Monday, September 3, 2007

Sopir-sopir Taksi Meksiko

Yang juga saya rindukan dari Meksiko, agak aneh sih, sopir-sopir taksinya! Iya, beneran. Mereka yang berjasa melatih bahasa Spanyol saya sewaktu di Meksiko. Mereka betul-betul suka mengobrol! Berawal dari ketertarikan mereka pada bahasa asing - Indonesia maksudnya - yang saya dan Panji pakai waktu mengobrol di taksi. Biasanya mereka menanyakan dari mana asal kami, pakai bahasa Spanyol - duh kayak kami ngerti aja ya! Untungnya pertanyaan simpel macam begitu sih, saya masih ngerti.
Yang kami obrolkan, macam-macam. Telenovela sudah pasti. Biasanya mereka tanya, telenovela apa saja (waktu itu) yang sedang ditayangkan di Indonesia. Walau bangga produk mereka laku di negara nun jauh di sana, tak jarang yang mengecam telenovela Meksiko yang ceritanya cinta segi tiga standar. Misalnya sopir taksi merah - bukan hijau gonjreng - yang biasanya mangkal di hotel atau terima pesanan lewat telepon - yang mengantar saya pulang dari rumah Mbak Ratna. Dia mengaku bosan dengan telenovela Meksiko, dan lebih suka telenovela Kolombia macam Betty la Fea (duh, sama kayak Guritno!). Perbincangan paling enggak nyambung barangkali saya lakukan dengan seorang sopir yang mengantar kami ke Televisa. Kami ngobrolin soal agama! Eits, enggak yang dalam-dalam lho. Dia cuma pengin tahu, ada berapa agama di Indonesia, soalnya kalau di Meksiko, kan kebanyakan penganut Katolik. Waktu saya bilang ada 5 (mestinya 6 ya, maaf) dan saya sebutkan satu per satu, dia kelihatan senang sekali. Ternyata, dia pengoleksi patung Buddha! "Iya, di rumah saya ada patung-patung Buddha. Wah, saya senang dengar di negeri kamu ada agama Buddha!" Halah, enggak penting, ya? Tapi kunjungan saya ke Meksiko di tahun 2003 itu memang menyenangkan dan mengesankan. Bayangkan, dalam kunjungan 3 tahun sebelumnya, pada mereka saya cuma bisa berucap derecha, izquierda! Kanan, kiri!

Piramida 1 Juta Rupiah

Ini ongkos jalan-jalan termahal ke sebuah tempat wisata yang pernah saya keluarkan. 1 juta rupiah! Gara-garanya, ngiler lihat piramida. Konon piramida di dunia ini cuma ada di 2 negara, Mesir dan Meksiko. Mumpung di Meksiko dan piramidanya nggak terlalu jauh, sekitar 40 km dari Mexico City, kapan lagi? Tapi repotnya, gara-gara saya mau ikut, menyewa satu taksi saja nggak cukup. Sudah barang tentu, apalagi dalam rombongan, kan ada Mas Robi yang ibaratnya "Big Mac" dalam menu McDonald's, hehehe. Ditambah lagi kalau kami berangkat pakai taksi gonjreng yang suka kelihatan di telenovela-telenovela itu, yang sedikit mungil dibanding taksi lain. Mas Robi yang ketua rombongan sih nggak keberatan saya ikut, tapi syaratnya saya harus membayar sewa satu taksi lain, bolak-balik kalau dikurs 1 juta rupiah! Berhubung sebetulnya saya enggak ada kepentingannya dalam perjalanan itu dibanding anggota rombongan yang lain, saya mengalah. Satu juta memang berat, tapi lihat piramida itu pengalaman unik yang belum tentu pernah saya peroleh lagi. Padahal rada-rada sebal juga sih, apalagi Mas Robi ikut taksi saya, huehehehehehe...
Maka berangkatlah saya, Mas Robi, dan Dulce dalam satu taksi, dengan Haris dan Enno di taksi lain berikut kamera, ke Teotihuacan, yang pada zaman SM konon merupakan kawasan tempat tinggal suatu bangsa - katanya juga sampai hari ini belum diketahui bangsa apa yang dulu menduduki Teotihuacan, tempat berdiri tegaknya sejumlah bangunan termasuk Piramida Matahari. Setelah hampir 1 jam perjalanan dari Mexico City - si Panji Gundul Pacul enggak ikut soalnya dia lebih memilih mencari sepatu kulit yang akhirnya gagal dia dapatkan juga, hahaha - kami pun mengantre membeli tiket masuk Teotihuacan. Enggak mahal, tapi saya lupa harganya, pastinya enggak lebih dari 100 peso (100 ribu rupiah). Eh, tapi tidak semua dari rombongan kami boleh masuk ke dalam kawasan Teotihuacan. Karena tak punya izin merekam pemandangan di dalam, Haris yang pegang kamera tidak boleh masuk! Wah, saya sempat ragu-ragu masuk, masa iya ditinggal? Tapi 1 juta bo! Mas Robi akhirnya membiarkan kami masuk. Ia, sebagai pimpinan yang bertanggung jawab, menemani anak buahnya yang tak boleh masuk.
Di dalam, apa lagi yang kami lakukan kalau bukan berfoto-foto. Dasar si Enno, dia menertawakan Haris dan Mas Robi yang terdampar di luar. Tapi kami juga tak lama-lama di dalam. Paling lama setengah jam, kami meninggalkan Teotihuacan. Alasannya dua. Pertama enggak enak hati dong ingat Mas Robi dan Haris. Kedua, panas bo! Kami akhirnya enggak jadi berjalan mendekati Piramida Matahari. Sudah jalannya panjang, panas lagi. Kami sudah cukup puas berfoto dengan latar belakang piramida itu. Malah Dulce sempat berpesan agar mengirimkan foto-fotonya di Teotihuacan kepada pacarnya (sekarang suaminya) yang orang Yogyakarta, Fitra. Adaaaaa... aja.

Di Swiss atau Italia Sih Ini?

Begini nih kalau pergi ke luar negeri tanpa persiapan matang. Serbaenggak tahu dan serbapanik! Sebagai pemegang visa Schengen pada 2005, saya leluasa menjelajahi negara Eropa Barat mana pun. Kecuali satu: Swiss - yang baru bergabung dengan area Schengen pada 2008. Makanya, saya usahakan agar alat transportasi apa pun yang saya pakai, tidak melewati negeri cantik yang berselimutkan pegunungan Alpen itu. Biar enggak pakai acara transit, cuma numpang lewat pakai kereta doang, katanya enggak boleh lho lewat Swiss tanpa visa Swiss.
Tapi walau sudah diyakinkan teman saya, Risna, perjalanan kereta dari Roma, Italia, menuju Munich, Jerman, itu tidak melewati Swiss, tak urung saya kaget plus panik juga saat kereta bergerak mengarah ke area utara Italia yang kemudian saya ketahui bernama Alto Adige. Panik campur kagum, sih. Soalnya, sumpah, daerah itu enggak kalah cantik dari Swiss yang waktu itu saya "takuti"! Pegunungan Dolomite yang puncaknya bersalju, bagian dari rangkaian pegunungan Alpen (ini saya juga baru tahu belakangan) hanya berjarak beberapa meter saja dari balik kereta Trenitalia, yang salah satu penumpangnya saya ini! Gila, pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat seumur hidup! Pemandangan "tak terlupakan" di Barcelona kalah deh, hehehe. Hampir sepanjang jalan menuju Alto Adige, mata saya tertancap pada si Dolomite yang luar biasa itu. Kecuali pada beberapa saat tertentu. Seperti saya tulis di atas, saya baru tahu belakangan, yang saya lewati adalah area Alto Adige, masih di utara Italia. Nah, waktu itu, saya pikir saya sedang menyusuri area Swiss!
Kenapa saya berpikir begitu? Yang memberatkan pikiran, papan nama yang tergantung di beberapa stasiun yang dilewati Trenitalia Roma-Munich: Bolzano/Bozen atau Bressanone/Brixen. Saya tahu Bolzano dan Bressanone adalah tipikal nama kota dalam bahasa Italia. Tapi saya pun juga tahu kalau Bozen atau Brixen tipikal nama kota dalam bahasa Jerman. Dan saya enggak tahu orang-orang di Italia utara sebagian besar juga berbahasa Jerman (betul, wawasan saya payah banget!). Jadi, saya pikir kereta Trenitalia sedang berada di jalur kereta Swiss, yang sebagian penduduknya berbahasa Jerman, sebagian lagi berbahasa Italia (ada lagi yang sebagian berbahasa Prancis, tapi di wilayah Barat, jadi tak saya perhitungkan). Jadi, sambil mengagumi Dolomite, sambil cemas juga. Takut sewaktu-waktu ada petugas menagih visa Swiss ke dalam kompartemen, yang saya tempati bersama 5 orang berbahasa Jerman (yang belakangan saya ketahui, semuanya orang Austria). Saya baru lega saat kereta berhenti di stasiun dengan papan putih besar bertuliskan "Innsbruck". Fiuhhh... Austria! Dan barulah beberapa menit kereta beranjak dari Innsbruck, petugas perbatasan Italia-Austria menanyakan visa. Visa Schengen tentunya.

Saturday, September 1, 2007

Pemandangan Pertama Yang "Tak Terlupakan"

Barcelona memang menyimpan sejuta cerita. Teman saya, Endah, kecopetan 700 euro di salah satu kota tercantik di Eropa itu. Padahal dia sedang tidak jalan-jalan di La Rambla, kawasan teramai, melainkan di dekat markas FC Barcelona, Camp Nou. Waktu mencari Camp Nou, saya dan Vicki sempat lewat area sepi. Tapi alhamdulillah aman-aman saja. Jadi, cerita apa yang saya bawa dari Barcelona? Hmmm, menonton dua sejoli ML di tempat umum!
Pemandangan ini malah bisa dibilang pemandangan sungguhan pertama saya di Barcelona. Jadi ceritanya, waktu tiba di Barcelona jam 05.30 pagi, saya dan seorang cowok India yang saya kenal di bus Eurolines, Phanindra, langsung sibuk mencari jalan menuju kantor wisata Barcelona yang terletak di Plaça Catalunya. Sekitar setengah jam kemudian, dari Stasiun Sants, yang juga jadi terminal Eurolines, kami tiba di Stasiun Catalunya. Meniti tangga ke atas stasiun metro yang terletak di bawah tanah itu, sampailah kami di Plaça Catalunya. Karena belum menemukan letak si kantor wisata itu, beristirahatlah kami sejenak di salah satu sudut Plaça Catalunya. Di seberang kami terlihat tiga tempat duduk umum. Yang paling kiri ditempati beberapa turis asal Jepang yang sedang sibuk berfoto-foto dan mengecek hasil foto. Yang paling kanan kosong. Yang tengah? Nah, inilah yang membuat kami terbengong-bengong. Di bangku tengah itu tengah asyik ML dua sejoli, dengan sang cowok duduk di bangku dan sang cewek di pangkuannya! Nah lho. Saking kagetnya, saya dan Phanindra tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Mana tambah lama, tambah hot lagi. Waduh, kacau. Enggak apa-apa kalau saya lagi ada di situ sendirian atau dengan teman baik saya. Nah, ini kan masalahnya sama cowok India yang baru saya kenal beberapa jam. Maksudnya takut tergoda, gitu? Ya bukan begitu dan enggak banget atuh... cuma berasa goblok diem-dieman di situ, sementara kalau sama teman baik, kan bisa asyik cekikikan. Dan kayaknya si Phanindra juga malu hati tuh. Sampai akhir perjalanan bareng kami, kami tak membahas pemandangan itu. Tak lama juga kami berada di situ. Belum lagi permainan ML itu selesai, kami bangkit dan memutuskan melanjutkan pencarian. Huoh. Pemandangan pertama yang "tak terlupakan"!

Monday, June 25, 2007

Teori Terbalik dengan Kenyataan

Sebelum jalan-jalan di Eropa, saya memiliki impresi tertentu tentang bangsa tertentu. Entah dari berita yang saya lihat di teve, baca di koran, atau dari obrolan dengan teman. Tapi begitu sampai di Eropa, fakta berkata lain. Hampir semua teori saya terbalik. (sSetidaknya berlaku buat saya, barangkali lain orang, lain pengalaman!)
Nah, teori saya mengemukakan, orang Inggris, seperti negerinya yang jarang bersimbah cahaya matahari, dingin. Mungkin saya terpengaruh protokoler kerajaan Inggris yang ketat. Ternyata, ya ampun, mereka termasuk makhluk paling menyenangkan di dunia ini! Ketika saya terbengong-bengong di hostel saya di Barcelona, mereka mengajak mengobrol sembari makan siang. Juga makan malam, walau saya tolak karena kecapekan. Dan menunjukkan tempat-tempat yang mungkin bermanfaat buat saya. Sumpah, saya syok. Memang betul kata pepatah, don’t judge a book by its cover.
Yang lucu, kami sampai pada kesimpulan yang sama tentang satu bangsa (sebaiknya tidak saya tulis di sini). Itu terjadi setelah Natasha, salah satu dari mereka, bertanya kota mana saja di Eropa yang sudah saya singgahi. Ketika saya menyebut kota itu, Natasha memotong, “Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang di sana? I don’t like them. They're snob.” Really? Saya dibuatnya terkejut lagi. Karena saya juga tidak menyukai mereka. Ketika Natasha mengajukan argumennya, saya bisa mengerti. Tepat seperti itulah perasaan saya. Bayangkan saja, dari sekian banyak orang di kota itu, masa yang saya kategorikan baik cuma tetangga teman saya, yang pasangan kakek-nenek? Dan jangan kira teman saya betah tinggal di situ. Ketika saya tanyakan kemungkinannya menetap dan menikahi pria lokal, dia langsung memandang saya dengan ngeri: ”Enggak maulah, gue mau nikah sama orang Indonesia!” Padahal, duh, kalau jalan-jalan, dia yang ribut tentang gantengnya cowok-cowok lokal. ”Ka, lihat tuh, sopir bus aja ganteng banget!” begitu contoh kehebohannya. Tapi tekadnya buat tidak terlibat dengan pria lokal tetap bulat. Dan, hampir 2 tahun kemudian dari hari itu, dia menikahi seorang pria Indonesia : ).
Impresi dingin juga melekat dalam benak saya tentang Jerman. Iya, sampai sekarang pun saya masih berpendapat bahwa Jerman itu dingin (maksudnya cuacanya tetap saja dingin, walau mau masuk musim panas), bangunan-bangunannya sama dingin (kebanyakan bentuknya kotak-kotak), orang-orangnya apalagi. Sumpah, saya enggak terkesan sama sekali dengan salah satu dari mereka yang mencoba menabrak teman saya dengan sepeda. Pokoknya Jerman, dalam segala segi, nyaris semua dingin! Eh, kecuali 2 keajaiban: Wolfgang dan Biss. Yang pertama, ya siapa lagi kalau bukan suaminya Dedes itu – sampai sekarang saya masih terkagum-kagum, ada makhluk seramah itu. Yang kedua, majalah yang menurut oknum H diciptakan buat mengakomodasi orang-orang yang enggak punya pekerjaan. Biss banyak digenggam sejumlah penjual di pusat kota Munich, Marienplatz-Odeonsplatz. Sekitar 500 meter sekali, boleh dibilang kelihatan orang menawarkan Biss. Pemandangan yang lumayan mencolok, apalagi area jualan mereka tak dilengkapi media cetak lain dan kios. Ya, adanya cuma seorang pria – kadang ditemani anjing – menggenggam beberapa eksemplar Biss.
Sejarah terbitnya Biss, kalau enggak salah nih, berawal dari banyak pabrik dialihkan ke China yang biaya pekerjanya lebih murah – pantas Perancis sempat menentang China juga Amerika. Alhasil banyak orang Jerman kehilangan pekerjaan. Nah, buat mereka yang enggak mau merepotkan negara, disediakanlah Biss. Konon seluruh keuntungan dari penjualan majalah itu – yang konon juga artikelnya ditangani penulis serius (duh konon melulu, mesti dicek nih benar atau enggak!) – buat para penjual. Yang beli majalah itu, kata oknum H lagi, ada saja, walau motifnya entah suka, butuh, atau kasihan.
Hmmm, dari kisah Biss itulah, setidaknya ada simpati saya buat Jerman. Tapi negara sebelumnya, tetap tidaaaaaaaaakkkkk (keukeuh, hehehe)! Soal impresi yang salah itu, juga saya temukan pada orang Perancis. Padahal sebelum menginjak Paris, satu-satunya orang Perancis yang tampangnya enggak jutek cuma M Ghislain de Rozieres yang mengajar saya dan teman-teman waktu kuliah dulu. Eh, tapi siapa coba yang paling sering menolong saya di Eropa? Orang Perancis. Dan itu mereka lakukan sebelum mendengar satu patah kata pun dalam bahasa Perancis terlontar dari mulut saya! Misalnya, cewek asal Grenoble yang duduk di hadapan saya dalam kereta Eurostar Milan-Roma, yang tanpa saya minta menawarkan untuk membenahi travel bag saya ke tempat penyimpanan tas - yang tak mampu saya jangkau karena terlalu tinggi buat saya : (. Juga beberapa orang lain - seperti cewek yang membantu saya membeli tiket lewat mesin tapi kok gagal juga (apalagi saya yang enggak pernah berurusan dengan mesin begituan), belum lagi Julien, pacarnya teman saya, Sandy, yang masak ini-itu buat nyenang-nyenangin saya! Huoh, enggak nyangka deh Paris itu full senyum! Apalagi hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine... jadi saya pasti bakal balik lagi ke sana!

Parfum-parfum CDG

Bandara Dubai, Uni Emirat Arab, 20 Mei 2005, jam 04.00 waktu setempat, di bangku tunggu penumpang. Satu jam menjelang kepulangan saya ke Jakarta, dengan penerbangan Emirates.
”Where are you going?” tanya seorang pria dengan rambut mulai memutih, tersisir rapi ke belakang – saya perkirakan usianya 50 tahunan.
Saya mulai merespons pertanyaannya dengan senyuman. Habis, si Bapak ini tampangnya sedikit Jawa. Dia terkecoh rambut cokelat saya, rupanya. Maka, saya dengan santai menyahut, ”Ke Jakarta, Pak.”
Bapak itu terkejut. ”Lho, orang Indonesia toh,” katanya. Saya mengangguk. Lalu kami berbasa-basi, saling bertanya dari mana saja dan dengan siapa. Dia makin terkejut saat tahu saya jalan sendirian ke Eropa. Sementara ke benua yang sama, dia ikut tur bersama beberapa puluh rekannya. Ya ampun, Pak, saya bukan pelopor jalan-jalan ke Eropa sendirian, juga bukan yang terakhir. Bahkan di kalangan teman baik saya sendiri. Manda dan Risna yang mengawali, saya cuma terinspirasi.

***

Dan itu bukan interaksi pertama saya dengan orang Indonesia di bandara luar negeri – maksudnya yang belum saya kenal sebelumnya. Yang pertama terjadi lebih dari 2 tahun sebelumnya, sekitar pertengahan April 2003. Waktu itu saya dan Panji sedang transit di Bandara Charles de Gaulle (CDG), Paris. Waktu transit yang cukup panjang, 6 jam, memungkinkan saya hunting suvenir di Terminal B yang tak seberapa luas itu. Tapi cukup luas lho buat menampung koleksi ratusan parfum. (Seorang penulis rubrik kecantikan menyebut, CDG dan Bandara Vancouver punya koleksi makeup terlengkap.)
Ya, di situ saya mencoba-coba parfum sampai ”mabuk” dengan seorang kenalan dadakan, Sulianto. Kebetulan, orang-orang Indonesia yang transit di CDG, berasal dari negara keberangkatan yang tak lazim jadi tujuan wisata. Seperti sekelompok cowok bertampang cuek yang main gaple (di CDG!), yang dalam perjalanan menjauhi tempat kerja mereka, Pantai Gading. Atau saya dan Panji dari Meksiko. Atau Sulianto yang habis dikirim ke Ekuador oleh kantornya, Astra. Selagi Panji mengobrol dengan cowok-cowok dari Pantai Gading itu, saya dan Sulianto memutuskan membunuh waktu dengan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan main-main parfum. Habis Perancis, kan terkenal sebagai negeri penghasil parfum. Lagi pula siapa tahu, siapa tahu lho, parfum di CDG lebih murah.
Eh, ternyata enggak juga. Setidaknya parfum yang saya pakai, harganya sama saja dengan di Jakarta. Tapi Sulianto ngotot membeli sebotol parfum dengan kemasan ungu – saya lupa mereknya – karena dipesan temannya. Nah, sebelum membungkus parfum itu, asyiklah kami menyemprotkan aneka parfum ke pergelangan tangan. Habis setiap jengkal pergelangan tangan – sampai kami bingung, parfum mana yang disemprotkan ke mana, hihihi – barulah kami beralih ke kertas tester. Sumpah saking banyak, saya cuma ingat satu parfum: Glow by Jennifer Lopez. Pasti berkesanlah, soalnya waktu itu baru dirilis sama JLo dan dipajang di depan jalan masuk gerai.
Sayang sampai di situ saja saya interaksi saya dengan Sulianto. Soalnya di pesawat tempat duduk kami terpisah jauh; kami di sektor depan kabin ekonomi, sedangkan dia jauh di belakang. Dan saya pun tak menemukannya ketika sudah sampai Bandara Soekarno-Hatta - sibuk mengurusi diri sendiri, mana kartu imigrasi saya terselip. Yah, mana tahu nanti kita main-main di bandara lagi. Di Bandara Internasional OR Tambo misalnya? Maunya tuh.

Wednesday, June 20, 2007

Tradisi Pinjam Baju

“Haaa… Tante Ika, bajunya baru,” kata Rizka sembari menunjuk foto di mana saya mengenakan kaos lengan tiga perempat berwarna putih garis-garis biru muda.
“Bukan,” sahut saya mesem-mesem. “Itu baju teman gue, Manda.”

”Ka, bagus deh kalau lo pakai kaus ini,” Ita mengacu pada kaus bercorak dedaunan yang saya pakai waktu jalan-jalan sore di Paris, 6 Juni 2006.
”Punya Sandy,” kata saya capek. ”Bukan cuma kausnya. Jaket sama celana jinsnya juga.”

”Ini pasti bukan punya elo,” kata Deedee yakin waktu melihat saya pakai mantel hitam panjang dalam foto di Salzburg.
Pinter. Buat apa saya, yang berdomisili di Indonesia, koleksi mantel?

Teman-teman saya yang tinggal di luar negeri – entah buat keperluan kerja maupun ikut suami – tak pernah bosan meminjamkan baju pada saya. Juga tak bosan mengingatkan saya agar jangan memenuhi koper dengan baju, setiap kali menengok mereka. Walau Sandy curiga sebetulnya saya lebih berhasrat menengok Paris, menengok pertandingan bola, menengok Alpen (ya, ya, Eropa selalu menggoda), sampai-sampai dia bilang, ”Gue kira mau nengokin gue, ternyata nengokin bola (World Cup 2006 maksudnya).” Hehehe. Bercanda, San. Ya sudah, alhasil dalam sebagian hasil foto di Eropa, saya terlihat mengenakan baju teman Sandy, Manda, Dedes. Mungkin juga Rita, kalau saja waktu itu Rita sudah tinggal di Paris. Bahkan Hari : ). Habis ukuran tubuh kami tak jauh beda. Tak hanya baju, saya juga suka pinjam tas buat sekadar jalan-jalan. Untuk tas, yang jadi korban Widya dan Dedes. Widya enggak punya kesempatan buat berkontribusi dalam soal baju, kecuali baju tidur. Soalnya ketika saya di Roma, cuaca panas terus. Alhasil saya tak perlu pakaian ekstra buat membalut kaus atau jaket saya yang standar Indonesia. Jaket yang suka bikin gemas teman-teman saya. Yang jangankan buat musim dingin, buat musim semi yang cuacanya tak menentu pun diragukan kehangatannya.
Suatu sore saya menolak pakai mantel panjang Sandy dan bertahan dengan jaket Indonesia dua lapis. Sandy memutar matanya, ”Terserah.” Anami, temannya, bertanya khawatir, ”Memang kuat (cuma pakai) jaket begitu?” Tapi saya bersikeras. Mereka akhirnya membiarkan saya membungkus diri (cuma) dengan sehelai kaus oranye dan dua jaket standar Indonesia.
Keluar apartemen lama Sandy di kawasan Ermont-Eaubonne, pinggir Paris, saya baru pakai satu jaket. Brrr, ternyata udara sore itu dingin juga. Jaket yang satu lagi pun saya pindahkan dari genggaman ke tubuh saya. Satu jam kemudian, setelah menempuh perjalanan dengan metro, saya dan Sandy berpisah dengan Anami. Kami pun menghabiskan sore terakhir saya di Paris 2 tahun lalu itu antara lain dengan mengunjungi apa tuh ya, semacam museum Iptek gitu deh kalau nggak salah (San, koreksi dong!), melihat Eiffel yang bercahaya di malam hari, naik metro tanpa pengemudi (M14), dan makan crepe. Saya memang minta Sandy agar mengantar saya beli crepe. Masa sudah jauh-jauh ke Paris, tapi melewatkan camilan khas ini. Tapi belum lagi mengunyah crepe, saya sudah mengeluh. ”San, pulang saja yuk, dingin,” kata saya. Waktu itu gelap baru menyelimuti langit, sekitar pukul 9.30 malam (waktu saya di sana sedang musim semi, dengan malam baru turun sekitar pukul 9 lewat). Sandy langsung memelototi saya sambil ngedumel, ”Udah gue bilang kan, pakai mantel yang panjang, enggak percaya. Sekarang kedinginan kan.” Tapi teuteup, jajan crepe nggak boleh lupa. Jadi sambil menggigil kedinginan, saya mengikuti Sandy ke Saint-Michel buat beli crepe marron alias crepe kacang merah kesukaan orang Prancis yang memang lezat! Jajanan kaki lima saja rasanya selangit, apalagi yang di restoran.
Sejak saat itu, saya enggak ngeyel lagi kalau disuruh pakai mantel panjang. Seperti waktu Manda menyuruh saya mengganti jaket hitam bertudung andalan saya dengan mantel hitam panjangnya. ”Jaket Indonesia kayak begini mana bisa dipakai di sini!” katanya. Hihihi, itu bukan jaket Indonesia Man, tapi dibeli di Meksiko. Tapi sumpah deh, enggak bakal saya sok tahu lagi.

Friday, June 15, 2007

Melihat Paus Benediktus XVI

"Gila, kita saja yang sudah lama kerja di sini enggak pernah melihat Paus, kok bisa-bisanya lo lihat?" protes Widya setengah bercanda, ketika saya melaporkan pandangan mata saya di Vatikan, 4 Mei 2005.
Mulanya saya malas ke Vatikan. Saya pikir lokasi ziarah umat Katolik itu jauh dari Roma. Dan pertimbangan paling utama, waktu itu, 4 Mei, sehari menjelang peringatan Kenaikan Isa Almasih. Nah, mestinya Vatikan ramai banget kan? "Enggak ramai deh. Di Italia, tanggal 5 bukan tanggal merah," Widya meyakinkan.
Maka bertolaklah saya ke Stasiun Octaviano-S Pietro, Vatikan, naik metro dari Stasiun Termini, Roma. Oh, ternyata Vatikan enggak jauh. Cukup lewat beberapa stasiun saja. Setelah saya perhatikan seisi gerbong metro, sepertinya bukan saya satu-satunya yang ingin ke Vatikan. Ada beberapa orang bertampang asing - maksud saya non-Italia - yang membolak-balik peta. Lumayan, bisa mengikuti mereka kalau-kalau nanti kesasar lagi, hehehe.
Dan itulah yang saya lakukan sesampai di Stasiun Octaviano-S Pietro. Saya berjalan mengikuti arus saja  Setelah mendaki beberapa anak tangga, tibalah saya di luar stasiun. Sebelum mencapai Basilika San Pietro atau Santo Peter yang megah itu, saya harus menyusuri satu jalan besar. Di depan gerbang masuk Vatikan, tampaklah beberapa petugas kepolisian berdiri di samping mesin yang mendeteksi barang bawaan para turis. Kok kayak di bandara saja, ya? Saya pikir mungkin itulah prosedur yang harus dilalui setiap kali memasuki negara lain. Jangan lupa, Vatikan, kecil-kecil begitu, kan negara yang diakui PBB.
Lewat mesin deteksi, saya terkejut memperhatikan sekeliling Vatikan. Ramai banget! Ratusan, bahkan ribuan orang, sudah berkumpul di muka basilika. Sebagian melambai-lambaikan bendera dari beberapa negara. Waduh, Widya salah banget, nih. Vatikan minta ampun ramainya! Kira-kira ada apa gerangan, ya? Pertanyaan saya terjawab beberapa saat kemudian. Dari kejauhan, dengan, sepertinya dan saya cukup yakin, ribuan orang menghalangi pandangan, saya lihat Paus Benediktus XVI, berbaju putih, muncul dari tepi basilika. Ia, diusung sejumlah pengawal, menembus barisan publik yang mengelu-elukannya. Saya terkena serangan panik. Saya memang bukan penganut Katolik. Tapi itu Paus! Pemandangan semacam ini mungkin hanya saya lihat sekali seumur hidup. Berhubung sulit bagi saya memotret – maklum saya imut banget di tengah turis Eropa - saya minta bantuan seorang turis Jerman untuk mendapatkan gambarnya. Turis yang baik hati itu memenuhi permintaan saya, dan saya berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Paus Benediktus XVI, duduk di singgasananya, membacakan sejumlah kalimat berbahasa Italia. Umatnya bersorak-sorai menyambutnya. Saya terjebak dalam eforia itu sejenak, meski tak mengerti satu patah kata pun yang diucapkannya. Saya hanya bisa memperkirakan, Paus keluar dari sarang masih dalam rangka peringatan Kenaikan Isa Almasih. Apa pun alasannya, kehadiran Paus membuat perjalanan saya ke Eropa kemarin makin berwarna.

Cek Visa di Perbatasan (Kecuali Perancis)

Mendapatkan visa Schengen di Kedubes Perancis atau Jerman, sama saja mendapatkan keleluasaan menjelajahi sejumlah negara Eropa. Untuk itu saya bebas memasuki masuk wilayah yang ingin saya tuju selain Perancis dan Jerman - Italia, Spanyol, Austria (buat Liechtenstein, saya pakai visa Swiss - Swiss baru bergabung dengan Schengen pada 2008). Tapi bukan berarti bebas melenggang tanpa pemeriksaan.
Kecuali di Perancis 1-2 tahun lalu. Waktu Sarkozy belum berkuasa. (Well, ya, oke, bukan berarti sekarang sudah ada perubahan. Buktinya di rumah Sarko saja ada pekerja imigran ilegal.) Waktu itu, saya bolak-balik keluar masuk Perancis nyaris tanpa pemeriksaan. Pertama, di Bandara Charles de Gaulle. Cuma visa yang dicek petugas. Tapi tidak barang bawaan! Koper, travel bag, serta ransel saya, percaya atau tidak, lolos tanpa lewat detektor. Lainnya lewat perbatasan Spanyol (sekali) dan Jerman (dua kali). Dan tidak sekali pun perjalanan saya maupun penumpang lain diganggu gugat petugas perbatasan Perancis. Padahal buat perjalanan Munich-Paris, saya selalu beli tiket tanpa menunjukkan visa, entah nitip sama suami Manda atau sama Wolf (ya iyalah nitip, soalnya sayanya belum nongol di Munich). Ya, wajar sekarang Sarko kelabakan dengan melimpah ruahnya imigran ilegal.
Lucunya, karena tampang saya yang bule ini (iya, kan guys?), ada kalanya saya dibiarkan masuk begitu saja. Seperti terjadi waktu bus Eurolines Paris-Barcelona dihentikan di perbatasan Spanyol. "Anda orang Perancis, kan?" petugas perbatasan itu tadinya hampir meloloskan saya tanpa pemeriksaan. Tapi saya mengaku datang dari Indonesia, daripada nanti timbul masalah.
Karena saya memang punya visa yang disyaratkan pemerintah Spanyol, saya tak mengalami kesulitan masuk ke Barcelona. Percaya deh, kalau Anda enggak membekali diri dengan dokumen yang dibutuhkan, Anda akan ditindak seperti halnya seorang penumpang Eurolines - yang digelandang turun dari bus dan entah bagaimana nasibnya kemudian. Modal tiket saja sungguh tidak cukup. Oh ya, paspor dan visa juga kadang-kadang diperlukan saat berbelanja pakai kartu kredit. Setidaknya begitulah yang saya alami 2 tahun lalu di Barcelona dan Paris, waktu beli suvenir dan tiket Eurolines. Walau tahun lalu enggak perlu begitu sih di Munich dan Zurich - entah apa kebijakannya sudah berubah.
Lewat Austria, pemeriksa tiket kereta ada kemungkinan menanyakan paspor dan visa kepada pemilik tiket bertampang non-Eropa. Seperti terjadi pada Risna, teman saya. Tapi waktu saya lewat Innsbruck dan Kufstein, Austria, dalam perjalanan Roma-Munich, si pemeriksa cuma minta saya menunjukkan tiket - juga penumpang lain yang asal negerinya. Jadi, ada diskriminasi terhadap Risna? Mungkin. Saya jadi ingat cerita teman saya yang lain, Cordel, yang digeledah polisi Prancis dalam perjalanan kereta Amsterdam-Paris. Gara-garanya sepele. Cordel tak sengaja memandangi polisi perempuan itu, yang sebetulnya berstatus penumpang juga dan tak sedang bertugas. Karena tak suka mungkin, maka ia menggeledah Cordel berikut barang bawaannya - Cordel satu-satunya penumpang di gerbong itu yang diperlakukan demikian. Cordel jadi sebal dan malu sama penumpang lain dong, enggak salah apa-apa tapi kok dianggap seperti penjahat. Dan ya karena memange nggak punya salah, polisi itu tak punya alasan buat menahannya.
Soal diskriminasi itu pernah melibatkan saya waktu mau balik ke Jerman, habis jalan-jalan sama Dedes dan Wolf naik mobil ke Liechtenstein dan Swiss. Di perbatasan Swiss-Jerman, petugas Jerman menghentikan mobil kami - padahal ia tidak menyetop mobil-mobil lain. Maklum deh, waktu itu Jerman jadi tuan rumah Piala Dunia 2006, jadi pengawasan di perbatasan rada ketat. (Naik Eurolines saja berangkat pulang diperiksa. Tapi saya enggak keberatan, soalnya polisinya cakep, hihihi). Waktu Wolf meminggirkan mobilnya di perbatasan, ia berkata, "We got three problems here." Saya lupa masalah pertamanya apa. Yang kedua menurutnya, paspor saya. Soalnya saya ngotot masih merekatkan paspor lama saya dengan yang baru .(Habis di paspor lama itu ada visa Meksiko, kenang-kenangan bo. Enggak penting ya?) Yang ketiga, tampang Dedes yang enggak bule. Huh. Enggak penting juga. Sepuluh menit kami menunggu, akhirnya dokumen kami dikembalikan dan kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Lucunya, si petugas itu membubuhkan cap perbatasan Jerman di paspor saya, tapi tidak di paspor Dedes. Dedes yang sempat jadi tertuduh gara-gara tampang doang, berteriak-teriak dari dalam mobil, "Hey what about my passport? Give me the stamp!" Halah.

San Siro Yang Gersang dan Susah Dicari

Di Milan, kunjungan ke stadion AC Milan dan Inter Milan, Giuseppe Meazza, San Siro (selanjutnya San Siro saja), sayang dilewatkan. Bagaimana pun caranya, pokoknya mesti ke San Siro. Kesasar sekalipun.
"Dari Stasiun Lotto, ke San Siro mesti jalan kaki cukup jauh," Val, teman saya di Italia, mewanti-wanti. Dia enggak bisa mengantar karena enggak bisa meninggalkan pekerjaannya. Jadi didroplah saya di Stasiun FS Centrale dengan selembar tiket metro pemberiannya di tangan, tapi cuma yang berlaku 1 jam! Dalam hati saya memaki-maki. Memang dia pikir saya cuma mau keliling Milan 1 jam? Huh. Dengan masih kesal saya mengantre di loket, buat membeli tiket 24 jam yang harganya berapa yah, 3 atau 4 euro-an. Untung saya masih ingat bahasa Italia 24 jam. Dan untung juga Val bermurah hati membelikan saya tiket kereta Eurostar Milan-Roma. Lumayan mengirit 50 euro. Dia masih mengira saya berangkat jam 8 malam dari Milan, seperti pesan saya. Tapi setelah melihat bakal sampai jam berapa saya di Roma, yang tertera di tiket, saya berpikir ulang. Memang si Widya mau jemput saya di Stasiun Termini Roma persis tengah malam? Yang benar saja. Maka, tanpa sepengetahuan Val yang sudah meninggalkan saya, dengan bahasa tarzan saya berhasil menukar jam keberangkatan, dari jam 8 malam ke jam 4 sore.
Yang tak kalah kacau, Val tak tahu apakah ada tempat penitipan barang di FS Centrale. Sudah begitu saya tak bisa menitipkan barang di kantornya - yang akhirnya ada hikmahnya, soalnya saya enggak perlu nungguin dia pulang kerja jam 7 malam. Habis menukar tiket, dengan petunjuk seorang petugas pemberi informasi - yang hebatnya ada di setiap sudut stasiun dan bisa berbahasa Inggris! -,saya mendaki belasan anak tangga menuju ke lantai 2. Hmmm, sebetulnya stasiun ini lumayan antik dengan kubah besarnya, tapi saya enggak punya waktu buat mengagumi lantaran keberatan bawaan dan kebelet pipis, hehehe. Jadi selesai menitipkan travel bag - biayanya lumayan tinggi, buat 8 jam saya mesti bayar 10 euro - saya langsung melesat ke toilet. Sebenarnya cara membayar toilet sih sama dengan umumnya toilet di negara Eropa lain: Cemplungkan koin euro ke lubang di palang pintu. Tapi bedanya, di FS Centrale kita masukkan koin itu sehabis menggunakan jasa toilet, bukan sebelumnya saat masuk. Jadi kalau enggak bayar, enggak bisa keluar!
Jadi, selesai problem saya di Milan? Belum. Saya kebingungan baca peta metro Milan. Ada kali hampir 1 jam saya tercenung di depannya. Padahal peta metro Milan tak seberapa rumit dibandingkan peta metro Paris. Cuma ada 3 jalur - Paris punya belasan. Tapi lantaran di Paris ke mana-mana tinggal membuntuti Sandy, saya enggak terbiasa "bergaul" dengan peta metro. Setelah memeras otak, baru saya menemukan cara mencapai Lotto, juga Duomo, tujuan pertama saya. Karena saya naik metro Milan jam 8 pagi, alhasil di metro saya melihat pemandangan menarik: cowok-cowok Italia yang lucu-lucu terbalut jas mahal. Wuhuuuu... lumayan penyegaran sebelum memulai perjalanan panjang.
Di Duomo, ternyata nyaris enggak ada apa-apa. Yang saya sukai hanya kerumunan merpati yang memadati piazza atau alun-alunnya. Katedralnya yang terkenal itu sedang direnovasi. Jadi saya di situ cuma meluruskan kaki saja. Habis istirahat sejenak, saya dengan antusias lanjut naik metro ke Stasiun Lotto. San Siro, I'm coming! Eh, tapi Lotto punya 4 pintu keluar. Yang mana ke arah San Siro? Ya sudah saya putari semua pintu, tapi tak ada tanda-tanda San Siro. Baru sesudah menyeberang, jalan sedikit, ada deh papan besar bertuliskan "SAN SIRO", tanpa panah. Praktis saya pikir San Siro adanya tak jauh-jauh dari papan itu dong. Menyeberangi 2 lampu merah, saya melewati papan itu dan menyusuri area apartemen. Sekitar 15 menit berjalan, kok sepertinya jalan itu tak berujung, ya? Yang kelihatan malah stadion berkuda. Apa iya San Siro di sekitar situ? Saya balik lagi ke arah papan San Siro tadi, yang tentunya menghabiskan 15 menit lagi, dengan terengah-engah. Maklum belum sarapan dan semalam cuma ngemil keripik kentang di Eurolines.
Satu jam sudah saya mencari San Siro, hasilnya nihil. Sementara waktu terus bergerak. Sudah jam 10.30 waktu Milan. Cuma tersisa 5,5 jam waktu saya di Milan. Tanya-tanya pada sejumlah orang, cuma 1 yang bisa berbahasa Inggris. Itu pun sedikit sekali. Dengan bahasa Inggris campur Italia (Italia campur Inggris sebetulnya), perempuan itu memberitahukan dengan ramah, saya mestinya belok kanan dan melalui 5 semafori atau lampu merah. Saya pun mengikuti penjelasannya dengan patuh. Di Eropa, antara 1 lampu merah dan yang lainnya dekat, tidak sejauh di sini, jadi saya santai saja. Tapi lewat 5 lampu merah, kok San Sironya belum kelihatan? Aduh, sebetulnya San Siro itu ada enggak, sih? Yah, pada akhirnya, saya menemukan juga yang dimaksud San Siro itu. Ternyata, bagian luar stadion tidak semegah dalamnya, seperti yang kita lihat di layar kaca kalau AC Milan atau Inter Milan bertanding. Stadionnya bertembok kelabu, dengan sekeliling gersang. Pepohonan tumbuh agak jauh. Tanda-tanda kehidupan paling dekat dengan stadion cuma perhentian trem. Itu pun, sejauh penglihatan saya, tak ada penumpang menanti trem lewat. Jadi, saya enggak tahu apakah stasiun trem itu berfungsi atau tidak.
Sampai di San Siro, saya belum boleh merasa lega. Yang mana pintu masuknya? Ada lebih dari 20 gerbang bernomor. Melihat ada petugas berjaga di pintu nomor 6, yang mengharuskan saya menyusuri stadion hingga ke belakang, saya pikir dari situlah saya bisa masuk. Tapi saya terkecoh, begitu pula sejumlah turis Jerman. Masuknya ternyata melalui pintu 21 yang letaknya di depan! Ya ampun. Balik lagi dong. Bagaimana saya terpikir ke arah situ, wong enggak ada penjaganya. Agak tersembunyi di balik pintu 21, berdirilah Museum San Siro. Di situ saya mendaftar ikut tur keliling San Siro, dengan membayar 12,5 euro. (Di Milan apa-apa mahal yah. Bandingkan dengan 5 euro saja di Olympiastadion, bekas stadionnya Bayern Munich.) Saya malas lama-lama di museum, soalnya menurut saya sih kurang menarik. Komplet sih, dengan penghargaan, foto bertanda tangan pemain, plakat, dan artikel-artikel penting menyangkut dua tim yang berkandang di situ terpajang. Sisi kiri untuk Inter Milan, sisi kanan untuk AC Milan. Tapi buat museum dua klub besar, ruangan itu terlalu sempit dengan pencahayaan yang kurang memadai. Apalagi pemain bola favorit saya, Marc Overmars dan Claudio Lopez, enggak pernah main di Milan. Jadi, ya memang enggak ada yang menahan saya buat berlama-lama.
Jadi, menunggu waktu tur tiba, saya melihat-lihat suvenir di toko suvenir resmi yang hampir bersebelahan dengan museum. Berhubung anggaran saya terbatas (lagian diperas 20 euro lebih buat tur dan nitip tas, hiks), saya bertanya-tanya dulu dong soal harga suvenir yang saya ingin beli. Salah satu penjaga tokonya, yang mengira saya tak paham bahasa Italia sama sekali (ya dikit-dikit masih bisalah), ngedumel, "Kenapa sih mereka (para turis) mesti bertanya dulu soal harga?" Ia menyinggung saya dan juga beberapa turis Jepang di dalam toko. Berhubung saya capek, enggak saya debat. Tapi besok-besok, awas (doh, memang siapa yang mau balik ke Milan?)!
Tur di San Siro berlangsung setengah jam. Pemandunya, seorang perempuan, sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Dia membimbing saya dan sekitar 20-an turis dari berbagai latar belakang (yang pasti ada Jerman dan Jepang) untuk melihat lapangan dari berbagai sudut bangku penonton. Kami juga boleh mencoba duduk di bangku VIP yang berwarna putih, yang menurut sang pemandu biasanya sudah dipesan habis sponsor buat tamu-tamu mereka. Lalu kami dibawa ke ruang ganti pemain. Sang pemandu menunjukkan kamar ganti tim AC Milan dan Inter Milan yang dipisah. Kalau AC Milan tidak bertanding derby, kamar ganti Inter Milan diisi tim away, begitu pula sebaliknya. Selain sejumlah shower, kamar ganti itu juga diisi tempat pemijatan. Fasilitas yang biasa saja, tidak ada istimewanya. Mungkin karena para pemain juga segan berlama-lama di situ. Sama dong.
Sepanjang tur, saya dan 2 turis Jepang bergantian minta difoto. Kayaknya turis Asia Timur sangat tertarik sama Milan. Selain turis-turis Jepang di San Siro, saya juga ketemu beberapa turis China di Duomo. Mungkin mereka mengincar acara belanja di butik-butik ternama kali, ya. Kalau buat saya sih, tidak banyak yang bisa dinikmati di kota mode sekaligus industri ini. Tapi ya, kalau ada waktu, San Siro tetap patut kok dikunjungi. Terutama buat penggila bola, wajib hukumnya.
Untung Val punya ide menjemput saya dan mengajak saya makan siang usai tur jam 12.30. Kalau neggak, bisa-bisa saya pingsan! Kelaparan berat soalnya.

Thursday, June 14, 2007

Televisa Si Kantong Ajaib

Adik saya enggak jadi ke Barcelona alias BCN. Tapi tujuan dia berikutnya malah membuat saya tambah excited: Mexico City alias Mexico DF alias DF saja deh! Begitu dia memberi tahu, saya langsung sambar, "Entar gue bikinin daftar CD trus lo beliin semua ya!" Dia manyun.
DF akan selalu ada di hati saya. Perjalanan pertama saya ke luar negeri, ya ke DF itu. Waktu itu saya baru kerja 3 bulan, status masih magang, tapi dikirim jauh betul. DF masih pegang rekor perjalanan terjauh yang saya tempuh. Bayangkan, beda waktu antara Jakarta dan DF saja 12-13 jam. Jangankan DF, lokasi transit dalam menuju ke sana pun jauh juga. Tokyo, Vancouver, Paris, yang kebetulan menarik. Maksudnya, suvenir-suvenir yang dijual di bandaranya menarik - ya iyalah, wong enggak boleh keluar dari situ, kecuali di Tokyo, hihihi.
Huhu... jadi kangen DF. Terutama, definitely absolutely, Televisa San Angel. Itu lho, produsen telenovela Meksiko yang berjaya di layar kaca kita akhir 1990-an-awal 2000-an. Dua kali ke DF, saya kayak ngantor di situ. Bisa 12 jam alias separuh hari saya habiskan di sana. Buat wawancara, juga menunggu artis datang. Terutama kali kedua saya terbang ke DF. Begitu keras usaha Nagelly, kontak saya di Televisa, untuk memberikan servis terbaiknya, sampai-sampai ia tak rela membiarkan jadwal saya kosong sedikit pun. Misalnya ada celah 1 jam antara wawancara satu dan yang lainnya, dengan bersemangat ia akan mengatur artis lain buat menemui saya. Bahkan weekend sekalipun! Sampai akhirnya saya dan Panji mesti berbohong akan sowan ke KBRI. Habis kalau enggak begitu, enggak ada istirahatnya. Enggak heran dalam tempo 8 hari kerja, kami mendapatkan 49 artis!
Di Televisa, tujuan pertama pasti lantai 6, ruangnya Nagelly. Dari luar, Televisa kelihatan enggak menarik. Produsen telenovela paling top kok kantornya biasa banget. Bentuknya cuma 2 bangunan bertembok kuning yang dingin, menjulang di tepi jalan yang tak terlalu besar. Enggak ada deh kaca-kaca jendela yang menyilaukan, yang di sini lazimnya melindungi kantor-kantor penting. Tapi justru karena terlalu biasa itulah, Televisa memberi kesan misterius bagi mereka yang mengikuti sepak terjangnya. Adakah yang disembunyikan dari publik? Hmmm, kita lihat nanti.
Sebelum masuk ke Televisa, biasanya saya memastikan punya permen atau tidak. Lumayan kan buat iseng-iseng sambil menunggu artis. Kalau kebetulan enggak punya - permen itu soalnya mesti dibagi sama Panji, jadi cepat habis - saya biasanya beli di pengasong yang mangkal di trotoar luar Televisa, seorang nenek. Iya, kantor top itu membiarkan seorang tua mencari nafkah dengan menumpang lokasi. Bahkan nenek itu juga berjualan kalung ID Televisa. Kalau hari ini si nenek kehabisan warna kalung ID yang kita inginkan - biasanya sih standar, merah biru - bisa pesan dan besoknya pasti tersedia di pikulannya.
Buat siapa pun yang bukan karyawan atau artis, seperti saya, kalau mau menembus barikade tembok kuning Televisa, mesti mengantre daftar di ruang resepsionis. Televisa, kan banyak pengunjungnya, mulai dari sekadar fans telenovela yang pengen tur - ada lho tour de Televisa - sampai wartawan. Ruang resepsionis Televisa, seperti tampak luar gedungnya, dibanding lobi teve-teve swasta di sini enggak ada apa-apanya. Sangat enggak representatif, kalau ingat bintang-bintang telenovela mereka yang glamor. Ruang ini letaknya bukan di lobi yang megah, atau sekadar baguslah. Melainkan di sebuah sisi tempat parkir! Ya, buat masuk ke ruang ini, saya harus menyusuri trotoar khusus pejalan kaki di pinggir tempat parkir. Usai mengurus tanda masuk di resepsionis, barulah naik ke lantai 6 lewat lift di samping ruang resepsionis. Jangan juga bayangkan lift yang mewah dan nyaman.
Di lantai mana pun, selalu ada petugas berjaga di dekat lift. Pada awal kunjungan, petugas itu selalu memeriksa identitas saya dengan cermat. Tapi lama-lama dia membiarkan lewat begitu saja, sudah hafal sih. Belok kiri, nah barulah Televisa terasa nuansa "kantornya". Ruang besar di lantai 6 itu penuh karyawan yang mengerjakan tugas masing-masing. Tapi bukan di situ ruang Nagelly. Kalau pada kunjungan pertama saya biasanya belok kiri lagi - ke ruangnya Hector - kali itu saya mengarah ke kanan. Masuk ke sebuah ruang kecil, yang diisi sekitar 4-5 meja. Salah satunya meja Nagelly? Bukan juga. Bak kantong ajaib, ruang sekecil itu masih memuat 2, atau 3 ya, ruang pribadi yang pastinya lebih sempit. Salah satunya, yang paling dekat dengan pintu, itulah ruang Nagelly.
Iya, Televisa memang bak kantong ajaib Doraemon. Selain lantai 6, persinggahan saya yang lain lantai 2. Berhubung di situlah umumnya aktivitas syuting dalam ruang, juga bermacam acara seperti kuis, variety show dan program hiburan lain, berlangsung, pengawasannya lebih ketat dengan 2 pos penjaga. Satu seperti biasa menghadang tak jauh dari lift, satunya lagi setelah menuruni sejumlah anak tangga. Saya lupa istilahnya, gedung atau ruang, ya yang dipakai buat syuting jumlahnya belasan. Yang nomornya belasan buat aneka acara hiburan di luar telenovela.
Saya biasanya singgah di nomor 2, 3, 5. Nomor 2 itu waktu itu jadi lokasi syuting Amor Real, yang dibintangi Fernando Colunga dan Adela Noriega. Tapi memasuki si nomor 2 itu, tak lantas saya berhadapan dengan aneka perlengkapan syuting. Yang tidak saya sangka-sangka, lokasi syuting dalam ruang Televisa itu letaknya nun jauh di bawah tanah! Buat mencapai lokasi, saya mesti turun 1 lantai lagi. Tiba di bawah, yang saya temukan hanya gang-gang sempit berlampu neon dengan sejumlah kursi di kanan kirinya, yang diisi beberapa orang yang sepertinya berkepentingan dengan syuting. Mata mereka terpaku pada televisi 14 inci yang tergantung di langit-langit - yang ternyata memampangkan syuting yang tengah berjalan.
Lha, lantas di mana syutingnya? Ya ampun, sudah "terjerumus" jauh di bawah tanah pun, Televisa masih misterius! Ternyata, syutingnya itu berlangsung di balik pintu lorong sebelah kanan! Ya, setidaknya begitulah pengetahuan saya yang melihat langsung dari situlah para artis keluar buat berganti baju. Tapi saya curiga, jangan-jangan di balik pintu itu masih ada pintu-pintu lain. Pokoknya yang enggak ada urusan dengan syuting macam saya, dilarang melongok ke balik pintu itu. Jadi saya menanti Fernando dan Adela sambil duduk di lorong, seraya memantau perkembangan syuting seperti yang lain lewat televisi.
Si nomor 2 itu jadi tempat yang menyenangkan buat saya, karena penjaganya ramah. Cukup sekali saya datang, dia sudah mengenali dan mengajak ngobrol. Dan ia tak peduli saya membuntuti Adela masuk ke ruang ganti sekalipun - pokoknya asal jangan coba-coba sentuh pintu menuju lokasi syuting. Beda dengan di nomor 3, di mana saya mesti hati-hati bergerak. Ketatnya penjagaan ini disadari kontak saya yang lain, Lizbeth. Sebab itulah ketika si penjaga tak awas, diam-diam dia menyelundupkan saya dan Panji ke kamar ganti Juan Soler. Gracias, Liz! Si penjaga sama sekali tak sadar setengah jam mengobrol dengan Juan, yang dengan manisnya memamerkan foto pacarnya, foto kegiatan terbang layangnya, dan beberapa foto pribadi lain.
Tapi tempat yang paling saya sukai di Televisa, kafetarianya. Letaknya terbilang paling ujung, tapi bukan berarti terabaikan. Untuk ukuran kafetaria, cukup memadai buat tempat makan, dengan kursi dan meja kayu yang bersih. Makanannya harganya murah untuk ukuran kafetaria langganan artis. Apalagi servisnya sama bagusnya dengan restoran - kafetaria ini juga menyuguhkan roti, biskuit, dan selai gratis sebagai makanan pembuka. Saya pernah bertemu Miguel de Leon sedang membeli jus pepaya, Gerardo Murguia sedang mengobrol dengan penggemar, juga Roberto Vander. Biar fisik enggak drop, saya biasanya memesan semangkuk salad buah yang isinya lumayan banyak. Panji, ya apalagi kalau bukan omelet tercinta yang dia incar. Saking ketakutan enggak cocok sama makanan lokal, ke mana-mana dia membawa sambal sachet, hihihi. Nah, setiap memesan salad buah, pelayannya enggak kapok-kapok bertanya apakah saya ingin tambahan miel (madu) atau apa gitu satu lagi, grasa, kali ya. Saya selalu minta miel bukan karena enggak suka yang satunya, tapi karena enggak ngerti artinya, hihihi. Huoh, Televisa. Entah kapan saya kembali. I'd really really really love to.

Wednesday, June 13, 2007

Mamma Mia!

Saya terbilang banyak belanja di Roma. Suvenir-suvenir murah saja kok, yang kayaknya enggak menarik hati staf Emirates yang bongkar-bongkar koper saya - atau staf bandara? Hmmm. Gara-garanya, ya si Widya. Habis dia rajin banget keluar masuk toko suvenir. Maksudnya sih baik, biar saya tahu harga. Tapi hasilnya malah boros. Sudah begitu dia pakai tanya, "Enggak pengen beli skarf di Trevi? Murah kok." Aduh!
Harga suvenir di toko jelas enggak bisa ditawar. Biasanya sudah dilabeli harga. Tapi di jalan, boleh banget. Misalnya, kalung ID card di dekat Piazza di Spagna. Widya menawar 10 euro untuk 5 kalung ID. Sang pedagang tidak setuju. Setelah tawar-menawar lebih lanjut, si pedagang memberikan harga 2 euro untuk 1 kalung ID. "Apa bedanya dengan 10 euro dapat 5, ya?" ucap Widya sambil cekikikan.
Oh ya, seperti kata Widya, jangan lupa beli skarf di Fontana di Trevi. Dengan 5 euro (sekitar 60 ribu rupiah), dapat 3 skarf! Skarfnya pun lebar, pantas dipakai sebagai kerudung. Biasanya bertuliskan Roma atau bergambar karyanya Pablo Picasso (bukannya Picasso orang Spanyol?). Yang berjualan perempuan-perempuan asal Vietnam. Sebetulnya saya sudah melihat mereka berkeliling menjajakan skarf ini pada kunjungan pertama ke Trevi, 4 Mei 2005. Tapi berhubung enggak tahu harga dan enggak fasih berbahasa Italia, saya lewati saja mereka. Baru waktu balik bareng Widya, saya beli skarf. Itu pun setelah Widya ngotot menawar. "Mamma mia!" gerutu seorang perempuan Vietnam saat mendengar Widya menawar 5 euro untuk 3 skarf. Ia maunya menjual 10 euro untuk 3. Widya enggak mau mengalah. "Ah, kemarin waktu Novia Kolopaking ke mari, 5 euro dapat 3, kok," ia bersikeras. Akhirnya wanita Vietnam tadi menghampiri kami lagi, menyepakati harga yang diinginkan Widya.