Friday, June 1, 2007

Pop Mi dan Permen, Makanan Darurat

Ini kejadian tolol waktu saya transit semalam di Narita, Tokyo. Yaaa, nggak bisa dibilang Tokyo juga sih, soalnya kalau mau ke pusat Tokyo pun masih jauh. Karena pesawat kami - saya dan 4 rekan, termasuk fotografer saya, Panji - ke Jakarta baru ada besok siangnya, maka kami ditransfer ke Hotel Nikko Narita. Bau-bau Jepang pun di sini nggak ada, soalnya kamar kami bernuansa modern dan sarapan kami makanan ala Barat.
Nah, seperti saya tulis tadi, kami mendapatkan sarapan ala Barat, tepatnya di sebuah restoran di hotel itu. Malamnya, kami nggak dapat voucher makan apa-apa. Untungnya saya punya simpanan 2 pop mi, yang konyolnya merek Jepang tapi saya bawa jauh-jauh dari Meksiko. Begitulah kejadiannya setiap kali saya pergi ke luar negeri. Saking takut kelaparan, saya selalu menyetok banyak-banyak makanan dan minuman. Alhasil, setiap mau pulang, selalu ada sisa entah itu pop mi, cokelat, susu, bahkan air natural! Dua teman saya di Meksiko, pasangan suami istri Fitra dan Dulce, pernah saya paksa-paksa membawa pulang susu dan pop mi yang tidak sempat saya konsumsi di Meksiko.
Kembali ke 2 pop mi. Satu masih saya simpan, satunya sudah saya berikan kepada Enno. Tinggal Panji, Mas Robi, dan Haris kelabakan. Apalagi justru mereka bertiga ini yang super gembul - saya dan Enno badannya jauh lebih mungil. Kacaunya, untuk makan pop mi pun Enno kebingungan. Pasalnya kemasan pop mi ala Jepang ini kan tidak dilengkapi garpu atau sendok! Saya beruntung karena bawa garpu plastik. Saya tawari pada Enno untuk memakai garpu itu gantian. Tapi Enno tak sabar, kadung kelaparan. Ia melahap pop mi itu dengan bantuan sikat gigi!
Lantas, bagaimana nasib tiga rekan saya yang lain? Saya tak ingat nasib Haris, yang sekamar dengan Enno tapi tak kebagian pop mi. Yang lebih kacau lagi, Panji dan Mas Robi. Sehari sebelum pulang dari Meksiko, mereka dititipi seseorang (nggak tega sebut namanya, hehehe) beberapa bungkus permen buat keluarganya di Jakarta. Karena tak tahu mesti makan apa - mau keluar juga jauh, namanya juga di ujung Tokyo, dan nggak ngerti bahasanya pula -, sementara perut minta diisi, kalau nggak salah sih mereka tega-tegain membuka bungkusan permen itu dan memakannya! Kalau salah ya maaf, tapi seingat saya benar deh. Apa perlu konfirmasi sama Panji dulu? Bisa sih, tapi paling dia cemberut. Nah, walau makan permen banyak, tetap nggak kenyanglah. Nggak heran mereka besoknya tiba di lokasi sarapan lebih dulu daripada saya, dengan makanan yang berporsi lebih besar pula. Duh, saya harap yang menitipkan permen itu bisa memaklumi.

Thursday, May 31, 2007

Fernando Colunga

Buat saya, selalu ada yang bisa dikenang dari tiap pertemuan dengan Fernando Colunga. Iya, si aktor telenovela nomor wahid itu. Saya akui saya beruntung bisa dua kali mengobrol dengannya langsung. Kendati, ya maaf-maaf saja, kesan saya tentang Fernando maupun telenovela-telenovelanya tetap sama: nggak suka!
Pekerjaan menuntun (atau menuntut?) saya bertemu aktor yang - saya harus akui - sangat ganteng itu. Pertemuan pertama, November 2000, jadi memori menyebalkan. Soalnya dia kayaknya sadar akan kegantengan dan popularitasnya, jadi rada-rada belagu gitu, deh. Habis wawancara, dia lupa mengambil jaketnya yang tersandar di punggung sebuah kursi. Saya dan Enno, rekan kerja saya waktu itu, terus terang tak memperhatikan jaket itu. Kami sibuk ngobrolin hal lain. Sampai Fer teringat akan jaketnya dan kembali ke ruangan, kami belum beranjak. Dan dia dengan senyum dipaksa bilang begini, "Jaket saya ketinggalan. Nanti kalian ambil." Duh. SEBEEEEELLLLL! Lagian kami ini kan imut, jadi nggak mungkin pakai jaket segede gambreng itu.
Nah, kalau begitu ngerti kan, kalau saya malas ketemu Fer lagi. Tapi ya, tetap harus ditemui lagi, kalau nggak nanti pembaca protes. Jadi, dalam tugas kedua ke Meksiko, April 2003, saya kembali menjadwalkan wawancara dengan Fer. Karena guide saya yang juga menangani bagian talenta Televisa, Nagelly, sibuk, ia minta kurirnya, Jose Luis (kalau nggak salah), mengantar saya dan fotografer, Panji, menemui Fer di lokasi syutingnya. Tiba di sana, kru memberi tahu, Fer masih syuting. Kami (masih beserta Jose Luis) menunggu di lorong. Setelah 15 menitan, Fer keluar. Dan tak disangka ia langsung melabrak Jose Luis! Saya tak ingat persisnya kata-katanya dalam bahasa Spanyol, tapi kurang lebih begini, "Saya nggak suka diganggu kalau lagi syuting begini!" Ia tak peduli pembelaan diri Jose Luis. Saya mengamati kejadian itu dengan malas. Duh, kalau dia nggak mau diwawancara, masa bodoh, begitu pikir saya waktu itu.
Tapi kemudian yang tak disangka-sangka, terjadi lagi. Sehabis memarahi Jose Luis, tiba-tiba dia menghampiri saya. Saya kira dia mau mengusir, tapi sebaliknya, malah merangkul saya! Tutur katanya berbalik halus. "Hai, kalian dari mana? Kita wawancara di luar saja, ya, biar enak," sapanya dalam bahasa Inggris dengan ramah. Saya nyaris tak bisa berkata-kata saking herannya. Si Fer ini maunya apa, toh?
Kami pun berjalan keluar - dia masih merangkul saya - dan berhenti di luar lorong syuting yang cenderung tenang suasananya. Saya tak bisa menahan diri lagi. Saya tanya padanya, "Kenapa kau tadi memarahi Jose Luis?" Ganti dia yang heran. "Lho, memangnya kamu mengerti bahasa Spanyol?" Saya jawab apa adanya: ngerti tapi kalau ngomong parah - kecuali sama sopir taksi yang mana saya bisa pakai bahasa "pasar". Tapi dia "memaksa" saya, dengan kata-kata yang lebih manis lagi, "Kalau begitu, kamu harus wawancara saya pakai bahasa Spanyol. Ayolah, mumpung di Meksiko, kamu harus praktekkan bahasa Spanyol kamu." Mampus. Alhasil, hanya untuk 5 pertanyaan pertama saya sukses. Selebihnya balik lagi ke bahasa Inggris.
Kesan saya tentang Fer di dua wawancara berbanding terbalik. Yang pertama jengkel, yang kedua, awalnya memang jengkel gara-gara insiden Jose Luis, tapi kemudian kagum. Maksud saya, kok bisa Fer yang dulu saya kenal menjengkelkan, berubah begitu hangat? Apalagi dia menjelaskan alasan kemarahannya pada Jose Luis - sepertinya Nagelly bikin appointment dengan orang yang salah. Ya ampun, sumpah, kalau yang dikirim wawancara sama Fer adalah reporter cewek penggila telenovela, itu orang pasti bakalan melambung, melayang, terbang, apalah, mendengar tutur katanya yang halus dan manis selama menjawab pertanyaan. Tapi sayang yang dikirim saya, jadi nggak pengaruh-pengaruh amat. Ya, sejauh ini belum ada aktor telenovela yang betul-betul memukau saya. Tidak juga Mario Cimarro dan Michel Brown yang saya bilang nggak kalah ganteng itu, rasanya.

Kecanduan Apfelstrudel

Apfelstrudel di kafe rumah sakit di Jerman saja enaaaaaaakkknyaaaa...
Ya, waktu jalan-jalan di Eropa Barat Juni tahun lalu (pas banget setahun kemarin) saya kecanduan apfelstrudel alias apple strudel. Masuk kafe atau restoran mana pun, yang dicari apfelstrudel. Gara-garanya, sebelum terbang ke Munich, Jerman, 1 Juni 2006, saya lagi doyan-doyannya makan roti isi apel-nya 2nd Bite. Nah, begitu ketemu apfelstrudel di San Francisco Coffee, kafe di Odeonsplatz, Munich, sehari kemudian, saya kegirangan. Saya baru ingat, apfelstrudel itu kan hidangan penutup khas Austria yang tetangganya Jerman (setelah saya cek di Wikipedia, nggak sepenuhnya benar. Apfelstrudel juga hidangan khas Jerman Selatan yang berpusat di Munich). Jadi, mestinya di Jerman banyak dong yang jualan apfelstrudel.
Jadilah selama 10 hari jalan-jalan, saya 4 kali menyantap apfelstrudel. Sampai teman saya, Dedes, bosan melihatnya. Payahnya, waktu mampir ke sebuah kafe di Salzburg, Austria, malah nggak ada menu apfelstrudel. Piye toh. Uniknya lagi, apfelstrudel terenak yang saya cicipi bukanlah di Jerman, melainkan di Liechtenstein! Itu lho, negeri kecil yang dibatasi Austria dan Swiss. Ya ampun, itu dessert terlezat seumur hidup yang pernah saya makan. Bodohnya, saya lupa memotret apfelstrudel ala Liechtenstein itu. Bentuknya cantik sekali - apfelstrudel bujursangkar dihiasi potongan stroberi, dengan sekeliling piringnya berlumur saus vanila! Saya menikmati lamat-lamat apfelstrudel itu, tak ingin kehilangan sensasi setiap potongnya. Setelah itu, apfelstrudel atau dessert lain lewat begitu saja di mulut saya; belum ada yang bisa mengalahkan apfelstrudel Liechtenstein. Tidak di Jerman, tidak juga di Swiss. Di Jakarta dan Bali, saya juga belum lagi melihat dessert seindah dan senikmat itu. Tidak juga sizzling brownies-nya Queen's Tandoor, yang saya puja-puji waktu jalan ke Bali April lalu.

Pencopet di Metro Paris

Selama di Paris, saya rutin menggunakan metro sebagai sarana transportasi. Metro adalah sebutan orang Prancis buat subway, kereta bawah tanah. Karena telanjur nyaman dengan istilah metro, semua subway di Eropa saya sebut metro. Tak terkecuali di Jerman, yang sebetulnya bernama U-Bahn dan S-Bahn.
Metro Paris sebenarnya tergolong apik. Tak ada pengamen atau pengemis berkeluyuran, seperti di Barcelona atau Mexico DF. Penumpang yang rasnya berbeda-beda - Paris kota yang sangat multikultural - pun tak perlu ditakuti. Makanya, selama tiga hari pertama di Paris, apalagi ke mana-mana ditemani Sandy, saya merasa aman-aman saja. Toh tampang saya agak bule, bukan yang menarik pandangan dan komentar usil cowok-cowok Paris yang suka cewek eksotis asal Asia - eh, itu menurut teman-teman saya yang tinggal di Eropa lho. Dan biarpun nggak fasih, saya mengerti bahasa Prancis. Miskomunikasi mestinya gampang teratasi.
Makanya, waktu dilepas teman Sandy, Sam, untuk balik dari zona universitas Paris ke apartemen Sandy yang terletak di ujung kota lain, tepatnya di zona banlieu Ermont-Eaubonne, saya santai-santai saja. Mulanya sih sempat cemas. Bagaimana rasanya, ya, naik metro sendirian di tempat yang asing? Di perjalanan dari zona universitas ke Gare du Nord, lancar-lancar saja. Walau kelabakan mencari terminal RER B di Gare du Nord, saya juga nggak kalut. Kalau sampai nggak ketemu, bisa tanya, 'kan? Ya, sudah, begitu menemukan jalur RER B, saya naiki metro bertingkat itu dengan tenang dan ambil bangku di bagian bawah, paling dekat dengan pintu.
Di Saint-Denis, perhentian pertama setelah Gare du Nord, tahu-tahu duduklah dua cowok berkulit hitam berhadapan dengan saya. Tapi hanya beberapa detik, mereka meninggalkan bangku itu. Sebagai gantinya, duduklah cowok berkulit hitam yang lain. Tahu-tahu, kejadian ini berlangsung secepat kilat, cowok hitam kurus itu menghilang dari hadapan saya. Dengan cara menghilangnya saja, saya takjub. Makin takjub lagi begitu sadar, cowok itu menghilang bersama ponsel yang dipakai seorang wanita berkulit hitam di bangku deretan berikutnya! Oh-mi-God. Berarti, cowok tadi pencopet! Saya kontan merinding. Hiii, ternyata metro Paris nggak aman dari sentuhan pencopet! Ketakutan saya pun menjadi. Saya mencengkeram tas makin erat. Selain paspor, di situ ada uang sedikit, kamera, dan ponsel juga! Yah, nggak seberapa mahal sih, tapi itulah hartanya traveler.
Saya lantas menguping perbincangan antara tiga orang kulit hitam yang duduk di deretan bangku di samping saya. Mereka menasihati wanita tadi agar jangan sekali-kali membuka ponsel di stasiun maupun kereta. Saya mencoba ikut masuk pembicaraan dengan bertanya, "Excusez-moi, je suis étrangère ici, cela se passe souvent dans le train?" Cieeehh, gaya bener, ngoceh pakai bahasa Prancis! Eits, tapi saya tanya begitu bukan karena mau gaya, melainkan lantaran benar-benar ketakutan. Salah satu dari mereka menyuruh saya melupakan kejadian itu, agar perjalanan saya di Paris tidak terbebani. Saya sih tidak bisa lupa. Tapi tidak sampai membuat saya pantang naik metro. Malah di perjalanan-perjalanan berikutnya, Roma dan Barcelona, saya ketagihan naik metro. Cuma, ya, mesti ekstra hati-hati. Ketika saya ceritakan soal pencopet tadi begitu sampai di apartemennya, Sandy kaget. "Gue di sini nggak pernah ketemu copet, eh, kok lo malah ketemu!" katanya heran. Dan ketika adik saya mampir di Paris akhir April kemarin, satu nasihat saya buatnya: "Awas copet!"

Bandara Munich

Antrean Kedatangan Bandara Franz Josef Strauss, Munich, 1 Juni 2006 (hey, it's been a year!), 18.00 waktu setempat.

"Do you speak English?"
"Yes."
"Do you ..." (saya tidak bisa menangkap suara petugas pabean dari balik jendela kacanya)
"Excuse me?"
(Petugas itu kemudian mengajukan sekitar empat pertanyaan lagi, tapi saya tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya. Ia kemudian mengamati saya dengan cermat, memastikan saya dan sosok dalam foto paspor orang yang sama).
"Alright, you go," kata sang petugas, memasrahkan saya masuk ke Munich tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan pentingnya - saya menjawab pertanyaan paling tak penting yang diajukannya.

Antrean Keberangkatan Bandara Franz Josef Strauss, Munich, 11 Juni 2006, 11.00 waktu setempat.

(Sang petugas yang berkacamata dan berambut pendek keemasan, he's cute somehow, memelototi saya dari atas ke bawah. Saya mengerti setiap kata dalam bahasa Inggris yang diucapkannya, dengan nada menyelidik, jadi dialog berikut tak perlu saya tulis dalam bahasa Inggris).
"Anda bicara bahasa Inggris?"
"Ya."
"Apa tujuan Anda datang ke Munich?"
"Pariwisata."
"Datang bersama siapa?"
"Sendiri, tapi saya di sini tinggal bersama teman saya."
"Bersama siapa Anda berwisata?"
"Bersama dua teman saya yang tinggal di sini."
"Berapa lama Anda di sini?"
"Satu setengah minggu." (sebetulnya saya waktu itu lupa berapa lama, jadi saya jawab sekadarnya. Untungnya benar).
Ada satu pertanyaan lagi, tapi saya tak ingat. Soalnya saya telanjur sebal. Wong waktu masuk Munich saja tak susah (gara-gara saya tak mengerti apa yang ditanyakan, sih, hihihi), mau pulang kok repot. Huh. Untungnya petugas itu lumayan oke tampangnya, walaupun kaku, jadi saya nggak bete-bete amat.

Trauma Keju Kambing

Hari pertama di Paris, 28 April 2005. Saya langsung disambut aneka makanan. Yang punya ide Julien, pacar teman saya, Sandy. Selain dimasakkan hidangan ala China dan dibelikan éclair, saya disuguhi tiga macam keju Prancis, lengkap dengan baguette. Tahu, 'kan, Prancis itu 'kan terkenal dengan kejunya.
Keju pertama, rasa bawang putih. Wah, ini sih enak. Kecuali dalam bentuk aslinya, saya umumnya suka makanan yang berasa bawang putih. Yang kedua, keju khas Prancis yang aromanya sangat kuat, Roquefort. "Orang Indonesia belum tentu suka. Orang Prancis saja nggak semua suka," kata Sandy. Dan memang saya tidak suka. Sulit mendeskripsikan rasanya. Pokoknya nggak asin, seperti keju di sini. Dan pokoknya nggak enak! Yang terakhir, oh, oh, keju kambing! Saya malas menyentuh, karena nggak doyan makan segala yang ada kambingnya. "Gue dulu juga nggak suka kambing. Tapi sejak makan keju ini, gue suka," Sandy berpromosi. Yaaah, nggak ada salahnya dicoba, toh kapan lagi ketemu keju macam ini, kalau bukan di Prancis? Saya iris sedikit keju berbentuk bulatan gepeng itu. Rasanya? Dengan pertimbangan kesopanan terhadap Sandy dan Julien, saya paksakan diri menelan irisan keju kambing itu. Padahal, maunya sih saya muntahkan! Sandy dan Julien tertawa melihat reaksi saya. Saya dorong keju kambing itu menjauh, dan sebagai gantinya kembali mengambil keju bawang putih. Dan dengan agak terburu-buru saya oleskan keju bawang putih ke atas baguette, lalu segera saya santap untuk melenyapkan aroma kambing keparat yang masih lengket di lidah.
Kasus keju kambing ini kembali saya temui sehari menjelang kepulangan saya ke Jakarta, 17 Mei 2005. Karena lapar dan kedinginan pas jalan-jalan, sudah jam 10 malam pula, saya minta Sandy mengantar beli crêpe. Kami lantas ke area Saint-Michel. Sandy membeli panini dengan isi campuran keju, saya mencoba crêpe rasa marron, sejenis kacang merah, yang kata Sandy crêpe khas Prancis. Di Stasiun Saint-Michel, sembari menunggu RER B yang lewat 30 menit sekali kalau sudah malam, Sandy menawari saya, yang sudah menghabiskan crêpe, untuk sedikit mencicipi panini-nya. Sialnya, panini yang saya gigit berisi keju kambing! "Padahal gue dari tadi cari-cari keju kambing, malah lo yang dapat!" ceplos Sandy menertawakan saya. Keju kambing keparat!

Euro

Dalam setiap perjalanan, bagian paling menarik bagi saya, selain pemandangan, adalah bahasa. Dari beberapa negara Eropa yang alhamdulillah sudah saya kunjungi, cuma Swiss yang tidak kenal mata uang euro - mereka pakai franc swiss, tapi terima euro di toko-toko tertentu. Apa hubungan antara euro dan bahasa? Ada. Bukan saya sengaja hubung-hubungkan. Pengejaan kata euro di 13 negara yang memberlakukan umumnya berbeda. Mulanya saya pikir di mana pun euro itu dieja "yu-ro", sebagaimana pelafalan dalam bahasa Inggris. Di Prancis, begitu teman saya Sandy mengucapkannya. Dan saya rasa pun begitu rata-rata orang Prancis, kecuali khusus buat huruf r-nya sedikit "kumur-kumur", lazimnya pelafalan dalam bahasa Prancis. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, wajar saja kalau di negara lain yang mengadaptasi mata uang ini, euro tidak diucapkan "yu-ro". Toh negara-negara berbahasa Inggris di Eropa, seperti Inggris dan Irlandia, tidak kenal euro, bukan?
Maka, saya dapati orang-orang Jerman menyebut euro "o-i-ro". Di Spanyol seperti adanya tertulis, "e-u-ro". Demikian pula di Italia. Tapi, bergaul beberapa minggu dengan euro tetap tidak membuat saya pintar. Saya tetap susah membedakan koin euro: mana yang nilainya 5 sen, 10 sen, 20 sen, 50 sen, atau 1-2 euro. Jadi, kalau saya kebetulan sedang jalan dengan teman saya, begitu tiba waktunya membayar sesuatu, saya suruh saja teman saya yang menghitung. Seperti saat saya dan Widya, teman saya yang waktu itu masih bekerja di KBRI Roma, membeli es krim di dekat Vatikan. "Udah Wid, lo aja yang ngitung, pusing gue ngebedainnya," kata saya kepada Widya yang memaklumi. Bukan maksud saya seenaknya, Wid, cuma, ya saya sudah terlalu pusing membaca peta, jadi tak sempat memikirkan koin euro!

Monday, May 28, 2007

Ojalá

Ojalá. Ya, pekan lalu saya tiba-tiba teringat pada sepotong kata berbahasa Spanyol itu. Ojalá (baca: ohala) termasuk kata yang pertama saya pahami penggunaannya dalam bahasa Spanyol, dan banyak saya pakai dalam perjalanan saya ke Meksiko 6,5 tahun silam.
Waktu itu, saya mendapat pengetahuan tentang asal-usul kata ojalá. Kalau tidak salah, yang memberitahukan Dulce, seorang Meksiko yang sangat fasih berbahasa Indonesia, ketika kami sedang makan siang di sebuah restoran, Sanborns kalau tak salah namanya, yang menyajikan cake cokelat sangat lezat. Entah bagaimana mulanya, Dulce menjelaskan, ojalá berasal dari kata insya Allah, yang biasa kita sisipkan dalam pembicaraan sehari-hari di sini. Masuk akal, kalau mengingat penerapannya dan mengingat dulu Spanyol pernah berada di bawah pendudukan bangsa Arab. Ojalá dilontarkan untuk mengucap harapan, artinya semacam "mudah-mudahan."
Jadi, ketika saya akhirnya harus pulang ke Jakarta, seingat saya 13 November 2000, saya disapa Juan, seorang petugas kebersihan di KBRI Meksiko. Ia bertanya, "Te vas a regresar a México? (Kau akan kembali ke Meksiko?)?" Saya menjawabnya sambil tersenyum, "Ojalá." Dan betul, 2,5 tahun kemudian, saya kembali ke Meksiko untuk keperluan sama: wawancara artis-artis telenovela. Saya sempat juga mampir di KBRI, tapi tak banyak bicara pada Juan. Mungkin karena dia sepertinya sudah lupa pada saya, karena dia tidak lagi bertanya akankah saya kembali lagi. Dan sampai hari ini, saya belum kembali. Tapi tak apa. Juan tak mencoreng kenangan saya tentang Meksiko, dan saya bahkan tak punya kenangan buruk tentang dia.
Ya, ojalá... Mudah-mudahan saya bisa menjenguk Meksiko lagi. Yang paling saya kangen, Televisa. Ya ampun. Hampir separo hidup saya di Meksiko, yang totalnya 1 bulan 10 hari, saya habiskan di situ. Dari saya tidak becus berbahasa Spanyol, sampai saya mengerti apa yang orang-orang Televisa bicarakan. Dan saya kangen makan di kafetarianya, dengan menu andalan salad buah dengan madu atau omelet. Ojalá, que pueda regresar otra vez. Me encantaría.

Saturday, April 7, 2007

Naik-naik ke Puncak... Parc Güell

Kalau saja enggak ada Vicki, entah bagaimana nasib saya di Barcelona.
Di lingkungan saya di Jakarta, saya memang terbilang nekat. Bisa-bisanya keliling Eropa sendiri. Ya bisalah kalau niat dan minat! Soal berani atau tidak, sudah enggak kepikir lagi sama saya. Pokoknya saya mau jalan-jalan di Eropa sendiri, titik. Masalahnya saya enggak terbiasa dengan pola hidup masyarakat Eropa. Makanya, kalau bukan karena jasa Vicki, saya mungkin enggak akan sampai tuh jalan-jalan di Camp Nou dan Parc Güell. Habis saya enggak terbiasa baca peta metro. Eh, mestinya saya lebih hebat, ya, karena sudah menaklukkan angkutan umum di Jakarta yang boro-boro ada petanya, hehehe.
Bersama Vicki, salah satu tujuan wisata kami adalah Parc Güell, taman yang tersusun atas bangunan-bangunan unik kreasi Antonio Gaudi. Nah, dari Camp Nou, atas saran Vicki, kami turun di perhentian metro Lesseps. Kalau mencermati peta metro nih, Lesseps itu sepertinya jaraknya tak jauh dari Parc Güell. Saya setuju. Makin senang kami ketika begitu keluar dari Lesseps membaca petunjuk jalan yang mewartakan, jarak ke Parc Güell hanya 450 meter. "Wah, sepertinya lebih dekat ketimbang jarak dalam peta!" kata saya girang. "Iya, kadang-kadang peta itu menipu," timpal Vicki sepakat.
Apa betul Parc Güell sedekat itu dari Lesseps? Mestinya begitu. Kalau saja kami tidak dihadang kurang lebih 100 anak tangga yang menjulang tinggi! Damn. Begitu berdiri di kaki tangga a.k.a jalan masuk menuju Parc Güell, saya nyaris menjerit histeris. Ya ampun, apa kurang tuh naik-naik ke puncak Sacré Coeur di Paris dan Provins? "Ya ampun, ini yang dimaksud dosen saya!" Maksud saya, Bu Apsanti, yang dulu mengajar saya di Sastra Prancis UI. Dia pernah cerita, disarankan naik bus ke sebuah objek wisata di Spanyol, alih-alih metro. Tapi ia ngeyel dan memutuskan naik metro saja, karena menurutnya lebih simpel. Tentu, ia salah pilih kendaraan, karena seturun dari metro mesti mendaki jalan naik yang menjulang tinggi, yang tidak bakal dialaminya kalau saja menurut naik bus. Dan kalau saja kami naik bus, perhentian kami adalah gerbang utama Parc Güell yang jalan masuknya tidak berupa anak-anak tangga itu. Eh, tapi saya lupa, Bu Apsanti itu terkecoh di Parc Güell atau di Alhambra yang di Granada, ya? Wah, mesti saya cek dulu nih di Granada, apa betul jalan masuknya juga curam. Doain ya mudah-mudahan sebelum akhir tahun ini saya sampai ke Granada : )!
Maka, sambil misuh-misuh saya terpaksa mendaki anak-anak tangga Parc Güell. Untungnya menjelang puncak tersedia fasilitas eskalator. Duh, pemerintah Barcelona ternyata ngertiin kesusahan turis pemalas kayak saya, ya, yang enggak biasa olahraga di Jakarta. Tapi enggak nyesel pakai acara gempor dan ngomel-ngomel dalam rangka menuju Parc Güell. Soalnya Parc Güell-nya cantik sekali! Enggak heran Meteor Garden 2 menjadikannya sebagai salah satu lokasi syuting - kata teman-teman saya lho, saya sih enggak banget nonton tuh serial!

Friday, April 6, 2007

Keliling Barcelona Jalan Kaki

Selain Habana Home, hostel tempat menginap 2 malam, tempat pertama yang saya tuju di Barcelona adalah Kantor Wisata Barcelona. Setelah mengitari Plaça Catalunya dengan bingung bersama Phanindra - kami mengira letaknya di antara sekian gedung yang berjejer di empat sisi Plaça Catalunya - akhirnya kami temukan kantor itu di bawah tanah! Kantor itu berpintu masuk di dua sudut Plaça Catalunya. Tinggal pilih, sudut yang di dekat department store El Corte Ingles (kalau enggak salah, kalau salah ya maap) atau sebaliknya.
Petugas di sana membekali saya dengan peta bus dan peta metro Barcelona. Mencermati peta itu, sepertinya tempat-tempat yang ingin saya kunjungi letaknya berjauhan. Tadinya malahan saya kira perlu naik metro dari Plaça Catalunya ke La Rambla. Ternyata, jarak antara stasiun metro Plaça Catalunya dan La Rambla paling jauh 200 meter! Konyol sekali, buang-buang uang 1,10 euro untuk selembar tiket metro sekali jalan.
Dari La Rambla, kawasan turis, sudah pasti harus ambil metro untuk mengunjungi Camp Nou (markasnya FC Barcelona), Zona Universitaria, La Sagrada Familia, dan Parc Guell. Dari Parc Guell yang menakjubkan - menurut saya ini tempat wisata dan pemandangan terbaik di Barcelona! Antonio Gaudi sungguh jenius -, saya dan teman jalan saya, Vicki, memutuskan tujuan berikutnya adalah Casa Battlo. Masih dengan metro, kami sampai di tempat itu, yang ternyata hanya bersimpangan jalan dengan La Pedrera-Casa Mila, masih bangunan kreasi Gaudi. Habis itu, Vicki mengajak menyusuri Passeig de Gracia. Menyenangkan, sebetulnya, apalagi mengingat area itu tidaklah sesumpek La Rambla. Masalahnya, kaki saya agak gempor! Maklum, baru dikejutkan banyaknya anak tangga curam yang harus saya daki di Parc Guell. Naik ke Sacré Coeur saja saya enggak habis-habis mengeluh, apalagi Parc Guell. Karena juga merasa agak letih, Vicki berinisiatif istirahat sejenak seraya minum teh di sebuah kafe.
Setelah minum teh, Vicki menunjuk ke belakang kafe, "Bukankah itu Arc de Triomf-nya Barcelona?" Ya, memang betul! Kami pun berjalan ke sana. Di balik Arc de Triomf, tampaklah Parc de la Ciutadella! Wah, senangnya melihat ada objek wisata saling berdekatan. Di bagian taman, setiap sudut dipadati orang. Ada yang duduk-duduk, tidur-tiduran, atau berkejar-kejaran dengan anjing. Makin jauh kami berjalan, kami menemukan Parc de la Ciutadella juga dihiasi danau kecil, yang berfungsi untuk tempat berdayung. Di sisi lainnya, ada monumen dan tempat sekian banyak pasangan berlatih menari! Vicki, yang datang ke Spanyol salah satunya untuk mempelajari tari flamenco, berhenti sesaat untuk menyaksikan mereka.
Keluar dari gerbang kebun binatang, yang bersebelahan dengan Parc de la Ciutadella, kami tiba di sekitar Pantai Barceloneta! Sayang saya tidak terlalu menyukai laut setelah tragedi Aceh. Tepi pantai kawasan itu, selain dipenuhi orang yang jalan-jalan dan sejumlah pedagang, juga dihuni bangunan persis mal. Seingat saya, di situ juga ada bioskop dan restoran. Natasha dan Helen makan malam bersama teman-teman mereka di restoran itu. Selesai dengan pantai, kami mencari jalan pulang. Dalam waktu dua setengah jam, Vicki harus berangkat ke Madrid. Kami pikir metro fasilitas terbaik untuk mengangkut kami kembali ke Habana Home. Tapi siapa sangka, pantai itu ternyata terletak di belakang kawasan La Rambla! Jadi, kami tak perlu pakai kendaraan untuk pulang. Dan saya agak kesal, karena tanpa saya sadari, saya menginap di area dekat pantai. Seperti yang saya sebutkan tadi, saya tak terlalu suka laut.
Kesimpulan saya, kalau ingin kunjungan di Barcelona efektif, di hari pertama, cukup kunjungi La Rambla-Plaça Catalunya-Barri Gotic-Passeig de Gracia-Arc de Triomf-Parc de la Ciutadella-Barceloneta. Di hari berikut, baru naik metro atau bus ke tempat-tempat lainnya. Jangan terlalu percaya pada peta, pakai insting saja. Walau sebetulnya berdekatan, lumayan melelahkan, lho. Tapi lumayan juga mengirit biaya metro yang untuk sehari sekitar 6 euro. Sepulang dari Barceloneta, Vicki membanggakan diri pada Natasha. "Tahu nggak, Natasha, aku waktu kembali ke sini nanti nggak akan naik bus hop on hop off (sehari 21 euro, dua hari 24 euro). Hari ini aku mendapatkan cukup banyak dengan naik metro," katanya.

Aroma Indonesia di Barcelona

Di Amsterdam, Belanda, banyak orang Indonesia, wajar - Indonesia-Belanda kan punya ikatan historis yang kuat. Di Paris juga wajar, apalagi di butik Louis Vuitton yang megah di Champs-Elysées - ternyata banyak orang Indonesia yang kaya, ya? Tapi di Barcelona, terus terang saya tak pernah menyangka. Ekspektasi saya di Barcelona, ngoceh dalam bahasa Spanyol dengan penduduk lokal dan makan paella (yang batal lantaran mesti menunggu dimasak selama 25 menit, sementara saya telanjur kelaparan). Nggak terbayang ketemu orang Indonesia atau menemukan hal-hal yang berbau Indonesia. Tapi Barcelona mengejutkan saya.

Bermula saat saya ikut Picasso Walking Tour yang diorganisir Kantor Informasi Turis Barcelona, 5 jam setelah tiba di Barcelona. Sebetulnya tur ini nggak ada dalam jadwal saya. Tapi sebagai komplimen atas pembelian Barcelona Card - kartu yang mempermudah saya dalam penggunaan transportasi lokal - di kantor turis, saya mendapat tur gratis. Saya sadar nggak tahu apa-apa soal Picasso. Tapi kalau lewar tur ini saya bisa mengenal tempat-tempat yang menarik, kenapa disia-siakan? Toh gratis. Jadi, selama 2 jam, saya dan sekitar 20-an turis - malangnya saya sendiri yang tanpa pasangan, huh - dipandu seorang guide perempuan, berjalan menyusuri Barri Gotic, area cantik yang dikelilingi bangunan-bangunan tua. Saya nggak menyesal deh ikut tur, walau kaki rada gempor karena belum sempat istirahat setelah 15 jam perjalanan dari Paris dengan bus. Saya jadi tahu kalau Pablo Picasso muda biasanya hang out di sebuah kafe yang cute, El Quatro Gats (bahasa Katalan, artinya The Four Cats). Tapi yang nggak pernah kepikiran, kenyataan bahwa tepat di seberang El Quatro Gats - hmmm, mungkin tepatnya di depan, wong jalannya sempit kok - berdiri sebuah tempat berlabel Betawi! Sementara turis lain sibuk memotret El Quatro Gats, saya satu-satunya yang pandangannya beralih ke lain tempat. Sambil berusaha mengintip ke dalam si Betawi, saya menerka-nerka tempat apa kiranya itu. Toko? Restoran? Saya menarik kesimpulan restoran, cuma dari namanya dan letaknya. Maksudnya letaknya yang di depan El Quatro Gats. Habis acara intip-mengintip saya nggak menghasilkan apa-apa. Tapi biar begitu saya cukup pede, Betawi itu betulan restoran. Buktinya ketika teman saya berniat ke Barcelona pada Desember 2005 dan minta rekomendasi rumah makan, dengan yakin saya menyebut Betawi. Tapi tanpa denah, soalnya saya nggak ingat. Di hari terakhir saya di Barcelona, 16 Mei 2005, saya sebetulnya ingin kembali ke sekitar El Quatro Gats dan Betawi - yang pertama buat kepentingan memotret El Quatro Gats, momen yang terlupakan gara-gara melihat Betawi, dan yang kedua karena penasaran betul tidak Betawi itu restoran. Tapi, ya itu, saya lupa jalan kembali ke sana. Tapi akhirnya rasa penasaran saya dijawab artikel tentang Barcelona yang dimuat harian Kompas sekitar 5 bulan lalu. Waktu itu saya berteriak-teriak girang, "Eh, benar kan, waktu itu yang gue lihat emang restoran Indonesia!"

Aroma Indonesia belum berhenti menguntit saya. Di Barcelona, saya tinggal di kamar hostel berkapasitas 6 perempuan - saya booking kamar khusus perempuan. Malam pertama menginap, saya pikir kamar sedikit lega, lantaran cuma dihuni 4 perempuan. Tapi toh kamar kami nggak lega-lega amat. Pasalnya ada 2 koper super besar, yang tergeletak begitu saja di tengah kamar, menghambat gerak kami. Yang mengherankan, 2 koper itu tak bertuan (apa mestinya tak bernyonya?). Maka seorang dari kami berinisiatif menyingkirkan koper-koper yang juga super berat itu keluar kamar, seizin staf hotel yang juga heran.

Tapi hanya sebentar 2 koper itu menghilang dari pandangan kami. Tiba-tiba masuk 2 perempuan, sembari menggotong koper-koper itu masuk kembali ke dalam kamar. Saya memperhatikan wajah mereka berdua. Rasanya kok familier. Yang satu agak gemuk, berkulit cokelat, berambut hitam. Satunya lagi tinggi kurus, berkulit putih, berambut kepirangan hasil cat. Orang Indonesia? Kejutan lagi. Tapi saya menunggu sampai mereka membuka mulut, untuk meyakinkan tebakan saya benar.

Setelah beberapa saat, harapan saya terkabul. Perempuan yang berkulit cokelat berkata, "Tasnya ditaruh di mana?" Positif, orang Indonesia! Saya langsung menyambar, "Mbak, dari Indonesia, ya?" Mereka sama terkejutnya. Mereka rupanya telah memperhatikan saya, tapi mengira saya asal Filipina. Sumpah, senang banget ketemu orang setanah air nun jauh di sana! Di Barcelona lagi. Makin senang lagi waktu tahu, ternyata kami punya teman yang sama. Dua cewek itu, Elma dan Grace, pernah sekantor dengan kakak teman saya, Risna. Nggak salah ada yang bilang, dunia cuma selebar daun kelor. Bukan kali pertama saya mengalami kejadian di atas. Di Meksiko 6,5 tahun lalu, saya pernah mengobrol dengan pengasuh anak seorang staf KBRI. Selidik demi selidik, ternyata dia tante seorang teman kuliah saya! Duh, sudah jauh-jauh, ketemunya bukan orang jauh.

Serangan Panik

Pada 14-16 Mei 2005, saya keliling Barcelona, Spanyol. Lima jam pertama di sana habis begitu saja buat mencari di mana hostel saya - dan setelah menemukannya pun, saya masih mesti bekerja keras membangunkan pemiliknya - dan ikut tur jalan kaki 2 jam di kawasan indah Barri Gotic. Saya terkagum-kagum mendapati sinagog dari abad ke-12 tersembunyi di sebuah jalan sempit, kalau tidak mau dibilang gang. Saya Muslim, tapi saya sangat menghargai betapa Barcelona merawat dengan baik warisan sejarah. Di ujung perjalanan, kami berhenti di sebuah tempat yang sangat bermakna buat pengagum Picasso, Museu Picasso atau Museum Picasso. Di situ disimpan rapi lukisan-lukisan karya sang maestro. Tapi saya memutuskan melewatkannya - toh saya bukan penggemar Picasso - dan bertanya pada sang pemandu bagaimana caranya kembali ke hostel. Dan pada poin ini saya mendapat kejutan tidak menyenangkan; katanya hari Senin (16 Mei) itu hari besar, jadi toko dan restoran di Barcelona tutup. Apaaaaaa???

Kalut - panik sebenarnya -, saya berjalan kembali ke hostel. Maklum deh ya, saya datang dengan informasi minim, jadi saya nggak menyangka kalau hari libur, toko-toko juga libur. Tapi kekalutan saya kontan berganti jadi optimisme, ketika seorang cewek London, Natasha, yang sekamar dengan saya di hostel, mengajak saya ke pasar dan supermarket dekat hostel. Yah, mungkin saja nggak ada restoran buka di hari libur, tapi setidaknya saya bisa menyetok makanan. Saking takut kelaparan, saya membeli tiga kotak kecil susu, dua botol besar air natural, sepotong sandwich (atau dua potong?), roti, dan yang paling konyol, sekantong besar Twix, yang berisi 20 keping cokelat! Eh, di supermarket itu saya nyaris melakukan kesalahan. Saya sempat lupa, di Eropa kasir tidak bertugas membungkus barang belanjaan. Untungnya saya ingat, sebelum tiba giliran pelanggan lain dilayani kasir. Kalau tidak, bisa-bisa saya didamprat.

Reaksi panik saya, seperti biasa, berlebihan. Natasha meyakinkan, nggak mungkin tujuan wisata sepopuler Barcelona menutup pintu dari turis, di hari libur sekalipun. Dia tertawa mendengar serangan panik saya, tapi dia, juga cewek-cewek lain yang sekamar, nggak bisa menolak Twix. Saya juga menawari seorang cewek New York, Vicki, buat membawa sebotol air natural saya untuk menemani perjalanannya ke Sevilla. Dan di hari Senin, tak ada pintu tertutup, setidaknya di area La Rambla, tempat hostel saya berada, dan Plaça Catalunya. Saya bisa membeli T-shirt buat adik saya di Hard Rock di Plaça Catalunya, dan tentunya makan siang saya di restoran lokal. Setelah mengagumi Barri Gotic sekali lagi - saya sempat tersesat sekali di jalan-jalannya yang sempit dan berliku-liku -, saya bertolak ke Sants untuk mengejar bus ke Paris. Hasta luego, Barcelona!