Wednesday, October 6, 2010

Di Sini Memang Selalu Musim Dingin!

Saya selalu menyukai pemandangan Alpen. Dan saya berdoa supaya suatu hari bisa melihat kembali Alpen di Italia utara, Dolomite, yang berbatu-batu kelabu dengan salju di atasnya. Kalau Alpen di Swiss yang tersohor, sepanjang mata memandang sih ya, berupa pegunungan berpohon-pohon dengan tentu saja salju abadi membungkus puncaknya.
Saya kali pertama melihat si Dolomite yang megah dan kokoh di Bolzano, dalam perjalanan kereta Roma-Munich 5 tahun lalu. Gilak, Dolomite menjulang persis di sisi kanan rel! Mulut saya ternganga, mata saya tak bisa lepas dari magnet Dolomite.
Saya jumpa lagi dengan Dolomite Juni lalu, dalam rute bus Bologna-Munich. Saya enggak tahu bakal lewat Dolomite atau enggak. Lagian, kan saya menempuh perjalanan malam, jadi kalaupun lewat, pasti saya enggak ngeh.
Ternyata bukan cuma lewat. Jam 5 pagi, sopir Eurolines menghentikan busnya di jalur Brenner Pass – tapi entah di kota mana itu persisnya – dan memberi pengumuman dalam bahasa Italia, akan rehat selama 30 menit di situ. Dalam rutenya, bus Eurolines berhenti minimal sekali untuk rehat penumpang maupun sopir, juga mengangkut dan menurunkan penumpang – bus Munich-Praha contohnya, berhenti di Regensburg (Jerman) untuk mengambil penumpang sekaligus rehat. Rehatnya biasanya dilewatkan di sebuah pom bensin dengan fasilitas minimarket, toilet, syukur-syukur ada kafe 24 jam. Nah, rehatnya bus Eurolines Bologna itu dilakukan persis di depan Dolomite! Jam 5 pagi, turun dari bus langsung menghadap Dolomite, waduh, enggak banget deh. Semua orang menggigil kedinginan. Lha apalagi saya yang berasal dari negara tropis. Dengan gigi gemeretuk, kaki gemetaran, saya menghambur ke toilet, bersama beberapa penumpang lain. Seorang kakek Italia mengeluh, “Ini kayak musim dingin!” Disahuti si sopir dengan santai, “Di sini memang selalu musim dingin.”
Kelar urusan toilet, saya kembali ke bus dengan terburu-buru, karena dinginnya itu lho. Namun sebelum menaikinya, walau dengan tetap menggigil, saya sempatkan sebentar mengagumi keindahan Dolomite yang terhampar tepat di depan mata. Betapa cantiknya, walau kegelapan masih menaungi. Dan sepanjang 2 jam tersisa menuju Munich, saya urung memejamkan mata lagi karena merasa sayang menyia-nyiakan pemandangan Alpen di sepanjang jalan, apalagi besok sorenya saya sudah harus terbang pulang ke Jakarta. Karena kelelahan mencari-cari lokasi perhentian bus di Bologna juga kurang tidur, alhasil begitu sampai apartemen Dedes, bukannya mandi, saya molor sampai jam 12 siang!

Antara Lucia, Anak-anaknya, dan Musik

Lucia, host saya di Borgomanero, Italia utara, punya banyak kisah menarik, karena dia banyak bicara. Oh, saya tidak terganggu dengan ocehannya. Justru saya senang mendengarnya mengocehkan ini-itu dalam bahasa Italia.
Kisah tentang Elizabeth dan keluarga Napolinya di Borgomanero menarik. Menarik pula awal persahabatannya dengan Elizabeth. “Waktu baru datang ke Italia, Elizabeth butuh orang yang mau mengajarinya bahasa Italia gratis dan saya juga butuh orang yang mau membantu saya mengajari bahasa Inggris tanpa dibayar,” begitu kisahnya. Dari situlah persahabatan terjalin, sampai kini mereka berdua berusia 50-an.
Kisah keluarga Lucia sendiri tak kalah menarik. Lucia yang cerai dari suaminya ini membesarkan 2 anak yang memiliki kiprah masing-masing di dunia musik. Padahal Lucia tidak pernah menyeriusi musik. Putra bungsunya yang masih tinggal dengannya, Roberto – di Italia hubungan keluarga sangat erat, sehingga masih banyak lajang di usia 20-30-an, termasuk teman saya di Milan, Valerio, tinggal bersama orangtua – bergabung dalam band yang menyanyikan lagu-lagu penyanyi terkenal Italia, Gianna Nannini. Putri sulungnya, Mara, malah pernah memenangi kompetisi menyanyi lokal pada era kaset. Dua lagunya, salah satu yang saya ingat karena melodinya gampang dicerna, “Non Te La Do”, dikasetkan oleh perusahaan rekaman lokal. sebagai hadiah kemenangan Dan sebatas itu saja kiprah Mara.
Vokal Mara menurut saya lebih daripada lumayan. Bahkan lebih baik dibandingkan beberapa kontestan X Factor Italia. “Tapi Mara tidak mau meneruskan ke jenjang selanjutnya. Dia tidak tertarik menjadi penyanyi besar. Besar yang harus dikorbankan untuk menjadi besar,” katanya, mengenai putrinya yang kini tinggal bersama pacarnya di kota lain.
Maka, “Non Te La Do” hanya tersisa dalam bentuk kaset. Seandainya saja ada versi CD atau MP3-nya, pastilah lagu bernada ceria itu akan jadi kenang-kenangan manis dari Borgomanero, kota kecil di Italia utara yang kotanya berbentuk perempatan jalan dan luasnya, dengan bukit-bukitnya, hanya 30 km persegi. Apalagi satu-satunya toko CD di Borgomanero segera tutup, karena kurang laku dan pemiliknya, yang juga teman Lucia – semuanya sepertinya saling mengenal di kota kecil itu – akan mengalihkan usahanya ke bidang fashion. Makin sepilah Borgomanero dari musik, kecuali mungkin kalau Roby – panggilan Roberto – manggung dengan bandnya.

Tuesday, October 5, 2010

Saltum di Meksiko

Tahun 2000 kali pertama saya merasakan musim gugur. Really? Eh cuma imbasnya musim gugur ding, di Mexico City. (Imbasnya saja kena suhu 7 derajat Celsius, bagaimana yang betulan?) Namanya baru kenal musim gugur, jadinya rada norak. Kalau lagi di dalam KBRI - tempat saya dan 4 teman menginap selama tugas wawancara artis Televisa - sih enak, ada pemanas. Tapi kacaunya, dapur KBRI terpisah dari gedung utama KBRI. Nah, kalau mau makan malam, kami mesti ke dapur, dong. Jaraknya sih enggak jauh, ya paling 20 meteran. Tapi angin dingin yang menusuk membuat kami mesti pakai ancang-ancang menuju ke dapur. Sesaat sebelum membuka pintu gedung KBRI, kami biasanya bersiaga, "satu, dua, tiga," disambung berteriak, "lariiiiiiiiiiiiiiiii!" begitu pintu terbuka.
Walau letaknya masih di negara sama, Mexico City dan Acapulco suhunya beda. Acapulco kurang lebih kayak di Indonesia, kenalnya musim hujan dan kemarau. Karena itu waktu ke Acapulco kami keenakan. Pakai kaus lengan pendek, celana pendek, yuuuuukkkk. Alhasil kami lupa ganti kostum waktu balik ke KBRI di Mexico City. Mas Robi baru sadar waktu ditugaskan membuka pagar KBRI - karena duduknya paling dekat pintu - agar mobil kami bisa masuk. "Anjriiiiiittt... saltum bo!" serunya menyumpah-nyumpah.
Dan sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan, KBRI membuatkan saya semacam rumah-rumahan dari kayu di luar lantai 4 yang cukup luas, supaya saya tidak perlu tidur berdesakkan dengan cowok-cowok enggak jelas itu. Dilengkapi tempat tidur dan TV, mestinya enak dan leluasa banget dong saya di rumah-rumahan itu. Tapi ya ampun, cuma semalam saya tahan. Enggak nyangka, bermalam di rumah kayu dingiiiiiinnn banget. Besoknya saya langsung mengungsi ke sofa depan ruang kerja Pak siapa itu di lantai 4 - walau  jadinya mesti bangun pagi-pagi biar yang punya ruang enggak syok, begitu sampai di kantor disuguhkan pemandangan saya masih beler, hehehe. Tapi lumayanlah rumah-rumahan itu masih saya manfaatkan sebagai tempat ganti baju - parahnya kamar mandi kami letaknya juga di gedung berbeda - dan TV-nya bisa buat menonton video klip MTV Latin.

Carte de Fidélité, Carte d'Identité

Kali kedua ke Paris, 4 tahun lalu, saya minta Sandy enggak usah menjemput. Saya masih hafal kok jalan ke apartemen Sandy di Ermont-Eaubonne (dulu, sekarang sih sudah pindah ke tengah Paris), sampai kode masuk apartemen. Tapi sungguh bijak Sandy memaksa menjemput di Terminal Gallieni - saya naik Eurolines dari Munich, Jerman. Soalnya kemampuan bahasa Perancis saya enggak bisa dipertanggungjawabkan, hehehe.
Selain keliling Paris bersama Sandy, sebetulnya saya waktu itu - juga tahun sebelumnya - pengin jalan-jalan sendirian beberapa jam saja. Tapi mungkinkah dengan bahasa Perancis yang kacau-balau? Ya mungkin saja, tapi hasilnya pasti ada kejadian memalukan. Terpisah dengan Sandy beberapa meter saja gelagapan, apalagi berkilometer-kilometer jadinya. Misalnya waktu ditanya jalan oleh seorang perempuan tua - Sandy waktu itu sedang ada di boks telepon umum - atau ditanya mau beli buku apa waktu kami mencari buku untuk Naning.
Yang paling memalukan, waktu beli parfum di Yves Rocher Gare du Nord. Waktu membayar, saya tidak ditemani Sandy yang masih melihat-lihat parfum di sisi lain toko. Kasir bertanya, apakah saya punya carte de fidélité alias kartu pelanggan? Dan karena bahasa Perancis saya benar-benar kacrut, saya pikir dia menanyakan carte d'identité! Maka tanpa perasaan berdosa saya ulurkan paspor saya. Alhasil, kasir itu  dan seorang staf lain tertawa terbahak-bahak! Sadarlah saya apa yang terjadi. Huhuhu... memalukan sekali. 
Agak cemas kejadian sama tololnya berulang, Juni kemarin balik ke Paris, saya jadi enggak berani masuk ke Yves Rocher di seberang stasiun metro Dugommier, dekat apartemen Sandy di Paris, sendirian. Karena Sandy sedang sibuk mengeluarkan kereta bayinya yang berumur 1,5 bulan, Viktor, dari apartemen, dia menyuruh saya dan anak sulungnya yang 10 tahun, Lukas, jalan duluan. Jadilah saya belanja dengan penerjemah bocah 10 tahun, hahaha. Terima kasih Mama Sandy, yang mewajibkan Lukas bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.

Terminal Bus Tak Bernama

Saya biasanya naik-turun bus Eurolines di kota-kota besar dan terkenal. Paris, Barcelona, Munich. Kota-kota itu memiliki terminal bus yang besar pula, dengan lokasi dan petunjuk jelas, dan dengan kesibukan yang tak henti meski tengah malam atau subuh. Bahkan terminal-terminal itu begitu mudahnya dicapai dengan moda transportasi semiliar umat alias metro. Terminal Eurolines Paris Gallieni misalnya, bersebelahan dengan Stasiun Gallieni. Begitu pula dengan Terminal Barcelona Sants, di samping Stasiun Sants.
Maka saya yakin, di kota mana pun, terminal Eurolines pasti besar, jelas, dan ramai. Ketika akses dengan kereta dari dan ke kota tertentu ribet, Eurolines jadi satu-satunya jalan keluar. Saya pede memesan tiket Eurolines dari Bologna (Italia) untuk kembali ke Munich. Apalagi dari hasil selancar forum-forum travel di Internet, diperoleh info bahwa terminal di Bologna berada dekat stasiun.
Dekat sih. Letaknya di seberang stasiun. Tapi bukan terminal itu namanya. Perhentian Eurolines di Bologna hanya berupa plang jalan dengan gambar bus, berada di depan deretan pertokoan. Ya, plang hanya dengan gambar bus, tanpa tulisan Eurolines sehuruf pun! Padahal, sekitar 200 meter ke kanan, berdirilah sebuah terminal besar dengan loket pembelian tiket Eurolines di dalamnya, tapi tidak melayani pengangkutan penumpang Eurolines. Saya dan seorang kenalan saya di Bologna, Zeinab yang asal Iran, mondar-mandir 1,5 jam di sekitar terminal-stasiun untuk mencari tahu di manakah letak perhentian Eurolines. Bertanya kepada staf terminal, sopir taksi, pelayan toko, namun tak ada yang menjelaskan dengan pasti.
Akhirnya Zeinab berpatokan pada alamat yang tertera di lembaran tiket saya. “Kau lihat,” katanya saat kami berada di seberang stasiun, “toko ini beralamat nomor 63. Di tiketmu, katanya perhentiannya nomor 62. Jadi seharusnya di sebelah toko ini. Aku rasa – dia menunjuk plang bus – kau seharusnya menunggu di sini.” Karena malam makin larut dan bus dalam kota Bologna – moda transportasi andalan kota ini adalah bus, bukan metro – makin jarang lewat, Zeinab, yang menemani saya selama hampir 4 jam singgah di Bologna, berpamitan. “Ingat saja, nomor 62,” tegasnya. “Lagi pula kau, kan sudah tahu bentuk busnya seperti apa dan tak mungkin kau satu-satunya penumpang yang naik dari sini, jadi pasang mata. Ci salutiamo.”
Jam 23.30 malam, saya terdampar di depan Stasiun Bologna, sendirian, tak tahu pasti arah. Kalau tepat waktu, bus akan tiba di perhentian-yang-entah-di-mana itu setengah jam setelahnya. Mumpung masih ada waktu, saya berlari kembali ke terminal, memastikan kata-kata Zeinab benar. Yap, seorang sopir bus yang saya temui di dalam menyatakan, letaknya memang di depan deretan pertokoan itu. Saya berlari kembali ke sana dan melihat sebuah keluarga, dengan beberapa travel bag, tengah berdiri di samping plang bus. Saya cuma bisa berdoa, semoga Zeinab benar.
Alhamdulillah… walau petunjuknya kacrut, alamat bernomor 62 tidak berbohong. Bus Eurolines menampakkan badannya yang besar tepat waktu dan berhenti persis di sisi plang bus itu. Saya pun kembali ke Munich dengan selamat dan dengan tekad, kalau diberi rezeki kembali ke Eropa lagi, hanya akan naik-turun Eurolines di kota-kota besar!

Monday, October 4, 2010

Bahasa Daerah Napoli

Gara-gara mendiang Luciano Pavarotti dan konser-konsernya, saya jadi senang mendengarkan lagu-lagu daerah Napoli, daerah di selatan Italia. Sebabnya, lagu-lagu ini asli dalam bahasa Napolitan (atau Neapolitan?) yang bagi saya unik, dengan huruf dobel di awal kata dan banyaknya tanda petik di atas. Misalnya “’O Surdato ‘Nnamurato” (kalau dalam bahasa Italia seharusnya “Il Soldato Innamorato” alias serdadu yang jatuh cinta).

Quanta notte nun te veco,
nun te sento 'int'a sti bbracce,
nun te vaso chesta faccia,
nun t'astregno forte 'mbraccio a me?!
Ma, scetánnome 'a sti suonne,
mme faje chiagnere pe' te...

Belum beberapa lagu lagi yang saya kenal - masih dari Pavarotti - seperti “Funiculì Funiculà” dan “Torna a Surriento (alias kembali ke Sorrento, kota di selatan Italia).
Karena lagu-lagu Napolitan yang dinyanyikan Pavarotti  dan penyanyi tenor lainnya itu legendaris dan sudah kapan tahu dibikinnya, saya menduga bahasa Napolitan itu sudah lama punah dan hanya tersisa dalam bentuk literatur atau lagu. Habis seumur-umur mana pernah saya mendengar orang berbincang dalam bahasa Napolitan. Tidak juga di layar RAI International, stasiun televisi Italia yang siarannya bisa disaksikan di jaringan televisi berbayar.
Maka saya kaget ketika Lucia, host saya dalam perjalanan di Italia Juni lalu, mengatakan bahwa temannya yang menikah dengan pria Napoli, Elizabeth, setiap Rabu mengadakan jamuan ala Napoli di restorannya dan berbincang dalam bahasa Napolitan dengan keluarga suaminya. Elizabeth asalnya dari Inggris, tapi sudah menetap di Italia sejak berumur 20-an.
“Hah? Bahasa Napolitan itu masih dipakai? Kirain cuma ada di lagu,” begitu saya bereaksi. Menurut Lucia, keluarga asli Napoli menjaga tradisi berbicara dalam bahasa daerah mereka, sekalipun mereka telah pindah ke utara Italia seperti keluarga suami Elizabeth. Kurang lebih mirip teman saya, Sandy, yang sejak belasan tahun lalu berdomisili di Paris tapi tidak melupakan akarnya. Ketika saya bertanya apakah putranya yang sekarang berumur 10 tahun, Lukas, bisa bicara bahasa Indonesia, dengan galak dia menjawab, “Harus bisa! Ibunya orang Indonesia!”

Koin untuk Troli


Belanja di Eropa, terutama di supermarket, bikin canggung, bingung, sampai agak stres. Padahal saya harus berurusan dengan supermarket. Entah beli air kemasan untuk bekal perjalanan atau beli oleh-oleh seperti cokelat dan keju. Tapi adab belanja yang berbeda-beda di tiap supermarket, minta ampun deh.
Lima tahun lalu saya bolak-balik ke supermarket di area Ermont-Eaubonne, pinggiran Paris, di mana Sandy dulu berdomisili. Yang bikin canggung, supermarket ini punya jam istirahat siang: jam 13.00 sampai jam 14.30. Mungkin begitu, ya tradisi supermarket di pinggir kota besar atau di kota kecil. Soalnya di kota-kota besar yang saya kunjungi sih enggak ada supermarket model begini.
Kalau soal hasil belanja yang harus kita masukkan sendiri ke kantong plastik yang tersedia di ujung tiap kasir, maklumi saja. Soalnya tugas kasir supermarket di Eropa, ya hanya melayani pembayaran.
Yang ribet, belum tentu pula kantong plastiknya gratis. Begitulah peraturan di sebuah supermarket di Marienplatz, empat tahun lalu – kini supermarketnya, karena krisis ekonomi, sudah ditutup. Alhasil kalau belanja di sana, mendingan modal kantong sendiri. Maksudnya mendukung go green. Karena mendukung program go green itulah Yves Rocher juga tidak menyediakan kantong plastik. Kalau pelanggan membeli banyak produk, barulah mereka menghadiahkan tas ringan bermotif bunga untuk menampung belanjaan.
Kemarin dua kali saya ke Yves Rocher di Munich – juga di Marienplatz – untuk membeli parfum. Pada kunjungan pertama, karena belanjaan saya lumayan banyak, saya senang banget mendapatkan tas cantik itu. Nah, pada kunjungan kedua, saya ngarep mendapat tas itu lagi, hehehe. Maka walau si kasir telah selesai menghitung nilai belanjaan saya, saya tidak juga beranjak dari depannya. Kasir sebelah, yang melihat saya tidak pergi juga, menegur saya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan dengan nada galak. “Kami tidak punya plastik! Anda bisa memasukkan semua itu ke dalam tas Anda sendiri.” Hiks hiks, sedih, misi membeli oleh-oleh selesai, misi mendapat dua tas gagal. 
Wawasan tentang adab belanja bertambah ketika menemani Mami, ibu mertua Dedes, belanja di supermarket di dekat apartemen Dedes, Rewe. Di Rewe itu, Mami berniat beli macam-macam. Saya pun kecipratan cokelat dan keripik, hore. Karena itu Mami bilang, sebaiknya belanja pakai troli saja. Lalu saya melihatnya merogoh koin 1 euro dari dalam dompet kecilnya, lantas mencemplungkannya ke lubang kecil di kiri atas troli. Barulah troli terlepas dari barisannya dan bisa ditarik Mami dengan mudah.
Oh, begitu toh?
Syukurlah supermarket itu juga menyediakan keranjang belanja, buat dipakai gratis. Ketika saya ke sana sendirian, tentu saja saya pilih barang gratis, hihihi. Lagian belanjaan saya enggak heboh.
Supermarket di ujung satunya, Aldi, lain lagi ceritanya. Dedes menganjurkan saya membeli cokelat di Aldi, karena lebih murah. Mungkin karena harga barang lebih murah itulah, jadinya Aldi tidak menyediakan keranjang gratis. Sial. Ya sudahlah, 1 euro untuk koin itu toh tergantikan cokelat Merci sekantong, yang habis diraup rekan-rekan sekantor dalam hitungan detik.

Friday, October 1, 2010

Prancis vs Italia

Pantas final Piala Dunia 2006 yang menghadapkan Prancis versus Italia begitu kacaunya. Pantas Zinedine Zidane dikartu merah, pantas Marco Materazzi dianggap penjahat. 
Dan Lucia yang ramah itu pun meracau waktu kami sekapal dengan orang-orang tua Prancis dalam perjalanan kembali dari Pulau San Giulio ke Orta. Gara-garanya, seorang nenek berblazer kuning yang duduk di sebelah kiri saya bertanya-tanya kepada saya dalam bahasa Prancis. Saya masih bisa menanggapi pertanyaan basa-basinya. Tapi Lucia menampakkan muka tak suka.
Lucia berbisik kepada saya, dalam bahasa Italia. "Kenapa sih mereka bicara dalam bahasa Prancis? Ini, kan Italia. Mereka bukan sedang di Prancis." Kayaknya si nenek enggak ngerti artinya, buktinya dia cuek saja tuh. 
Sehari sebelumnya, di kereta Milan-Arona. Dua cewek sedang mengobrol dalam bahasa asing. Lucia menerka, mereka pakai bahasa Spanyol. "Adoro lo spagnolo. Saya cinta bahasa Spanyol. Apa kamu pernah belajar bahasa Peancis?" dia bertanya kepada saya. Saya menjawab, ya. Dia mendengus, "Saya tak suka bahasa Prancis. Jelek. Yang kedengaran sangat indah bagi saya bahasa Spanyol." 
Oke, saya jadi penasaran. Ada apa sih antara Italia dan Prancis?
1. Bersaing di dunia mode
Ada 4 kiblat dunia mode: Milan, Paris, New York, London. Tapi yang dianggap paling bergengsi pelaku mode, Milan dan Paris. Di Paris ada Avenue des Champs-Elysées, Milan juga punya Via Montenapoleone.
2. Penghasil wine atau anggur terbaik
Nah, yang ini saya enggak tahu persis, tapi begitulah menurut orang-orang, hehehe - saya baru bisa menjawab kalau ditanya di mana bisa mendapatkan apfelstrudel terbaik.
3. Nice dan Corsica diambil alih Prancis
Nice dan Corsica yang dulunya merupakan tanah Italia, kemudian direbut Prancis. Jadi, ya... begitulah.
4. Prancis dan Italia bertetangga
Beberapa negara bertetangga saling tak menyukai. Indo-Malay, contohnya? Juga Belanda-Jerman.
5. Bahasa paling romantis
Bahasa Italia dan Prancis serumpun dalam kelompok bahasa Roman yang berakar dari bahasa Latin. Tata bahasanya banyak kemiripannya, walau pelafalannya jauh berbeda. Buat saya sama-sama terdengar romantis, dan rasanya begitu juga buat banyak orang lain. Jadi, mana yang paling romantis?
Ya, cukup sebegitulah yang saya tahu. Belum lagi ditambah kefanatikan tim sepak bola masing-masing, tapi kesebelasan mana sih yang enggak punya fans fanatik?
Akan tetapi selalu ada pengecualian. Tidak semua orang Italia membenci Prancis, begitu sebaliknya. Lima tahun lalu saya bertemu dengan seorang cewek asal Grenoble, Prancis, yang berkereta ke Roma untuk menemui pacar Italianya.
Bagaimana dengan saya dalam menghadapi perseteruan Prancis-Italia ini? Saya mencintai Paris, sebesar saya mencintai bahasa Italia. Adil, kan?

Seniman Jalanan yang Unik

Di tayangan Travelers-nya Discovery Travel & Living, ditampilkan sang traveler mengobrol dengan cewek yang biasanya berpantomim di La Rambla dengan memutihkan seluruh wajahnya dan berpakaian unik. Nah, itu mengingatkan saya pada seniman jalanan yang kreatif di sudut Sacré Coeur (Paris), Roma, Marienplatz, dan La Rambla serta Barri Gothic (Barcelona).
Tadinya, saya pikir yang berdiri di samping kanan Sacré Coeur itu patung sungguhan. Habis sekujur tubuhnya berwarna abu-abu menyerupai patung, hanya saja mengilap. Ditambah lagi "patung" itu tak bergeser barang sedikit pun. Tapi coba lemparkan koin padanya, 20 sen atau 50 sen euro saja. Dijamin dia bakalan bercericit gembira dan melonjak-lonjak! Itulah aksi "patung" di sudut Sacré Coeur. Yang sempat membuat saya kagum, karena saya kira dia satu dari sedikit orang yang berani tampil "gila."
Eh, ternyata seniman jalanan itu punya banyak kawan. Di depan gedung wali kota Munich saja, ada dua yang beraksi serupa. Kalau enggak salah, satunya malah melumuri tubuhnya tidak dengan warna keperakan, melainkan keemasan. Di Roma, bukan seniman jalanan keperakan atau keemasan yang saya lihat berdiri di jalan kecil menuju Fontana di Trevi. Seniman itu, perempuan, mengenakan rok yang lebar bak Cinderella plus merias dirinya dengan makeup tebal. Widya sih sebetulnya menyuruh saya melempar barang 20 sen euro saja saja, pengin tahu seperti apa sih aksinya. Tapi saya enggak berani, soalnya enggak yakin standar nilai uang yang pantas dikasih kepada mereka.
Saya melihat para seniman jalanan itu lagi di La Rambla dan Barri Gothic. Kalau di La Rambla jangan ditanya jumlahnya, banyak! Mereka pun kalau lagi tampil selalu dikerumuni belasan sampai puluhan orang. Selain malas menembus kerumunan orang, saya juga khawatir dicopet, mengingat La Rambla ramainya minta ampun. Di Barri Gothic, tepatnya di depan katedral yang menjadi gerbang masuk ke Barri Gothic, ada seniman jalanan yang sekujur tubuhnya dibuat putih dan pakai sayap, persis malaikat. Lantaran nampang di depan katedral, mesti menyesuaikan diri, dong.

Marc Jacobs 10€

Yang diburu kebanyakan wanita Asia ketika berkunjung ke Paris, kayaknya tas Louis Vuitton deh. Saya yang backpacker-backpackeran - maksudnya anggaran backpacker tapi belanja teuteup kudu - biasanya puas dengan parfum Yves Rocher yang pasarannya orang Perancis. Tapi sejak pertengahan tahun ini saya punya tujuan belanja favorit lain, hore! Dan berkat jasa Sandy lagi, untuk kali pertama saya masuk ke butik desainer kondaaaaanggg.(Kenyataannya memang sebelumnya enggak pernah kok, hehehe)
Di Jakarta hati ciut melihat butik-butik desainer. Penampilan saya jelas enggak layak buat masuk ke butik-butik itu. Saya cemas tubuh saya meleleh disorot sinar tajam mata para staf butik, hahaha. Tapi jangan sedih, saya sudah cinta berat sama Marc by Marc Jacobs, lini kasualnya Marc Jacobs. Maap enggak level belanja di butik-butik Jakarta, hohoho.
Jangan takut dengan judul Marc by Marc Jacobs. MbMJ yang terletak di Place du Marché, Saint-Honoré dan tak seberapa jauh dari Museum Louvre itu sederhana dan minimalis, enggak bling bling dan bikin ngeri. Letaknya bukan di mal keren dan superluas sampai ngalahin luasnya rumah susun, tapi cukup di bawah apartemen putih - maklum Paris dari atas terlihat serbaputih - dengan kosen (sumpah saya baru tahu, ini benda namanya kosen, bukan kusen) jendela dan pintu kacanya berwarna hijau kebiruan gelap. Terdiri dari 3 butik yang masing-masing berlabel Femme (wanita, butiknya tentu saja lebih lebar daripada dua lainnya, hehehe), Homme (pria), dan Little Marc Jacobs (ya ampun ini juga baru tahu kalau ada versi baju anak-anak Marc Jacobs, oh la la dûr dûr d'être bébé) yang berdampingan dengan kafe-kafe itu pun tempatnya agak nyempil, jadi enggak mungkin mobil mewah bisa berhenti persis di depannya. 
Jangan salah, sederhana-sederhana begitu, seputaran Saint-Honoré sesungguhnya juga rumah bagi koleksi label tersohor lain seperti Chanel dan Jimmy Choo. Dua label terakhir itu sih tentunya harganya bikin saya semaput. Maka mari kita masuki MbMJ Femme. Begitu kita melangkah ke dalam, di depan kita terpampang label harga 9€, 10€! Alias 9 euro, 10 euro! Yap, tas-tas kanvas MbMJ dengan warna-warna gelap dan tanah yang bisa Anda pakai buat belanja,  jalan-jalan, dan piknik harganya paling mahal 15€! Butik MbMJ di sini memang menyediakan special items dengan harga terjangkau dan bikin panik pastinyaaaaahhh.
Tengok agak ke dalam, dompet-dompet kulit dengan warna hitam dan warna-warna ngejreng cuma membuat Anda merogoh 15-20€. Tas-tas cewek yang juga ngejreng dengan label Marc by Marc Jacobs bla bla bla yang ramai menghiasi bagian depannya 25€ saja. Kaus-kausnya mulai dari 10€. Gawaaaaatt ini mah. Alhasil butuh waktu 1 jam untuk memastikan mana yang mau saya beli, dengan Sandy menggeram-geram jengkel di samping saya, hahaha.
Sungguh asyik mengaduk-aduk tumpukan tas, kaus, deretan dompet selama 1 jam tanpa dirongrong staf butik yang menguntit saya. Yang memelototi saya dari kepala sampai kaki. Yang sibuk membereskan barang yang habis saya pegang. Sekalian saja mengelap barang yang barusan saya pegang, bukan? Maaf, staf MbMJ terlalu sibuk melayani para pembeli yang happy di kasir. Kesimpulannya, bukan tubuh saya yang berpotensi meleleh di sini, tapi hati saya yang sudah jelas meleleh. Oh diriku sangat terharu, bisa pamer tas Marc Jacobs ke seluruh penjuru kantor, hihihi. Terima kasih Marc Jacobs, terima kasih Paris. Saya makin tak sabar untuk kembali.