang, yang kami lihat orang, orang, orang, dan orang lagi. Sudah belasan ribu orang mendahului kami. Karena tak tahu arah, kami hanya bisa terus mengikuti orang-orang yang berjalan di depan kami. Dan, itu dia! Layarnya ada di seberang danau. Dan di pinggir danau berikut bukit-bukit di atasnya, orang sudah menyemut. Sekali lagi dengan mengandalkan badan yang kecil, kami menerobos barikade belasan ribu orang itu untuk mencari pemandangan terbaik. Sungguh tak mudah. Mesti naik bukit, turun bukit, naik lagi, dan turun lagi, barulah kami tiba di samping kiri layar. Bukan pemandangan terbaik, tapi itu yang terbaik yang bisa kami upayakan. Pun begitu sudah nggak kebagian tempat duduk, lantaran bukit kecil di belakang kami tak menyisakan celah sedikit pun. Jadi kami hanya bisa berdiri seraya berpegangan pada pagar yang membatasi kami dan danau. Tapi ya sudahlah, yang penting cita-cita nonton bareng Piala Dunia kesampaian toh?
Baru 5 menit kami foto-foto serta menikmati serunya crowd Piala Dunia. Saat itu Manda mengaku, ”Gue pengin pipis.” Saya langsung pasang muka sebal bercampur kasihan. Karena Manda tahu betapa inginnya saya tinggal, dia mengalah. ”Sudah gue pulang aja. Lo di sini aja sama Dedes.” Enggak tega dong. Buat pulang, kan dia mesti menerobos ribuan orang dan turun naik bukit lagi. Setelah saya pikir-pikir, ya sudah, kami antar Manda saja balik, lalu melanjutkan nonton pertandingan di tempat lain. Maka, kembalilah saya dan Dedes ke Marienplatz, dengan Manda melanjutkan perjalanan pulang. Ternyata, perkiraan saya salah. Di Marienplatz sama sekali tak ada layar tancap Piala Dunia. Orang-orang malah menonton berkerumun di sebuah bar. Tapi kami tak terbiasa dengan suasana bar. Daripada luntang-lantung tak keruan di Marienplatz, kami ngopi saja di Woerner's. Eh, ternyata di lantai 2 kafe itu ada teve, yang tengah menayangkan partai pembukaan! Sudah begitu masih ada meja kosong mengarah ke teve. Lebih enak kan, nonton Piala Dunia sambil ngopi dan ngemil apfelstrudel plus strawberry cake. Lagi pula saya enggak perlu takut kehilangan momen berbaur. Usai pertandingan, massa tumpah ruah di Marienplatz. Saya masih bisa menikmati kumpul bareng mereka, terutama orang-orang Jerman yang sedang mabuk kemenangan lantaran tim mereka berhasil mengandaskan Kosta Rika. Betapa menyenangkan, betapa mengesankan, walau akan lebih menyenangkan bila minus aroma bir. Tapi tak apa. Itu pengalaman yang mungkin hanya saya dapatkan sekali seumur hidup, saya tak akan minta lebih.

Adu Berburu Bangku Metro

Metro selalu memberi cerita menarik buat saya. Alat transportasi ini mempermudah saya menjangkau banyak tempat wisata dengan cepat. Banyak berinteraksi dengan metro, pastinya banyak pula cerita yang bisa saya bagi. Salah satu cerita yang sangat menarik bukan saya alami sendiri, melainkan dua teman kuliah saya, Sandy dan Feni. Suatu hari, Feni dan rombongan, yang sedang dinas di Paris, salah ambil jalur metro. Eh, siapa sangka, justru karena kesalahan tak disengaja ini, Feni bertemu Sandy, yang kebetulan naik metro yang sama! Jadilah metro ajang reuni yang mengharukan – bayangkan, mereka sudah sekitar 7 tahun tak jumpa!
Di metro, tepatnya U-bahn 3 Munich, saya pernah ketemu orang Indonesia. Tepatnya saya, Manda, dan Dedes. Waktu itu, 9 Juni 2006, pembukaan Piala Dunia di Munich. Ada 2 nomor metro yang dipadati penumpang; U-bahn yang mengarah ke Stadion Allianz Arena, tempat terselenggaranya pembukaan Piala Dunia 2006 dan U-bahn 3 ke arah Olympiapark, arena nonton bareng Piala Dunia buat yang neggak kebagian tiket. Karena salah satu cita-cita terbesar saya adalah berbaur dengan ribuan penggemar Piala Dunia – kalau bisa menonton langsung pertandingan itu bonus, tapi kalau enggak bisa, ya enggak apa-apa – maka saya bersemangat sekali pergi bersama Manda dan Dedes ke Olympiapark. Kami berangkat dari Marienplatz, jantung kota Munich dan satu-satunya tempat janjian yang saya tahu – kalau janjian dengan saya di Munich, yang saya tahu cuma kantor wali kota Munich, itu saja. Di peron, sudah begitu banyak orang, sebagian dengan kostum aneh-aneh sesuai negeri asal, menanti U-bahn lewat. Dan U-bahn yang lewat di depan kami lagi-lagi penuh, sudah disesaki calon penggembira nonton bareng yang naik dari stasiun-stasiun sebelumnya. Sampai berhenti U-bahn kosong melompong tujuan Olympiapark.
Berhubung kami cilik-cilik dan sudah terlatih berebut penumpang saat naik mikrolet atau metro mini, dengan mudahnya kami menyelinap di tengah orang-orang Jerman, Kosta Rika (waktu itu pertandingannya Jerman vs Kosta Rika), bahkan orang-orang berkostum Meksiko, Italia, dan Argentina yang tinggi dan besar. Dan mendaratlah kami di bangku metro dengan selamat, dengan Manda duduk di sebelah saya dan Dedes di depan Manda. Sementara bule-bule itu terpaksa berdiri karena kalah adu berburu bangku dengan kami. Kami pun terkikik-kikik mengingat kegesitan menyalip mereka, tanpa memperhatikan penumpang yang duduk persis di depan saya. Penumpang itu senyam-senyum ketika akhirnya nimbrung, ”Mbak, dari Indonesia ya?” Haaa? Ternyata dia asal Indonesia juga, namanya Novi. Kami pun terkejut sekaligus tambah geli. Berarti betul, kan kata saya, ”Kita biasa nguber mikrolet sih, jadi cepat dapat tempat duduknya!” Duh, thanks ya abang-abang mikrolet, terutama M44!

Nyaris Diciduk Polisi Paris

Ini urusan dengan polisi lagi. Tepatnya hampir berurusan dengan polisi Perancis.
Kejadiannya 2 tahun lalu, di hari terakhir saya di Paris. Waktu saya diantar Sandy menuju Bandara Charles de Gaulle, naik metro. Menuju CDG, kami transit di 2 stasiun: Gare du Nord dan Parc des Expositions. Dari stasiun dekat apartemen Sandy waktu itu – Sandy sekarang sudah pindah – Ermont Eaubonne, menuju Gare du Nord saya berbekal tiket sekali jalan seharga berapa ya, kurang lebih 2 euro, malah enggak sampai segitu deh. Dari Gare du Nord ke CDG, tiketnya cukup mahal. Pastinya lebih dari 5 euro, soalnya Gare du Nord dan CDG tidak satu area metro. Buat mengirit, Sandy usul beli tiketnya dari Parc des Expositions saja. Itu berarti dari Gare du Nord menuju Parc des Expositions, saya enggak pegang tiket! Apa bisa, mengingat pemeriksaan tiket di Paris pakai mesin dan palang pintu otomatis yang terkendali baik? Kalau pinjam tiket bulanan yang habis dipakai Sandy, misalnya, saya mesti menunggu lama sampai tiket itu bisa diterima lagi oleh mesin. Memang masih ada waktu 2,5 jam sebelum pesawat berangkat. Tapi itu kalau perjalanan dengan metro mulus. Pasalnya kalau sampai ada kendala di jalan – misalnya orang nekat bunuh diri dengan terjun ke depan metro – habislah kami. Soalnya sebelum ambulans dan polisi tiba di lokasi dan menyatakan penyidikan sudah beres, metro belum boleh berangkat lagi. Dan itu bisa makan waktu 3 jam, seperti yang terjadi waktu Sandy menjemput saya di CDG! Gara-gara orang nekat itu, saya terkatung-katung kedinginan di luar bandara kurang lebih 2 jam.
Nah, jadi satu-satunya cara buat mengirit, Sandy mendorong saya masuk lewat bawah palang! Cara yang di kemudian hari efektif dan saya ulangi di sebuah toilet di Swiss, hihihi – bukannya enggak mau bayar masuk toilet, tapi saya dan Dedes kebingungan dengan instruksinya. Dengan tanpa pegang tiket, saya pun mengikuti Sandy masuk ke RER A – sebutan buat metro pinggiran Paris – yang akan membawa kami ke Parc de Exposition. Cukup lama perjalanan ke sana, 20 menit sih ada. Dan sepanjang jalan kami deg-degan. Sudah masuk RER A, belum berarti selamat. Kalau sampai ada polisi yang memeriksa tiket lewat, gawat. Dan sekitar 3 menit sebelum mencapai Parc des Expositions, voila! Dua polisi berseragam masuk ke gerbong kami. Gawat. Kacau. Mati gua! ”Jangan pasang muka panik,” Sandy berbisik. ”Sudah begini saja, kita berdiri saja seolah-olah mau turun, toh Parc des Expositions sudah dekat.”
Satu deret bangku terlewati, giliran orang-orang yang duduk di deret kedua yang dicek. Selanjutnya deret bangku kami. ”Sedikit lagi Parc des Expositions,” Sandy berkata seraya menggotong koper saya ke depan pintu gerbong. Dan, eh, saya sangat bersyukur sekali, bukan saya satu-satunya yang nekat naik metro tanpa tiket! Di deret kedua, seorang pria kepergok tak bawa tiket. Alhasil dua polisi itu sibuk menginterogasi pria itu, tak menghiraukan kami. Dan turunlah kami di Parc des Expositions dengan selamat. Di Parc des Expositions, Sandy masuk ke dalam stasiun sebentar buat membeli tiket. Dan begitu kembali, dia berkata sambil menunjuk ke arah kanan kami, ”Tuh, lihat.” Oh oh, pemandangan pria yang belum beres diinterogasi dua polisi tadi! ”Kalau kita ketangkap, begitu deh urusannya, panjang,” bilang Sandy lagi. Ya ampun, cukup deh enggak lagi-lagi nggak beli tiket di Paris, eh, di tempat lain juga ding!

Bus Terlambat, Lapor Polisi!

Setiap kali bertemu Wolf, pacar (dan akan segera jadi suami) Dedes, minimal saya ditraktir, deh. Pertama kali kenalan dengan dia, saya sedang bersama Manda dan oknum H (jangan paksa gue nulis namanya) dan little Farhan di Olympiapark. Di situ kami janjian bertemu, karena saya akan menyampaikan oleh-oleh dari Dedes. Saat memastikan lokasi janjian kami, lewat telepon ia mengungkapkan ciri-cirinya: tinggi besar, pakai baju hitam, bawa payung hijau. Ya, cuaca memang sedang tidak bersahabat, berangin diselingi hujan, sehingga kami memutuskan menantinya di dalam sebuah gedung di Olympiapark - jangan tanya nama gedungnya, ingat Olympiapark saja sudah bagus. Selagi menunggu, Manda bikin senewen. Dia begitu penasaran seperti apa yang namanya Wolf, sehingga semua cowok yang muncul dengan ciri-ciri yang disebut Wolf, diyakininya sosok Wolf. "Eh itu tuh ada pakai baju hitam!" "Tuh dia! Eh tapi yang hitam payungnya deng, bajunya yang hijau!" Begitulah kira-kira contoh ucapan Manda yang bikin senewen. Akhirnya, Wolf tiba; dia memang besaaaarrrr sekali. Sangat bertolak belakang dengan Dedes yang mungil! Walau belum kenal betul, hari itu dia mentraktir kami mengopi di San Francisco Coffee. Sebelum itu dia dengan baiknya menawarkan diri untuk memotret saya dengan background sejenis patung yang disebutnya the walking man.
Kali kedua ke Eropa, saya dijamu habis-habisan sama Wolf. Ditraktir, diajak jalan-jalan, diantar, dijemput, semua dia lakukan buat menyenangkan saya, tamunya. Maklum saya dan Dedes selama di Munich kan menumpang tidur di apartemennya. Terpisah kok; dia mengalah tidur di sofa. Saya selalu dipaksa bangun kalau menurut dia saya tidur terlalu lama. “Kamu di sini bukan buat tidur (duh jadi ingat kata-kata Mak Sandy, hehehe), tapi buat jalan-jalan. Ayo bangun, sudah siang, hari ini mau saya antar ke mana?” katanya memaksa sambil mengajak. Tanpa Dedes yang sibuk kursus bahasa Jerman sampai siang, saya pernah diajaknya jalan-jalan keliling Englischer Garten, taman terluas dan terindang di Jerman, dan diantar ke apartemen Manda buat makan siang. Untung saya ingat yang mana apartemen Manda – dia bisa marah-marah kalau kami jalan tak tentu arah. Sumpah, Wolf baik banget. Tapi dia tetap orang Jerman yang tak bisa terima keteledoran, terutama yang berhubungan dengan waktu.
Nah, seperti yang saya ceritakan di bawah, saya sempat menempuh perjalanan Munich-Paris PP naik bus Eurolines. Biasanya bus Eurolines jadwalnya sangat ketat, jarang telat. Tapi entah kenapa, bus Paris-Munich yang saya tumpangi keberangkatannya ditunda sampai 1,5 jam. Kalau enggak salah sih, tumben-tumbennya, menunggu penumpang yang telat sampai. Belum lagi waktu tempuhnya lebih lamban setengah jam dari yang seharusnya. Alhasil bus tiba terlambat 2 jam di Terminal Frottmaning, Munich. Dan buat seorang Jerman seperti Wolf, keterlambatan 2 tak masuk akal, tak bisa lagi ditoleransi. Kebetulan hari itu Dedes meminta Wolf, yang sedang longgar kerjanya, menjemput saya di Frottmaning. Wolf tentu sudah siap di Frottmaning jam 9 pagi, saat seharusnya bus Eurolines Paris-Munich memasuki gerbang Frottmaning. Tapi tunggu punya tunggu, kok bus enggak kunjung muncul, ya? Satu jam berlalu sudah, tanpa kabar pasti. Misalnya, bus telat berangkat atau mengalami hambatan di jalan, apa saja. Tapi tak ada. Dan percayalah, Wolf enggak akan pasrah menunggu.
Apa yang dilakukan Wolf? Yang pertama, dia mempertanyakan keberadaan bus kepada staf Eurolines yang kelihatan di depan matanya. Karena sepertinya mereka tak tahu apa-apa, ia menelepon Eurolines pusat. Tapi juga tak memperoleh jawaban memuaskan. Ia jengkel, kok bisa-bisanya perusahaan bereputasi macam Eurolines membiarkan banyak orang menunggu tanpa kabar? Khawatir terjadi sesuatu di jalan, ia melakukan tindakan yang menurut saya cukup ekstrem tapi wajar buat ukuran orang Eropa yang tertib: menelepon polisi! Untung Eurolinesnya tak terlambat lebih lama lagi, jadi polisi tak perlu dilibatkan lebih jauh dalam urusan ini. “Iya, kamu tahu enggak, saya sampai lapor pada polisi,” cerita Wolf seraya “menyeret” saya menjauh dari bus, begitu ia melihat saya turun dari Eurolines Paris-Munich. “Habis saya kesal, Eurolines tak memberi kabar apa pun. Keterlaluan sekali, terlambat 2 jam. Saya, kan cemas ada apa-apa di jalan.” Saya hanya terbengong-bengong mendengar ceritanya. Tapi mukanya serius, yang berarti dia memang menanggapi keterlambatan itu masalah besar. Dan begitu saya ceritakan, Dedes terkikik-kikik. Duh dia kagak tahu aja, kalau di sini kami janjian suka enggak beres alias sering telat!

Eurolines, Arena Mengobrol Berbagai Bangsa

Kalau jalan-jalan keliling Eropa, sempatkan sekali saja naik bus Eurolines. Dibanding kereta atau pesawat, alat transportasi antar negara Eropa ini paling lama jarak tempuhnya. Kalau Paris-Barcelona naik pesawat cukup 2 jam, naik kereta maksimal 12 jam, naik Eurolines bisa 15 jam. Tapi dari segi harga, sangat ekonomis buat backpacker apalagi kalau belinya jauh-jauh hari. Kalau beli 2 bulan di muka nih, Paris-Barcelona PP bisa dapat 60 euro lho! Bener! Sayang waktu itu berhubung saya melakukan perjalanan mendadak, cuma dapat tarif 10 hari di muka alias dua kali lipatnya. Tapi buat mendadak sih lumayan banget, dibanding kereta atau pesawat yang bisa dua kali lipatnya lagi.
Eurolines pas banget kalau dibilang kendaraan pelancong. Sudah berbagai bangsa saya temui di sini. Mulai dari Prancis - iyalah, seringnya kan saya start dari situ -, Italia, Spanyol, Jerman, sampai yang jauh-jauh macam India, Chile, Meksiko. Saya tahunya mulai dari hasil ngobrol sama hasil nguping. Karena saya selalu sendirian naik Eurolines, kalau lagi nggak capek, saya upayakan ngobrol setidaknya dengan orang yang duduk di sebelah saya. Mei 2005, waktu saya menempuh trayek Paris-Milan, saya ngobrol dengan tiga cewek Chile. Salah satunya, Susana, duduk di sebelah saya. Saya mulai membuka pembicaraan dengannya lantaran bosan. Lagi pula kebetulan Susana dan teman-temannya ngobrol dalam bahasa negeri mereka, Spanyol, jadi boleh dong melatih bahasa Spanyol saya dengan mereka. Karena saya tak tahu banyak soal Chile, jadi saya coba mengangkat topik salah satu aktor telenovela asal sana yang saya kenal, Roberto Vander. Saya bilang pernah ketemu dia di Meksiko dan saya memujinya sangat ramah. Tapi seorang teman Susana, saya lupa namanya, rupanya tak sependapat kalau Roberto Vander dibilang begitu. Dia cuma tertawa, "Tentu saja dia ramah padamu! Kau kan jurnalis, dia butuh kau!" Ella, tenia razón.
Lalu masih di bulan yang sama, dalam perjalanan Paris-Barcelona - setelah muter-muter Milan-Roma naik kereta, di mana saya bertemu cewek Prancis yang sangat ramah (tumben), Roma-Munich naik kereta di mana saya frustrasi karena teman sekabin saya semuanya ngoceh dalam bahasa Jerman (iyalah, semuanya orang Austria), Munich-Paris di mana saya naik Eurolines tapi memutuskan santai-santai sendirian mumpung busnya diisi tak lebih dari 15 orang - saya kenalan dengan 2 cowok India yang kelihatannya intelek. Kami membahas soal Bollywood - setelah saya bilang suka nulis gosip Bollywood -, sampai dunia politik India dan Indonesia yang... tahu sendiri deh. "Kau tertarik jadi wartawan politik?" tanya salah satu dari mereka, yang saya lupa namanya dan turun duluan di Lyon. Ketika saya jawab tidak, dia bertanya lagi, "Kenapa tidak? Saya tahu dunia politik kita carut-marut, tapi saya sih tertarik." Kedua cowok itu datang ke Paris untuk studi sosial kalau nggak salah, dan di akhir pekan itu keduanya berwisata ke kota berbeda; yang satu ke Lyon, satunya Barcelona.
Tahun lalu, dua kali saya naik Eurolines; Munich-Paris PP. Saya agak bete dalam trayek pertama, soalnya sopir dan asistennya tampangnya angkuh, menyebalkan. Beda dengan yang kedua, yang meski juga cuma bisa berkomunikasi dalam bahasa Jerman, tapi mencoba mengajak saya mengobrol dengan bahasa tarzan. Dan yang pertama saya nggak bisa ngobrol dengan siapa-siapa; bus full keluarga yang akan berlibur di Disneyland Paris dan menginap di hotel sekitar situ. Eh, ternyata sopir bus, entah lupa atau tak tercantum dalam jadwalnya, lalai mengantar satu keluarga Jerman ke hotel tujuannya di sekitar Disneyland. Mampuslah dia dan asistennya yang angkuh itu dicaci maki. Dalam bahasa Jerman yang saya tak mengerti, tentunya, tapi dari nadanya kebaca keluarga itu ngomelin si sopir.
Pulangnya, rute Paris-Munich, lebih menyenangkan. Saya ketemu lagi sama pengurus bagasi di Eurolines, yang entah kenapa selalu mengajak saya - penumpang lain juga pastinya - mengobrol dalam bahasa Spanyol. Tahun sebelumnya Sandy sempat dibuatnya sewot, gara-gara dia bilang bus saya berangkat pada jam, "tres!" Maksud dia tentu tres dalam bahasa Spanyol alias jam 3. Tapi Sandy yang nggak tahu bahasa Spanyol tentu mengira dia melontarkan kata treize (bacanya tres juga) alias jam 13 atau jam 1, jadwal yang tak lagi terkejar saya mengingat waktu itu sudah jam 2. Nah, si bapak itu berbasa-basi dengan saya lagi dalam bahasa Spanyol. Katanya, "Solo una maleta?" Bagasi saya cuma satu? Saya sahuti atau ya, dan melanjutkan dengan gracias sebelum mohon diri dan menuju bus.
Di dalam bus, sebetulnya saya pengen banget nimbrung dalam pembicaraan dua cowok dan satu cewek di belakang saya - cowok-cowok itu asal Meksiko dan Spanyol, yang cewek saya kurang tahu. Soalnya mereka pakai bahasa Spanyol! Tapi saya nggak enak mendiamkan ibu yang duduk di samping saya, yang mengajak saya ngobrol duluan. Apalagi dia baik dan perhatian. Melihat muka saya pucat, berulang dia tanya, "Are you OK?" Ibu itu asal Jerman tapi bukan Munich, melainkan Berlin. Pantas. Konon orang Berlin lebih hangat, tapi entah juga sih. Dia bertanya, betulkah Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Dia bicara cukup banyak sebenarnya, tapi gawatnya saya tak ingat. Waktu itu saya super lelah gara-gara cuma istirahat semalam di Paris, terus mesti balik ke Munich. Pokoknya biar waktu sempit, saya sempat-sempatin deh ke Paris, cinta bo! Pastinya di setiap perhentian di Jerman, Stuttgart misalnya, dia menjelaskan kepada saya dan cowok Spanyol yang duduk di depan saya tentang tempat-tempat yang kami lalui. Yang lagi-lagi tidak saya cerna dengan baik (duh padahal itu bahasa Inggris. Gimana bahasa Prancis?). Yang pasti saya berterima kasih karena telah diajak ngobrol, dan memungkinkan saya menambah obrolan ini - yang mungkin tak bisa disebut obrolan, mengingat saya nyaris nggak ingat apa pun - dalam catatan Eurolines saya. Turun di Munich, seperti yang saya pada teman-teman mengobrol Eurolines lain, saya ucapkan padanya, "Take care!" Saya tak bisa lama-lama berpamitan, soalnya langsung "digelandang" Wolf yang menjemput saya ke mobilnya - saya cerita di lain waktu kenapa Wolf sampai begitu, hehehe.

Saturday, June 9, 2007

Ritual Beli CD

Kesukaan saya yang lain kalau jalan-jalan ke luar: berburu CD. Hobi yang tumbuh akibat kebanyakan nonton MTV Latin. Berawal dari perjalanan saya ke Meksiko tahun 2000. Waktu itu saya sebagai satu-satunya cewek dalam rombongan yang terdiri dari 5 orang, diberi kamar sendiri oleh KBRI Meksiko (kami menginap di lantai teratas KBRI, alias lantai 4. Sudah begitu toilet cuma di lantai paling bawah. Selamet). Nah, kamar saya ini letaknya di luar ruangan alias kayak rumah-rumahan di atap KBRI. Enaknya, kamar saya difasilitasi teve. Jadilah saya setiap pagi sambil ngemil dan berpakaian (saat ini suka ada yang seenaknya menerobos masuk dan saya marah-marahin. Namanya Gundul Pacul. Tujuannya bukan mengintip saya berpakaian, percaya deh, tapi mencuri cokelat Ferrero) menonton MTV. Lha, habis ngapain juga nonton acara teve lain, wong waktu itu saya betul-betul nggak becus berbahasa Spanyol. Dan kegiatan itu cuma saya lakukan pagi. Soalnya saya cuma tahan 2 malam tidur di situ. Dingin bangets. Maklum rumah-rumahan itu cuma dibangun dari kayu dan tanpa pemanas, jadi kalau malam di musim gugur itu, ya ampun, suhu di bawah 10 derajat Celsius-nya menggigit tubuh orang Indonesia kayak saya. Jadi saya pindah tidur ke depan ruang kerja Pak siapa tuh ya, pokoknya yang ada sofanya. Masih di lantai 4, sementara rekan-rekan saya tidur di kamar di pojok yang dipersiapkan untuk mereka. Pernah ada yang tanya, "Ih, nggak seram ya tidur sendirian di lantai 4 begitu?" Ya saya jawab ala kadarnya, "Nggak kepikiran. Yang kepikir waktu itu mah gimana caranya biar tidur nggak pakai kedinginan!"
Nah, sehabis mandi pagi, saya pasti kembali ke kamar sambil menyetel MTV Latin. Dari situ saya tahu enaknya lagu-lagu berbahasa Spanyol kayak A Mil por Hora-nya Lynda, Aunque No Estes-nya Mijares, Corazon Partio-nya Alejandro Sanz, La Bikina-nya Luis Miguel, dlsb. Maka sehari sebelum balik ke Meksiko, saya membujuk Gundul Pacul buat mengantar cari CD ke Zona Rosa. Apalagi Toño, staf KBRI, mau mengantar. Ya sudah Pacul mengalah. Eh, tapi si dodol itu mulai berisik begitu sampai. "Jangan lama-lama!" katanya. Terus tanya, "Berapa lama?" Dia rupanya nggak mau ikut masuk toko CD. Mau bilang satu jam pasti digetok, ya sudah saya sahuti seadanya, "45 menit!" sambil menambahkan dalam hati, nggak janji!
45 menit berlalu. Saya sudah menggenggam beberapa CD. Tahu-tahu dari belakang ada yang mencolek bahu saya, "Udah belum!" Dasar! Si Gundul Pacul dengan tampang cemberut. "Belum," jawab saya cuek. "Entar dulu." Dia betul-betul nggak mau ikut keliling toko CD yang luas itu. Padahal kan di situ juga ada deretan CD lagu Barat, siapa tahu ada yang dia suka. Tapi dia nggak mau dan kembali ke luar. Betul kan, baru 15 menit kemudian saya menyusulnya ke luar, alias 1 jam saya sibuk ngubek-ngubek CD. Habis saya kan juga mesti beli Luis Miguel dan Enrique titipan Hari, dan buat itu saya lebih suka mencari-cari daripada bertanya. Selain bingung bahasa Spanyolnya apa, enakan begitu kalau-kalau saya tak sengaja melihat CD lain yang bagus. Totalnya buat belanja semua CD (juga ada kaset, yang waktu itu sudah terbilang barang langka di Meksiko) saya habiskan hampir 100 peso alias 1 juta rupiah! Mulai dari Alejandro Sanz, Mijares, sampai Luis Miguel.
Mulai dari Meksiko 2000 itulah saya mengoleksi CD penyanyi berbahasa Spanyol atau Italia. Setiap jalan-jalan saya nggak lepas dari acara mampir ke toko CD. Dan setiap teman saya yang tinggal di luar negeri, khususnya di benua Eropa dan Amerika, berencana pulang, saya pasti minta membawakannya CD pesanan saya. Mulai dari Hari yang sekarang di Belanda, Sandy, Mbak Evi, Mbak Ratna, Widya, siapa saja. Juga adik saya yang mulai rajin melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Apalagi katanya dia mau ke Barcelona nih!

Friday, June 8, 2007

Penjaja Permen di Metro Mexico City

Buat ukuran Eropa, Jerman paling tertib dalam hal apa pun. Kata teman-teman saya nih, mabuk sampai mencolek orang saja bisa dilaporkan ke polisi! Padahal orang lagi mabuk, mungkin nggak sadar. Makanya, waktu papasan dengan gerombolan orang mabuk di Jerman, saya dan teman-teman biasa-biasa saja. Soalnya mereka orang mabuk paling sopan di dunia.
Nah, saking tertibnya, nggak bakal ada kejadian orang berjualan, mengamen, dan mengemis di s-bahn u-bahn, sebutan buat subway atau metro-nya Jerman. Sampai ada, tuh orang bisa diseret keluar dan diinterogasi sama polisi Jerman yang ada di mana-mana. Untuk soal ketertiban di metro, Prancis dan Italia lumayan. Meski metro buluk (khusus Italia), tapi ya metro itu, sebagaimana selayaknya fungsinya, isinya penumpang saja. Benar kok penumpang doang, apalagi M14 di Prancis yang memang beroperasi otomatis tanpa pengemudi.
Tapi lain ceritanya di Barcelona dan Mexico City. Di metro Barcelona, pengamen dan pengemis kelihatan. Yang lebih konyol di Mexico City. Kejadiannya saat saya dan Panji diantar Dulce ke pasar suvenir. Untuk menghemat biaya, kami menuju ke sana naik metro. Baru pulangnya naik taksi, biar nggak repot bawa belanjaan. Di tengah perjalanan, dari gerbong sebelah nongol seorang penjual permen. Lucunya, dia tidak cukup menjajakan aneka permennya dengan berteriak-teriak. Sembari keliling gerbong, dia menaruh barang jajaannya - yang sudah dikemasnya rapi per beberapa butir dalam plastik - di pangkuan tiap penumpang yang mendapat duduk! Waduh. Ini mah sama saja dengan di Jakarta! Seperti di sini, ia tidak memaksa penumpang buat menebus permennya dengan beberapa peso (mata uang Meksiko). Kalau berminat, silakan bayar, kalau tidak, ya ia ambil lagi dari pangkuan penumpang. Waktu saya bagi cerita soal penjaja permen ini pada teman-teman saya di Jakarta, mereka tercekikik sambil berkata, "Wah, kalau begitu, modus operandi tukang jualan di kereta di seluruh dunia sama 'kali, ya!"

Wednesday, June 6, 2007

Kereta Murah Munich-Salzburg PP

Ke Salzburg bareng Manda dan Dedes, transportasi yang kami pilih kereta murah Munich-Salzburg PP. Tiket kereta ini, buat maksimal 5 orang, cuma 25 euro atau 300 ribu rupiah! Murah banget buat ukuran Eropa, apalagi Jerman dan Austria yang standar hidupnya termasuk mahal. Karena kami cuma bertiga, ya 25 euro dibagi 3. Sebenarnya bisa dibagi 4 kalau Wolf mau ikut. Tapi ia menolak mentah-mentah, "Three girls speaking Indonesian, no, thanks!"
Ya sudah, kami bertolak ke Salzburg naik kereta murah berwarna merah itu. Duh, mentang-mentang julukannya kereta murah, peronnya jauuuuuh di belakang peron kereta lain. Perlu jalan sekitar 200 meteran buat sampai ke situ. Sudah begitu, badan gerbongnya, walau bersih, kalah modern dibanding kereta sejawatnya. Tambahan lagi, waktu tempuhnya ke Salzburg lebih lama. Kereta biasa cuma perlu waktu paling lama 1,5 jam, si murah ini 2 jam. Ya itulah risikonya pakai barang murah.
Tapi barang murah ini sangat memadai buat saya. Tak soal agak lambat jalannya atau ketinggalan zaman. Bangku penumpangnya dengan jok kulit imitasi nyaman buat 2 jam perjalanan. Apalagi Senin pagi itu banyak bangku kosong - Manda saja sampai bisa tidur-tiduran. Dan yang mengejutkan, toiletnya! Maksud saya, kereta sejenis - yang juga rada ketinggalan zaman buat taraf Eropa - di Italia saja toiletnya buruk. Boro-boro ada tisu, toiletnya meski lega, agak kotor dan bukan berupa flush toilet. Makanya dalam perjalanan Roma-Munich, saya irit minum biar tak usah ke toilet. Tapi toilet kereta murah Munich-Salzburg ini, sungguh mengesankan saya. Kendati tak sebesar toilet kereta Italia, flush toilet yang sangat bersih, plus bak air permanen dan tisu lagi!
Sepanjang jalan, yang kami lakukan, tentu saja bergosip. Gosip paling hot, siapa lagi kalau bukan si.... ada deh. Saking hot-nya, saya tak sadar berbicara kencang-kencang. Manda spontan menceletuk,"Ka, lo ngomongnya kekencengan tuh!" Iya, saya lupa kalau orang Jerman tenang kalau naik kendaraan umum, entah kereta atau metro, eh, s-bahn dan u-bahn. Tapi bukannya diam, saya membalas, "Biar aja deh Man, kapan lagi mereka denger suara gue, kan minggu depan gue udah pulang!"

Tuesday, June 5, 2007

Salzburg, Setahun Lalu


Setahun lalu, 5 Juni 2006. Salah satu perjalanan tergila saya.
Sebelum terbang ke Munich pada 1 Juni 2006, saya janjian dengan 2 teman kuliah saya yang tinggal di sana, Manda dan Dedes, buat jalan-jalan bareng ke Salzburg, Austria. Pantasnya sih kami jalan-jalan di Paris - secara kami teman kuliah di Sastra Prancis, begitu. Tapi jauh dari Munich. Lagi pula, berwisata bareng teman kuliah di Salzburg, nun jauh dari Indonesia, jadi sesuatu yang patut dikenang.
Kami berangkat ke Salzburg sekitar jam 07.30 pagi dari Muenchen Hbf atau Stasiun Utama Munich, naik kereta murah Munich-Salzburg PP dengan tarif murah untuk ukuran Eropa: 25 euro maksimal berlima! Tiba di Salzburg Hbf dua jam kemudian.
Yang kami cari di Salzburg, lokasi syuting Sound of Music serta tempat-tempat yang berhubungan dengan komposer musik klasik Wolfgang Amadeus Mozart. Awalnya semua lancar. Kami berhasil menemukan Schloss Mirabel (di atas foto kami di Schloss Mirabel), salah satu lokasi Sound of Music, dan rumah kelahiran Mozart. Berkat bantuan Manda yang pinter baca peta dan pede berbahasa Jerman, hehehe. Sampai kami mencari rumah keluarga Von Trapp-nya Sound of Music. Sopir bus memberi tahu kami buat turun di sebuah kompleks perumahan. Begitu turun, kami terbengong-bengong. Apa iya rumah Von Trapp yang megah, yang menghadap danau, ada di sekitar situ? Kayaknya nggak ada tanda-tanda kehidupan pariwisata, deh. Dari perhentian bus, Manda memutuskan belok kanan sesuai instruksi si sopir. Tapi sebagai pengganti rumah, di kanan kiri kami adanya ladang dan pepohonan. Nah lho. Tapi berhubung masih jauh dari ujung jalan, lanjut.
Eh, betul. Menjelang ujung jalan, keramaian mulai terlihat. Di samping kanan jalan ada sebuah rumah makan. Belok kanan sedikit, nah, tuh rumahnya di seberang danau. Ada yang berperahu di danau, ada yang sekadar melihat pemandangan rumah Von Trapp dari kejauhan seperti kami, ada yang joging malah. Setelah foto-foto sebentar dengan latar belakang rumah Von Trapp, kami meninggalkan lokasi dan menuju, apa ya, bekas tempat tinggal si Mozart kalau nggak salah. Habis itu kami mampir di sebuah kafe di sebelahnya buat menghangatkan diri. Begitulah, meski hampir masuk musim panas, Salzburg teuteup dingin. Untungnya Manda berbaik hati meminjamkan mantelnya, buat saya pakai selama liburan. Kalau cuma pakai jaket yang saya beli di Jakarta, selamet deh.
Di kafe, seperti biasa, kami pesan cappucino. Saya tergiur beli cake, tapi kok nggak ada apfelstrudel, ya? Piye toh, kok kue khas Austria itu nggak dijual di situ. Ya sudah, saya batal makan cake, habis seleranya lagi berpihak pada apfelstrudel, sih. Ngobrol tak sampai setengah jam, eh, sudah jam 14.30! Kami harus buru-buru balik ke stasiun untuk mengejar kereta jam 15.00. Kok buru-buru, padahal Salzburg masih terang. Saya yang jadi gara-gara. Berhubung jatah liburan sempit tapi ngotot mau ke Paris, jadilah jadwal kepergian ke Salzburg dinomorsekiankan di antara jadwal lain. Habis cuma 11 hari di Eropa - berikut jadwal PP - maunya banyak. Mau ke Paris, Vaduz, Zurich, Mittenwald. Salzburg juga masih mau. Malah tadinya mau tambah Amsterdam segala. Ya repot.
Ya, biar saya tak ketinggalan bus dari terminal Eurolines di Frottmaning, di depan Stadion Allianz-nya Bayern Muenchen, kami cuma sempat jalan-jalan 5 jam di Salzburg. Bus menuju Paris itu berangkat jam 18.30. Biasanya jadwal keberangkatan Eurolines tepat, jadi kami nggak mau bertaruh. Jam 15.10, kereta bergerak meninggalkan Salzburg. Sesuai jadwal, tiba di Muenchen Hbf jam 17.10. Nah, di sini kekacauan terjadi. Dedes ternyata nggak tahu u-bahn atau s-bahn (bahasa lainnya metro atau subway) mana yang mesti diambil buat menuju Frottmaning! Sementara Manda yang tahu jalan ke sana tak lagi bersama kami, sudah turun duluan di Stasiun Muenchen Ostbahnof yang lebih dekat ke rumahnya. Mati gua! Dedes mulanya mencoba mereka-reka sendiri, metro mana yang mesti kami ambil. Sementara saya panik, "Ayo tanya polisi!" Nah, masalahnya saya nggak bisa bahasa Jerman, jadi mengandalkan Dedes. Jam 17.30, ketika tak juga ingat metro mana menuju Frottmaning, Dedes bertanya pada polisi. Setelah meneriakkan "danke schoen!", kami berlari menuju perhentian metro itu. Maksudnya saya berlari di belakang Dedes - wong saya sama sekali nggak paham petunjuk di sekeliling stasiun yang menggunakan bahasa Jerman. Jam 17.45, kami sampai di perhentian s-bahn menuju Frottmaning. Eh, mesti menunggu 10-15 menit buat kedatangan s-bahn. Dedes ikut senewen. "Duh cepetan dong datangnya," katanya. Sekitar jam 18.00, s-bahn yang dinanti-nanti muncul. Perjalanan ke Frottmaning makan waktu 20 menitan. Deg-degan, jelas. Soalnya tiket ke Paris, berhubung belinya dadakan, mahal bo! Sekitar 110 euro atau 1,2 juta rupiah PP (nyokap kalau tahu bisa nyap-nyap nih, hehehe).
Tepat jam 18.20, s-bahn berhenti di Frottmaning. Kacaunya lagi, kami naik gerbong yang salah. Mestinya ambil gerbong belakang biar gampang menjangkau terminal. Eh, kami malah naik di depan. Alhasil kami mesti berlari menyusuri stasiun, belum lagi berlari mendaki tangga terminal Eurolines yang banyak itu. Sampai di atas, kami mencari-cari gerbang keberangkatan. Ketemu, kami turun lewat tangga lain untuk menuju bus. Alhamdulillah, masih jam 18.25! Dengan ngos-ngosan, saya pamit pada Dedes. Dan setelah melambaikan tangan sambil bilang "hati-hati," Dedes meninggalkan terminal. Lantas, bus berangkat pada jam 18.30. Tidak. Untuk kedua kalinya - setelah di Barcelona -, bus Eurolines tertunda keberangkatannya setengah jam! Damn. Tahu gitu nggak usah pakai acara ngos-ngosan, ya? Makanya saudara-saudara, di Eropa, jangan melakukan apa pun mendadak, terutama yang berkaitan dengan waktu.

Sunday, June 3, 2007

Merusak Barang, Dapat Hadiah

Vaduz, Liechtenstein, 3 Juni 2006. Tepat setahun kemarin.
Saya, Dedes, dan Wolf tiba sekitar jam 3 sore di Vaduz, setelah berkendaraan kurang lebih 4 jam dari Munich, Jerman. Setengah jam membereskan barang di hotel bintang tiga Landhaus am Giessen yang amat nyaman, kami jalan kaki menuju pusat kota. Lapar, bo. Baru memasuki pusat kota, Dedes melihat museum prangko. Ya sudah, mumpung masih buka, kami lihat-lihat koleksi prangko Liechtenstein yang jadi buruan banyak orang. Tapi cuma sebentar kami di situ. Gara-garanya, petugas museum menjelaskan, berhubung weekend, toko-toko suvenir cuma buka sampai jam 4 sore! Dan waktu menunjukkan pukul 4 kurang 5 menit!
Kami berlari secepat kilat menuruni museum prangko, menuju sebuah toko suvenir yang terletak di depannya. Duh, jangan sampai kami besoknya meninggalkan Vaduz tanpa suvenir. Sudah negeri ini unik, pun akses ke mari agak sulit. Bandara tak ada. Bus keliling Eropa Eurolines tak lewat sini. Kalau naik kereta, mesti berhenti di perbatasan Austria, tepatnya di Feldkirch, atau di perbatasan Swiss, di Sargans atau Buchs, lalu menyambung naik bus lokal. Malas nggak sih, sementara untuk mencapai bagian Eropa lain cukup sekali naik kendaraan. Ya, mumpung Wolf mau mengantar, jangan disia-siakan, dong.
Dengan napas terengah-engah, kami melangkah masuk toko suvenir itu - sayang saya lupa namanya. Seorang wanita umur awal 30-an mengawasi toko itu. Setelah mengambil gelas, pajangan bola salju, saya memutuskan membeli fridge magnet alias tempelan kulkas. Fridge magnet yang antara lain bergambar Alpen, istana Raja Liechtenstein, bahkan ada yang bertuliskan Swiss - setia sama tetangga rupanya - itu menempel rapi di dinding samping meja kasir. Setelah berhasil menggapai 2 fridge magnet, saya mencoba meraih satu lagi yang posisinya agak tinggi. Ya ampun. Fridge magnet itu jatuh ke lantai! Masih untung nggak pecah berkeping-keping. Tapi apa untungnya, ya kalau kepingan bergambar pemandangan istana terbelah dari magnetnya! Ya, sudahlah, saya pikir, relakan saja 6 euro itu melayang buat pengganti fridge magnet yang saya rusak itu. Toh salah saya, kan. Jadi saya bilang pada sang pengawas toko - yang entah pemilik atau bukan -, "Saya bayar! Biar saya ganti!" Kenapa pakai tanda seru? Itu pertanda panik, bo.
Selanjutnya, saya tidak mengharapkan sama sekali. Kehilangan 6 euro jelas rugi - tambah 2 euro lagi, bisa naik Eiffel (eh, sekarang tarifnya 9 euro, ya?). Tapi kalau di Indonesia saja berlaku "barang pecah berarti sama dengan membeli", mestinya apalagi di Eropa yang standarnya lebih ketat, ya? Ternyata, saya salah. Mungkin karena ini kejadiannya di negeri dongeng Liechtenstein. Si wanita pengawas toko tak menghiraukan ocehan saya. "Ambil saja yang baru, yang ini biar saya betulkan," katanya tenang sambil membubuhi lem di kepingan fridge magnet yang saya jatuhkan, sambil senyam-senyum. Ketika saya memaksa membeli fridge magnet di tangannya itu, dia malah mencegah. "Jangan, ini biar saya betulkan dulu. Perlu waktu buat mengeringkan lemnya. Ambil saja yang baru, tak apa-apa," katanya lagi. Serius? Ia mengangguk. Waduh, jadi nggak enak. Dia bahkan menambahkan, "Kalau nggak jadi beli yang ini, atau mau pilih yang lain, nggak apa-apa juga kok." Di bagian Eropa mana, ya saya berada? Oh iya, Liechtenstein.
Kejutan belum berakhir. Selesai membayar dan berulang kali mengucapkan maaf dan terima kasih, saya meninggalkan toko. Di luar, Wolf mengambil sesuatu dari kantong belanjanya. "Ini, wanita tadi memberikan kita masing-masing serangkaian kartu pos Liechtenstein!" katanya. Ya, ini hanya terjadi di Liechtenstein. Merusak barang, malah dapat hadiah.