Monday, September 3, 2007

Sopir-sopir Taksi Meksiko

Yang juga saya rindukan dari Meksiko, agak aneh sih, sopir-sopir taksinya! Iya, beneran. Mereka yang berjasa melatih bahasa Spanyol saya sewaktu di Meksiko. Mereka betul-betul suka mengobrol! Berawal dari ketertarikan mereka pada bahasa asing - Indonesia maksudnya - yang saya dan Panji pakai waktu mengobrol di taksi. Biasanya mereka menanyakan dari mana asal kami, pakai bahasa Spanyol - duh kayak kami ngerti aja ya! Untungnya pertanyaan simpel macam begitu sih, saya masih ngerti.
Yang kami obrolkan, macam-macam. Telenovela sudah pasti. Biasanya mereka tanya, telenovela apa saja (waktu itu) yang sedang ditayangkan di Indonesia. Walau bangga produk mereka laku di negara nun jauh di sana, tak jarang yang mengecam telenovela Meksiko yang ceritanya cinta segi tiga standar. Misalnya sopir taksi merah - bukan hijau gonjreng - yang biasanya mangkal di hotel atau terima pesanan lewat telepon - yang mengantar saya pulang dari rumah Mbak Ratna. Dia mengaku bosan dengan telenovela Meksiko, dan lebih suka telenovela Kolombia macam Betty la Fea (duh, sama kayak Guritno!). Perbincangan paling enggak nyambung barangkali saya lakukan dengan seorang sopir yang mengantar kami ke Televisa. Kami ngobrolin soal agama! Eits, enggak yang dalam-dalam lho. Dia cuma pengin tahu, ada berapa agama di Indonesia, soalnya kalau di Meksiko, kan kebanyakan penganut Katolik. Waktu saya bilang ada 5 (mestinya 6 ya, maaf) dan saya sebutkan satu per satu, dia kelihatan senang sekali. Ternyata, dia pengoleksi patung Buddha! "Iya, di rumah saya ada patung-patung Buddha. Wah, saya senang dengar di negeri kamu ada agama Buddha!" Halah, enggak penting, ya? Tapi kunjungan saya ke Meksiko di tahun 2003 itu memang menyenangkan dan mengesankan. Bayangkan, dalam kunjungan 3 tahun sebelumnya, pada mereka saya cuma bisa berucap derecha, izquierda! Kanan, kiri!

Piramida 1 Juta Rupiah

Ini ongkos jalan-jalan termahal ke sebuah tempat wisata yang pernah saya keluarkan. 1 juta rupiah! Gara-garanya, ngiler lihat piramida. Konon piramida di dunia ini cuma ada di 2 negara, Mesir dan Meksiko. Mumpung di Meksiko dan piramidanya nggak terlalu jauh, sekitar 40 km dari Mexico City, kapan lagi? Tapi repotnya, gara-gara saya mau ikut, menyewa satu taksi saja nggak cukup. Sudah barang tentu, apalagi dalam rombongan, kan ada Mas Robi yang ibaratnya "Big Mac" dalam menu McDonald's, hehehe. Ditambah lagi kalau kami berangkat pakai taksi gonjreng yang suka kelihatan di telenovela-telenovela itu, yang sedikit mungil dibanding taksi lain. Mas Robi yang ketua rombongan sih nggak keberatan saya ikut, tapi syaratnya saya harus membayar sewa satu taksi lain, bolak-balik kalau dikurs 1 juta rupiah! Berhubung sebetulnya saya enggak ada kepentingannya dalam perjalanan itu dibanding anggota rombongan yang lain, saya mengalah. Satu juta memang berat, tapi lihat piramida itu pengalaman unik yang belum tentu pernah saya peroleh lagi. Padahal rada-rada sebal juga sih, apalagi Mas Robi ikut taksi saya, huehehehehehe...
Maka berangkatlah saya, Mas Robi, dan Dulce dalam satu taksi, dengan Haris dan Enno di taksi lain berikut kamera, ke Teotihuacan, yang pada zaman SM konon merupakan kawasan tempat tinggal suatu bangsa - katanya juga sampai hari ini belum diketahui bangsa apa yang dulu menduduki Teotihuacan, tempat berdiri tegaknya sejumlah bangunan termasuk Piramida Matahari. Setelah hampir 1 jam perjalanan dari Mexico City - si Panji Gundul Pacul enggak ikut soalnya dia lebih memilih mencari sepatu kulit yang akhirnya gagal dia dapatkan juga, hahaha - kami pun mengantre membeli tiket masuk Teotihuacan. Enggak mahal, tapi saya lupa harganya, pastinya enggak lebih dari 100 peso (100 ribu rupiah). Eh, tapi tidak semua dari rombongan kami boleh masuk ke dalam kawasan Teotihuacan. Karena tak punya izin merekam pemandangan di dalam, Haris yang pegang kamera tidak boleh masuk! Wah, saya sempat ragu-ragu masuk, masa iya ditinggal? Tapi 1 juta bo! Mas Robi akhirnya membiarkan kami masuk. Ia, sebagai pimpinan yang bertanggung jawab, menemani anak buahnya yang tak boleh masuk.
Di dalam, apa lagi yang kami lakukan kalau bukan berfoto-foto. Dasar si Enno, dia menertawakan Haris dan Mas Robi yang terdampar di luar. Tapi kami juga tak lama-lama di dalam. Paling lama setengah jam, kami meninggalkan Teotihuacan. Alasannya dua. Pertama enggak enak hati dong ingat Mas Robi dan Haris. Kedua, panas bo! Kami akhirnya enggak jadi berjalan mendekati Piramida Matahari. Sudah jalannya panjang, panas lagi. Kami sudah cukup puas berfoto dengan latar belakang piramida itu. Malah Dulce sempat berpesan agar mengirimkan foto-fotonya di Teotihuacan kepada pacarnya (sekarang suaminya) yang orang Yogyakarta, Fitra. Adaaaaa... aja.

Di Swiss atau Italia Sih Ini?

Begini nih kalau pergi ke luar negeri tanpa persiapan matang. Serbaenggak tahu dan serbapanik! Sebagai pemegang visa Schengen pada 2005, saya leluasa menjelajahi negara Eropa Barat mana pun. Kecuali satu: Swiss - yang baru bergabung dengan area Schengen pada 2008. Makanya, saya usahakan agar alat transportasi apa pun yang saya pakai, tidak melewati negeri cantik yang berselimutkan pegunungan Alpen itu. Biar enggak pakai acara transit, cuma numpang lewat pakai kereta doang, katanya enggak boleh lho lewat Swiss tanpa visa Swiss.
Tapi walau sudah diyakinkan teman saya, Risna, perjalanan kereta dari Roma, Italia, menuju Munich, Jerman, itu tidak melewati Swiss, tak urung saya kaget plus panik juga saat kereta bergerak mengarah ke area utara Italia yang kemudian saya ketahui bernama Alto Adige. Panik campur kagum, sih. Soalnya, sumpah, daerah itu enggak kalah cantik dari Swiss yang waktu itu saya "takuti"! Pegunungan Dolomite yang puncaknya bersalju, bagian dari rangkaian pegunungan Alpen (ini saya juga baru tahu belakangan) hanya berjarak beberapa meter saja dari balik kereta Trenitalia, yang salah satu penumpangnya saya ini! Gila, pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat seumur hidup! Pemandangan "tak terlupakan" di Barcelona kalah deh, hehehe. Hampir sepanjang jalan menuju Alto Adige, mata saya tertancap pada si Dolomite yang luar biasa itu. Kecuali pada beberapa saat tertentu. Seperti saya tulis di atas, saya baru tahu belakangan, yang saya lewati adalah area Alto Adige, masih di utara Italia. Nah, waktu itu, saya pikir saya sedang menyusuri area Swiss!
Kenapa saya berpikir begitu? Yang memberatkan pikiran, papan nama yang tergantung di beberapa stasiun yang dilewati Trenitalia Roma-Munich: Bolzano/Bozen atau Bressanone/Brixen. Saya tahu Bolzano dan Bressanone adalah tipikal nama kota dalam bahasa Italia. Tapi saya pun juga tahu kalau Bozen atau Brixen tipikal nama kota dalam bahasa Jerman. Dan saya enggak tahu orang-orang di Italia utara sebagian besar juga berbahasa Jerman (betul, wawasan saya payah banget!). Jadi, saya pikir kereta Trenitalia sedang berada di jalur kereta Swiss, yang sebagian penduduknya berbahasa Jerman, sebagian lagi berbahasa Italia (ada lagi yang sebagian berbahasa Prancis, tapi di wilayah Barat, jadi tak saya perhitungkan). Jadi, sambil mengagumi Dolomite, sambil cemas juga. Takut sewaktu-waktu ada petugas menagih visa Swiss ke dalam kompartemen, yang saya tempati bersama 5 orang berbahasa Jerman (yang belakangan saya ketahui, semuanya orang Austria). Saya baru lega saat kereta berhenti di stasiun dengan papan putih besar bertuliskan "Innsbruck". Fiuhhh... Austria! Dan barulah beberapa menit kereta beranjak dari Innsbruck, petugas perbatasan Italia-Austria menanyakan visa. Visa Schengen tentunya.

Saturday, September 1, 2007

Pemandangan Pertama Yang "Tak Terlupakan"

Barcelona memang menyimpan sejuta cerita. Teman saya, Endah, kecopetan 700 euro di salah satu kota tercantik di Eropa itu. Padahal dia sedang tidak jalan-jalan di La Rambla, kawasan teramai, melainkan di dekat markas FC Barcelona, Camp Nou. Waktu mencari Camp Nou, saya dan Vicki sempat lewat area sepi. Tapi alhamdulillah aman-aman saja. Jadi, cerita apa yang saya bawa dari Barcelona? Hmmm, menonton dua sejoli ML di tempat umum!
Pemandangan ini malah bisa dibilang pemandangan sungguhan pertama saya di Barcelona. Jadi ceritanya, waktu tiba di Barcelona jam 05.30 pagi, saya dan seorang cowok India yang saya kenal di bus Eurolines, Phanindra, langsung sibuk mencari jalan menuju kantor wisata Barcelona yang terletak di Plaça Catalunya. Sekitar setengah jam kemudian, dari Stasiun Sants, yang juga jadi terminal Eurolines, kami tiba di Stasiun Catalunya. Meniti tangga ke atas stasiun metro yang terletak di bawah tanah itu, sampailah kami di Plaça Catalunya. Karena belum menemukan letak si kantor wisata itu, beristirahatlah kami sejenak di salah satu sudut Plaça Catalunya. Di seberang kami terlihat tiga tempat duduk umum. Yang paling kiri ditempati beberapa turis asal Jepang yang sedang sibuk berfoto-foto dan mengecek hasil foto. Yang paling kanan kosong. Yang tengah? Nah, inilah yang membuat kami terbengong-bengong. Di bangku tengah itu tengah asyik ML dua sejoli, dengan sang cowok duduk di bangku dan sang cewek di pangkuannya! Nah lho. Saking kagetnya, saya dan Phanindra tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Mana tambah lama, tambah hot lagi. Waduh, kacau. Enggak apa-apa kalau saya lagi ada di situ sendirian atau dengan teman baik saya. Nah, ini kan masalahnya sama cowok India yang baru saya kenal beberapa jam. Maksudnya takut tergoda, gitu? Ya bukan begitu dan enggak banget atuh... cuma berasa goblok diem-dieman di situ, sementara kalau sama teman baik, kan bisa asyik cekikikan. Dan kayaknya si Phanindra juga malu hati tuh. Sampai akhir perjalanan bareng kami, kami tak membahas pemandangan itu. Tak lama juga kami berada di situ. Belum lagi permainan ML itu selesai, kami bangkit dan memutuskan melanjutkan pencarian. Huoh. Pemandangan pertama yang "tak terlupakan"!