Wednesday, December 15, 2010

Masyarakat Praha yang "Charming"

Praha, bagi saya adalah kota yang magis. 
Setiap sudutnya menyihir saya. Tak henti berdecak kagum saya dibuatnya. Bukan hanya kotanya yang charming, menurut saya. Tapi juga masyarakatnya yang ramah. Mungkin juga karena saya hanya di sana dalam rentang waktu 24 jam, jadi saya hanya melihat yang indah-indahnya saja. Mungkin juga karena saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang helpful.
Enam polisi yang bersiaga di depan Terminal Florenc – dengan hanya seorang yang sedikit berbahasa Inggris – berusaha membantu saya menemukan hotel saya. Kendati arahan dari mereka membuat saya sukses tersesat 2 jam, hehehe. Lalu staf-staf restoran cepat saji melayani dengan baik walau saya tidak bisa berbahasa Ceko sepatah kata pun. Serius, satu kata pun saya tak tahu. Saya baru ngeh akan satu kata, saat seorang bocah laki-laki kurang lebih berusia 7 tahun menyapa saya di jalan seraya mengangkat tangannya: Ahoj!” (baca: ahoy.) Maksudnya, mengatakan “halo”. Ow, saya rasanya pernah mendengar kata itu di salah satu episode The Amazing Race
Tempat saya kesasar dan bertemu si bocah ahoj.
 
Jangan lupakan jasa Ladka, resepsionis Hotel Florenc yang sangat sigap dan fasih berbahasa Inggris. Ketika saya baru tiba dan bilang cuma akan menginap semalam, dia bertindak layaknya staf pusat informasi wisata. Dia keluarkan peta Praha yang mudah dipahami wisatawan dari lacinya, lalu dia jelaskan bagaimana caranya mencapai pusat Kota Praha. Dia tidak keberatan melayani pertanyaan-pertanyaan standar saya tentang wisata, yang pastinya sudah ditanyakan orang lain - yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa dia enggak bekerja di kantor pariwisata saja, ya? Mana bahasa Inggrisnya bagus begitu.Yang bikin saya terharu, besoknya dia menampakkan wajah kaget ketika saya berpamitan. "Masa kau cuma semalam di sini?" katanya tak percaya kemudian mengecek data saya di komputernya, padahal saat itu juga dia sedang melayani check in belasan cewek-cewek Perancis! Dengan orang-orang seperti Ladka dan panoramanya, Praha sungguh meninggalkan kesan sangat manis!



Thursday, November 4, 2010

Let The Music Vibrate, Barcelona!

Suasana hati saya agak sendu hari ini. Gara-garanya, teringat pada Barcelona.
Sudah 5 tahun lebih lewat sejak saya mengunjungi Barcelona. Alasan saya datang ke sana sederhana sekali. Gara-gara lagu indah berjudul "Barcelona". Yang dinyanyikan Freddie Mercury - kemudian direkam ulang Russell Watson featuring Shaun Ryder - maupun Fariz RM. 
Terutama lagu yang pertama. Yang mana seruan Shaun Ryder - let the music vibrate, Barcelona! - terngiang-ngiang di telinga hari ini.
Sayang letak Barcelona agak jauh dari tengah Eropa. Bagi saya yang ogah bangeeeettttsss menempuh perjalanan antarnegara Eropa via pesawat - karena WNI biasa diribetin di imigrasi bandara - ya apa boleh buat, sejak 5 tahun lalu belum lagi balik ke BCN. Enggak sanggup mesti mengarah ke BCN naik bus atau kereta lebih dari 12 jam, lalu keluar dari BCN lagi ke tujuan berikutnya, Italia atau Jerman, dengan waktu yang sama. Ih.
Hari ini saya mengenang perjalanan nekat sendirian ke sana, tanpa tahu pasti tempat wisata mana yang akan saya tuju - bahkan setelah menggenggam petanya di pusat info wisata BCN. Saya beruntung di hostel sekamar dengan perempuan-perempuan mancanegara yang baik hati, yang memberi saya info ke mana saya harus pergi, bahkan jalan bareng mereka. 
Dan... saya tak menyangka, Barcelona ketika cuacanya mulai panas - saya ke sana menjelang pengujung musim semi - disesaki manusia! Berdirilah di Plaça Catalunya, dengan arah pandangan ke La Rambla. Kios koran, bunga, kafe di kedua sisi La Rambla tak lagi nampak, tertelan lautan manusia! (Lautan yang sebagian besar isinya turis.) Sungguh gilaaaakk. Mana hostel tempat saya menginap 2 malam letaknya di salah satu sudut La Rambla pula. Berjalan dari Hostel Habana Home ke Stasiun Metro Liceu - menurut keterangan profil hostel, kalau menuju hostel naik metro, turunnya di Liceu - jelas harus menembus barikade manusia itu, yang mana di antaranya sudah pasti terselip pencopet. Ribet. Maka, ketika tiba harinya saya harus meninggalkan BCN dan kembali ke Paris, pakai acara survei dulu, lebih dekat mana dengan hostel, Liceu atau Stasiun Drassanes yang ternyata letaknya juga di jajaran La Rambla? Hasilnya: Drassanes. Habana Home - seandainya masih eksis sih ini hostel, kok cari-cari di internet hasilnya enggak jelas ya? - mungkin harus merevisi penunjuk arahnya nih.
Lebih parah lagi, saya mulanya mengira dari Plaça Catalunya menuju La Rambla harus naik metro - dari Stasiun Catalunya ke Liceu. Maka terbuang sia-sialah tiket sekali jalan senilai 1,1 euro (waktu itu). Wong Stasiun Catalunya dan Liceu nyatanya letaknya berseberangan jalan aja gitu!
Tapi itulah pengalaman. Pengalaman yang membuat sendu karena kangen, pengalaman yang alhamdulillah pernah saya rasakan, pengalaman yang entah akankah terulang lagi. Barcelona dengan pengalaman baru, kenalan baru, manusia dan manusia di La Rambla, Parc de la Ciutadella - di mana-mana!,  warna-warni Parc Güell, kemegahan Sagrada Familia, the music did vibrate in Barcelona. Bon viatge, buen viaje - judul blog ini pun diambil dari dua bahasa yang berlaku di BCN, Katalan dan Spanyol. 
If God is willing...

Wednesday, October 6, 2010

Di Sini Memang Selalu Musim Dingin!

Saya selalu menyukai pemandangan Alpen. Dan saya berdoa supaya suatu hari bisa melihat kembali Alpen di Italia utara, Dolomite, yang berbatu-batu kelabu dengan salju di atasnya. Kalau Alpen di Swiss yang tersohor, sepanjang mata memandang sih ya, berupa pegunungan berpohon-pohon dengan tentu saja salju abadi membungkus puncaknya.
Saya kali pertama melihat si Dolomite yang megah dan kokoh di Bolzano, dalam perjalanan kereta Roma-Munich 5 tahun lalu. Gilak, Dolomite menjulang persis di sisi kanan rel! Mulut saya ternganga, mata saya tak bisa lepas dari magnet Dolomite.
Saya jumpa lagi dengan Dolomite Juni lalu, dalam rute bus Bologna-Munich. Saya enggak tahu bakal lewat Dolomite atau enggak. Lagian, kan saya menempuh perjalanan malam, jadi kalaupun lewat, pasti saya enggak ngeh.
Ternyata bukan cuma lewat. Jam 5 pagi, sopir Eurolines menghentikan busnya di jalur Brenner Pass – tapi entah di kota mana itu persisnya – dan memberi pengumuman dalam bahasa Italia, akan rehat selama 30 menit di situ. Dalam rutenya, bus Eurolines berhenti minimal sekali untuk rehat penumpang maupun sopir, juga mengangkut dan menurunkan penumpang – bus Munich-Praha contohnya, berhenti di Regensburg (Jerman) untuk mengambil penumpang sekaligus rehat. Rehatnya biasanya dilewatkan di sebuah pom bensin dengan fasilitas minimarket, toilet, syukur-syukur ada kafe 24 jam. Nah, rehatnya bus Eurolines Bologna itu dilakukan persis di depan Dolomite! Jam 5 pagi, turun dari bus langsung menghadap Dolomite, waduh, enggak banget deh. Semua orang menggigil kedinginan. Lha apalagi saya yang berasal dari negara tropis. Dengan gigi gemeretuk, kaki gemetaran, saya menghambur ke toilet, bersama beberapa penumpang lain. Seorang kakek Italia mengeluh, “Ini kayak musim dingin!” Disahuti si sopir dengan santai, “Di sini memang selalu musim dingin.”
Kelar urusan toilet, saya kembali ke bus dengan terburu-buru, karena dinginnya itu lho. Namun sebelum menaikinya, walau dengan tetap menggigil, saya sempatkan sebentar mengagumi keindahan Dolomite yang terhampar tepat di depan mata. Betapa cantiknya, walau kegelapan masih menaungi. Dan sepanjang 2 jam tersisa menuju Munich, saya urung memejamkan mata lagi karena merasa sayang menyia-nyiakan pemandangan Alpen di sepanjang jalan, apalagi besok sorenya saya sudah harus terbang pulang ke Jakarta. Karena kelelahan mencari-cari lokasi perhentian bus di Bologna juga kurang tidur, alhasil begitu sampai apartemen Dedes, bukannya mandi, saya molor sampai jam 12 siang!

Antara Lucia, Anak-anaknya, dan Musik

Lucia, host saya di Borgomanero, Italia utara, punya banyak kisah menarik, karena dia banyak bicara. Oh, saya tidak terganggu dengan ocehannya. Justru saya senang mendengarnya mengocehkan ini-itu dalam bahasa Italia.
Kisah tentang Elizabeth dan keluarga Napolinya di Borgomanero menarik. Menarik pula awal persahabatannya dengan Elizabeth. “Waktu baru datang ke Italia, Elizabeth butuh orang yang mau mengajarinya bahasa Italia gratis dan saya juga butuh orang yang mau membantu saya mengajari bahasa Inggris tanpa dibayar,” begitu kisahnya. Dari situlah persahabatan terjalin, sampai kini mereka berdua berusia 50-an.
Kisah keluarga Lucia sendiri tak kalah menarik. Lucia yang cerai dari suaminya ini membesarkan 2 anak yang memiliki kiprah masing-masing di dunia musik. Padahal Lucia tidak pernah menyeriusi musik. Putra bungsunya yang masih tinggal dengannya, Roberto – di Italia hubungan keluarga sangat erat, sehingga masih banyak lajang di usia 20-30-an, termasuk teman saya di Milan, Valerio, tinggal bersama orangtua – bergabung dalam band yang menyanyikan lagu-lagu penyanyi terkenal Italia, Gianna Nannini. Putri sulungnya, Mara, malah pernah memenangi kompetisi menyanyi lokal pada era kaset. Dua lagunya, salah satu yang saya ingat karena melodinya gampang dicerna, “Non Te La Do”, dikasetkan oleh perusahaan rekaman lokal. sebagai hadiah kemenangan Dan sebatas itu saja kiprah Mara.
Vokal Mara menurut saya lebih daripada lumayan. Bahkan lebih baik dibandingkan beberapa kontestan X Factor Italia. “Tapi Mara tidak mau meneruskan ke jenjang selanjutnya. Dia tidak tertarik menjadi penyanyi besar. Besar yang harus dikorbankan untuk menjadi besar,” katanya, mengenai putrinya yang kini tinggal bersama pacarnya di kota lain.
Maka, “Non Te La Do” hanya tersisa dalam bentuk kaset. Seandainya saja ada versi CD atau MP3-nya, pastilah lagu bernada ceria itu akan jadi kenang-kenangan manis dari Borgomanero, kota kecil di Italia utara yang kotanya berbentuk perempatan jalan dan luasnya, dengan bukit-bukitnya, hanya 30 km persegi. Apalagi satu-satunya toko CD di Borgomanero segera tutup, karena kurang laku dan pemiliknya, yang juga teman Lucia – semuanya sepertinya saling mengenal di kota kecil itu – akan mengalihkan usahanya ke bidang fashion. Makin sepilah Borgomanero dari musik, kecuali mungkin kalau Roby – panggilan Roberto – manggung dengan bandnya.

Tuesday, October 5, 2010

Saltum di Meksiko

Tahun 2000 kali pertama saya merasakan musim gugur. Really? Eh cuma imbasnya musim gugur ding, di Mexico City. (Imbasnya saja kena suhu 7 derajat Celsius, bagaimana yang betulan?) Namanya baru kenal musim gugur, jadinya rada norak. Kalau lagi di dalam KBRI - tempat saya dan 4 teman menginap selama tugas wawancara artis Televisa - sih enak, ada pemanas. Tapi kacaunya, dapur KBRI terpisah dari gedung utama KBRI. Nah, kalau mau makan malam, kami mesti ke dapur, dong. Jaraknya sih enggak jauh, ya paling 20 meteran. Tapi angin dingin yang menusuk membuat kami mesti pakai ancang-ancang menuju ke dapur. Sesaat sebelum membuka pintu gedung KBRI, kami biasanya bersiaga, "satu, dua, tiga," disambung berteriak, "lariiiiiiiiiiiiiiiii!" begitu pintu terbuka.
Walau letaknya masih di negara sama, Mexico City dan Acapulco suhunya beda. Acapulco kurang lebih kayak di Indonesia, kenalnya musim hujan dan kemarau. Karena itu waktu ke Acapulco kami keenakan. Pakai kaus lengan pendek, celana pendek, yuuuuukkkk. Alhasil kami lupa ganti kostum waktu balik ke KBRI di Mexico City. Mas Robi baru sadar waktu ditugaskan membuka pagar KBRI - karena duduknya paling dekat pintu - agar mobil kami bisa masuk. "Anjriiiiiittt... saltum bo!" serunya menyumpah-nyumpah.
Dan sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan, KBRI membuatkan saya semacam rumah-rumahan dari kayu di luar lantai 4 yang cukup luas, supaya saya tidak perlu tidur berdesakkan dengan cowok-cowok enggak jelas itu. Dilengkapi tempat tidur dan TV, mestinya enak dan leluasa banget dong saya di rumah-rumahan itu. Tapi ya ampun, cuma semalam saya tahan. Enggak nyangka, bermalam di rumah kayu dingiiiiiinnn banget. Besoknya saya langsung mengungsi ke sofa depan ruang kerja Pak siapa itu di lantai 4 - walau  jadinya mesti bangun pagi-pagi biar yang punya ruang enggak syok, begitu sampai di kantor disuguhkan pemandangan saya masih beler, hehehe. Tapi lumayanlah rumah-rumahan itu masih saya manfaatkan sebagai tempat ganti baju - parahnya kamar mandi kami letaknya juga di gedung berbeda - dan TV-nya bisa buat menonton video klip MTV Latin.

Carte de Fidélité, Carte d'Identité

Kali kedua ke Paris, 4 tahun lalu, saya minta Sandy enggak usah menjemput. Saya masih hafal kok jalan ke apartemen Sandy di Ermont-Eaubonne (dulu, sekarang sih sudah pindah ke tengah Paris), sampai kode masuk apartemen. Tapi sungguh bijak Sandy memaksa menjemput di Terminal Gallieni - saya naik Eurolines dari Munich, Jerman. Soalnya kemampuan bahasa Perancis saya enggak bisa dipertanggungjawabkan, hehehe.
Selain keliling Paris bersama Sandy, sebetulnya saya waktu itu - juga tahun sebelumnya - pengin jalan-jalan sendirian beberapa jam saja. Tapi mungkinkah dengan bahasa Perancis yang kacau-balau? Ya mungkin saja, tapi hasilnya pasti ada kejadian memalukan. Terpisah dengan Sandy beberapa meter saja gelagapan, apalagi berkilometer-kilometer jadinya. Misalnya waktu ditanya jalan oleh seorang perempuan tua - Sandy waktu itu sedang ada di boks telepon umum - atau ditanya mau beli buku apa waktu kami mencari buku untuk Naning.
Yang paling memalukan, waktu beli parfum di Yves Rocher Gare du Nord. Waktu membayar, saya tidak ditemani Sandy yang masih melihat-lihat parfum di sisi lain toko. Kasir bertanya, apakah saya punya carte de fidélité alias kartu pelanggan? Dan karena bahasa Perancis saya benar-benar kacrut, saya pikir dia menanyakan carte d'identité! Maka tanpa perasaan berdosa saya ulurkan paspor saya. Alhasil, kasir itu  dan seorang staf lain tertawa terbahak-bahak! Sadarlah saya apa yang terjadi. Huhuhu... memalukan sekali. 
Agak cemas kejadian sama tololnya berulang, Juni kemarin balik ke Paris, saya jadi enggak berani masuk ke Yves Rocher di seberang stasiun metro Dugommier, dekat apartemen Sandy di Paris, sendirian. Karena Sandy sedang sibuk mengeluarkan kereta bayinya yang berumur 1,5 bulan, Viktor, dari apartemen, dia menyuruh saya dan anak sulungnya yang 10 tahun, Lukas, jalan duluan. Jadilah saya belanja dengan penerjemah bocah 10 tahun, hahaha. Terima kasih Mama Sandy, yang mewajibkan Lukas bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.

Terminal Bus Tak Bernama

Saya biasanya naik-turun bus Eurolines di kota-kota besar dan terkenal. Paris, Barcelona, Munich. Kota-kota itu memiliki terminal bus yang besar pula, dengan lokasi dan petunjuk jelas, dan dengan kesibukan yang tak henti meski tengah malam atau subuh. Bahkan terminal-terminal itu begitu mudahnya dicapai dengan moda transportasi semiliar umat alias metro. Terminal Eurolines Paris Gallieni misalnya, bersebelahan dengan Stasiun Gallieni. Begitu pula dengan Terminal Barcelona Sants, di samping Stasiun Sants.
Maka saya yakin, di kota mana pun, terminal Eurolines pasti besar, jelas, dan ramai. Ketika akses dengan kereta dari dan ke kota tertentu ribet, Eurolines jadi satu-satunya jalan keluar. Saya pede memesan tiket Eurolines dari Bologna (Italia) untuk kembali ke Munich. Apalagi dari hasil selancar forum-forum travel di Internet, diperoleh info bahwa terminal di Bologna berada dekat stasiun.
Dekat sih. Letaknya di seberang stasiun. Tapi bukan terminal itu namanya. Perhentian Eurolines di Bologna hanya berupa plang jalan dengan gambar bus, berada di depan deretan pertokoan. Ya, plang hanya dengan gambar bus, tanpa tulisan Eurolines sehuruf pun! Padahal, sekitar 200 meter ke kanan, berdirilah sebuah terminal besar dengan loket pembelian tiket Eurolines di dalamnya, tapi tidak melayani pengangkutan penumpang Eurolines. Saya dan seorang kenalan saya di Bologna, Zeinab yang asal Iran, mondar-mandir 1,5 jam di sekitar terminal-stasiun untuk mencari tahu di manakah letak perhentian Eurolines. Bertanya kepada staf terminal, sopir taksi, pelayan toko, namun tak ada yang menjelaskan dengan pasti.
Akhirnya Zeinab berpatokan pada alamat yang tertera di lembaran tiket saya. “Kau lihat,” katanya saat kami berada di seberang stasiun, “toko ini beralamat nomor 63. Di tiketmu, katanya perhentiannya nomor 62. Jadi seharusnya di sebelah toko ini. Aku rasa – dia menunjuk plang bus – kau seharusnya menunggu di sini.” Karena malam makin larut dan bus dalam kota Bologna – moda transportasi andalan kota ini adalah bus, bukan metro – makin jarang lewat, Zeinab, yang menemani saya selama hampir 4 jam singgah di Bologna, berpamitan. “Ingat saja, nomor 62,” tegasnya. “Lagi pula kau, kan sudah tahu bentuk busnya seperti apa dan tak mungkin kau satu-satunya penumpang yang naik dari sini, jadi pasang mata. Ci salutiamo.”
Jam 23.30 malam, saya terdampar di depan Stasiun Bologna, sendirian, tak tahu pasti arah. Kalau tepat waktu, bus akan tiba di perhentian-yang-entah-di-mana itu setengah jam setelahnya. Mumpung masih ada waktu, saya berlari kembali ke terminal, memastikan kata-kata Zeinab benar. Yap, seorang sopir bus yang saya temui di dalam menyatakan, letaknya memang di depan deretan pertokoan itu. Saya berlari kembali ke sana dan melihat sebuah keluarga, dengan beberapa travel bag, tengah berdiri di samping plang bus. Saya cuma bisa berdoa, semoga Zeinab benar.
Alhamdulillah… walau petunjuknya kacrut, alamat bernomor 62 tidak berbohong. Bus Eurolines menampakkan badannya yang besar tepat waktu dan berhenti persis di sisi plang bus itu. Saya pun kembali ke Munich dengan selamat dan dengan tekad, kalau diberi rezeki kembali ke Eropa lagi, hanya akan naik-turun Eurolines di kota-kota besar!

Monday, October 4, 2010

Bahasa Daerah Napoli

Gara-gara mendiang Luciano Pavarotti dan konser-konsernya, saya jadi senang mendengarkan lagu-lagu daerah Napoli, daerah di selatan Italia. Sebabnya, lagu-lagu ini asli dalam bahasa Napolitan (atau Neapolitan?) yang bagi saya unik, dengan huruf dobel di awal kata dan banyaknya tanda petik di atas. Misalnya “’O Surdato ‘Nnamurato” (kalau dalam bahasa Italia seharusnya “Il Soldato Innamorato” alias serdadu yang jatuh cinta).

Quanta notte nun te veco,
nun te sento 'int'a sti bbracce,
nun te vaso chesta faccia,
nun t'astregno forte 'mbraccio a me?!
Ma, scetánnome 'a sti suonne,
mme faje chiagnere pe' te...

Belum beberapa lagu lagi yang saya kenal - masih dari Pavarotti - seperti “Funiculì Funiculà” dan “Torna a Surriento (alias kembali ke Sorrento, kota di selatan Italia).
Karena lagu-lagu Napolitan yang dinyanyikan Pavarotti  dan penyanyi tenor lainnya itu legendaris dan sudah kapan tahu dibikinnya, saya menduga bahasa Napolitan itu sudah lama punah dan hanya tersisa dalam bentuk literatur atau lagu. Habis seumur-umur mana pernah saya mendengar orang berbincang dalam bahasa Napolitan. Tidak juga di layar RAI International, stasiun televisi Italia yang siarannya bisa disaksikan di jaringan televisi berbayar.
Maka saya kaget ketika Lucia, host saya dalam perjalanan di Italia Juni lalu, mengatakan bahwa temannya yang menikah dengan pria Napoli, Elizabeth, setiap Rabu mengadakan jamuan ala Napoli di restorannya dan berbincang dalam bahasa Napolitan dengan keluarga suaminya. Elizabeth asalnya dari Inggris, tapi sudah menetap di Italia sejak berumur 20-an.
“Hah? Bahasa Napolitan itu masih dipakai? Kirain cuma ada di lagu,” begitu saya bereaksi. Menurut Lucia, keluarga asli Napoli menjaga tradisi berbicara dalam bahasa daerah mereka, sekalipun mereka telah pindah ke utara Italia seperti keluarga suami Elizabeth. Kurang lebih mirip teman saya, Sandy, yang sejak belasan tahun lalu berdomisili di Paris tapi tidak melupakan akarnya. Ketika saya bertanya apakah putranya yang sekarang berumur 10 tahun, Lukas, bisa bicara bahasa Indonesia, dengan galak dia menjawab, “Harus bisa! Ibunya orang Indonesia!”

Koin untuk Troli


Belanja di Eropa, terutama di supermarket, bikin canggung, bingung, sampai agak stres. Padahal saya harus berurusan dengan supermarket. Entah beli air kemasan untuk bekal perjalanan atau beli oleh-oleh seperti cokelat dan keju. Tapi adab belanja yang berbeda-beda di tiap supermarket, minta ampun deh.
Lima tahun lalu saya bolak-balik ke supermarket di area Ermont-Eaubonne, pinggiran Paris, di mana Sandy dulu berdomisili. Yang bikin canggung, supermarket ini punya jam istirahat siang: jam 13.00 sampai jam 14.30. Mungkin begitu, ya tradisi supermarket di pinggir kota besar atau di kota kecil. Soalnya di kota-kota besar yang saya kunjungi sih enggak ada supermarket model begini.
Kalau soal hasil belanja yang harus kita masukkan sendiri ke kantong plastik yang tersedia di ujung tiap kasir, maklumi saja. Soalnya tugas kasir supermarket di Eropa, ya hanya melayani pembayaran.
Yang ribet, belum tentu pula kantong plastiknya gratis. Begitulah peraturan di sebuah supermarket di Marienplatz, empat tahun lalu – kini supermarketnya, karena krisis ekonomi, sudah ditutup. Alhasil kalau belanja di sana, mendingan modal kantong sendiri. Maksudnya mendukung go green. Karena mendukung program go green itulah Yves Rocher juga tidak menyediakan kantong plastik. Kalau pelanggan membeli banyak produk, barulah mereka menghadiahkan tas ringan bermotif bunga untuk menampung belanjaan.
Kemarin dua kali saya ke Yves Rocher di Munich – juga di Marienplatz – untuk membeli parfum. Pada kunjungan pertama, karena belanjaan saya lumayan banyak, saya senang banget mendapatkan tas cantik itu. Nah, pada kunjungan kedua, saya ngarep mendapat tas itu lagi, hehehe. Maka walau si kasir telah selesai menghitung nilai belanjaan saya, saya tidak juga beranjak dari depannya. Kasir sebelah, yang melihat saya tidak pergi juga, menegur saya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan dengan nada galak. “Kami tidak punya plastik! Anda bisa memasukkan semua itu ke dalam tas Anda sendiri.” Hiks hiks, sedih, misi membeli oleh-oleh selesai, misi mendapat dua tas gagal. 
Wawasan tentang adab belanja bertambah ketika menemani Mami, ibu mertua Dedes, belanja di supermarket di dekat apartemen Dedes, Rewe. Di Rewe itu, Mami berniat beli macam-macam. Saya pun kecipratan cokelat dan keripik, hore. Karena itu Mami bilang, sebaiknya belanja pakai troli saja. Lalu saya melihatnya merogoh koin 1 euro dari dalam dompet kecilnya, lantas mencemplungkannya ke lubang kecil di kiri atas troli. Barulah troli terlepas dari barisannya dan bisa ditarik Mami dengan mudah.
Oh, begitu toh?
Syukurlah supermarket itu juga menyediakan keranjang belanja, buat dipakai gratis. Ketika saya ke sana sendirian, tentu saja saya pilih barang gratis, hihihi. Lagian belanjaan saya enggak heboh.
Supermarket di ujung satunya, Aldi, lain lagi ceritanya. Dedes menganjurkan saya membeli cokelat di Aldi, karena lebih murah. Mungkin karena harga barang lebih murah itulah, jadinya Aldi tidak menyediakan keranjang gratis. Sial. Ya sudahlah, 1 euro untuk koin itu toh tergantikan cokelat Merci sekantong, yang habis diraup rekan-rekan sekantor dalam hitungan detik.

Friday, October 1, 2010

Prancis vs Italia

Pantas final Piala Dunia 2006 yang menghadapkan Prancis versus Italia begitu kacaunya. Pantas Zinedine Zidane dikartu merah, pantas Marco Materazzi dianggap penjahat. 
Dan Lucia yang ramah itu pun meracau waktu kami sekapal dengan orang-orang tua Prancis dalam perjalanan kembali dari Pulau San Giulio ke Orta. Gara-garanya, seorang nenek berblazer kuning yang duduk di sebelah kiri saya bertanya-tanya kepada saya dalam bahasa Prancis. Saya masih bisa menanggapi pertanyaan basa-basinya. Tapi Lucia menampakkan muka tak suka.
Lucia berbisik kepada saya, dalam bahasa Italia. "Kenapa sih mereka bicara dalam bahasa Prancis? Ini, kan Italia. Mereka bukan sedang di Prancis." Kayaknya si nenek enggak ngerti artinya, buktinya dia cuek saja tuh. 
Sehari sebelumnya, di kereta Milan-Arona. Dua cewek sedang mengobrol dalam bahasa asing. Lucia menerka, mereka pakai bahasa Spanyol. "Adoro lo spagnolo. Saya cinta bahasa Spanyol. Apa kamu pernah belajar bahasa Peancis?" dia bertanya kepada saya. Saya menjawab, ya. Dia mendengus, "Saya tak suka bahasa Prancis. Jelek. Yang kedengaran sangat indah bagi saya bahasa Spanyol." 
Oke, saya jadi penasaran. Ada apa sih antara Italia dan Prancis?
1. Bersaing di dunia mode
Ada 4 kiblat dunia mode: Milan, Paris, New York, London. Tapi yang dianggap paling bergengsi pelaku mode, Milan dan Paris. Di Paris ada Avenue des Champs-Elysées, Milan juga punya Via Montenapoleone.
2. Penghasil wine atau anggur terbaik
Nah, yang ini saya enggak tahu persis, tapi begitulah menurut orang-orang, hehehe - saya baru bisa menjawab kalau ditanya di mana bisa mendapatkan apfelstrudel terbaik.
3. Nice dan Corsica diambil alih Prancis
Nice dan Corsica yang dulunya merupakan tanah Italia, kemudian direbut Prancis. Jadi, ya... begitulah.
4. Prancis dan Italia bertetangga
Beberapa negara bertetangga saling tak menyukai. Indo-Malay, contohnya? Juga Belanda-Jerman.
5. Bahasa paling romantis
Bahasa Italia dan Prancis serumpun dalam kelompok bahasa Roman yang berakar dari bahasa Latin. Tata bahasanya banyak kemiripannya, walau pelafalannya jauh berbeda. Buat saya sama-sama terdengar romantis, dan rasanya begitu juga buat banyak orang lain. Jadi, mana yang paling romantis?
Ya, cukup sebegitulah yang saya tahu. Belum lagi ditambah kefanatikan tim sepak bola masing-masing, tapi kesebelasan mana sih yang enggak punya fans fanatik?
Akan tetapi selalu ada pengecualian. Tidak semua orang Italia membenci Prancis, begitu sebaliknya. Lima tahun lalu saya bertemu dengan seorang cewek asal Grenoble, Prancis, yang berkereta ke Roma untuk menemui pacar Italianya.
Bagaimana dengan saya dalam menghadapi perseteruan Prancis-Italia ini? Saya mencintai Paris, sebesar saya mencintai bahasa Italia. Adil, kan?

Seniman Jalanan yang Unik

Di tayangan Travelers-nya Discovery Travel & Living, ditampilkan sang traveler mengobrol dengan cewek yang biasanya berpantomim di La Rambla dengan memutihkan seluruh wajahnya dan berpakaian unik. Nah, itu mengingatkan saya pada seniman jalanan yang kreatif di sudut Sacré Coeur (Paris), Roma, Marienplatz, dan La Rambla serta Barri Gothic (Barcelona).
Tadinya, saya pikir yang berdiri di samping kanan Sacré Coeur itu patung sungguhan. Habis sekujur tubuhnya berwarna abu-abu menyerupai patung, hanya saja mengilap. Ditambah lagi "patung" itu tak bergeser barang sedikit pun. Tapi coba lemparkan koin padanya, 20 sen atau 50 sen euro saja. Dijamin dia bakalan bercericit gembira dan melonjak-lonjak! Itulah aksi "patung" di sudut Sacré Coeur. Yang sempat membuat saya kagum, karena saya kira dia satu dari sedikit orang yang berani tampil "gila."
Eh, ternyata seniman jalanan itu punya banyak kawan. Di depan gedung wali kota Munich saja, ada dua yang beraksi serupa. Kalau enggak salah, satunya malah melumuri tubuhnya tidak dengan warna keperakan, melainkan keemasan. Di Roma, bukan seniman jalanan keperakan atau keemasan yang saya lihat berdiri di jalan kecil menuju Fontana di Trevi. Seniman itu, perempuan, mengenakan rok yang lebar bak Cinderella plus merias dirinya dengan makeup tebal. Widya sih sebetulnya menyuruh saya melempar barang 20 sen euro saja saja, pengin tahu seperti apa sih aksinya. Tapi saya enggak berani, soalnya enggak yakin standar nilai uang yang pantas dikasih kepada mereka.
Saya melihat para seniman jalanan itu lagi di La Rambla dan Barri Gothic. Kalau di La Rambla jangan ditanya jumlahnya, banyak! Mereka pun kalau lagi tampil selalu dikerumuni belasan sampai puluhan orang. Selain malas menembus kerumunan orang, saya juga khawatir dicopet, mengingat La Rambla ramainya minta ampun. Di Barri Gothic, tepatnya di depan katedral yang menjadi gerbang masuk ke Barri Gothic, ada seniman jalanan yang sekujur tubuhnya dibuat putih dan pakai sayap, persis malaikat. Lantaran nampang di depan katedral, mesti menyesuaikan diri, dong.

Marc Jacobs 10€

Yang diburu kebanyakan wanita Asia ketika berkunjung ke Paris, kayaknya tas Louis Vuitton deh. Saya yang backpacker-backpackeran - maksudnya anggaran backpacker tapi belanja teuteup kudu - biasanya puas dengan parfum Yves Rocher yang pasarannya orang Perancis. Tapi sejak pertengahan tahun ini saya punya tujuan belanja favorit lain, hore! Dan berkat jasa Sandy lagi, untuk kali pertama saya masuk ke butik desainer kondaaaaanggg.(Kenyataannya memang sebelumnya enggak pernah kok, hehehe)
Di Jakarta hati ciut melihat butik-butik desainer. Penampilan saya jelas enggak layak buat masuk ke butik-butik itu. Saya cemas tubuh saya meleleh disorot sinar tajam mata para staf butik, hahaha. Tapi jangan sedih, saya sudah cinta berat sama Marc by Marc Jacobs, lini kasualnya Marc Jacobs. Maap enggak level belanja di butik-butik Jakarta, hohoho.
Jangan takut dengan judul Marc by Marc Jacobs. MbMJ yang terletak di Place du Marché, Saint-Honoré dan tak seberapa jauh dari Museum Louvre itu sederhana dan minimalis, enggak bling bling dan bikin ngeri. Letaknya bukan di mal keren dan superluas sampai ngalahin luasnya rumah susun, tapi cukup di bawah apartemen putih - maklum Paris dari atas terlihat serbaputih - dengan kosen (sumpah saya baru tahu, ini benda namanya kosen, bukan kusen) jendela dan pintu kacanya berwarna hijau kebiruan gelap. Terdiri dari 3 butik yang masing-masing berlabel Femme (wanita, butiknya tentu saja lebih lebar daripada dua lainnya, hehehe), Homme (pria), dan Little Marc Jacobs (ya ampun ini juga baru tahu kalau ada versi baju anak-anak Marc Jacobs, oh la la dûr dûr d'être bébé) yang berdampingan dengan kafe-kafe itu pun tempatnya agak nyempil, jadi enggak mungkin mobil mewah bisa berhenti persis di depannya. 
Jangan salah, sederhana-sederhana begitu, seputaran Saint-Honoré sesungguhnya juga rumah bagi koleksi label tersohor lain seperti Chanel dan Jimmy Choo. Dua label terakhir itu sih tentunya harganya bikin saya semaput. Maka mari kita masuki MbMJ Femme. Begitu kita melangkah ke dalam, di depan kita terpampang label harga 9€, 10€! Alias 9 euro, 10 euro! Yap, tas-tas kanvas MbMJ dengan warna-warna gelap dan tanah yang bisa Anda pakai buat belanja,  jalan-jalan, dan piknik harganya paling mahal 15€! Butik MbMJ di sini memang menyediakan special items dengan harga terjangkau dan bikin panik pastinyaaaaahhh.
Tengok agak ke dalam, dompet-dompet kulit dengan warna hitam dan warna-warna ngejreng cuma membuat Anda merogoh 15-20€. Tas-tas cewek yang juga ngejreng dengan label Marc by Marc Jacobs bla bla bla yang ramai menghiasi bagian depannya 25€ saja. Kaus-kausnya mulai dari 10€. Gawaaaaatt ini mah. Alhasil butuh waktu 1 jam untuk memastikan mana yang mau saya beli, dengan Sandy menggeram-geram jengkel di samping saya, hahaha.
Sungguh asyik mengaduk-aduk tumpukan tas, kaus, deretan dompet selama 1 jam tanpa dirongrong staf butik yang menguntit saya. Yang memelototi saya dari kepala sampai kaki. Yang sibuk membereskan barang yang habis saya pegang. Sekalian saja mengelap barang yang barusan saya pegang, bukan? Maaf, staf MbMJ terlalu sibuk melayani para pembeli yang happy di kasir. Kesimpulannya, bukan tubuh saya yang berpotensi meleleh di sini, tapi hati saya yang sudah jelas meleleh. Oh diriku sangat terharu, bisa pamer tas Marc Jacobs ke seluruh penjuru kantor, hihihi. Terima kasih Marc Jacobs, terima kasih Paris. Saya makin tak sabar untuk kembali.

Wednesday, September 29, 2010

Paris yang Menghargai Sejarah

Orang bilang, Paris kota yang sangat romantis. Betul kok. Saya dijamin betah duduk berjam-jam di tepi Sungai Seine, sambil memandangi kapal turis yang lalu lalang. Dari jembatan tertentu, Pont Neuf misalnya, Menara Eiffel terbentang di depan mata. Angin yang sepoi-sepoi di musim semi membuat cuaca terik, yang kadang-kadang terjadi, tak terasa berat.
Tapi ada faktor lain yang membuat saya sangat kagum pada Paris. Ibu kota Perancis yang menjadi kota tujuan wisata ini sangat menghargai sejarah. Yang tidak terbayangkan bagi kita yang tinggal di Indonesia. Suatu ketika di akhir April 2005 (entah tanggal 29 atau 30), saya dan Sandy turun ke Stasiun Bastille. Di pijakan peron, saya melihat ada dua tanda zig-zag panjang. Sandy menjelaskan, itu adalah penanda bekas Penjara Bastille, yang dirobohkan penduduk Paris pada 14 Juli 1789, mengakhiri rezim Louis XVI. Pandangannya lantas beralih ke belakang kami. Ia menunjuk reruntuhan yang terletak di bawah plang stasiun, yang tentu saja bertuliskan Bastille. "Nah, tembok penjaranya, ya, tinggal segitu," terang Sandy. Bagi rakyat Perancis, khususnya Paris, mungkin ini hal biasa. Tapi bagi saya, penemuan luar biasa. Kalau reruntuhan itu berdiri di Jakarta, misalnya, pasti sudah berubah jadi pusat perbelanjaan. Jangankan reruntuhan yang panjangnya tak sampai dua meter dan tingginya tak sampai semeter itu. Gedung-gedung peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh saja diruntuhkan demi kepentingan segelintir pihak.
Paris senang mengabadikan momen dalam bentuk monumen. Menjelang masuk terowongan Pont d'Alma, misalnya, terpancanglah simbol berbentuk api yang dikelilingi pagar. Masih ingat, pada 31 Agustus 1997 lalu, di terowongan itulah Putri Diana menemui ajalnya. Sampai sekarang banyak pengagum Putri Diana meninggalkan bunga di sekitar monumen kecil itu. Sungguh menarik, mengingat Putri Diana bukan orang Perancis. Tapi Paris menyadari betul daya tarik Putri Diana. Ada saja turis yang singgah di situ. Sekadar untuk berfoto, menaruh bunga, atau merenungi perjalanan Sang Putri.
Yang dilakukan Paris mungkin sederhana. Hanya membentuk tanda zig-zag atau simbol api, apa susahnya? Tapi yang sederhana itu yang menjadikan Paris salah satu kota tujuan wisata favorit di Eropa. Malah mungkin paling favorit. Yang sederhana itu membuat pemerintah Paris mengantongi keuntungan banyak. Kabar baik lain, keuntungan itu digunakan untuk merawat objek-objek wisata. Tidak terhitung betapa banyak tempat yang bisa diklasifikasikan sebagai objek wisata di Paris. Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, Sacré Coeur, Montmartre, Champs-Elysées, Museum Louvre, Sungai Seine, Moulin Rouge, Versailles, itu sudah pengetahuan umum. Belum lagi yang kurang terpublikasi tapi tak kalah menarik, seperti Jardin de Tuileries, Jardin de Luxembourg, Obelisk di Place de la Concorde, Pantheon (makam Napoleon), Musée d'Orsay, Taman Buttes-Chaumont, Père Lachaise (bahkan makam pun bisa dikomersialkan, seperti makam Jim Morrison misalnya), Masjid Paris, Opéra, Comédie Française, ibunya patung Liberty di NY, La Defense yang modern, Stadion Saint-Denis, PSG, monumen di Pont d'Alma, Promenade Plantée yang dipakai syuting Before Sunset, begitu beragam dan susah  saya ingat satu per satu! Untuk menambah daya tarik, bahkan pintu masuk sebuah stasiun metro dirias dengan lampu-lampu berwarna-warni dan stasiun metro lain dihiasi patung-patung replika Museum Louvre. Saking banyaknya objek yang berharga, perjalanan saya di Paris 3 kali belum mencakup seluruh tempat (kata teman saya, sombongnyaaaaa, hahaha). Saya akan kembali, insya Allah.

Pulau San Giulio: Che Dolce Isola E...

Saya selalu penasaran akan negara-negara termungil di dunia. Baru 2 yang saya kunjungi: Vatikan dan Liechtenstein, lokasi keduanya di Eropa. Bagaimana dengan pulau-pulau mungil? Satu yang sepertinya sangat sangat mungil, Isola di San Giulio atau Pulau San Giulio di Piemonte, utara Italia. Sungguh ajaib saya bisa mengelilingi pulau dengan panjang hanya 275 m dan lebar hanya 140 m, yang terapung di tengah Danau Orta, walau tak sampai 1 jam. Saya tahu dalam jadwal saya bakal ada perjalanan ke Danau Orta. Namun saya baru tahu belakangan bahwa ada pulau mungil itu, yang saking mungilnya kalau terjadi hujan badai seperti sekitar 10 tahun lalu bisa bergeser letaknya beberapa meter dari lokasi semula.
Tidak banyak yang saya lihat di sekitar Orta karena tak banyak waktu tersisa. Saat itu, 17 Juni, hari ketiga atau hari terakhir saya di utara Italia dan sorenya saya harus bertolak ke Bologna - juga untuk acara jalan-jalan cuma 4 jam ajaaaa. Tapi beruntungnya Lucia, host saya, mengajak saya berlayar ke Pulau San Giulio nan mungil. Hiyaaaa, sok kece banget pakai kata berlayar padahal pulau itu cuma 10 menit jaraknya dari tepi Danau Orta dengan angkutan feri. 
Walau feri yang enggak kalah mungil itu cuma berhasil mengangkut 4 penumpang termasuk saya dan Lucia - kapasitasnya sih kayaknya bisa untuk 20-an penumpang - baguslah enggak ada acara getok tarif. Tarifnya 5 euro saja untuk bolak-balik. Kami tiba di sana bersamaan dengan feri yang membawa rombongan anak SD. Di sana juga telah berkumpul rombongan turis Perancis paruh baya, jadi San Giulio lumayan sesak. Maka Lucia, yang biasa memperkenalkan tamu-tamunya dengan San Giulio, mengambil jalan yang berlawanan dan  membawa saya mengarungi suasana yang terkesan misterius. Sepanjang jalan berkelok-kelok  dan berbatu-batu yang lebih cocok disebut lorong - karena sempit dan suram - yang disebut La Via del Silenzio (The Way of Silence) dan La Via della Meditazione (The Way of Meditation) itu terpasang beberapa plang kelabu yang berisi kata-kata bijak dalam 4 bahasa: Italia, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Tak heran begitu hening dan misterius. San Giulio didiami para biarawati Ordo Benediktin yang berpakaian serbahitam. Kami melihat seorang di antara mereka berjalan di depan kami, di La Via della Meditazione, mengarah ke Basilika San Giulio yang berasal dari abad ke-4. Namanya peninggalan dari abad-entah-kapan tahu itu, Basilika cukup terawat walau tambalan di sana-sini tak terelakkan. Lukisan fresco berwarna pastel di langit-langit Basilika sedikit memberi pencerahan pada nuansa misterius San Giulio, hehehe. Satu lagi yang mencerahkan, keberadaan seorang nenek penjual suvenir. Satu-satunya makhluk San Giulio yang kami temui bukanlah biarawati - sejumlah orang memiliki properti di San Giulio, namun mereka umumnya hanya menempati properti itu saat liburan. Si nenek baik hati itu bahkan memberi saya bonus selembar kartu pos bergambar pulaunya tercinta. Grazie, Nonna!

Tuesday, September 28, 2010

Ketinggalan Kereta di Milan

Sumpah, ampun deh yang namanya ketinggalan kereta di Eropa. Antara jengkel, panik, dan deg-degan. Deg-degan kalau-kalau enggak boleh tukar jadwal dan mesti beli tiket baru, huhuhu. Lebih minta ampun lagi kondisi kereta-kereta di Italia. Lima tahun berlalu dan enggak ada perbaikan juga?  Toilet yang dulu jelek sekarang malah out of order? Eh, tapi apa kabar kereta di Jakarta, ya, hahahaha.
Ceritanya saya akan bertolak ke Bologna, dari utara Italia. Dari Stasiun Arona - nanti saya ceritakan kenapa saya bisa terdampar di situ - harus ganti kereta di Milan, sebelum mencapai Bologna. Feeling saya terhadap kereta regional Italia enggak cakep deh. Karena saya sudah mendengar tentang kemungkinan keterlambatan yang disebabkan kereta itu. Tapi Lucia yang mengantar saya ke Arona meyakinkan, pilihan kereta jam 16.00 yang terbaik, karena saya tidak perlu berlama-lama di Milano Centrale menunggu kereta ke Bologna berangkat jam 17.15. Saya sih lebih sreg berangkat dari Arona jam 15.02. Tapi saya tahu apa sih, kan Lucia yang orang Italia, begitulah akhirnya saya menyerah.
Dan feeling enggak cakep itu berubah nyata. Kereta regional yang kondisinya enggak cakep itu pulak jalannya lambaaaaaaaaaan sekali, karena beberapa kali harus mengalah pada kereta antarnegara. Dan tibalah saya dengan sukses di Milano Centrale jam berapa? Jam 17.20. Cakep. Kereta menuju Bologna itu, ya sudah pasti sudah berada di luar Milano Centrale. Saya pun murkaaaaa. Dan kalau saya murka, apa yang saya lakukan? Ngomel dulu, hehehe. Maka saya SMS Lucia dan saya ungkapkan kekecewaan saya. Sarannya: cari staf stasiun buat dimarahi. Jawaban saya: I will! Hahaha.
Maka dengan geram saya mencari pusat informasi. Eh, tapi ternyata saya enggak perlu marah-marah ding. Setelah saya jelaskan dengan bahasa Italia campur-campur Inggris tentang keterlambatan kereta di Arona, si petugas yang sudah tua itu dengan santainya mengganti jadwal keberangkatan saya ke jam 18.15. Hah, enggak perlu bayar apa-apa nih? Kata dia, enggak tuh. Grazie molte Signor, jij enggak tahu, kan uang di dompet eike tinggal 30 euro, jadi kalau mesti bayar tiket pengganti enggak cukup nek.

Solo Travel: Prague

Rencananya mah bukan solo travel. Rencananya Dedes - yang lagi hamil 8 bulan tapi masih getol jalan - dan suaminya yang pecinta abis Praha mau mengantar saya melihat-lihat Praha. Makanya saya pede berangkat dari Jakarta tanpa bekal sedikit pun tentang Praha. Boro-boro lokasi wisatanya, Republik Ceko masih memberlakukan mata uang koruna, bukan Euro walaupun sejak 2007 Praha sudah masuk area Schengen, saya enggak ingat. 
Rencana tinggal rencana. Dedes masuk RS karena kehamilannya riskan. Wolfgang enggak mungkin, kan mengantar saya. Ya, saya harus naik bus sendirian ke Praha. Alhasil saya panic at the disco. Baru 2 malam eksis di Munich, pada 6 Juni saya harus bertolak ke Praha. Apa boleh buat, 6-7 Juni sudah saya anggarkan untuk perjalanan ke Praha. Saya HARUS ke Praha, sendirian pun jadilah. Saya tak mau kegagalan pada 2006 berulang - waktu itu saya seharusnya ke Praha, tapi karena Ceko belum termasuk negara Schengen dan urusan visa ribet, saya pun beralih ke Swiss.
Untunglah ada Wolfgang si dewa penyelamat. Dia membekali saya bukan hanya peta Praha. Dia mencarikan jadwal bus yang enak, hotel, sampai memberi saya 6 tiket metro Praha dan uang 200 koruna! Yap, dia segitu cintanya pada Praha sampai-sampai punya simpanan tiket dan mata uang Ceko, hehehe. Dedes pun bilang: "Agak aneh sih, Ka, karena kami tahun ini belum sekali pun ke Ceko. Biasanya setahun 4 kali."
Setiba di Hotel Florenc - setelah 2 jam kesasar pulak - saya masih panik: mau ngapain gue di Praha? Saya merenungi peta 1 jam sebelum memutuskan berkeliling Praha. Saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam, jadi saya harus bergerak. Pada akhirnya... semua kepanikan itu terbayar lunas. Solo travel di Praha sungguh membawa berkah. Saya melihat salah satu pemandangan yang bagi saya sulit dilukiskan dengan kata-kata, Charles Bridge yang anggun disorot matahari sore - saya nyaris bersujud di jembatan itu - dan merenungi keindahannya selama saya suka, saya bebas berjalan sampai gempor dan sampai jam 11 malam - hanya karena metro cuma beroperasi sampai jam 1. Kalau tidak, pastinya saya bisa jalan lebih lama :). 
Saya tetap lebih cinta Paris daripada Praha. Namun ada sesuatu tentang Praha yang selalu membayangi saya. Mungkin Charles Bridge, mungkin karena akhirnya kesampaian juga setelah tahun 2006 gagal? Atau mungkin solo travel yang menakjubkan. Yes I'm proud of it, karena ini saya lakukan tanpa persiapan, di negeri yang tidak saya kenal bahasanya pula.

Suka-duka di Loket Imigrasi Bandara Eropa

Yang paling saya benci sepenuh hati di Eropa bukan muka jutek orang-orang Jerman, bukan cowok-cowok Italia yang sok kece - ya habis memang cakep, mau bagaimana lagi :) - bukan pula cuaca dinginnya yang enggak bersahabat - tapi kayaknya ini yang saya benci nomor 2 deh. Yang paling saya benci adalah imigrasi bandara. Karena saya WN Indonesia, negeri yang suka diincar teroris itu lho. Jadi tak mungkin saya bisa lolos dari loket imigrasi bandara Eropa hanya dengan cek paspor dan wajah. Kendati saya punya tampang bule, hiks hiks.
Untungnyaaaaa... terakhir kali ke Eropa Juni kemarin, alhamdulillah, semua lancar. Malah enggak lancarnya pas mengajukan visa - bolak-balik ke Kedubes Jerman 3 kali karena loketnya cuma buka satu alhasil antreannya gilak dan pas foto saya enggak memenuhi syarat, huh - dan ditanya-tanyai petugas di bandara transit di Doha. Dia yang enggak bule itu bisa-bisanya menginterogasi saya, mau ngapain di Jerman bla bla bla dengan muka jutek. Dan mendarat di Bandara Franz Josef Strauss, Munich, alhamdulillah sekali saya disambut wajah biasa aja petugas imigrasinya dan cuma ditanya: keperluan di Munich (ya mereka berhak tanya, wong judulnya mereka petugas imigrasi Muenchen, bukan Doha) dan apakah saya datang bersama rombongan yang mengantre di belakang saya. Selesai.
Pulangnya pun alhamdulillah sekali enggak susah. Malah sambil tersenyum si petugas itu cuma bertanya, apakah saya senang berwisata di Munich. Beda dengan 4-5 tahun lalu, mungkin karena yang satu saya mendarat di Paris yang kota impian banyak orang, dan satunya lagi saya datang menjelang Piala Dunia Jerman 2006, saat yang juga diimpikan banyak orang dari penjuru dunia untuk menonton sepak bola. Walau Juni kemarin cukup lancar, tetap saja saya trauma tuh kalau dalam perjalanan saya berpindah-pindah kota pun harus naik pesawat. Bayangkan berapa bandara yang harus saya lewati. Sudah saya sebal diinterogasi panjang lebar, pasti orang yang mengantre di belakang saya juga sebal. Biarin deh agak panjang perjalanan dengan kereta apalagi bus, yang penting saya nyaman.
Berikut ini juga sebabnya saya berusaha semaksimal mungkin menghindari bandara di Eropa. Banyak kota di Eropa tujuan wisata potensial, jadi antreannya kadang ampun-ampunan. Efeknya beberapa orang nyaris ketinggalan pesawat - atau malah benaran ketinggalan - apalagi jika mereka tiba di bandara hanya setengah sampai 1 jam sebelum keberangkatan. Maka saat saya mengantre pulang, terjadi perdebatan antara para calon penumpang yang panik ini dengan beberapa penumpang Asia Timur yang meneriaki mereka agar patuh peraturan. Begitu hampir tiba giliran saya maju ke loket, karena saya tahu pasti akan dihadapkan pada beberapa pertanyaan - syukur-syukur cuma 1-2, kalau lebih? - dan jam keberangkatan saya masih dalam 1,5 jam ke depan, maka saya biarkan 2 orang Amerika melewati saya, karena dalam 15-20 menit pesawat mereka akan take off. Hmm, ini membuat saya berpikir. Kalau saya membantu warga Amerika, kira-kira imigrasi Amerika akan membantu saya enggak, ya? Hehehe.