Wednesday, September 29, 2010

Paris yang Menghargai Sejarah

Orang bilang, Paris kota yang sangat romantis. Betul kok. Saya dijamin betah duduk berjam-jam di tepi Sungai Seine, sambil memandangi kapal turis yang lalu lalang. Dari jembatan tertentu, Pont Neuf misalnya, Menara Eiffel terbentang di depan mata. Angin yang sepoi-sepoi di musim semi membuat cuaca terik, yang kadang-kadang terjadi, tak terasa berat.
Tapi ada faktor lain yang membuat saya sangat kagum pada Paris. Ibu kota Perancis yang menjadi kota tujuan wisata ini sangat menghargai sejarah. Yang tidak terbayangkan bagi kita yang tinggal di Indonesia. Suatu ketika di akhir April 2005 (entah tanggal 29 atau 30), saya dan Sandy turun ke Stasiun Bastille. Di pijakan peron, saya melihat ada dua tanda zig-zag panjang. Sandy menjelaskan, itu adalah penanda bekas Penjara Bastille, yang dirobohkan penduduk Paris pada 14 Juli 1789, mengakhiri rezim Louis XVI. Pandangannya lantas beralih ke belakang kami. Ia menunjuk reruntuhan yang terletak di bawah plang stasiun, yang tentu saja bertuliskan Bastille. "Nah, tembok penjaranya, ya, tinggal segitu," terang Sandy. Bagi rakyat Perancis, khususnya Paris, mungkin ini hal biasa. Tapi bagi saya, penemuan luar biasa. Kalau reruntuhan itu berdiri di Jakarta, misalnya, pasti sudah berubah jadi pusat perbelanjaan. Jangankan reruntuhan yang panjangnya tak sampai dua meter dan tingginya tak sampai semeter itu. Gedung-gedung peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh saja diruntuhkan demi kepentingan segelintir pihak.
Paris senang mengabadikan momen dalam bentuk monumen. Menjelang masuk terowongan Pont d'Alma, misalnya, terpancanglah simbol berbentuk api yang dikelilingi pagar. Masih ingat, pada 31 Agustus 1997 lalu, di terowongan itulah Putri Diana menemui ajalnya. Sampai sekarang banyak pengagum Putri Diana meninggalkan bunga di sekitar monumen kecil itu. Sungguh menarik, mengingat Putri Diana bukan orang Perancis. Tapi Paris menyadari betul daya tarik Putri Diana. Ada saja turis yang singgah di situ. Sekadar untuk berfoto, menaruh bunga, atau merenungi perjalanan Sang Putri.
Yang dilakukan Paris mungkin sederhana. Hanya membentuk tanda zig-zag atau simbol api, apa susahnya? Tapi yang sederhana itu yang menjadikan Paris salah satu kota tujuan wisata favorit di Eropa. Malah mungkin paling favorit. Yang sederhana itu membuat pemerintah Paris mengantongi keuntungan banyak. Kabar baik lain, keuntungan itu digunakan untuk merawat objek-objek wisata. Tidak terhitung betapa banyak tempat yang bisa diklasifikasikan sebagai objek wisata di Paris. Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, Sacré Coeur, Montmartre, Champs-Elysées, Museum Louvre, Sungai Seine, Moulin Rouge, Versailles, itu sudah pengetahuan umum. Belum lagi yang kurang terpublikasi tapi tak kalah menarik, seperti Jardin de Tuileries, Jardin de Luxembourg, Obelisk di Place de la Concorde, Pantheon (makam Napoleon), Musée d'Orsay, Taman Buttes-Chaumont, Père Lachaise (bahkan makam pun bisa dikomersialkan, seperti makam Jim Morrison misalnya), Masjid Paris, Opéra, Comédie Française, ibunya patung Liberty di NY, La Defense yang modern, Stadion Saint-Denis, PSG, monumen di Pont d'Alma, Promenade Plantée yang dipakai syuting Before Sunset, begitu beragam dan susah  saya ingat satu per satu! Untuk menambah daya tarik, bahkan pintu masuk sebuah stasiun metro dirias dengan lampu-lampu berwarna-warni dan stasiun metro lain dihiasi patung-patung replika Museum Louvre. Saking banyaknya objek yang berharga, perjalanan saya di Paris 3 kali belum mencakup seluruh tempat (kata teman saya, sombongnyaaaaa, hahaha). Saya akan kembali, insya Allah.

Pulau San Giulio: Che Dolce Isola E...

Saya selalu penasaran akan negara-negara termungil di dunia. Baru 2 yang saya kunjungi: Vatikan dan Liechtenstein, lokasi keduanya di Eropa. Bagaimana dengan pulau-pulau mungil? Satu yang sepertinya sangat sangat mungil, Isola di San Giulio atau Pulau San Giulio di Piemonte, utara Italia. Sungguh ajaib saya bisa mengelilingi pulau dengan panjang hanya 275 m dan lebar hanya 140 m, yang terapung di tengah Danau Orta, walau tak sampai 1 jam. Saya tahu dalam jadwal saya bakal ada perjalanan ke Danau Orta. Namun saya baru tahu belakangan bahwa ada pulau mungil itu, yang saking mungilnya kalau terjadi hujan badai seperti sekitar 10 tahun lalu bisa bergeser letaknya beberapa meter dari lokasi semula.
Tidak banyak yang saya lihat di sekitar Orta karena tak banyak waktu tersisa. Saat itu, 17 Juni, hari ketiga atau hari terakhir saya di utara Italia dan sorenya saya harus bertolak ke Bologna - juga untuk acara jalan-jalan cuma 4 jam ajaaaa. Tapi beruntungnya Lucia, host saya, mengajak saya berlayar ke Pulau San Giulio nan mungil. Hiyaaaa, sok kece banget pakai kata berlayar padahal pulau itu cuma 10 menit jaraknya dari tepi Danau Orta dengan angkutan feri. 
Walau feri yang enggak kalah mungil itu cuma berhasil mengangkut 4 penumpang termasuk saya dan Lucia - kapasitasnya sih kayaknya bisa untuk 20-an penumpang - baguslah enggak ada acara getok tarif. Tarifnya 5 euro saja untuk bolak-balik. Kami tiba di sana bersamaan dengan feri yang membawa rombongan anak SD. Di sana juga telah berkumpul rombongan turis Perancis paruh baya, jadi San Giulio lumayan sesak. Maka Lucia, yang biasa memperkenalkan tamu-tamunya dengan San Giulio, mengambil jalan yang berlawanan dan  membawa saya mengarungi suasana yang terkesan misterius. Sepanjang jalan berkelok-kelok  dan berbatu-batu yang lebih cocok disebut lorong - karena sempit dan suram - yang disebut La Via del Silenzio (The Way of Silence) dan La Via della Meditazione (The Way of Meditation) itu terpasang beberapa plang kelabu yang berisi kata-kata bijak dalam 4 bahasa: Italia, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Tak heran begitu hening dan misterius. San Giulio didiami para biarawati Ordo Benediktin yang berpakaian serbahitam. Kami melihat seorang di antara mereka berjalan di depan kami, di La Via della Meditazione, mengarah ke Basilika San Giulio yang berasal dari abad ke-4. Namanya peninggalan dari abad-entah-kapan tahu itu, Basilika cukup terawat walau tambalan di sana-sini tak terelakkan. Lukisan fresco berwarna pastel di langit-langit Basilika sedikit memberi pencerahan pada nuansa misterius San Giulio, hehehe. Satu lagi yang mencerahkan, keberadaan seorang nenek penjual suvenir. Satu-satunya makhluk San Giulio yang kami temui bukanlah biarawati - sejumlah orang memiliki properti di San Giulio, namun mereka umumnya hanya menempati properti itu saat liburan. Si nenek baik hati itu bahkan memberi saya bonus selembar kartu pos bergambar pulaunya tercinta. Grazie, Nonna!

Tuesday, September 28, 2010

Ketinggalan Kereta di Milan

Sumpah, ampun deh yang namanya ketinggalan kereta di Eropa. Antara jengkel, panik, dan deg-degan. Deg-degan kalau-kalau enggak boleh tukar jadwal dan mesti beli tiket baru, huhuhu. Lebih minta ampun lagi kondisi kereta-kereta di Italia. Lima tahun berlalu dan enggak ada perbaikan juga?  Toilet yang dulu jelek sekarang malah out of order? Eh, tapi apa kabar kereta di Jakarta, ya, hahahaha.
Ceritanya saya akan bertolak ke Bologna, dari utara Italia. Dari Stasiun Arona - nanti saya ceritakan kenapa saya bisa terdampar di situ - harus ganti kereta di Milan, sebelum mencapai Bologna. Feeling saya terhadap kereta regional Italia enggak cakep deh. Karena saya sudah mendengar tentang kemungkinan keterlambatan yang disebabkan kereta itu. Tapi Lucia yang mengantar saya ke Arona meyakinkan, pilihan kereta jam 16.00 yang terbaik, karena saya tidak perlu berlama-lama di Milano Centrale menunggu kereta ke Bologna berangkat jam 17.15. Saya sih lebih sreg berangkat dari Arona jam 15.02. Tapi saya tahu apa sih, kan Lucia yang orang Italia, begitulah akhirnya saya menyerah.
Dan feeling enggak cakep itu berubah nyata. Kereta regional yang kondisinya enggak cakep itu pulak jalannya lambaaaaaaaaaan sekali, karena beberapa kali harus mengalah pada kereta antarnegara. Dan tibalah saya dengan sukses di Milano Centrale jam berapa? Jam 17.20. Cakep. Kereta menuju Bologna itu, ya sudah pasti sudah berada di luar Milano Centrale. Saya pun murkaaaaa. Dan kalau saya murka, apa yang saya lakukan? Ngomel dulu, hehehe. Maka saya SMS Lucia dan saya ungkapkan kekecewaan saya. Sarannya: cari staf stasiun buat dimarahi. Jawaban saya: I will! Hahaha.
Maka dengan geram saya mencari pusat informasi. Eh, tapi ternyata saya enggak perlu marah-marah ding. Setelah saya jelaskan dengan bahasa Italia campur-campur Inggris tentang keterlambatan kereta di Arona, si petugas yang sudah tua itu dengan santainya mengganti jadwal keberangkatan saya ke jam 18.15. Hah, enggak perlu bayar apa-apa nih? Kata dia, enggak tuh. Grazie molte Signor, jij enggak tahu, kan uang di dompet eike tinggal 30 euro, jadi kalau mesti bayar tiket pengganti enggak cukup nek.

Solo Travel: Prague

Rencananya mah bukan solo travel. Rencananya Dedes - yang lagi hamil 8 bulan tapi masih getol jalan - dan suaminya yang pecinta abis Praha mau mengantar saya melihat-lihat Praha. Makanya saya pede berangkat dari Jakarta tanpa bekal sedikit pun tentang Praha. Boro-boro lokasi wisatanya, Republik Ceko masih memberlakukan mata uang koruna, bukan Euro walaupun sejak 2007 Praha sudah masuk area Schengen, saya enggak ingat. 
Rencana tinggal rencana. Dedes masuk RS karena kehamilannya riskan. Wolfgang enggak mungkin, kan mengantar saya. Ya, saya harus naik bus sendirian ke Praha. Alhasil saya panic at the disco. Baru 2 malam eksis di Munich, pada 6 Juni saya harus bertolak ke Praha. Apa boleh buat, 6-7 Juni sudah saya anggarkan untuk perjalanan ke Praha. Saya HARUS ke Praha, sendirian pun jadilah. Saya tak mau kegagalan pada 2006 berulang - waktu itu saya seharusnya ke Praha, tapi karena Ceko belum termasuk negara Schengen dan urusan visa ribet, saya pun beralih ke Swiss.
Untunglah ada Wolfgang si dewa penyelamat. Dia membekali saya bukan hanya peta Praha. Dia mencarikan jadwal bus yang enak, hotel, sampai memberi saya 6 tiket metro Praha dan uang 200 koruna! Yap, dia segitu cintanya pada Praha sampai-sampai punya simpanan tiket dan mata uang Ceko, hehehe. Dedes pun bilang: "Agak aneh sih, Ka, karena kami tahun ini belum sekali pun ke Ceko. Biasanya setahun 4 kali."
Setiba di Hotel Florenc - setelah 2 jam kesasar pulak - saya masih panik: mau ngapain gue di Praha? Saya merenungi peta 1 jam sebelum memutuskan berkeliling Praha. Saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam, jadi saya harus bergerak. Pada akhirnya... semua kepanikan itu terbayar lunas. Solo travel di Praha sungguh membawa berkah. Saya melihat salah satu pemandangan yang bagi saya sulit dilukiskan dengan kata-kata, Charles Bridge yang anggun disorot matahari sore - saya nyaris bersujud di jembatan itu - dan merenungi keindahannya selama saya suka, saya bebas berjalan sampai gempor dan sampai jam 11 malam - hanya karena metro cuma beroperasi sampai jam 1. Kalau tidak, pastinya saya bisa jalan lebih lama :). 
Saya tetap lebih cinta Paris daripada Praha. Namun ada sesuatu tentang Praha yang selalu membayangi saya. Mungkin Charles Bridge, mungkin karena akhirnya kesampaian juga setelah tahun 2006 gagal? Atau mungkin solo travel yang menakjubkan. Yes I'm proud of it, karena ini saya lakukan tanpa persiapan, di negeri yang tidak saya kenal bahasanya pula.

Suka-duka di Loket Imigrasi Bandara Eropa

Yang paling saya benci sepenuh hati di Eropa bukan muka jutek orang-orang Jerman, bukan cowok-cowok Italia yang sok kece - ya habis memang cakep, mau bagaimana lagi :) - bukan pula cuaca dinginnya yang enggak bersahabat - tapi kayaknya ini yang saya benci nomor 2 deh. Yang paling saya benci adalah imigrasi bandara. Karena saya WN Indonesia, negeri yang suka diincar teroris itu lho. Jadi tak mungkin saya bisa lolos dari loket imigrasi bandara Eropa hanya dengan cek paspor dan wajah. Kendati saya punya tampang bule, hiks hiks.
Untungnyaaaaa... terakhir kali ke Eropa Juni kemarin, alhamdulillah, semua lancar. Malah enggak lancarnya pas mengajukan visa - bolak-balik ke Kedubes Jerman 3 kali karena loketnya cuma buka satu alhasil antreannya gilak dan pas foto saya enggak memenuhi syarat, huh - dan ditanya-tanyai petugas di bandara transit di Doha. Dia yang enggak bule itu bisa-bisanya menginterogasi saya, mau ngapain di Jerman bla bla bla dengan muka jutek. Dan mendarat di Bandara Franz Josef Strauss, Munich, alhamdulillah sekali saya disambut wajah biasa aja petugas imigrasinya dan cuma ditanya: keperluan di Munich (ya mereka berhak tanya, wong judulnya mereka petugas imigrasi Muenchen, bukan Doha) dan apakah saya datang bersama rombongan yang mengantre di belakang saya. Selesai.
Pulangnya pun alhamdulillah sekali enggak susah. Malah sambil tersenyum si petugas itu cuma bertanya, apakah saya senang berwisata di Munich. Beda dengan 4-5 tahun lalu, mungkin karena yang satu saya mendarat di Paris yang kota impian banyak orang, dan satunya lagi saya datang menjelang Piala Dunia Jerman 2006, saat yang juga diimpikan banyak orang dari penjuru dunia untuk menonton sepak bola. Walau Juni kemarin cukup lancar, tetap saja saya trauma tuh kalau dalam perjalanan saya berpindah-pindah kota pun harus naik pesawat. Bayangkan berapa bandara yang harus saya lewati. Sudah saya sebal diinterogasi panjang lebar, pasti orang yang mengantre di belakang saya juga sebal. Biarin deh agak panjang perjalanan dengan kereta apalagi bus, yang penting saya nyaman.
Berikut ini juga sebabnya saya berusaha semaksimal mungkin menghindari bandara di Eropa. Banyak kota di Eropa tujuan wisata potensial, jadi antreannya kadang ampun-ampunan. Efeknya beberapa orang nyaris ketinggalan pesawat - atau malah benaran ketinggalan - apalagi jika mereka tiba di bandara hanya setengah sampai 1 jam sebelum keberangkatan. Maka saat saya mengantre pulang, terjadi perdebatan antara para calon penumpang yang panik ini dengan beberapa penumpang Asia Timur yang meneriaki mereka agar patuh peraturan. Begitu hampir tiba giliran saya maju ke loket, karena saya tahu pasti akan dihadapkan pada beberapa pertanyaan - syukur-syukur cuma 1-2, kalau lebih? - dan jam keberangkatan saya masih dalam 1,5 jam ke depan, maka saya biarkan 2 orang Amerika melewati saya, karena dalam 15-20 menit pesawat mereka akan take off. Hmm, ini membuat saya berpikir. Kalau saya membantu warga Amerika, kira-kira imigrasi Amerika akan membantu saya enggak, ya? Hehehe.