Thursday, October 27, 2011

Warna-warni Korea di Musim Gugur

(sebenarnya ini ditulis 21 Oktober di Hotel Core Riviera, Jeonju, tapi karena terlalu mengantuk, saya tidak sempat mengedit dan menerbitkannya.)
Tujuh setengah tahun lalu, waktu bertugas di Meksiko, pemimpin sebuah negeri di Timur Tengah, Saddam Hussein terguling. Saya masih ingat, saya dan Panji menonton patungnya ditumbangkan oleh rakyat Irak melalui sebuah saluran TV Meksiko. Dan kini saat saya berada di Korea, Muammar Khadafi ditembak mati.
Oh, ya enggak ada hubungannya sih dengan kepergian saya. Cuma sedang terheran-heran saja.
Dan di Korea Selatan saya kini berada, hingga 3 hari ke depan. Karena tugas, tugas yang saya incar sejak beberapa bulan lalu. Pertama, alasan saya sepele: ingin belanja kosmetik Korea yang murah-murah! Hehehe. Alasan kedua juga sepele: tahun ini belum jalan-jalan keluar negeri, hihihi. Jadi makasih, ya, kantor dan Neng Deedee yang memberi saya kesempatan menambah koleksi visa saya :). Ya, boleh juga, dong saya tahu, seperti apa, sih Korea yang sedang ngehits dengan drama dan K-pop itu? Jadi, I expected nothing.
Expect nothing is the way you don't get disappointed. Saya tiba di Seoul, ibu kota Korsel, Kamis pagi kemarin (20/10). Musim gugur kedua saya setelah tahun 2000 di Meksiko dan (saat transit di) Jepang. I love fall. Dedaunan hijau kekuningan, kuning, merah, merah muda, juga yang masih hijau bersaing menarik perhatian. Dan sesungguhnya, musim gugur membuat Korea begitu menarik. Mengapa? Dua istana yang saya dan 3 rekan wartawan lain kunjungi, Changdeok di Seoul dan Gyeonggi di Jeonju (semoga nama-nama ini benar adanya :)), sekitar 3 jam perjalanan dari Seoul, didominasi warna merah dan hijau - perpaduan warna dedaunan ala musim gugur. Perpaduan yang cantik dan menyegarkan mata yang mengantuk karena hanya bisa tidur 2 jam di pesawat malam dari Jakarta menuju Seoul! Raja-raja Korea di masa lampau berselera bagus :).
Secret Garden

Pemandangan istana dan pepohonan rimbun - apalagi di Secret Garden-nya Changdeok, yang katanya baru terbuka untuk umum 5 tahun lalu, lho! - membuat saya rela berjalan jauh dan pakai acara mendaki-daki segala. Kata teman saya yang wartawan Jakarta Post dan ke mana-mana membawa Tolak Angin, "Kalau aku jalan kayak begini di Indonesia, pasti aku pingsan." Hahaha. Oh ya, perjalanan ini menginspirasi saya untuk terbang ke Paris lagi - kapaaan-kapaaan - di musim gugur.
Yang lebih menarik lagi di Gyeonggi, bahkan beberapa pohon di sekeliling istana pun punya sejarahnya sendiri! Ada pohon yang uniknya tidak tumbuh memanjang ke atas, melainkan seakan membungkuk, yang berusia 700 tahun. Ada pula pohon yang di masa Dinasti Joseon, yang memerintah Korea 600 tahun lebih, yang batang dan sejumlah dahannya polos dan kesat, seolah pohon itu merupakan hasil pahatan. Nah, pohon yang terakhir ini, di masa Joseon, dilarang ditanam di luar istana karena kepolosan dan kekesatannya dianggap vulgar, hehehe. Katanya sih, kalau batangnya digelitik, maka dahan-dahannya akan bergetar pertanda geli. Tapi saya kurang sensitif, kali, yah, dahan-dahannya tidak bereaksi tuh, hehehe. Kalau pohon bambu yang letaknya di samping istana, bagi orang Indonesia pasti biasa saja. Tapi di masa dinasti itu, pepohonan ini tidak boleh sampai terlihat menguning. Batang maupun dedaunannya harus selalu hijau, menandakan kemakmuran kerajaan. Bambu-bambu ini juga berguna sebagai senjata dalam peperangan melawan penjajah - lah sama, dong kayak Indonesia.
Pohon vulgar
Kalau soal-soal kawasan yang dihuni rumah-rumah khas Korea yang dipelihara dengan baik, sumpah memang cute, tapi saya lebih menyukai rumah-rumah kuno di Provins (Prancis) dan rumah-rumah pedesaan di Jerman. Hal lain yang bikin saya takjub, di jalan mana pun, setiap beberapa jengkal, berdiri kafe! Kebanyakan kafe-kafe dengan nama-nama kebarat-baratan yang belum pernah saya (juga Anda) dengar: Tom N Toms, Pascucci, Caffe Bene, Paris Baguette, Angel-in-us, Cre8... semacam itulah. Sebagian kafe besar, sebagian kafe mungil, tapi herannya selalu padat pengunjung. Orang Korea juga memiliki kebiasaan yang sama dengan orang Amerika, mengopi sebelum mulai bekerja. Eh, itu kebiasaan banyak orang, sih, cuma yang saya tahu cukup mencolok adalah di Amerika, di mana orang menggenggam segelas kopi dalam perjalanan menuju kantor (huh, ini mah terpengaruh film-film Hollywood). Pokoknya, di Korea khususnya Seoul, berjalanlah 30 meter saja, niscaya Anda akan menemukan kafe. Di samping hotel ada kafe, di samping minimarket ada kafe, di mana-mana ada kafe. Tapi kok di dekat hotel enggak ada toko Skinfood yaa :'(.


Saturday, July 2, 2011

Paris. J'Adore.

Beberapa orang mengira saya sangat mencintai Prancis. Mungkin karena riwayat saya berkuliah di jurusan sastra Prancis, mungkin karena saya tak bisa berhenti mengoceh tentang Paris.
Akan tetapi mereka salah. Yang saya cintai hanyalah Paris. Ya iyalah, wong saya belum pernah pelesir di wilayah Prancis lain kecuali Provins - kota tua di dekat Paris, saya akan ceritakan besok-besok.
Jadilah Paris banyak mewarnai tulisan saya, dan ocehan saya kepada teman-teman, hehehe.
Jadi, apa lagi tentang Paris?
Kali ini saya mau menulis tentang lokasi wisata favorit saya di Paris. Boleh, ya? Sudah pernah saya singgung beberapa, tapi kali ini kompletnya. Tapi berhubung ini sesuai selera saya, Anda tak akan menemukan museum di dalamnya. Soalnya, saya lebih suka menghabiskan waktu di udara luar Paris. Berikut penjabarannya.

La Tour Eiffel/Menara Eiffel
Ini kayaknya favorit semua orang deh, tapi sungguh, it's just breathtaking!  Saya pertama melihatnya dari balik jendela metro; saya ingat persis, waktu itu 28 April 2005, dalam perjalanan dari Bandara Charles de Gaulle menuju apartemen lama Sandy di kawasan suburban Ermont-Eaubonne. Di tengah cuaca menjelang sore yang agak mendung pun, Eiffel tetap menjulang kokoh dan gagah. Napas saya sampai tertahan sebentar saat itu. Padahal menara paling tersohor di dunia itu hanyalah menara besi yang bahkan warnanya suram. Namun statusnya sebagai simbol Paris - dari atasnya terlihat pemandangan Paris paling menyeluruh, yang membuatnya juga lokasi romantis untuk makan malam bersama pasangan di beberapa restorannya - mendukungnya sebagai landmark yang mengundang banyak orang untuk datang ke Paris. Maka, jadilah begitu besoknya saya berkesempatan mengunjunginya, acara foto-foto berlatar Eiffel dari berbagai sudut dilakukan. Termasuk dari Taman Champ de Mars, dari Trocadero, sampai dari tepi Sungai Seine.
Lucunya (atau anehnya?) saya belum pernah naik ke atas Menara Eiffel. Maklum saya pelancong berbiaya ngepas, sementara untuk naik dikenakan tarif lebih dari 10 euro yang di Jerman bisa dipakai membeli tiket metro harian 2 kali. Sudah begitu Sandy enggak mau ikut naik lagi. Alasannya, "Gue sudah pernah naik 3 kali!" Jadi yaaa... saya memilih melihat pemandangan Paris dari atas di Sacré-Coeur saja - gratis tis tis. Selain itu juga bisa dinikmati dari atas monumen Arc de Triomphe (juga bayar). Tapi kalau Anda berkelebihan sih, naik sajalah. Apalagi kalau naiknya saat hari sudah gelap, waktunya Eiffel menampilkan kerlap-kerlip keemasannya. Siapa tahu sensasi yang Anda tangkap dari Menara Eiffel lebih dahsyat daripada saya.

Sungai Seine dan jembatan-jembatannya
Ya, penting jembatan-jembatan yang melintang di atas Sungai Seine dibahas. Soalnya beberapa dari 37 jembatannya memang istimewa dan saya berterima kasih kepada Sandy yang memperkenalkan kepada 2 jembatan teristimewanya: Pont Neuf dan Pont Alexandre III. Yang pertama merupakan jembatan tertua di Sungai Seine yang berdiri sejak abad ke-17 dan yang kedua adalah jembatan tercantik dengan ornamen lampu-lampu art nouveau (istilah ini juga baru saya ketahui setelah berkonsultasi pada Wikipedia, hihihi) dan patung-patung peri yang konon dipahat oleh seniman berbeda. Dan dari kedua jembatan itu terlihat jelas Menara Eiffel lho!
Eh, terus sungainya bagaimana? Entahlah, berhubung sungai di kota kelahiran saya kondisinya parah - juga di beberapa tempat lain - jadinya saya terobsesi pada sungai-sungai bersih di Eropa, termasuk Sungai Seine. Menurut sebuah acara yang pernah saya saksikan di saluran TV5 Prancis, setiap 2 minggu sekali (kalau enggak salah ye) Sungai Seine dibersihkan. Jadi, saya suka sekali berjalan di tepi Seine, hati rasanya damai. Apalagi kalau menjelang malam turun di pengujung musim semi - mungkin juga di awal musim gugur, saya belum pernah merasakannya - dengan angin sepoi-sepoi mengiringi setiap langkah, sungguh enggak salah Paris dikenal sebagai kota yang romantis. Enggak nyambung, ya? Hahaha. Ya pokoknya begitulah, rasanya Paris saat itu indah banget deh. Maka tepi Sungai Seine juga jadi tempat kongko atau bahkan tempat berjemur di musim panas - saatnya terselenggara "Paris Plages", program yang mengkreasi tepi Sungai Seine bak tepi pantai, lengkap dengan permainan airnya!
Dari kapal-kapal yang mengarungi sungai, bisa pula dilakukan tur keliling Paris kecil-kecilan. Dan secinta-cintanya saya kepada Seine, belum pernah berlayar di atasnya dengan kapal, hehehe, karena sekali lagi, saya antibayar! Di tepi sungai inilah saya pernah menyaksikan seekor anjing nekat menceburkan diri ke dalamnya demi mengejar seekor bebek, hahaha. Pemiliknya, seorang wanita berambut merah, menggeleng-geleng sambil berkata kepada saya dan Sandy, "Anjing ini gila!"

Promenade Plantée
Saya enggak percaya, saya baru tahu tempat ini tahun lalu! Maklumlah, ya saya bukan penggemar film Before Sunset-nya Ethan Hawke, yang antara lain mengambil lokasi syuting di taman  yang menjulang tinggi di atas Paris ini. Lengkapnya coba lihat tulisan sebelumnya, "Setahun Kemarin".

Basilique du Sacré-Coeur
Basilikanya yang putih tampak kemilau apabila langit bersih, berdiri megah di wilayah tertinggi di Paris, Montmartre - di baliknya terbentang kawasan yang disesaki kafe dan seniman lukisan, untuk gampangnya juga disebut Montmartre. Juga menandai titik kedua tertinggi di Paris, setelah Menara Eiffel. Makanya dari pelataran Sacré-Coeur ini kita juga bisa melihat Kota Paris yang juga putih menghampar luas. Eh, hanya bangunan-bangunan di Paris, khususnya bagian atapnya, yang putih yang kadang berkonotasi dingin; hmm, konotasi yang juga lekat dengan sebagian masyarakatnya. Namun mode, parfum, berjenis-jenis makanan, tempat wisata, bunga, sejarah yang kaya, ditambah wisatawan mancanegara membuat Paris sesungguhnya jauh dari kesan dingin.... Apalagi Sacre-Coeur yang fungsinya tidak hanya tempat sakral bagi umat Katolik.

Datanglah ke Sacré-Coeur sore hari, ketika matahari mulai bergeser ke barat. Di lebih dari 100 anak tangganya - jangan cemas, sejak 2006 sudah tersedia lift yang sangat membantu orang seperti saya yang tidak suka acara naik-naik hihihi - beberapa pedagang kaki lima kadang mendadak menggelar barang dagangan seperti tas, ikat pinggang, dll. Lucunya, mereka pasti menyapa wajah-wajah Asia termasuk Sandy - saya, kan rada bule, ya, hahaha - dengan ucapan, "Ni hao!" Yang menarik, anak-anak tangga ini juga dipakai beberapa pemusik jalanan untuk mendemonstrasikan kemampuan bermusik dengan berbagai instrumen. Beberapa sudut Sacré-Coeur juga kadang ditempati seniman yang beraksi sebagai patung, yang baru akan melakukan gerakan seperti pantomim - tergantung tokoh yang mereka bawakan, misalnya bidadari, prajurit, dll - setelah dilempari, biasanya, uang koin 1 euro-an. Meriah, kan, basilika ini?

Parc des Buttes-Chaumont
Yap, saya cinta banget taman-taman di Paris!  Konon berceceran 426 taman di Paris, dalam berbagai ukuran. Dengan jumlah itu, saya belum melihat banyak tapi selalu terkesan dengan yang saya lihat: Jardin de Tuileries yang apik dengan labirin hijaunya, Jardin du Luxembourg dengan deretan rapi pepohonan dan ketersediaan banyak bangku untuk warga melepas lelah, Parc de Bercy dengan kebun anggur dan koleksi mawarnya, dan tentu saja Promenade Plantee, dan sebuah taman di belakang Istana Versailles yang cocok untuk tempat piknik dan mendayung. Belum seberapa, kan yang saya lihat? Nah, entah kenapa dalam 2 kunjungan pertama saya di Paris, Sandy selalu membawa saya ke Parc des Buttes-Chaumont, yang lokasinya sedikit di luar keramaian wisatawan. Yang pertama dalam rangka piknik bareng teman-temannya, yang kedua enggak tahu juga, ya, pokoknya pagi-pagi setelah saya sampai di Paris, saya dibawa ke situlah pokoknya, hahaha. Jadi saya sudah pernah merasakan segarnya taman ini di pagi hari dan keriaannya di sore hari. Dan saya menyukainya!
Taman terluas ketiga di Paris ini bukanlah taman berbunga seperti Promenade Plantee namun memiliki area rerumputan yang longgar untuk piknik, sekadar merebahkan badan, atau berjemur. Pada kesempatan pagi, jalur beraspalnya tidak sedikit digunakan warga untuk joging. Taman dengan gerbang hitam yang setiap harinya buka mulai pukul 07.30 ini sangat ramah pula bagi anak-anak dengan beberapa permainan, seperti komidi putar, bahkan pertunjukan teater khusus untuk anak-anak. Ngomong-ngomong komidi putar, saya ingat 5 tahun lalu melihat salah satunya di kaki Sacre-Coeur. Jadi saya rasa Paris yang historis ini memikirkan kepentingan segala generasi, segala kalangan. Termasuk saya yang suka taman dan antibayar tapi leluasa masuk ke lokasi ini dan itu.
Juga dari bagian tertinggi Buttes-Chaumont ini terhampar pemandangan Paris dari atas - dengan highlight-nya adalah Sacre-Coeur.  Tepatnya dari sebuah kuil kecil berpilar-pilar, menyerupai kuil kuno Romawi, yang bercokol di puncak sebuah pulau mungil di tengah taman. Eh, saya sendiri belum pernah sih naik ke kuil itu; yang saya lakukan hanya berfoto-foto dengan latar kuil berikut pulaunya. Tapi berdasarkan info para wisatawan lain, caranya gampang kok, cukup melalui jembatan yang menghubungkan taman dan pulau.

Kafe
Eh, ini bukan tempat wisata sih. Saya teringat pada gurauan dua teman kuliah saya. Yang satu bertanya, "Ngapain lo mau ke Paris lagi?" Yang mau pergi ke Paris untuk kedua kalinya itu (kalau enggak salah) menjawab, "Mau menumpang ngopi ajalah." Hehehe entah kenapa kami, para mahasiswa sastra Prancis ini, suka banget menengok Paris. Bahkan beberapa menetap di Paris. Probably it's just in our blood....
Akan tetapi, ya saya setuju, mari kita mengopi di Paris! Kafe bahkan juga boulangerie dan patisserie alias toko roti dan toko kue juga berceceran di Paris. Cobalah masuki kafe berteras, kalau memungkinkan duduklah di bangku yang tersedia di terasnya. Baiknya pilih kafe yang berada di sekitar keramaian publik; tidak perlu di pusat keramaian, mendekatinya saja cukup. Sebab menarik lho menonton warga Paris yang multikultural dan wisatawan bercampur-baur, berlalu-lalang. Atmosfer Paris sebagai kota tujuan, idaman banyak orang kental terasa. Apalagi ditambah sembari menyesap secangkir kopi, yang harga standarnya sekarang tak lebih dari 5 euro. Terus terang, saya lebih rela membayar secangkir dua cangkir kopi ketimbang membayar tiket masuk ke tempat wisata, hehehe. Ingat saja, istilah kafe sendiri berasal dari bahasa Prancis café, yang artinya kopi. Jadi, tempat terbaik untuk menikmati kopi adalah di Prancis. Dan nikmatilah kopi di teras, kopi apa saja, tanpa terburu-buru, meski katanya untuk itu ada sedikit tambahan biaya. Kenapa katanya? Soalnya dari dua kali pengalaman mengopi di kafe, saya main duduk saja dan kemudian pramusaji bertanya apa yang ingin saya pesan. Ya, katanya sih sebagaimana di Italia (setidaknya ini benaran yang saya alami di Roma), kopi untuk take away atau untuk diminum sambil berdiri di kafe harganya lebih murah. Jadi, di kafe Prancis dan Italia itu ada yang namanya tarif meja alias tarif untuk duduk - eh ini mestinya saya bahas di bagian "Prancis vs Italia", ya? Tapi jangan cemas, orang atau wisatawan di Prancis tidak keberatan duduk kok, bahkan mau duduk satu atau 2 jam pun, entah sambil mengamati pergerakan orang di jalan atau mengobrol dengan teman, tidak bakal diusir kok. 

Saturday, June 11, 2011

Setahun Kemarin

Setahun kemarin.
Tanggal 9-11 Juni 2010, saya berada di Paris. Menandai kunjungan ketiga saya ke ibu kota Prancis, dan ke apartemen Sandy, hehehe.
Sandy yang baik hati selalu menawarkan kamarnya setiap kali saya datang ke Paris. Paris tak pernah luput dari perjalanan saya di Eropa. Tiga kali ke Eropa, ya tiga kali juga ke Paris. Malah sempat-sempatnya transit sekali, sebelum akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di Paris 6 tahun silam. Gimana ya... seperti mungkin pernah saya tulis atau katakan, hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine boo....
Saya berangkat ke Paris dari Munich. Perjalanan yang rasanya aneh. Soalnya biasanya di Munich, ke mana saya pergi, biasanya diantar teman saya, Dedes, dan suaminya, Wolfgang. (Tuh, teman-teman saya memang sangat sangat baik hati, kan.) Tapi karena keadaan tidak memungkinkan - Dedes mendadak harus masuk ke rumah sakit - saya menuju Hauptbahnhof alias stasiun besar Munich sendirian. Pagi-pagi bener pulak. Berhubung kereta yang saya naiki bertolak dari Hauptbahnhof jam setengah 7 pagi, jam setengah 6 pagi saya sudah harus berjalan menuju stasiun U-bahn alias kereta bawah tanah Jerman terdekat apartemen Dedes, Dulferstrasse, huhuhu. Perjalanan ke Hauptbahnhof soalnya butuh waktu hampir setengah jam, belum ditambah jalan kaki dari apartemen ke Stasiun Dulferstrasse 10 menitan.
Tapi saya ikhlas jalan pagi-pagi banget begitu. Soalnya saya bakal segera tahu rasanya naik kereta idaman saya bertahun-tahun, TGV alias train à grande vitesse alias kereta tercepat Prancis, hehehe.... TGV ini dulu heboh bener dibahas di buku pegangan kuliah saya di Sastra Prancis, jadinya penasaran berat melanda. Kemarin-kemarin, karena pesan tiket transportasi antarkota dan antarnegara mendadak, saya ogah pesan tiket TGV. Soalnya kalau belinya mendadak, yang diberlakukan tarif standar yang mahaaaalll, di atas 100 euro untuk kelas 2. Nah, tahun lalu itu, karena belinya 3 minggu sebelum keberangkatan ke Paris, masih berlaku potongan tarif dan tiket saya peroleh dengan harga 69 euro. Enggak murah juga sih - paling murah kalau memesan 2 bulan sebelumnya, bisa dapat harga 29 euro! Tapi, ya mendingan bangetlah dibanding di atas 100.
Karena pengalaman naik TGV sekaligus menandai pengalaman pertama saya naik kereta supercepat, di dalam kereta, ya saya rada norak. Saya sangat menikmati sensasi kecepatannya, terutama ketika TGV sudah berada di wilayah Prancis. Biasanya naik bus Eurolines Munich-Paris sekitar 12 jam, dengan TGV 5 jam saja! Padahal, jarak Munich-Paris sebanding dengan Jakarta-Surabaya lho. Selain itu, sempat-sempatnya saya memotret bangku dan gerbong TGV, hahaha. Diam-diam tentu saja, malu hati sama rombongan anak-anak SD di Munich yang mau tur ke Paris.
Motret TGV diem-diem, hehehe.
Perhentian terakhir TGV adalah salah satu stasiun tersibuk Paris yang bernama Gare de l'Est (di tiket, nama yang tercantum adalah Paris Est) atau stasiun timur. Stasiun besar yang saya kenal sebelumnya hanya Gare du Nord atau stasiun utara, jadi ini juga kali pertama saya berurusan dengan Gare de l'Est. Rasanya tak sabar untuk menghirup udara luar Paris, tapi rasanya aneh juga. Soalnya ini juga kali pertama saya tiba di Paris tanpa ada yang menjemput - biasanya Sandy juga hobi mengantar jemput saya. Tapi Mama Sandy yang baru punya bayi lagi ini sudah memberi petunjuk untuk mencapai Stasiun Metro Dugommier, stasiun yang dekat banget dengan apartemennya. 
Sendirian di dalam metro Paris, saya sempat ketakutan saat seorang pria yang membawa seekor anjing Golden Retriever duduk persis di sebelah saya. Mak, eike pan takut sama anjing! Anjingnya sudah jelas berbaring di antara kaki saya dan kaki pria itu. Tapi sumpah saya syok habis waktu pria itu berpaling ke arah saya dan bertanya, "Habis ini stasiun apa, ya?" Ternyata pria itu tuna netra! Pantas saja dia ke mana-mana ditemani si Golden Retriever. Duh, salah banget saya. Karena saking fokus dan ketakutan pada si anjing, saya sampai mengabaikan pria di sebelah saya. Maaf banget banget, Pak. Setelah mengucapkan merci beaucoup terima kasih banyak, pria itu kemudian berdiri, menyeret anjingnya ke arah pintu metro, dan kemudian turun di Gare d'Austerlitz. 

***

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan saya di Stasiun Dugommier. Apartemen Sandy dari stasiun ternyata mudah dicari. Sekitar jam 14.00 waktu Paris, saya menjejakkan kaki di apartemen baru Sandy, hehehe. Ya enggak baru juga sih, baru saya kenal deh. Sampai 2007, Sandy dan suaminya, Julien yang kami panggil Ijul, tinggal di kawasan suburban Paris yang bernama Ermont-Eaubonne. 
Sambil mengemong putra bungsunya yang baru lahir akhir April, Viktor, Sandy bertanya, "Mau jalan-jalan ke mana lagi? Mau ke Eiffel lagi?" Dengan sombongnya saya menjawab, "Jangan dong, bosen. Gue juga bingung San, gue mau lihat apa lagi, ya di sini?" (Plaaak! Tampar si Ika, hahaha.)
Karena cuaca hari itu juga tidak mendukung - mana enak sih jalan-jalan di Paris kehujanan - saya dan Sandy, selain bergosip sambil makan melon dan sepotong quiche lorraine - Sandy tidak pernah lupa kesukaan saya yang satu ini, yang dalam versinya adalah quiche halal, tidak pakai daging babi, hehehe - agenda hari itu hanya mengunjungi toserba-supermarket Monoprix di seberang Stasiun Dugommier. Dan sudut mata saya menangkap logo Yves Rocher di samping Monoprix. Je serai la, I'll be there!

***

Besok pagi dan siangnya, hujan kembali turun. Huft, musim apa sih ini? Untungnya sekitar jam 14.00 giliran matahari menampakkan diri, menyusut hujan. Dan berlangsunglah agenda yang paling saya sukai di kunjungan Paris kali ini. Sandy mengajak saya menyusuri sebuah taman di dekat apartemennya, Promenade Plantee.
Hasilnya... j'adore Promenade Plantee, trop! Promenade Plantee adalah taman berbunga yang menjulang di atas Paris. Bayangkan saja jalan layang dengan kedua sisinya dirambati aneka bunga, nah seperti itulah Promenade Plantee. Jalur berbunga ini di beberapa bagiannya berfasilitaskan bangku, buat sekadar duduk, mengobrol, atau menikmati udara segar. Mengapa wujudnya agak mirip jalan layang, sebabnya taman sepanjang 4,5 km yang mengarah ke Bastille ini dulunya jalur kereta barang. Jalur yang terabaikan ini di awal abad ke-19 mulai menjelma sebagai taman berbunga, dengan bagian bawahnya yang tidak kalah cantik berupa Viaduc des Arts atau deretan toko yang memajang barang seni kontemporer. Begitu cantiknya Promenade Plantee sampai diabadikan dalam film Before Sunset-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy, lho.
Promenade Plantée yang menawan!

Viaduc des Arts, penyangga Promenade Plantée yang menjulang di atas Paris.

Sampai di Bastille, saya dan Sandy kembali ke apartemen melalui tepi Sungai Seine. Eh, lagi ada demo imigran di Bastille, sepertinya imigran asal Afrika. Saya ingat salah satu spanduk mereka berbunyi, "Kami butuh makan." Bastille katanya sih sering jadi lokasi demo, mengingat sejarahnya sebagai simbol pembebasan Prancis dari rezim monarki pada 1789. 
Sorenya, duh, hujan lagi! Hujan sungguh tidak lazim mewarnai peralihan musim semi ke musim panas. Tapi tahun lalu itu, cuaca memang kacau. Bukan hanya hujan, suhu belasan derajat masih menyambangi Paris, Munich, dan kota-kota di Italia. Padahal 5 tahun lalu, awal apalagi pertengahan Juni itu cuaca sudah mulai panas - kecuali di kota-kota yang dekat dengan Pegunungan Alpen barangkali, ya, seperti Vaduz, ibu kota Liechtenstein. 
Akan tetapi, hujan, ya biarlah ya. Saya mesti menuntaskan janjian dengan Rita, seorang teman kuliah saya yang bekerja di Paris. Sandy mengantar saya menemui Rita di Bercy Village - sembari nyempet-nyempetin juga melongok Yves Rocher, hehehe. Bercy Village adalah tempat kongko yang unik, yang menyerupai area pedesaan di Perancis dengan jalan berbatu-batu dan toko serta kafe mungil di kanan-kirinya. Unik karena di tengah jalannya masih tampak jelas bekas jalur rel! Setelah menyelidik lebih lanjut di Internet, ternyata Bercy Village ini dulunya gudang anggur. Dan rel itu adalah jalur transportasi pengangkut anggur.
Saya pun makin kagum dengan pemerintah Paris, Prancis, siapa pun itu, yang mengubah sesuatu yang dianggap tak berguna, seperti bekas gudang anggur ini, menjadi kawasan yang cantik dan menarik bagi wisawatan. Dan kawasan Bercy bukan hanya punya Bercy Village yang komersial, tapi juga Parc de Bercy atau Taman Bercy seluas 14 hektar juga dengan koleksi bunga dan anggur - menghormati riwayat Bercy dengan gudang anggurnya - tempat orang bersantai tanpa dipungut bayaran. Salah satu bagian Parc de Bercy adalah Jardin de Yitzhak Rabin atau Kebun Yitzhak Rabin, yang didedikasikan bagi PM Israel yang terbunuh pada 1995, Yitzhak Rabin - setahu saya dia PM Israel yang gencar mendamaikan negerinya dengan Palestina. Di taman ini ditanam berbagai varietas mawar.
Selesai dengan kawasan Bercy, saya ikut Rita makan malam di kawasan Place d'Italie, sementara Sandy kembali ke apartemen. Sebelum itu, saya kira Place d'Italie, mengacu pada namanya, adalah wilayahnya orang-orang Italia. Eh, salah lagi. Justru di dekat alun-alunnya itulah ngampar berbagai restoran Asia, hehehe. Salah satu restoran Vietnam di dekat alun-alun jadi favorit teman-teman saya di Paris. Oh iya, teman saya yang berdomisili di Paris bukan cuma Rita dan Sandy lho. Ada Ami, Dwi, Minnie, Yeri, Yanthie, kalau mau ditambah masih ada Azizah di Marseilles, kota di selatan Prancis. Sayangnya waktu itu tidak mungkin menemui semua. Ami sedang pelesir ke Den Haag, Belanda; Minnie sibuk kerja; Yeri menemui pacarnya di Inggris; lha Yanthie malah sedang ada di Indonesia. Sebenarnya saya dan Sandy mengagendakan menemui Dwi di tokonya tapi lupaaa, payah.
Di restoran Vietnam itu, menu yang saya dan Rita pesan adalah... mi ayam! Hahaha. Pengin tahu saja seperti apa sih wujud mi ayam ala Prancis. Oh, minya sama saja dengan yang kita kenal, cuma seperti tenggelam dalam kuahnya. Tapi kami tak bisa berlama-lama di restoran yang tak seberapa besar itu, karena antreannya lumayan panjang. Kasihan, soalnya orang-orang itu menunggunya di luar restoran, sementara cuaca menjelang malam mulai dingin.

***
Hari terakhir di Paris.
Saya pengiiin banget makan crepe. Terkesan banget sama crepe marron atau crepe isi kacang merah khas Prancis yang saya beli di pinggir jalan 4 tahun silam. Tapi kata Sandy, di dekat apartemennya enggak ada crepe enak. Jadinya kami makan siang dengan paella, semacam nasi goreng ala Spanyol dengan campuran aneka seafood, yang dijual di pasar kaget di dekat apartemen Sandy. Tapi paella-nya kurang enak. Ya sudahlah.
Pasar kaget di Paris bisa dibilang pasar murah. (Eh enggak cuma di Paris, tapi juga di Eropa umumnya.) Pasarnya tidak buka setiap hari, dan memang barang-barang yang dipasarkan di situ terbilang murah. Saya sempat-sempatnya membeli kaus kaki 2 euro dapat 3 pasang, hihihi. Juga pashmina dan syal satuannya dengan harga yang sama! Di situ saya juga jajan churros, camilan manis ala Spanyol, 1 euro dapat 3 batang. Lha sebenarnya ini pasar murah di mana sih, kok jajanannya ala Spanyol yah, hehehe.
Menjelang sore, Sandy memperkenalkan saya kepada butik murah Marc by Marc Jacobs (lihat artikel "Marc Jacobs 10€"). Menambah kaya wawasan belanja di Paris, hehehe. Gara-gara kelewat terpukau dengan butik murah itulah saya lupa menengok toko Dwi, maapken yah. Yang bikin saya terharu, Sandy rupanya tidak lupa saya "meraung-raung" minta crepe. Kembali ke apartemen, Ijul yang jago masak rupanya telah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat crepe. Dia menyajikan makan malam berupa crepe cokelat-keju dan daging, dan memaksa saya melahap 4 potong! Hahaha. Saya hanya sanggup menghabiskan 3 (ya iyalah segitu aja sudah lebay). Crepe buatan Ijul beneran enak! Makanya begitu mendengar ada sebuah kafe di sebuah mal elite di Jakarta yang menyajikan crepe (katanya) enak seharga 50 ribuan, saya dengan tegas menolak mencicipinya. Iciihh... enakan crepe buatan asli Prancis, gratis!
Hari semakin gelap. Waktunya mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga Sandy, dan kepada Paris. Sendirian saya kembali mengarungi jalur metro bawah tanah, kali ini bukan ke Gare de l'Est, melainkan Gallieni, pos bus antarnegara Eropa, Eurolines. Jam 21.30, saya keluar dari apartemen Sandy yang hangat, untuk menyongsong bus Eurolines tujuan Eindhoven yang akan berangkat 1,5 jam setelahnya, seraya berucap janji akan kembali dalam hati. Semoga.


Wednesday, June 8, 2011

Bergaya Eksekutif dengan Kereta Kelas 1


Tahun 2005, keliling Eropa (Barat) saya lebih sering menggunakan jasa Eurolines. Tahun 2006, kebanyakan diantar Dedes dan Wolfgang, hehehe. Nah, tahun 2010 lalu, saya ingin mencoba suasana baru.
Karena ada jeda 3 minggu antara kepastian mendapatkan visa dan jadwal keberangkatan – yang lalu-lalu hitungannya harian – maka masih memungkinkan untuk mencicipi tarif murah kereta Eropa. Dibanding bus, tarif standar kereta jauh lebih mahal. Namun apabila dibeli jauh lebih awal, apalagi 1-2 bulan sebelum perjalanan, tarifnya miring lho. Tarif kereta Amsterdam-Munich atau sebaliknya misalnya, dengan kedua kota berjarak lebih dari 800 km (ibarat Jakarta-Surabaya), 29 euro saja! Begitu pula dengan Paris-Munich dll. Kalau harga aslinya mah, yang berlaku kalau bangku bertarif murah sudah habis dipesan atau kalau pemesanan dilakukan mendadak, ampun-ampunan deh untuk kota-kota yang berjarak jauh apalagi beda negara; sudah pasti di atas 100 euro. Oh ya, harga-harga ini untuk tiket kelas 2, ya. Tapi jangan salah, kereta kelas 2 di Eropa itu nyaman lho.
Pemesanan 3 minggu sebelum berangkat memberi saya harga yang lumayanlah – saat itu tiket 29-39 euro sudah tak tersisa. Untuk perjalanan Munich-Paris naik TGV (train a grand vitesse) – kereta yang di buku pegangan kuliah saya, Archipel, digadang-gadang sebagai kereta tercepat, hahaha – saya membayar 69 euro. Lumayan juga merasakan sensasi naik TGV yang masih merupakan salah satu kereta tercepat di dunia itu, sampai terharu, hihihi.
Tiket TGV di tangan, saya malah makin penasaran. Begitu mengecek ketersediaan tiket Amsterdam-Munich, mata saya terantuk pada tiket kelas 1. Angka 109 euro tidak murah, tapi, ya tetap lumayan dibandingkan angka aslinya, 200-an euro! Hah, banyak alasan. Baiklah, mari sekali-sekali bergaya eksekutif.
Melakukan pemesanan melalui laman kereta Jerman, bahn.de (Deutsche Bahn), untuk gampangnya saya meminta tolong Wolf. Oh ya, bahn.de ini andalan banget deh dalam reservasi bangku kereta. Percaya enggak percaya, tarif tiket laman ini cenderung lebih murah ketimbang laman kereta negara lain, padahal untuk tujuan, kereta, dan jam yang sama. Pantas di forum-forum wisata, banyak yang menyarankan untuk mengecek jadwal dan tarif melalui bahn.de.
Yap, jadilah tiket 109 euro saya kantongi. Berangkat sekitar jam setengah 7 malam dari Amsterdam, tiba di Munich sekitar pukul setengah 6 pagi. Diselingi transit 2 jam di Frankfurt, untuk ganti kereta dari ICE (Intercity-Express) ke IC (Intercity).
Saya baru tahu, ternyata Wolf memesankan bangku khusus kompartemen. Sebelum ini, baru sekali saya bersinggungan dengan kompartemen: di kereta IC Italia, dengan komposisi 6 bangku – 3 berhadapan dengan 3. Waktu itu kelima tetangga saya orang Austria, 3 di antaranya anak muda yang tinggi besar. Mana nyaman sih duduk diapit mereka – posisi bangku saya di tengah – ditambah nyaris bersentuhan kaki dengan cowok di hadapan saya. Untungnya, dalam trayek IC Roma-Munich itu, anak-anak muda itu turun duluan di Innsbruck, Austria. Legaaa....
Akan tetapi kompartemen kelas 1 ini = heaven! (Harap memaklumi kenorakan ini, hihihi.) Namanya kelas 1, ya iyalah segalanya lebih longgar. Bangku lebar, ruang untuk kaki lebar, satu kompartemen hanya terdiri dari 4 bangku. Bangkunya kulit, lagi. Berasa eksekutif bener deh! Karena keretanya sepi penumpang, alhasil dari hanya 2 kompartemen berbangku kulit biru, isinya saya seorang. Kapan lagi jadi penguasa kompartemen kelas 1, sendirian, hohoho. Karena kurang tidur setelah berputar-putar antara Eindhoven, Maastricht, dan Amsterdam, saya mencoba memejamkan mata. Tawaran minum dari kru kereta saya abaikan. (Bukan karena tak ingin tidur terganggu. Melainkan karena ketidaktahuan saya bahwa tawaran minum itu gratis. Kelas 1 sih kelas 1, teuteup buat yang lain-lain enggak modal, hahaha.)
Eh, tapi kok mata sulit terpicing. Ya sudah, saya berusaha menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, mumpung hari belum gelap; Utrecht, Duesseldorf, dan terutama Koeln yang manis masuk jalurnya si ICE. Setelah transit di Stasiun Bandara Frankfurt 2 jam, sekitar pukul 01.00 pagi hari berikutnya saya meneruskan perjalanan ke Munich. Bangkunya nyaman juga, karena bangku single dan tidak perlu bersenggolan dengan penumpang di kanan-kiri. Karena sudah masuk hari berikutnya dan saya belum tidur juga, ngantuk abis pasti. Tapi tidur saya gelisah. Sebentar-sebentar bangun. Kenapa sih ini?
Oh, baiklah. Pada akhirnya saya harus mengakui, bangku berjok kulit tidak nyaman bagi saya. Masih lebih enak bangku berlapis kain di kelas 2. Halah, memang dasar enggak bakat jadi eksekutif!