Saturday, June 11, 2011

Setahun Kemarin

Setahun kemarin.
Tanggal 9-11 Juni 2010, saya berada di Paris. Menandai kunjungan ketiga saya ke ibu kota Prancis, dan ke apartemen Sandy, hehehe.
Sandy yang baik hati selalu menawarkan kamarnya setiap kali saya datang ke Paris. Paris tak pernah luput dari perjalanan saya di Eropa. Tiga kali ke Eropa, ya tiga kali juga ke Paris. Malah sempat-sempatnya transit sekali, sebelum akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di Paris 6 tahun silam. Gimana ya... seperti mungkin pernah saya tulis atau katakan, hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine boo....
Saya berangkat ke Paris dari Munich. Perjalanan yang rasanya aneh. Soalnya biasanya di Munich, ke mana saya pergi, biasanya diantar teman saya, Dedes, dan suaminya, Wolfgang. (Tuh, teman-teman saya memang sangat sangat baik hati, kan.) Tapi karena keadaan tidak memungkinkan - Dedes mendadak harus masuk ke rumah sakit - saya menuju Hauptbahnhof alias stasiun besar Munich sendirian. Pagi-pagi bener pulak. Berhubung kereta yang saya naiki bertolak dari Hauptbahnhof jam setengah 7 pagi, jam setengah 6 pagi saya sudah harus berjalan menuju stasiun U-bahn alias kereta bawah tanah Jerman terdekat apartemen Dedes, Dulferstrasse, huhuhu. Perjalanan ke Hauptbahnhof soalnya butuh waktu hampir setengah jam, belum ditambah jalan kaki dari apartemen ke Stasiun Dulferstrasse 10 menitan.
Tapi saya ikhlas jalan pagi-pagi banget begitu. Soalnya saya bakal segera tahu rasanya naik kereta idaman saya bertahun-tahun, TGV alias train à grande vitesse alias kereta tercepat Prancis, hehehe.... TGV ini dulu heboh bener dibahas di buku pegangan kuliah saya di Sastra Prancis, jadinya penasaran berat melanda. Kemarin-kemarin, karena pesan tiket transportasi antarkota dan antarnegara mendadak, saya ogah pesan tiket TGV. Soalnya kalau belinya mendadak, yang diberlakukan tarif standar yang mahaaaalll, di atas 100 euro untuk kelas 2. Nah, tahun lalu itu, karena belinya 3 minggu sebelum keberangkatan ke Paris, masih berlaku potongan tarif dan tiket saya peroleh dengan harga 69 euro. Enggak murah juga sih - paling murah kalau memesan 2 bulan sebelumnya, bisa dapat harga 29 euro! Tapi, ya mendingan bangetlah dibanding di atas 100.
Karena pengalaman naik TGV sekaligus menandai pengalaman pertama saya naik kereta supercepat, di dalam kereta, ya saya rada norak. Saya sangat menikmati sensasi kecepatannya, terutama ketika TGV sudah berada di wilayah Prancis. Biasanya naik bus Eurolines Munich-Paris sekitar 12 jam, dengan TGV 5 jam saja! Padahal, jarak Munich-Paris sebanding dengan Jakarta-Surabaya lho. Selain itu, sempat-sempatnya saya memotret bangku dan gerbong TGV, hahaha. Diam-diam tentu saja, malu hati sama rombongan anak-anak SD di Munich yang mau tur ke Paris.
Motret TGV diem-diem, hehehe.
Perhentian terakhir TGV adalah salah satu stasiun tersibuk Paris yang bernama Gare de l'Est (di tiket, nama yang tercantum adalah Paris Est) atau stasiun timur. Stasiun besar yang saya kenal sebelumnya hanya Gare du Nord atau stasiun utara, jadi ini juga kali pertama saya berurusan dengan Gare de l'Est. Rasanya tak sabar untuk menghirup udara luar Paris, tapi rasanya aneh juga. Soalnya ini juga kali pertama saya tiba di Paris tanpa ada yang menjemput - biasanya Sandy juga hobi mengantar jemput saya. Tapi Mama Sandy yang baru punya bayi lagi ini sudah memberi petunjuk untuk mencapai Stasiun Metro Dugommier, stasiun yang dekat banget dengan apartemennya. 
Sendirian di dalam metro Paris, saya sempat ketakutan saat seorang pria yang membawa seekor anjing Golden Retriever duduk persis di sebelah saya. Mak, eike pan takut sama anjing! Anjingnya sudah jelas berbaring di antara kaki saya dan kaki pria itu. Tapi sumpah saya syok habis waktu pria itu berpaling ke arah saya dan bertanya, "Habis ini stasiun apa, ya?" Ternyata pria itu tuna netra! Pantas saja dia ke mana-mana ditemani si Golden Retriever. Duh, salah banget saya. Karena saking fokus dan ketakutan pada si anjing, saya sampai mengabaikan pria di sebelah saya. Maaf banget banget, Pak. Setelah mengucapkan merci beaucoup terima kasih banyak, pria itu kemudian berdiri, menyeret anjingnya ke arah pintu metro, dan kemudian turun di Gare d'Austerlitz. 

***

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan saya di Stasiun Dugommier. Apartemen Sandy dari stasiun ternyata mudah dicari. Sekitar jam 14.00 waktu Paris, saya menjejakkan kaki di apartemen baru Sandy, hehehe. Ya enggak baru juga sih, baru saya kenal deh. Sampai 2007, Sandy dan suaminya, Julien yang kami panggil Ijul, tinggal di kawasan suburban Paris yang bernama Ermont-Eaubonne. 
Sambil mengemong putra bungsunya yang baru lahir akhir April, Viktor, Sandy bertanya, "Mau jalan-jalan ke mana lagi? Mau ke Eiffel lagi?" Dengan sombongnya saya menjawab, "Jangan dong, bosen. Gue juga bingung San, gue mau lihat apa lagi, ya di sini?" (Plaaak! Tampar si Ika, hahaha.)
Karena cuaca hari itu juga tidak mendukung - mana enak sih jalan-jalan di Paris kehujanan - saya dan Sandy, selain bergosip sambil makan melon dan sepotong quiche lorraine - Sandy tidak pernah lupa kesukaan saya yang satu ini, yang dalam versinya adalah quiche halal, tidak pakai daging babi, hehehe - agenda hari itu hanya mengunjungi toserba-supermarket Monoprix di seberang Stasiun Dugommier. Dan sudut mata saya menangkap logo Yves Rocher di samping Monoprix. Je serai la, I'll be there!

***

Besok pagi dan siangnya, hujan kembali turun. Huft, musim apa sih ini? Untungnya sekitar jam 14.00 giliran matahari menampakkan diri, menyusut hujan. Dan berlangsunglah agenda yang paling saya sukai di kunjungan Paris kali ini. Sandy mengajak saya menyusuri sebuah taman di dekat apartemennya, Promenade Plantee.
Hasilnya... j'adore Promenade Plantee, trop! Promenade Plantee adalah taman berbunga yang menjulang di atas Paris. Bayangkan saja jalan layang dengan kedua sisinya dirambati aneka bunga, nah seperti itulah Promenade Plantee. Jalur berbunga ini di beberapa bagiannya berfasilitaskan bangku, buat sekadar duduk, mengobrol, atau menikmati udara segar. Mengapa wujudnya agak mirip jalan layang, sebabnya taman sepanjang 4,5 km yang mengarah ke Bastille ini dulunya jalur kereta barang. Jalur yang terabaikan ini di awal abad ke-19 mulai menjelma sebagai taman berbunga, dengan bagian bawahnya yang tidak kalah cantik berupa Viaduc des Arts atau deretan toko yang memajang barang seni kontemporer. Begitu cantiknya Promenade Plantee sampai diabadikan dalam film Before Sunset-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy, lho.
Promenade Plantée yang menawan!

Viaduc des Arts, penyangga Promenade Plantée yang menjulang di atas Paris.

Sampai di Bastille, saya dan Sandy kembali ke apartemen melalui tepi Sungai Seine. Eh, lagi ada demo imigran di Bastille, sepertinya imigran asal Afrika. Saya ingat salah satu spanduk mereka berbunyi, "Kami butuh makan." Bastille katanya sih sering jadi lokasi demo, mengingat sejarahnya sebagai simbol pembebasan Prancis dari rezim monarki pada 1789. 
Sorenya, duh, hujan lagi! Hujan sungguh tidak lazim mewarnai peralihan musim semi ke musim panas. Tapi tahun lalu itu, cuaca memang kacau. Bukan hanya hujan, suhu belasan derajat masih menyambangi Paris, Munich, dan kota-kota di Italia. Padahal 5 tahun lalu, awal apalagi pertengahan Juni itu cuaca sudah mulai panas - kecuali di kota-kota yang dekat dengan Pegunungan Alpen barangkali, ya, seperti Vaduz, ibu kota Liechtenstein. 
Akan tetapi, hujan, ya biarlah ya. Saya mesti menuntaskan janjian dengan Rita, seorang teman kuliah saya yang bekerja di Paris. Sandy mengantar saya menemui Rita di Bercy Village - sembari nyempet-nyempetin juga melongok Yves Rocher, hehehe. Bercy Village adalah tempat kongko yang unik, yang menyerupai area pedesaan di Perancis dengan jalan berbatu-batu dan toko serta kafe mungil di kanan-kirinya. Unik karena di tengah jalannya masih tampak jelas bekas jalur rel! Setelah menyelidik lebih lanjut di Internet, ternyata Bercy Village ini dulunya gudang anggur. Dan rel itu adalah jalur transportasi pengangkut anggur.
Saya pun makin kagum dengan pemerintah Paris, Prancis, siapa pun itu, yang mengubah sesuatu yang dianggap tak berguna, seperti bekas gudang anggur ini, menjadi kawasan yang cantik dan menarik bagi wisawatan. Dan kawasan Bercy bukan hanya punya Bercy Village yang komersial, tapi juga Parc de Bercy atau Taman Bercy seluas 14 hektar juga dengan koleksi bunga dan anggur - menghormati riwayat Bercy dengan gudang anggurnya - tempat orang bersantai tanpa dipungut bayaran. Salah satu bagian Parc de Bercy adalah Jardin de Yitzhak Rabin atau Kebun Yitzhak Rabin, yang didedikasikan bagi PM Israel yang terbunuh pada 1995, Yitzhak Rabin - setahu saya dia PM Israel yang gencar mendamaikan negerinya dengan Palestina. Di taman ini ditanam berbagai varietas mawar.
Selesai dengan kawasan Bercy, saya ikut Rita makan malam di kawasan Place d'Italie, sementara Sandy kembali ke apartemen. Sebelum itu, saya kira Place d'Italie, mengacu pada namanya, adalah wilayahnya orang-orang Italia. Eh, salah lagi. Justru di dekat alun-alunnya itulah ngampar berbagai restoran Asia, hehehe. Salah satu restoran Vietnam di dekat alun-alun jadi favorit teman-teman saya di Paris. Oh iya, teman saya yang berdomisili di Paris bukan cuma Rita dan Sandy lho. Ada Ami, Dwi, Minnie, Yeri, Yanthie, kalau mau ditambah masih ada Azizah di Marseilles, kota di selatan Prancis. Sayangnya waktu itu tidak mungkin menemui semua. Ami sedang pelesir ke Den Haag, Belanda; Minnie sibuk kerja; Yeri menemui pacarnya di Inggris; lha Yanthie malah sedang ada di Indonesia. Sebenarnya saya dan Sandy mengagendakan menemui Dwi di tokonya tapi lupaaa, payah.
Di restoran Vietnam itu, menu yang saya dan Rita pesan adalah... mi ayam! Hahaha. Pengin tahu saja seperti apa sih wujud mi ayam ala Prancis. Oh, minya sama saja dengan yang kita kenal, cuma seperti tenggelam dalam kuahnya. Tapi kami tak bisa berlama-lama di restoran yang tak seberapa besar itu, karena antreannya lumayan panjang. Kasihan, soalnya orang-orang itu menunggunya di luar restoran, sementara cuaca menjelang malam mulai dingin.

***
Hari terakhir di Paris.
Saya pengiiin banget makan crepe. Terkesan banget sama crepe marron atau crepe isi kacang merah khas Prancis yang saya beli di pinggir jalan 4 tahun silam. Tapi kata Sandy, di dekat apartemennya enggak ada crepe enak. Jadinya kami makan siang dengan paella, semacam nasi goreng ala Spanyol dengan campuran aneka seafood, yang dijual di pasar kaget di dekat apartemen Sandy. Tapi paella-nya kurang enak. Ya sudahlah.
Pasar kaget di Paris bisa dibilang pasar murah. (Eh enggak cuma di Paris, tapi juga di Eropa umumnya.) Pasarnya tidak buka setiap hari, dan memang barang-barang yang dipasarkan di situ terbilang murah. Saya sempat-sempatnya membeli kaus kaki 2 euro dapat 3 pasang, hihihi. Juga pashmina dan syal satuannya dengan harga yang sama! Di situ saya juga jajan churros, camilan manis ala Spanyol, 1 euro dapat 3 batang. Lha sebenarnya ini pasar murah di mana sih, kok jajanannya ala Spanyol yah, hehehe.
Menjelang sore, Sandy memperkenalkan saya kepada butik murah Marc by Marc Jacobs (lihat artikel "Marc Jacobs 10€"). Menambah kaya wawasan belanja di Paris, hehehe. Gara-gara kelewat terpukau dengan butik murah itulah saya lupa menengok toko Dwi, maapken yah. Yang bikin saya terharu, Sandy rupanya tidak lupa saya "meraung-raung" minta crepe. Kembali ke apartemen, Ijul yang jago masak rupanya telah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat crepe. Dia menyajikan makan malam berupa crepe cokelat-keju dan daging, dan memaksa saya melahap 4 potong! Hahaha. Saya hanya sanggup menghabiskan 3 (ya iyalah segitu aja sudah lebay). Crepe buatan Ijul beneran enak! Makanya begitu mendengar ada sebuah kafe di sebuah mal elite di Jakarta yang menyajikan crepe (katanya) enak seharga 50 ribuan, saya dengan tegas menolak mencicipinya. Iciihh... enakan crepe buatan asli Prancis, gratis!
Hari semakin gelap. Waktunya mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga Sandy, dan kepada Paris. Sendirian saya kembali mengarungi jalur metro bawah tanah, kali ini bukan ke Gare de l'Est, melainkan Gallieni, pos bus antarnegara Eropa, Eurolines. Jam 21.30, saya keluar dari apartemen Sandy yang hangat, untuk menyongsong bus Eurolines tujuan Eindhoven yang akan berangkat 1,5 jam setelahnya, seraya berucap janji akan kembali dalam hati. Semoga.


Wednesday, June 8, 2011

Bergaya Eksekutif dengan Kereta Kelas 1


Tahun 2005, keliling Eropa (Barat) saya lebih sering menggunakan jasa Eurolines. Tahun 2006, kebanyakan diantar Dedes dan Wolfgang, hehehe. Nah, tahun 2010 lalu, saya ingin mencoba suasana baru.
Karena ada jeda 3 minggu antara kepastian mendapatkan visa dan jadwal keberangkatan – yang lalu-lalu hitungannya harian – maka masih memungkinkan untuk mencicipi tarif murah kereta Eropa. Dibanding bus, tarif standar kereta jauh lebih mahal. Namun apabila dibeli jauh lebih awal, apalagi 1-2 bulan sebelum perjalanan, tarifnya miring lho. Tarif kereta Amsterdam-Munich atau sebaliknya misalnya, dengan kedua kota berjarak lebih dari 800 km (ibarat Jakarta-Surabaya), 29 euro saja! Begitu pula dengan Paris-Munich dll. Kalau harga aslinya mah, yang berlaku kalau bangku bertarif murah sudah habis dipesan atau kalau pemesanan dilakukan mendadak, ampun-ampunan deh untuk kota-kota yang berjarak jauh apalagi beda negara; sudah pasti di atas 100 euro. Oh ya, harga-harga ini untuk tiket kelas 2, ya. Tapi jangan salah, kereta kelas 2 di Eropa itu nyaman lho.
Pemesanan 3 minggu sebelum berangkat memberi saya harga yang lumayanlah – saat itu tiket 29-39 euro sudah tak tersisa. Untuk perjalanan Munich-Paris naik TGV (train a grand vitesse) – kereta yang di buku pegangan kuliah saya, Archipel, digadang-gadang sebagai kereta tercepat, hahaha – saya membayar 69 euro. Lumayan juga merasakan sensasi naik TGV yang masih merupakan salah satu kereta tercepat di dunia itu, sampai terharu, hihihi.
Tiket TGV di tangan, saya malah makin penasaran. Begitu mengecek ketersediaan tiket Amsterdam-Munich, mata saya terantuk pada tiket kelas 1. Angka 109 euro tidak murah, tapi, ya tetap lumayan dibandingkan angka aslinya, 200-an euro! Hah, banyak alasan. Baiklah, mari sekali-sekali bergaya eksekutif.
Melakukan pemesanan melalui laman kereta Jerman, bahn.de (Deutsche Bahn), untuk gampangnya saya meminta tolong Wolf. Oh ya, bahn.de ini andalan banget deh dalam reservasi bangku kereta. Percaya enggak percaya, tarif tiket laman ini cenderung lebih murah ketimbang laman kereta negara lain, padahal untuk tujuan, kereta, dan jam yang sama. Pantas di forum-forum wisata, banyak yang menyarankan untuk mengecek jadwal dan tarif melalui bahn.de.
Yap, jadilah tiket 109 euro saya kantongi. Berangkat sekitar jam setengah 7 malam dari Amsterdam, tiba di Munich sekitar pukul setengah 6 pagi. Diselingi transit 2 jam di Frankfurt, untuk ganti kereta dari ICE (Intercity-Express) ke IC (Intercity).
Saya baru tahu, ternyata Wolf memesankan bangku khusus kompartemen. Sebelum ini, baru sekali saya bersinggungan dengan kompartemen: di kereta IC Italia, dengan komposisi 6 bangku – 3 berhadapan dengan 3. Waktu itu kelima tetangga saya orang Austria, 3 di antaranya anak muda yang tinggi besar. Mana nyaman sih duduk diapit mereka – posisi bangku saya di tengah – ditambah nyaris bersentuhan kaki dengan cowok di hadapan saya. Untungnya, dalam trayek IC Roma-Munich itu, anak-anak muda itu turun duluan di Innsbruck, Austria. Legaaa....
Akan tetapi kompartemen kelas 1 ini = heaven! (Harap memaklumi kenorakan ini, hihihi.) Namanya kelas 1, ya iyalah segalanya lebih longgar. Bangku lebar, ruang untuk kaki lebar, satu kompartemen hanya terdiri dari 4 bangku. Bangkunya kulit, lagi. Berasa eksekutif bener deh! Karena keretanya sepi penumpang, alhasil dari hanya 2 kompartemen berbangku kulit biru, isinya saya seorang. Kapan lagi jadi penguasa kompartemen kelas 1, sendirian, hohoho. Karena kurang tidur setelah berputar-putar antara Eindhoven, Maastricht, dan Amsterdam, saya mencoba memejamkan mata. Tawaran minum dari kru kereta saya abaikan. (Bukan karena tak ingin tidur terganggu. Melainkan karena ketidaktahuan saya bahwa tawaran minum itu gratis. Kelas 1 sih kelas 1, teuteup buat yang lain-lain enggak modal, hahaha.)
Eh, tapi kok mata sulit terpicing. Ya sudah, saya berusaha menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, mumpung hari belum gelap; Utrecht, Duesseldorf, dan terutama Koeln yang manis masuk jalurnya si ICE. Setelah transit di Stasiun Bandara Frankfurt 2 jam, sekitar pukul 01.00 pagi hari berikutnya saya meneruskan perjalanan ke Munich. Bangkunya nyaman juga, karena bangku single dan tidak perlu bersenggolan dengan penumpang di kanan-kiri. Karena sudah masuk hari berikutnya dan saya belum tidur juga, ngantuk abis pasti. Tapi tidur saya gelisah. Sebentar-sebentar bangun. Kenapa sih ini?
Oh, baiklah. Pada akhirnya saya harus mengakui, bangku berjok kulit tidak nyaman bagi saya. Masih lebih enak bangku berlapis kain di kelas 2. Halah, memang dasar enggak bakat jadi eksekutif!