Makin iseng karena saya hanya jalan-jalan di Istanbul - btw, enggak ada dana juga, sih mau ke kota-kota lainnya di Turki hihihi - dan cuma seminggu. Yep, begitulah. Di sana pun saya enggak serius mengeksplorasi Istanbul. Saya terbang ke sana karena "khilaf" beli tiket promo - yang kalau enggak dipakai akan hangus dan melayanglah 700 dolaran - dan hanya untuk relaks. Saya enggak ngoyo harus ke sana, harus kemari. Harus lihat ini, harus lihat itu. Hidup saya sekitar seminggu di Istanbul enggak jauh-jauh dari daratan Eropa - oh ya, Istanbul ini kota unik yang berdiri di dua benua, Eropa dan Asia. Ke kawasan Asianya? Ah, cuma numpang makan kumpir atau kentang bakar yang super dengan topping enggak kalah super.
![]() |
| Kumpir, porsinya gilak! |
- Jalan-jalan di Taman Gulhane di bawah rintik hujan - eh, lebih dari sekadar rintik ding. Enggak pakai payung, mengingat taman ini dinaungi pepohonan meski daunnya berguguran mengingat musim dingin, tapi saya enggak terganggu dan enggak keberatan. Kapan lagi saya bisa berhujan-hujan tanpa mengomel karena harus melalui jalan-jalan tergenang dengan sepatu dan kaki berlepotan? Yay!!! (Catatan: Tetep sih harus pakai baju lima lapis....)
| Gulhane Park, my favorite part. |
- Baklava. Hahaha, baklava alias kue-kue manis khas Turki adalah santapan sehari-hari saya di Istanbul. Bahkan kadang sebagai pengganti makan malam - 2-3 potong baklava sudah cukup buat saya. Sebenarnya manisnya itu bikin ngeri, manis banget... tapi sekali lagi, kapan lagi saya makan baklava enak? Menurut Nuref, cewek Istanbul yang saya kenal via CouchSurfing, baklava terenak ada di Karakoy. Dia sempat mengajak saya membeli beberapa potong, setelah sarapan dengannya di sebuah kafe di Karakoy. Saya sendiri sukanya beli di sebuah toko di dalam pasar Spice Bazaar, di Eminonu, terus makannya di depan pasar sambil melihat orang juga feri di pelabuhan Eminonu berlalu lalang. Cuma kalau pas angin berembus, dapet salam dari menggigil kedinginan. Oh ya, Eminonu dan Karakoy ini letaknya cuma berseberangan, dijembatani Galata Bridge.
- Galata Bridge/Jembatan Galata. Hobi saya juga bolak-balik menyeberangi Galata Bridge. Termasuk di kala hujan! Kan saya sudah bilang, saya hanya ingin relaks di Istanbul. Saya menikmati pemandangan orang-orang memancing dari atas Galata ke arah Selat Bosphorus, juga feri yang hilir mudik melayani pelayaran dari Istanbul kawasan Eropa ke Asia. Tapi keren juga, sih rasanya menyadari sedang berdiri di atas Selat Bosphorus yang membelah Eropa dan Asia, hahaha. Kapan pun saya menyusurinya, Galata Bridge tak pernah sepi pemancing. Memancing saat cuaca terang, saat hujan mengguyur, dan bahkan jelang sunset disusul azan magrib berkumandang. I've seen them all :).
![]() |
| Sunset di Galata Bridge, you have no idea! |
- Waking up in Istanbul. As amazing as waking up in Paris! Di Istanbul, setiap jam 6 pagi pasti saya terbangun dan sukar memejamkan mata lagi, sekalipun baru berniat turun dari kamar jam 9 atau 10, misalnya. Dan kemudian saya membatin, beruntungnya saya terbangun di Istanbul! Saya menginap di dua hotel (lebih mirip guesthouse), Angel's Home dan Antique House. Di hotel yang pertama, pemandangan kamar saya dan Dedes menakjubkan. Minaret Blue Mosque! Di hotel yang kedua, di mana saya menginap 4 malam sendirian - Dedes sudah pulang ke Jerman - keramahan pemiliknya, Mustafa dan saudaranya yang sulit saya eja namanya, yang menakjubkan. Selain tersenyum menyadari masih berada di Istanbul, ada satu hal favorit lagi ketika terbangun di Istanbul. Bergelung di balik selimut while reading your messages. You know who you are :).
![]() |
| Panorama dari jendela kamar Angel's Home. |


