Mexico DF-Acapulco-Cuernavaca-San Juan de Teotihuacan-Tokyo (Narita)-Paris-Provins-Milan-Borgomanero-Orta San Giulio-Bologna-Rome-Vatican-Munich-Oberau-Mittenwald-Bad Tölz-Konstanz-Barcelona-Vaduz-Zürich-Salzburg-Amsterdam-Eindhoven-Maastricht-Prague-Bangkok-Pattaya-Singapore-Seoul-Jeonju-Yeosu-Busan-Medina-Mecca-Jeddah-Istanbul-y las ciudades en mi país Indonesia... Gracias por compartir conmigo los lugares maravillosos y tantas historias inolvidables. Y las cosas del corazón abierto.
Friday, June 1, 2007
Pop Mi dan Permen, Makanan Darurat
Thursday, May 31, 2007
Fernando Colunga
Pekerjaan menuntun (atau menuntut?) saya bertemu aktor yang - saya harus akui - sangat ganteng itu. Pertemuan pertama, November 2000, jadi memori menyebalkan. Soalnya dia kayaknya sadar akan kegantengan dan popularitasnya, jadi rada-rada belagu gitu, deh. Habis wawancara, dia lupa mengambil jaketnya yang tersandar di punggung sebuah kursi. Saya dan Enno, rekan kerja saya waktu itu, terus terang tak memperhatikan jaket itu. Kami sibuk ngobrolin hal lain. Sampai Fer teringat akan jaketnya dan kembali ke ruangan, kami belum beranjak. Dan dia dengan senyum dipaksa bilang begini, "Jaket saya ketinggalan. Nanti kalian ambil." Duh. SEBEEEEELLLLL! Lagian kami ini kan imut, jadi nggak mungkin pakai jaket segede gambreng itu.
Nah, kalau begitu ngerti kan, kalau saya malas ketemu Fer lagi. Tapi ya, tetap harus ditemui lagi, kalau nggak nanti pembaca protes. Jadi, dalam tugas kedua ke Meksiko, April 2003, saya kembali menjadwalkan wawancara dengan Fer. Karena guide saya yang juga menangani bagian talenta Televisa, Nagelly, sibuk, ia minta kurirnya, Jose Luis (kalau nggak salah), mengantar saya dan fotografer, Panji, menemui Fer di lokasi syutingnya. Tiba di sana, kru memberi tahu, Fer masih syuting. Kami (masih beserta Jose Luis) menunggu di lorong. Setelah 15 menitan, Fer keluar. Dan tak disangka ia langsung melabrak Jose Luis! Saya tak ingat persisnya kata-katanya dalam bahasa Spanyol, tapi kurang lebih begini, "Saya nggak suka diganggu kalau lagi syuting begini!" Ia tak peduli pembelaan diri Jose Luis. Saya mengamati kejadian itu dengan malas. Duh, kalau dia nggak mau diwawancara, masa bodoh, begitu pikir saya waktu itu.
Tapi kemudian yang tak disangka-sangka, terjadi lagi. Sehabis memarahi Jose Luis, tiba-tiba dia menghampiri saya. Saya kira dia mau mengusir, tapi sebaliknya, malah merangkul saya! Tutur katanya berbalik halus. "Hai, kalian dari mana? Kita wawancara di luar saja, ya, biar enak," sapanya dalam bahasa Inggris dengan ramah. Saya nyaris tak bisa berkata-kata saking herannya. Si Fer ini maunya apa, toh?
Kami pun berjalan keluar - dia masih merangkul saya - dan berhenti di luar lorong syuting yang cenderung tenang suasananya. Saya tak bisa menahan diri lagi. Saya tanya padanya, "Kenapa kau tadi memarahi Jose Luis?" Ganti dia yang heran. "Lho, memangnya kamu mengerti bahasa Spanyol?" Saya jawab apa adanya: ngerti tapi kalau ngomong parah - kecuali sama sopir taksi yang mana saya bisa pakai bahasa "pasar". Tapi dia "memaksa" saya, dengan kata-kata yang lebih manis lagi, "Kalau begitu, kamu harus wawancara saya pakai bahasa Spanyol. Ayolah, mumpung di Meksiko, kamu harus praktekkan bahasa Spanyol kamu." Mampus. Alhasil, hanya untuk 5 pertanyaan pertama saya sukses. Selebihnya balik lagi ke bahasa Inggris.
Kesan saya tentang Fer di dua wawancara berbanding terbalik. Yang pertama jengkel, yang kedua, awalnya memang jengkel gara-gara insiden Jose Luis, tapi kemudian kagum. Maksud saya, kok bisa Fer yang dulu saya kenal menjengkelkan, berubah begitu hangat? Apalagi dia menjelaskan alasan kemarahannya pada Jose Luis - sepertinya Nagelly bikin appointment dengan orang yang salah. Ya ampun, sumpah, kalau yang dikirim wawancara sama Fer adalah reporter cewek penggila telenovela, itu orang pasti bakalan melambung, melayang, terbang, apalah, mendengar tutur katanya yang halus dan manis selama menjawab pertanyaan. Tapi sayang yang dikirim saya, jadi nggak pengaruh-pengaruh amat. Ya, sejauh ini belum ada aktor telenovela yang betul-betul memukau saya. Tidak juga Mario Cimarro dan Michel Brown yang saya bilang nggak kalah ganteng itu, rasanya.
Kecanduan Apfelstrudel
![]() |
| Apfelstrudel di kafe rumah sakit di Jerman saja enaaaaaaakkknyaaaa... |
Jadilah selama 10 hari jalan-jalan, saya 4 kali menyantap apfelstrudel. Sampai teman saya, Dedes, bosan melihatnya. Payahnya, waktu mampir ke sebuah kafe di Salzburg, Austria, malah nggak ada menu apfelstrudel. Piye toh. Uniknya lagi, apfelstrudel terenak yang saya cicipi bukanlah di Jerman, melainkan di Liechtenstein! Itu lho, negeri kecil yang dibatasi Austria dan Swiss. Ya ampun, itu dessert terlezat seumur hidup yang pernah saya makan. Bodohnya, saya lupa memotret apfelstrudel ala Liechtenstein itu. Bentuknya cantik sekali - apfelstrudel bujursangkar dihiasi potongan stroberi, dengan sekeliling piringnya berlumur saus vanila! Saya menikmati lamat-lamat apfelstrudel itu, tak ingin kehilangan sensasi setiap potongnya. Setelah itu, apfelstrudel atau dessert lain lewat begitu saja di mulut saya; belum ada yang bisa mengalahkan apfelstrudel Liechtenstein. Tidak di Jerman, tidak juga di Swiss. Di Jakarta dan Bali, saya juga belum lagi melihat dessert seindah dan senikmat itu. Tidak juga sizzling brownies-nya Queen's Tandoor, yang saya puja-puji waktu jalan ke Bali April lalu.
Pencopet di Metro Paris
Metro Paris sebenarnya tergolong apik. Tak ada pengamen atau pengemis berkeluyuran, seperti di Barcelona atau Mexico DF. Penumpang yang rasnya berbeda-beda - Paris kota yang sangat multikultural - pun tak perlu ditakuti. Makanya, selama tiga hari pertama di Paris, apalagi ke mana-mana ditemani Sandy, saya merasa aman-aman saja. Toh tampang saya agak bule, bukan yang menarik pandangan dan komentar usil cowok-cowok Paris yang suka cewek eksotis asal Asia - eh, itu menurut teman-teman saya yang tinggal di Eropa lho. Dan biarpun nggak fasih, saya mengerti bahasa Prancis. Miskomunikasi mestinya gampang teratasi.
Makanya, waktu dilepas teman Sandy, Sam, untuk balik dari zona universitas Paris ke apartemen Sandy yang terletak di ujung kota lain, tepatnya di zona banlieu Ermont-Eaubonne, saya santai-santai saja. Mulanya sih sempat cemas. Bagaimana rasanya, ya, naik metro sendirian di tempat yang asing? Di perjalanan dari zona universitas ke Gare du Nord, lancar-lancar saja. Walau kelabakan mencari terminal RER B di Gare du Nord, saya juga nggak kalut. Kalau sampai nggak ketemu, bisa tanya, 'kan? Ya, sudah, begitu menemukan jalur RER B, saya naiki metro bertingkat itu dengan tenang dan ambil bangku di bagian bawah, paling dekat dengan pintu.
Di Saint-Denis, perhentian pertama setelah Gare du Nord, tahu-tahu duduklah dua cowok berkulit hitam berhadapan dengan saya. Tapi hanya beberapa detik, mereka meninggalkan bangku itu. Sebagai gantinya, duduklah cowok berkulit hitam yang lain. Tahu-tahu, kejadian ini berlangsung secepat kilat, cowok hitam kurus itu menghilang dari hadapan saya. Dengan cara menghilangnya saja, saya takjub. Makin takjub lagi begitu sadar, cowok itu menghilang bersama ponsel yang dipakai seorang wanita berkulit hitam di bangku deretan berikutnya! Oh-mi-God. Berarti, cowok tadi pencopet! Saya kontan merinding. Hiii, ternyata metro Paris nggak aman dari sentuhan pencopet! Ketakutan saya pun menjadi. Saya mencengkeram tas makin erat. Selain paspor, di situ ada uang sedikit, kamera, dan ponsel juga! Yah, nggak seberapa mahal sih, tapi itulah hartanya traveler.
Saya lantas menguping perbincangan antara tiga orang kulit hitam yang duduk di deretan bangku di samping saya. Mereka menasihati wanita tadi agar jangan sekali-kali membuka ponsel di stasiun maupun kereta. Saya mencoba ikut masuk pembicaraan dengan bertanya, "Excusez-moi, je suis étrangère ici, cela se passe souvent dans le train?" Cieeehh, gaya bener, ngoceh pakai bahasa Prancis! Eits, tapi saya tanya begitu bukan karena mau gaya, melainkan lantaran benar-benar ketakutan. Salah satu dari mereka menyuruh saya melupakan kejadian itu, agar perjalanan saya di Paris tidak terbebani. Saya sih tidak bisa lupa. Tapi tidak sampai membuat saya pantang naik metro. Malah di perjalanan-perjalanan berikutnya, Roma dan Barcelona, saya ketagihan naik metro. Cuma, ya, mesti ekstra hati-hati. Ketika saya ceritakan soal pencopet tadi begitu sampai di apartemennya, Sandy kaget. "Gue di sini nggak pernah ketemu copet, eh, kok lo malah ketemu!" katanya heran. Dan ketika adik saya mampir di Paris akhir April kemarin, satu nasihat saya buatnya: "Awas copet!"
Bandara Munich
"Do you speak English?"
"Yes."
"Do you ..." (saya tidak bisa menangkap suara petugas pabean dari balik jendela kacanya)
"Excuse me?"
(Petugas itu kemudian mengajukan sekitar empat pertanyaan lagi, tapi saya tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya. Ia kemudian mengamati saya dengan cermat, memastikan saya dan sosok dalam foto paspor orang yang sama).
"Alright, you go," kata sang petugas, memasrahkan saya masuk ke Munich tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan pentingnya - saya menjawab pertanyaan paling tak penting yang diajukannya.
Antrean Keberangkatan Bandara Franz Josef Strauss, Munich, 11 Juni 2006, 11.00 waktu setempat.
(Sang petugas yang berkacamata dan berambut pendek keemasan, he's cute somehow, memelototi saya dari atas ke bawah. Saya mengerti setiap kata dalam bahasa Inggris yang diucapkannya, dengan nada menyelidik, jadi dialog berikut tak perlu saya tulis dalam bahasa Inggris).
"Anda bicara bahasa Inggris?"
"Ya."
"Apa tujuan Anda datang ke Munich?"
"Pariwisata."
"Datang bersama siapa?"
"Sendiri, tapi saya di sini tinggal bersama teman saya."
"Bersama siapa Anda berwisata?"
"Bersama dua teman saya yang tinggal di sini."
"Berapa lama Anda di sini?"
"Satu setengah minggu." (sebetulnya saya waktu itu lupa berapa lama, jadi saya jawab sekadarnya. Untungnya benar).
Ada satu pertanyaan lagi, tapi saya tak ingat. Soalnya saya telanjur sebal. Wong waktu masuk Munich saja tak susah (gara-gara saya tak mengerti apa yang ditanyakan, sih, hihihi), mau pulang kok repot. Huh. Untungnya petugas itu lumayan oke tampangnya, walaupun kaku, jadi saya nggak bete-bete amat.
Trauma Keju Kambing
Keju pertama, rasa bawang putih. Wah, ini sih enak. Kecuali dalam bentuk aslinya, saya umumnya suka makanan yang berasa bawang putih. Yang kedua, keju khas Prancis yang aromanya sangat kuat, Roquefort. "Orang Indonesia belum tentu suka. Orang Prancis saja nggak semua suka," kata Sandy. Dan memang saya tidak suka. Sulit mendeskripsikan rasanya. Pokoknya nggak asin, seperti keju di sini. Dan pokoknya nggak enak! Yang terakhir, oh, oh, keju kambing! Saya malas menyentuh, karena nggak doyan makan segala yang ada kambingnya. "Gue dulu juga nggak suka kambing. Tapi sejak makan keju ini, gue suka," Sandy berpromosi. Yaaah, nggak ada salahnya dicoba, toh kapan lagi ketemu keju macam ini, kalau bukan di Prancis? Saya iris sedikit keju berbentuk bulatan gepeng itu. Rasanya? Dengan pertimbangan kesopanan terhadap Sandy dan Julien, saya paksakan diri menelan irisan keju kambing itu. Padahal, maunya sih saya muntahkan! Sandy dan Julien tertawa melihat reaksi saya. Saya dorong keju kambing itu menjauh, dan sebagai gantinya kembali mengambil keju bawang putih. Dan dengan agak terburu-buru saya oleskan keju bawang putih ke atas baguette, lalu segera saya santap untuk melenyapkan aroma kambing keparat yang masih lengket di lidah.
Kasus keju kambing ini kembali saya temui sehari menjelang kepulangan saya ke Jakarta, 17 Mei 2005. Karena lapar dan kedinginan pas jalan-jalan, sudah jam 10 malam pula, saya minta Sandy mengantar beli crêpe. Kami lantas ke area Saint-Michel. Sandy membeli panini dengan isi campuran keju, saya mencoba crêpe rasa marron, sejenis kacang merah, yang kata Sandy crêpe khas Prancis. Di Stasiun Saint-Michel, sembari menunggu RER B yang lewat 30 menit sekali kalau sudah malam, Sandy menawari saya, yang sudah menghabiskan crêpe, untuk sedikit mencicipi panini-nya. Sialnya, panini yang saya gigit berisi keju kambing! "Padahal gue dari tadi cari-cari keju kambing, malah lo yang dapat!" ceplos Sandy menertawakan saya. Keju kambing keparat!
Euro
Maka, saya dapati orang-orang Jerman menyebut euro "o-i-ro". Di Spanyol seperti adanya tertulis, "e-u-ro". Demikian pula di Italia. Tapi, bergaul beberapa minggu dengan euro tetap tidak membuat saya pintar. Saya tetap susah membedakan koin euro: mana yang nilainya 5 sen, 10 sen, 20 sen, 50 sen, atau 1-2 euro. Jadi, kalau saya kebetulan sedang jalan dengan teman saya, begitu tiba waktunya membayar sesuatu, saya suruh saja teman saya yang menghitung. Seperti saat saya dan Widya, teman saya yang waktu itu masih bekerja di KBRI Roma, membeli es krim di dekat Vatikan. "Udah Wid, lo aja yang ngitung, pusing gue ngebedainnya," kata saya kepada Widya yang memaklumi. Bukan maksud saya seenaknya, Wid, cuma, ya saya sudah terlalu pusing membaca peta, jadi tak sempat memikirkan koin euro!
Monday, May 28, 2007
Ojalá
Saturday, April 7, 2007
Naik-naik ke Puncak... Parc Güell
Di lingkungan saya di Jakarta, saya memang terbilang nekat. Bisa-bisanya keliling Eropa sendiri. Ya bisalah kalau niat dan minat! Soal berani atau tidak, sudah enggak kepikir lagi sama saya. Pokoknya saya mau jalan-jalan di Eropa sendiri, titik. Masalahnya saya enggak terbiasa dengan pola hidup masyarakat Eropa. Makanya, kalau bukan karena jasa Vicki, saya mungkin enggak akan sampai tuh jalan-jalan di Camp Nou dan Parc Güell. Habis saya enggak terbiasa baca peta metro. Eh, mestinya saya lebih hebat, ya, karena sudah menaklukkan angkutan umum di Jakarta yang boro-boro ada petanya, hehehe.
Bersama Vicki, salah satu tujuan wisata kami adalah Parc Güell, taman yang tersusun atas bangunan-bangunan unik kreasi Antonio Gaudi. Nah, dari Camp Nou, atas saran Vicki, kami turun di perhentian metro Lesseps. Kalau mencermati peta metro nih, Lesseps itu sepertinya jaraknya tak jauh dari Parc Güell. Saya setuju. Makin senang kami ketika begitu keluar dari Lesseps membaca petunjuk jalan yang mewartakan, jarak ke Parc Güell hanya 450 meter. "Wah, sepertinya lebih dekat ketimbang jarak dalam peta!" kata saya girang. "Iya, kadang-kadang peta itu menipu," timpal Vicki sepakat.
Apa betul Parc Güell sedekat itu dari Lesseps? Mestinya begitu. Kalau saja kami tidak dihadang kurang lebih 100 anak tangga yang menjulang tinggi! Damn. Begitu berdiri di kaki tangga a.k.a jalan masuk menuju Parc Güell, saya nyaris menjerit histeris. Ya ampun, apa kurang tuh naik-naik ke puncak Sacré Coeur di Paris dan Provins? "Ya ampun, ini yang dimaksud dosen saya!" Maksud saya, Bu Apsanti, yang dulu mengajar saya di Sastra Prancis UI. Dia pernah cerita, disarankan naik bus ke sebuah objek wisata di Spanyol, alih-alih metro. Tapi ia ngeyel dan memutuskan naik metro saja, karena menurutnya lebih simpel. Tentu, ia salah pilih kendaraan, karena seturun dari metro mesti mendaki jalan naik yang menjulang tinggi, yang tidak bakal dialaminya kalau saja menurut naik bus. Dan kalau saja kami naik bus, perhentian kami adalah gerbang utama Parc Güell yang jalan masuknya tidak berupa anak-anak tangga itu. Eh, tapi saya lupa, Bu Apsanti itu terkecoh di Parc Güell atau di Alhambra yang di Granada, ya? Wah, mesti saya cek dulu nih di Granada, apa betul jalan masuknya juga curam. Doain ya mudah-mudahan sebelum akhir tahun ini saya sampai ke Granada : )!
Maka, sambil misuh-misuh saya terpaksa mendaki anak-anak tangga Parc Güell. Untungnya menjelang puncak tersedia fasilitas eskalator. Duh, pemerintah Barcelona ternyata ngertiin kesusahan turis pemalas kayak saya, ya, yang enggak biasa olahraga di Jakarta. Tapi enggak nyesel pakai acara gempor dan ngomel-ngomel dalam rangka menuju Parc Güell. Soalnya Parc Güell-nya cantik sekali! Enggak heran Meteor Garden 2 menjadikannya sebagai salah satu lokasi syuting - kata teman-teman saya lho, saya sih enggak banget nonton tuh serial!
Friday, April 6, 2007
Keliling Barcelona Jalan Kaki
Petugas di sana membekali saya dengan peta bus dan peta metro Barcelona. Mencermati peta itu, sepertinya tempat-tempat yang ingin saya kunjungi letaknya berjauhan. Tadinya malahan saya kira perlu naik metro dari Plaça Catalunya ke La Rambla. Ternyata, jarak antara stasiun metro Plaça Catalunya dan La Rambla paling jauh 200 meter! Konyol sekali, buang-buang uang 1,10 euro untuk selembar tiket metro sekali jalan.
Aroma Indonesia di Barcelona
Di Amsterdam, Belanda, banyak orang Indonesia, wajar - Indonesia-Belanda kan punya ikatan historis yang kuat. Di Paris juga wajar, apalagi di butik Louis Vuitton yang megah di Champs-Elysées - ternyata banyak orang Indonesia yang kaya, ya? Tapi di Barcelona, terus terang saya tak pernah menyangka. Ekspektasi saya di Barcelona, ngoceh dalam bahasa Spanyol dengan penduduk lokal dan makan paella (yang batal lantaran mesti menunggu dimasak selama 25 menit, sementara saya telanjur kelaparan). Nggak terbayang ketemu orang Indonesia atau menemukan hal-hal yang berbau Indonesia. Tapi Barcelona mengejutkan saya.
Bermula saat saya ikut Picasso Walking Tour yang diorganisir Kantor Informasi Turis Barcelona, 5 jam setelah tiba di Barcelona. Sebetulnya tur ini nggak ada dalam jadwal saya. Tapi sebagai komplimen atas pembelian Barcelona Card - kartu yang mempermudah saya dalam penggunaan transportasi lokal - di kantor turis, saya mendapat tur gratis. Saya sadar nggak tahu apa-apa soal Picasso. Tapi kalau lewar tur ini saya bisa mengenal tempat-tempat yang menarik, kenapa disia-siakan? Toh gratis. Jadi, selama 2 jam, saya dan sekitar 20-an turis - malangnya saya sendiri yang tanpa pasangan, huh - dipandu seorang guide perempuan, berjalan menyusuri Barri Gotic, area cantik yang dikelilingi bangunan-bangunan tua. Saya nggak menyesal deh ikut tur, walau kaki rada gempor karena belum sempat istirahat setelah 15 jam perjalanan dari Paris dengan bus. Saya jadi tahu kalau Pablo Picasso muda biasanya hang out di sebuah kafe yang cute, El Quatro Gats (bahasa Katalan, artinya The Four Cats). Tapi yang nggak pernah kepikiran, kenyataan bahwa tepat di seberang El Quatro Gats - hmmm, mungkin tepatnya di depan, wong jalannya sempit kok - berdiri sebuah tempat berlabel Betawi! Sementara turis lain sibuk memotret El Quatro Gats, saya satu-satunya yang pandangannya beralih ke lain tempat. Sambil berusaha mengintip ke dalam si Betawi, saya menerka-nerka tempat apa kiranya itu. Toko? Restoran? Saya menarik kesimpulan restoran, cuma dari namanya dan letaknya. Maksudnya letaknya yang di depan El Quatro Gats. Habis acara intip-mengintip saya nggak menghasilkan apa-apa. Tapi biar begitu saya cukup pede, Betawi itu betulan restoran. Buktinya ketika teman saya berniat ke Barcelona pada Desember 2005 dan minta rekomendasi rumah makan, dengan yakin saya menyebut Betawi. Tapi tanpa denah, soalnya saya nggak ingat. Di hari terakhir saya di Barcelona, 16 Mei 2005, saya sebetulnya ingin kembali ke sekitar El Quatro Gats dan Betawi - yang pertama buat kepentingan memotret El Quatro Gats, momen yang terlupakan gara-gara melihat Betawi, dan yang kedua karena penasaran betul tidak Betawi itu restoran. Tapi, ya itu, saya lupa jalan kembali ke sana. Tapi akhirnya rasa penasaran saya dijawab artikel tentang Barcelona yang dimuat harian Kompas sekitar 5 bulan lalu. Waktu itu saya berteriak-teriak girang, "Eh, benar kan, waktu itu yang gue lihat emang restoran Indonesia!"
Aroma Indonesia belum berhenti menguntit saya. Di Barcelona, saya tinggal di kamar hostel berkapasitas 6 perempuan - saya booking kamar khusus perempuan. Malam pertama menginap, saya pikir kamar sedikit lega, lantaran cuma dihuni 4 perempuan. Tapi toh kamar kami nggak lega-lega amat. Pasalnya ada 2 koper super besar, yang tergeletak begitu saja di tengah kamar, menghambat gerak kami. Yang mengherankan, 2 koper itu tak bertuan (apa mestinya tak bernyonya?). Maka seorang dari kami berinisiatif menyingkirkan koper-koper yang juga super berat itu keluar kamar, seizin staf hotel yang juga heran.
Tapi hanya sebentar 2 koper itu menghilang dari pandangan kami. Tiba-tiba masuk 2 perempuan, sembari menggotong koper-koper itu masuk kembali ke dalam kamar. Saya memperhatikan wajah mereka berdua. Rasanya kok familier. Yang satu agak gemuk, berkulit cokelat, berambut hitam. Satunya lagi tinggi kurus, berkulit putih, berambut kepirangan hasil cat. Orang Indonesia? Kejutan lagi. Tapi saya menunggu sampai mereka membuka mulut, untuk meyakinkan tebakan saya benar.
Setelah beberapa saat, harapan saya terkabul. Perempuan yang berkulit cokelat berkata, "Tasnya ditaruh di mana?" Positif, orang Indonesia! Saya langsung menyambar, "Mbak, dari Indonesia, ya?" Mereka sama terkejutnya. Mereka rupanya telah memperhatikan saya, tapi mengira saya asal Filipina. Sumpah, senang banget ketemu orang setanah air nun jauh di sana! Di Barcelona lagi. Makin senang lagi waktu tahu, ternyata kami punya teman yang sama. Dua cewek itu, Elma dan Grace, pernah sekantor dengan kakak teman saya, Risna. Nggak salah ada yang bilang, dunia cuma selebar daun kelor. Bukan kali pertama saya mengalami kejadian di atas. Di Meksiko 6,5 tahun lalu, saya pernah mengobrol dengan pengasuh anak seorang staf KBRI. Selidik demi selidik, ternyata dia tante seorang teman kuliah saya! Duh, sudah jauh-jauh, ketemunya bukan orang jauh.
Serangan Panik
Pada 14-16 Mei 2005, saya keliling Barcelona, Spanyol. Lima jam pertama di sana habis begitu saja buat mencari di mana hostel saya - dan setelah menemukannya pun, saya masih mesti bekerja keras membangunkan pemiliknya - dan ikut tur jalan kaki 2 jam di kawasan indah Barri Gotic. Saya terkagum-kagum mendapati sinagog dari abad ke-12 tersembunyi di sebuah jalan sempit, kalau tidak mau dibilang gang. Saya Muslim, tapi saya sangat menghargai betapa Barcelona merawat dengan baik warisan sejarah. Di ujung perjalanan, kami berhenti di sebuah tempat yang sangat bermakna buat pengagum Picasso, Museu Picasso atau Museum Picasso. Di situ disimpan rapi lukisan-lukisan karya sang maestro. Tapi saya memutuskan melewatkannya - toh saya bukan penggemar Picasso - dan bertanya pada sang pemandu bagaimana caranya kembali ke hostel. Dan pada poin ini saya mendapat kejutan tidak menyenangkan; katanya hari Senin (16 Mei) itu hari besar, jadi toko dan restoran di Barcelona tutup. Apaaaaaa???
Kalut - panik sebenarnya -, saya berjalan kembali ke hostel. Maklum deh ya, saya datang dengan informasi minim, jadi saya nggak menyangka kalau hari libur, toko-toko juga libur. Tapi kekalutan saya kontan berganti jadi optimisme, ketika seorang cewek London, Natasha, yang sekamar dengan saya di hostel, mengajak saya ke pasar dan supermarket dekat hostel. Yah, mungkin saja nggak ada restoran buka di hari libur, tapi setidaknya saya bisa menyetok makanan. Saking takut kelaparan, saya membeli tiga kotak kecil susu, dua botol besar air natural, sepotong sandwich (atau dua potong?), roti, dan yang paling konyol, sekantong besar Twix, yang berisi 20 keping cokelat! Eh, di supermarket itu saya nyaris melakukan kesalahan. Saya sempat lupa, di Eropa kasir tidak bertugas membungkus barang belanjaan. Untungnya saya ingat, sebelum tiba giliran pelanggan lain dilayani kasir. Kalau tidak, bisa-bisa saya didamprat.
Reaksi panik saya, seperti biasa, berlebihan. Natasha meyakinkan, nggak mungkin tujuan wisata sepopuler Barcelona menutup pintu dari turis, di hari libur sekalipun. Dia tertawa mendengar serangan panik saya, tapi dia, juga cewek-cewek lain yang sekamar, nggak bisa menolak Twix. Saya juga menawari seorang cewek New York, Vicki, buat membawa sebotol air natural saya untuk menemani perjalanannya ke Sevilla. Dan di hari Senin, tak ada pintu tertutup, setidaknya di area La Rambla, tempat hostel saya berada, dan Plaça Catalunya. Saya bisa membeli T-shirt buat adik saya di Hard Rock di Plaça Catalunya, dan tentunya makan siang saya di restoran lokal. Setelah mengagumi Barri Gotic sekali lagi - saya sempat tersesat sekali di jalan-jalannya yang sempit dan berliku-liku -, saya bertolak ke Sants untuk mengejar bus ke Paris. Hasta luego, Barcelona!
