Wednesday, September 29, 2010

Paris yang Menghargai Sejarah

Orang bilang, Paris kota yang sangat romantis. Betul kok. Saya dijamin betah duduk berjam-jam di tepi Sungai Seine, sambil memandangi kapal turis yang lalu lalang. Dari jembatan tertentu, Pont Neuf misalnya, Menara Eiffel terbentang di depan mata. Angin yang sepoi-sepoi di musim semi membuat cuaca terik, yang kadang-kadang terjadi, tak terasa berat.
Tapi ada faktor lain yang membuat saya sangat kagum pada Paris. Ibu kota Perancis yang menjadi kota tujuan wisata ini sangat menghargai sejarah. Yang tidak terbayangkan bagi kita yang tinggal di Indonesia. Suatu ketika di akhir April 2005 (entah tanggal 29 atau 30), saya dan Sandy turun ke Stasiun Bastille. Di pijakan peron, saya melihat ada dua tanda zig-zag panjang. Sandy menjelaskan, itu adalah penanda bekas Penjara Bastille, yang dirobohkan penduduk Paris pada 14 Juli 1789, mengakhiri rezim Louis XVI. Pandangannya lantas beralih ke belakang kami. Ia menunjuk reruntuhan yang terletak di bawah plang stasiun, yang tentu saja bertuliskan Bastille. "Nah, tembok penjaranya, ya, tinggal segitu," terang Sandy. Bagi rakyat Perancis, khususnya Paris, mungkin ini hal biasa. Tapi bagi saya, penemuan luar biasa. Kalau reruntuhan itu berdiri di Jakarta, misalnya, pasti sudah berubah jadi pusat perbelanjaan. Jangankan reruntuhan yang panjangnya tak sampai dua meter dan tingginya tak sampai semeter itu. Gedung-gedung peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh saja diruntuhkan demi kepentingan segelintir pihak.
Paris senang mengabadikan momen dalam bentuk monumen. Menjelang masuk terowongan Pont d'Alma, misalnya, terpancanglah simbol berbentuk api yang dikelilingi pagar. Masih ingat, pada 31 Agustus 1997 lalu, di terowongan itulah Putri Diana menemui ajalnya. Sampai sekarang banyak pengagum Putri Diana meninggalkan bunga di sekitar monumen kecil itu. Sungguh menarik, mengingat Putri Diana bukan orang Perancis. Tapi Paris menyadari betul daya tarik Putri Diana. Ada saja turis yang singgah di situ. Sekadar untuk berfoto, menaruh bunga, atau merenungi perjalanan Sang Putri.
Yang dilakukan Paris mungkin sederhana. Hanya membentuk tanda zig-zag atau simbol api, apa susahnya? Tapi yang sederhana itu yang menjadikan Paris salah satu kota tujuan wisata favorit di Eropa. Malah mungkin paling favorit. Yang sederhana itu membuat pemerintah Paris mengantongi keuntungan banyak. Kabar baik lain, keuntungan itu digunakan untuk merawat objek-objek wisata. Tidak terhitung betapa banyak tempat yang bisa diklasifikasikan sebagai objek wisata di Paris. Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, Sacré Coeur, Montmartre, Champs-Elysées, Museum Louvre, Sungai Seine, Moulin Rouge, Versailles, itu sudah pengetahuan umum. Belum lagi yang kurang terpublikasi tapi tak kalah menarik, seperti Jardin de Tuileries, Jardin de Luxembourg, Obelisk di Place de la Concorde, Pantheon (makam Napoleon), Musée d'Orsay, Taman Buttes-Chaumont, Père Lachaise (bahkan makam pun bisa dikomersialkan, seperti makam Jim Morrison misalnya), Masjid Paris, Opéra, Comédie Française, ibunya patung Liberty di NY, La Defense yang modern, Stadion Saint-Denis, PSG, monumen di Pont d'Alma, Promenade Plantée yang dipakai syuting Before Sunset, begitu beragam dan susah  saya ingat satu per satu! Untuk menambah daya tarik, bahkan pintu masuk sebuah stasiun metro dirias dengan lampu-lampu berwarna-warni dan stasiun metro lain dihiasi patung-patung replika Museum Louvre. Saking banyaknya objek yang berharga, perjalanan saya di Paris 3 kali belum mencakup seluruh tempat (kata teman saya, sombongnyaaaaa, hahaha). Saya akan kembali, insya Allah.

Pulau San Giulio: Che Dolce Isola E...

Saya selalu penasaran akan negara-negara termungil di dunia. Baru 2 yang saya kunjungi: Vatikan dan Liechtenstein, lokasi keduanya di Eropa. Bagaimana dengan pulau-pulau mungil? Satu yang sepertinya sangat sangat mungil, Isola di San Giulio atau Pulau San Giulio di Piemonte, utara Italia. Sungguh ajaib saya bisa mengelilingi pulau dengan panjang hanya 275 m dan lebar hanya 140 m, yang terapung di tengah Danau Orta, walau tak sampai 1 jam. Saya tahu dalam jadwal saya bakal ada perjalanan ke Danau Orta. Namun saya baru tahu belakangan bahwa ada pulau mungil itu, yang saking mungilnya kalau terjadi hujan badai seperti sekitar 10 tahun lalu bisa bergeser letaknya beberapa meter dari lokasi semula.
Tidak banyak yang saya lihat di sekitar Orta karena tak banyak waktu tersisa. Saat itu, 17 Juni, hari ketiga atau hari terakhir saya di utara Italia dan sorenya saya harus bertolak ke Bologna - juga untuk acara jalan-jalan cuma 4 jam ajaaaa. Tapi beruntungnya Lucia, host saya, mengajak saya berlayar ke Pulau San Giulio nan mungil. Hiyaaaa, sok kece banget pakai kata berlayar padahal pulau itu cuma 10 menit jaraknya dari tepi Danau Orta dengan angkutan feri. 
Walau feri yang enggak kalah mungil itu cuma berhasil mengangkut 4 penumpang termasuk saya dan Lucia - kapasitasnya sih kayaknya bisa untuk 20-an penumpang - baguslah enggak ada acara getok tarif. Tarifnya 5 euro saja untuk bolak-balik. Kami tiba di sana bersamaan dengan feri yang membawa rombongan anak SD. Di sana juga telah berkumpul rombongan turis Perancis paruh baya, jadi San Giulio lumayan sesak. Maka Lucia, yang biasa memperkenalkan tamu-tamunya dengan San Giulio, mengambil jalan yang berlawanan dan  membawa saya mengarungi suasana yang terkesan misterius. Sepanjang jalan berkelok-kelok  dan berbatu-batu yang lebih cocok disebut lorong - karena sempit dan suram - yang disebut La Via del Silenzio (The Way of Silence) dan La Via della Meditazione (The Way of Meditation) itu terpasang beberapa plang kelabu yang berisi kata-kata bijak dalam 4 bahasa: Italia, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Tak heran begitu hening dan misterius. San Giulio didiami para biarawati Ordo Benediktin yang berpakaian serbahitam. Kami melihat seorang di antara mereka berjalan di depan kami, di La Via della Meditazione, mengarah ke Basilika San Giulio yang berasal dari abad ke-4. Namanya peninggalan dari abad-entah-kapan tahu itu, Basilika cukup terawat walau tambalan di sana-sini tak terelakkan. Lukisan fresco berwarna pastel di langit-langit Basilika sedikit memberi pencerahan pada nuansa misterius San Giulio, hehehe. Satu lagi yang mencerahkan, keberadaan seorang nenek penjual suvenir. Satu-satunya makhluk San Giulio yang kami temui bukanlah biarawati - sejumlah orang memiliki properti di San Giulio, namun mereka umumnya hanya menempati properti itu saat liburan. Si nenek baik hati itu bahkan memberi saya bonus selembar kartu pos bergambar pulaunya tercinta. Grazie, Nonna!

Tuesday, September 28, 2010

Ketinggalan Kereta di Milan

Sumpah, ampun deh yang namanya ketinggalan kereta di Eropa. Antara jengkel, panik, dan deg-degan. Deg-degan kalau-kalau enggak boleh tukar jadwal dan mesti beli tiket baru, huhuhu. Lebih minta ampun lagi kondisi kereta-kereta di Italia. Lima tahun berlalu dan enggak ada perbaikan juga?  Toilet yang dulu jelek sekarang malah out of order? Eh, tapi apa kabar kereta di Jakarta, ya, hahahaha.
Ceritanya saya akan bertolak ke Bologna, dari utara Italia. Dari Stasiun Arona - nanti saya ceritakan kenapa saya bisa terdampar di situ - harus ganti kereta di Milan, sebelum mencapai Bologna. Feeling saya terhadap kereta regional Italia enggak cakep deh. Karena saya sudah mendengar tentang kemungkinan keterlambatan yang disebabkan kereta itu. Tapi Lucia yang mengantar saya ke Arona meyakinkan, pilihan kereta jam 16.00 yang terbaik, karena saya tidak perlu berlama-lama di Milano Centrale menunggu kereta ke Bologna berangkat jam 17.15. Saya sih lebih sreg berangkat dari Arona jam 15.02. Tapi saya tahu apa sih, kan Lucia yang orang Italia, begitulah akhirnya saya menyerah.
Dan feeling enggak cakep itu berubah nyata. Kereta regional yang kondisinya enggak cakep itu pulak jalannya lambaaaaaaaaaan sekali, karena beberapa kali harus mengalah pada kereta antarnegara. Dan tibalah saya dengan sukses di Milano Centrale jam berapa? Jam 17.20. Cakep. Kereta menuju Bologna itu, ya sudah pasti sudah berada di luar Milano Centrale. Saya pun murkaaaaa. Dan kalau saya murka, apa yang saya lakukan? Ngomel dulu, hehehe. Maka saya SMS Lucia dan saya ungkapkan kekecewaan saya. Sarannya: cari staf stasiun buat dimarahi. Jawaban saya: I will! Hahaha.
Maka dengan geram saya mencari pusat informasi. Eh, tapi ternyata saya enggak perlu marah-marah ding. Setelah saya jelaskan dengan bahasa Italia campur-campur Inggris tentang keterlambatan kereta di Arona, si petugas yang sudah tua itu dengan santainya mengganti jadwal keberangkatan saya ke jam 18.15. Hah, enggak perlu bayar apa-apa nih? Kata dia, enggak tuh. Grazie molte Signor, jij enggak tahu, kan uang di dompet eike tinggal 30 euro, jadi kalau mesti bayar tiket pengganti enggak cukup nek.

Solo Travel: Prague

Rencananya mah bukan solo travel. Rencananya Dedes - yang lagi hamil 8 bulan tapi masih getol jalan - dan suaminya yang pecinta abis Praha mau mengantar saya melihat-lihat Praha. Makanya saya pede berangkat dari Jakarta tanpa bekal sedikit pun tentang Praha. Boro-boro lokasi wisatanya, Republik Ceko masih memberlakukan mata uang koruna, bukan Euro walaupun sejak 2007 Praha sudah masuk area Schengen, saya enggak ingat. 
Rencana tinggal rencana. Dedes masuk RS karena kehamilannya riskan. Wolfgang enggak mungkin, kan mengantar saya. Ya, saya harus naik bus sendirian ke Praha. Alhasil saya panic at the disco. Baru 2 malam eksis di Munich, pada 6 Juni saya harus bertolak ke Praha. Apa boleh buat, 6-7 Juni sudah saya anggarkan untuk perjalanan ke Praha. Saya HARUS ke Praha, sendirian pun jadilah. Saya tak mau kegagalan pada 2006 berulang - waktu itu saya seharusnya ke Praha, tapi karena Ceko belum termasuk negara Schengen dan urusan visa ribet, saya pun beralih ke Swiss.
Untunglah ada Wolfgang si dewa penyelamat. Dia membekali saya bukan hanya peta Praha. Dia mencarikan jadwal bus yang enak, hotel, sampai memberi saya 6 tiket metro Praha dan uang 200 koruna! Yap, dia segitu cintanya pada Praha sampai-sampai punya simpanan tiket dan mata uang Ceko, hehehe. Dedes pun bilang: "Agak aneh sih, Ka, karena kami tahun ini belum sekali pun ke Ceko. Biasanya setahun 4 kali."
Setiba di Hotel Florenc - setelah 2 jam kesasar pulak - saya masih panik: mau ngapain gue di Praha? Saya merenungi peta 1 jam sebelum memutuskan berkeliling Praha. Saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam, jadi saya harus bergerak. Pada akhirnya... semua kepanikan itu terbayar lunas. Solo travel di Praha sungguh membawa berkah. Saya melihat salah satu pemandangan yang bagi saya sulit dilukiskan dengan kata-kata, Charles Bridge yang anggun disorot matahari sore - saya nyaris bersujud di jembatan itu - dan merenungi keindahannya selama saya suka, saya bebas berjalan sampai gempor dan sampai jam 11 malam - hanya karena metro cuma beroperasi sampai jam 1. Kalau tidak, pastinya saya bisa jalan lebih lama :). 
Saya tetap lebih cinta Paris daripada Praha. Namun ada sesuatu tentang Praha yang selalu membayangi saya. Mungkin Charles Bridge, mungkin karena akhirnya kesampaian juga setelah tahun 2006 gagal? Atau mungkin solo travel yang menakjubkan. Yes I'm proud of it, karena ini saya lakukan tanpa persiapan, di negeri yang tidak saya kenal bahasanya pula.

Suka-duka di Loket Imigrasi Bandara Eropa

Yang paling saya benci sepenuh hati di Eropa bukan muka jutek orang-orang Jerman, bukan cowok-cowok Italia yang sok kece - ya habis memang cakep, mau bagaimana lagi :) - bukan pula cuaca dinginnya yang enggak bersahabat - tapi kayaknya ini yang saya benci nomor 2 deh. Yang paling saya benci adalah imigrasi bandara. Karena saya WN Indonesia, negeri yang suka diincar teroris itu lho. Jadi tak mungkin saya bisa lolos dari loket imigrasi bandara Eropa hanya dengan cek paspor dan wajah. Kendati saya punya tampang bule, hiks hiks.
Untungnyaaaaa... terakhir kali ke Eropa Juni kemarin, alhamdulillah, semua lancar. Malah enggak lancarnya pas mengajukan visa - bolak-balik ke Kedubes Jerman 3 kali karena loketnya cuma buka satu alhasil antreannya gilak dan pas foto saya enggak memenuhi syarat, huh - dan ditanya-tanyai petugas di bandara transit di Doha. Dia yang enggak bule itu bisa-bisanya menginterogasi saya, mau ngapain di Jerman bla bla bla dengan muka jutek. Dan mendarat di Bandara Franz Josef Strauss, Munich, alhamdulillah sekali saya disambut wajah biasa aja petugas imigrasinya dan cuma ditanya: keperluan di Munich (ya mereka berhak tanya, wong judulnya mereka petugas imigrasi Muenchen, bukan Doha) dan apakah saya datang bersama rombongan yang mengantre di belakang saya. Selesai.
Pulangnya pun alhamdulillah sekali enggak susah. Malah sambil tersenyum si petugas itu cuma bertanya, apakah saya senang berwisata di Munich. Beda dengan 4-5 tahun lalu, mungkin karena yang satu saya mendarat di Paris yang kota impian banyak orang, dan satunya lagi saya datang menjelang Piala Dunia Jerman 2006, saat yang juga diimpikan banyak orang dari penjuru dunia untuk menonton sepak bola. Walau Juni kemarin cukup lancar, tetap saja saya trauma tuh kalau dalam perjalanan saya berpindah-pindah kota pun harus naik pesawat. Bayangkan berapa bandara yang harus saya lewati. Sudah saya sebal diinterogasi panjang lebar, pasti orang yang mengantre di belakang saya juga sebal. Biarin deh agak panjang perjalanan dengan kereta apalagi bus, yang penting saya nyaman.
Berikut ini juga sebabnya saya berusaha semaksimal mungkin menghindari bandara di Eropa. Banyak kota di Eropa tujuan wisata potensial, jadi antreannya kadang ampun-ampunan. Efeknya beberapa orang nyaris ketinggalan pesawat - atau malah benaran ketinggalan - apalagi jika mereka tiba di bandara hanya setengah sampai 1 jam sebelum keberangkatan. Maka saat saya mengantre pulang, terjadi perdebatan antara para calon penumpang yang panik ini dengan beberapa penumpang Asia Timur yang meneriaki mereka agar patuh peraturan. Begitu hampir tiba giliran saya maju ke loket, karena saya tahu pasti akan dihadapkan pada beberapa pertanyaan - syukur-syukur cuma 1-2, kalau lebih? - dan jam keberangkatan saya masih dalam 1,5 jam ke depan, maka saya biarkan 2 orang Amerika melewati saya, karena dalam 15-20 menit pesawat mereka akan take off. Hmm, ini membuat saya berpikir. Kalau saya membantu warga Amerika, kira-kira imigrasi Amerika akan membantu saya enggak, ya? Hehehe.

Monday, September 3, 2007

Sopir-sopir Taksi Meksiko

Yang juga saya rindukan dari Meksiko, agak aneh sih, sopir-sopir taksinya! Iya, beneran. Mereka yang berjasa melatih bahasa Spanyol saya sewaktu di Meksiko. Mereka betul-betul suka mengobrol! Berawal dari ketertarikan mereka pada bahasa asing - Indonesia maksudnya - yang saya dan Panji pakai waktu mengobrol di taksi. Biasanya mereka menanyakan dari mana asal kami, pakai bahasa Spanyol - duh kayak kami ngerti aja ya! Untungnya pertanyaan simpel macam begitu sih, saya masih ngerti.
Yang kami obrolkan, macam-macam. Telenovela sudah pasti. Biasanya mereka tanya, telenovela apa saja (waktu itu) yang sedang ditayangkan di Indonesia. Walau bangga produk mereka laku di negara nun jauh di sana, tak jarang yang mengecam telenovela Meksiko yang ceritanya cinta segi tiga standar. Misalnya sopir taksi merah - bukan hijau gonjreng - yang biasanya mangkal di hotel atau terima pesanan lewat telepon - yang mengantar saya pulang dari rumah Mbak Ratna. Dia mengaku bosan dengan telenovela Meksiko, dan lebih suka telenovela Kolombia macam Betty la Fea (duh, sama kayak Guritno!). Perbincangan paling enggak nyambung barangkali saya lakukan dengan seorang sopir yang mengantar kami ke Televisa. Kami ngobrolin soal agama! Eits, enggak yang dalam-dalam lho. Dia cuma pengin tahu, ada berapa agama di Indonesia, soalnya kalau di Meksiko, kan kebanyakan penganut Katolik. Waktu saya bilang ada 5 (mestinya 6 ya, maaf) dan saya sebutkan satu per satu, dia kelihatan senang sekali. Ternyata, dia pengoleksi patung Buddha! "Iya, di rumah saya ada patung-patung Buddha. Wah, saya senang dengar di negeri kamu ada agama Buddha!" Halah, enggak penting, ya? Tapi kunjungan saya ke Meksiko di tahun 2003 itu memang menyenangkan dan mengesankan. Bayangkan, dalam kunjungan 3 tahun sebelumnya, pada mereka saya cuma bisa berucap derecha, izquierda! Kanan, kiri!

Piramida 1 Juta Rupiah

Ini ongkos jalan-jalan termahal ke sebuah tempat wisata yang pernah saya keluarkan. 1 juta rupiah! Gara-garanya, ngiler lihat piramida. Konon piramida di dunia ini cuma ada di 2 negara, Mesir dan Meksiko. Mumpung di Meksiko dan piramidanya nggak terlalu jauh, sekitar 40 km dari Mexico City, kapan lagi? Tapi repotnya, gara-gara saya mau ikut, menyewa satu taksi saja nggak cukup. Sudah barang tentu, apalagi dalam rombongan, kan ada Mas Robi yang ibaratnya "Big Mac" dalam menu McDonald's, hehehe. Ditambah lagi kalau kami berangkat pakai taksi gonjreng yang suka kelihatan di telenovela-telenovela itu, yang sedikit mungil dibanding taksi lain. Mas Robi yang ketua rombongan sih nggak keberatan saya ikut, tapi syaratnya saya harus membayar sewa satu taksi lain, bolak-balik kalau dikurs 1 juta rupiah! Berhubung sebetulnya saya enggak ada kepentingannya dalam perjalanan itu dibanding anggota rombongan yang lain, saya mengalah. Satu juta memang berat, tapi lihat piramida itu pengalaman unik yang belum tentu pernah saya peroleh lagi. Padahal rada-rada sebal juga sih, apalagi Mas Robi ikut taksi saya, huehehehehehe...
Maka berangkatlah saya, Mas Robi, dan Dulce dalam satu taksi, dengan Haris dan Enno di taksi lain berikut kamera, ke Teotihuacan, yang pada zaman SM konon merupakan kawasan tempat tinggal suatu bangsa - katanya juga sampai hari ini belum diketahui bangsa apa yang dulu menduduki Teotihuacan, tempat berdiri tegaknya sejumlah bangunan termasuk Piramida Matahari. Setelah hampir 1 jam perjalanan dari Mexico City - si Panji Gundul Pacul enggak ikut soalnya dia lebih memilih mencari sepatu kulit yang akhirnya gagal dia dapatkan juga, hahaha - kami pun mengantre membeli tiket masuk Teotihuacan. Enggak mahal, tapi saya lupa harganya, pastinya enggak lebih dari 100 peso (100 ribu rupiah). Eh, tapi tidak semua dari rombongan kami boleh masuk ke dalam kawasan Teotihuacan. Karena tak punya izin merekam pemandangan di dalam, Haris yang pegang kamera tidak boleh masuk! Wah, saya sempat ragu-ragu masuk, masa iya ditinggal? Tapi 1 juta bo! Mas Robi akhirnya membiarkan kami masuk. Ia, sebagai pimpinan yang bertanggung jawab, menemani anak buahnya yang tak boleh masuk.
Di dalam, apa lagi yang kami lakukan kalau bukan berfoto-foto. Dasar si Enno, dia menertawakan Haris dan Mas Robi yang terdampar di luar. Tapi kami juga tak lama-lama di dalam. Paling lama setengah jam, kami meninggalkan Teotihuacan. Alasannya dua. Pertama enggak enak hati dong ingat Mas Robi dan Haris. Kedua, panas bo! Kami akhirnya enggak jadi berjalan mendekati Piramida Matahari. Sudah jalannya panjang, panas lagi. Kami sudah cukup puas berfoto dengan latar belakang piramida itu. Malah Dulce sempat berpesan agar mengirimkan foto-fotonya di Teotihuacan kepada pacarnya (sekarang suaminya) yang orang Yogyakarta, Fitra. Adaaaaa... aja.

Di Swiss atau Italia Sih Ini?

Begini nih kalau pergi ke luar negeri tanpa persiapan matang. Serbaenggak tahu dan serbapanik! Sebagai pemegang visa Schengen pada 2005, saya leluasa menjelajahi negara Eropa Barat mana pun. Kecuali satu: Swiss - yang baru bergabung dengan area Schengen pada 2008. Makanya, saya usahakan agar alat transportasi apa pun yang saya pakai, tidak melewati negeri cantik yang berselimutkan pegunungan Alpen itu. Biar enggak pakai acara transit, cuma numpang lewat pakai kereta doang, katanya enggak boleh lho lewat Swiss tanpa visa Swiss.
Tapi walau sudah diyakinkan teman saya, Risna, perjalanan kereta dari Roma, Italia, menuju Munich, Jerman, itu tidak melewati Swiss, tak urung saya kaget plus panik juga saat kereta bergerak mengarah ke area utara Italia yang kemudian saya ketahui bernama Alto Adige. Panik campur kagum, sih. Soalnya, sumpah, daerah itu enggak kalah cantik dari Swiss yang waktu itu saya "takuti"! Pegunungan Dolomite yang puncaknya bersalju, bagian dari rangkaian pegunungan Alpen (ini saya juga baru tahu belakangan) hanya berjarak beberapa meter saja dari balik kereta Trenitalia, yang salah satu penumpangnya saya ini! Gila, pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat seumur hidup! Pemandangan "tak terlupakan" di Barcelona kalah deh, hehehe. Hampir sepanjang jalan menuju Alto Adige, mata saya tertancap pada si Dolomite yang luar biasa itu. Kecuali pada beberapa saat tertentu. Seperti saya tulis di atas, saya baru tahu belakangan, yang saya lewati adalah area Alto Adige, masih di utara Italia. Nah, waktu itu, saya pikir saya sedang menyusuri area Swiss!
Kenapa saya berpikir begitu? Yang memberatkan pikiran, papan nama yang tergantung di beberapa stasiun yang dilewati Trenitalia Roma-Munich: Bolzano/Bozen atau Bressanone/Brixen. Saya tahu Bolzano dan Bressanone adalah tipikal nama kota dalam bahasa Italia. Tapi saya pun juga tahu kalau Bozen atau Brixen tipikal nama kota dalam bahasa Jerman. Dan saya enggak tahu orang-orang di Italia utara sebagian besar juga berbahasa Jerman (betul, wawasan saya payah banget!). Jadi, saya pikir kereta Trenitalia sedang berada di jalur kereta Swiss, yang sebagian penduduknya berbahasa Jerman, sebagian lagi berbahasa Italia (ada lagi yang sebagian berbahasa Prancis, tapi di wilayah Barat, jadi tak saya perhitungkan). Jadi, sambil mengagumi Dolomite, sambil cemas juga. Takut sewaktu-waktu ada petugas menagih visa Swiss ke dalam kompartemen, yang saya tempati bersama 5 orang berbahasa Jerman (yang belakangan saya ketahui, semuanya orang Austria). Saya baru lega saat kereta berhenti di stasiun dengan papan putih besar bertuliskan "Innsbruck". Fiuhhh... Austria! Dan barulah beberapa menit kereta beranjak dari Innsbruck, petugas perbatasan Italia-Austria menanyakan visa. Visa Schengen tentunya.

Saturday, September 1, 2007

Pemandangan Pertama Yang "Tak Terlupakan"

Barcelona memang menyimpan sejuta cerita. Teman saya, Endah, kecopetan 700 euro di salah satu kota tercantik di Eropa itu. Padahal dia sedang tidak jalan-jalan di La Rambla, kawasan teramai, melainkan di dekat markas FC Barcelona, Camp Nou. Waktu mencari Camp Nou, saya dan Vicki sempat lewat area sepi. Tapi alhamdulillah aman-aman saja. Jadi, cerita apa yang saya bawa dari Barcelona? Hmmm, menonton dua sejoli ML di tempat umum!
Pemandangan ini malah bisa dibilang pemandangan sungguhan pertama saya di Barcelona. Jadi ceritanya, waktu tiba di Barcelona jam 05.30 pagi, saya dan seorang cowok India yang saya kenal di bus Eurolines, Phanindra, langsung sibuk mencari jalan menuju kantor wisata Barcelona yang terletak di Plaça Catalunya. Sekitar setengah jam kemudian, dari Stasiun Sants, yang juga jadi terminal Eurolines, kami tiba di Stasiun Catalunya. Meniti tangga ke atas stasiun metro yang terletak di bawah tanah itu, sampailah kami di Plaça Catalunya. Karena belum menemukan letak si kantor wisata itu, beristirahatlah kami sejenak di salah satu sudut Plaça Catalunya. Di seberang kami terlihat tiga tempat duduk umum. Yang paling kiri ditempati beberapa turis asal Jepang yang sedang sibuk berfoto-foto dan mengecek hasil foto. Yang paling kanan kosong. Yang tengah? Nah, inilah yang membuat kami terbengong-bengong. Di bangku tengah itu tengah asyik ML dua sejoli, dengan sang cowok duduk di bangku dan sang cewek di pangkuannya! Nah lho. Saking kagetnya, saya dan Phanindra tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Mana tambah lama, tambah hot lagi. Waduh, kacau. Enggak apa-apa kalau saya lagi ada di situ sendirian atau dengan teman baik saya. Nah, ini kan masalahnya sama cowok India yang baru saya kenal beberapa jam. Maksudnya takut tergoda, gitu? Ya bukan begitu dan enggak banget atuh... cuma berasa goblok diem-dieman di situ, sementara kalau sama teman baik, kan bisa asyik cekikikan. Dan kayaknya si Phanindra juga malu hati tuh. Sampai akhir perjalanan bareng kami, kami tak membahas pemandangan itu. Tak lama juga kami berada di situ. Belum lagi permainan ML itu selesai, kami bangkit dan memutuskan melanjutkan pencarian. Huoh. Pemandangan pertama yang "tak terlupakan"!

Monday, June 25, 2007

Teori Terbalik dengan Kenyataan

Sebelum jalan-jalan di Eropa, saya memiliki impresi tertentu tentang bangsa tertentu. Entah dari berita yang saya lihat di teve, baca di koran, atau dari obrolan dengan teman. Tapi begitu sampai di Eropa, fakta berkata lain. Hampir semua teori saya terbalik. (sSetidaknya berlaku buat saya, barangkali lain orang, lain pengalaman!)
Nah, teori saya mengemukakan, orang Inggris, seperti negerinya yang jarang bersimbah cahaya matahari, dingin. Mungkin saya terpengaruh protokoler kerajaan Inggris yang ketat. Ternyata, ya ampun, mereka termasuk makhluk paling menyenangkan di dunia ini! Ketika saya terbengong-bengong di hostel saya di Barcelona, mereka mengajak mengobrol sembari makan siang. Juga makan malam, walau saya tolak karena kecapekan. Dan menunjukkan tempat-tempat yang mungkin bermanfaat buat saya. Sumpah, saya syok. Memang betul kata pepatah, don’t judge a book by its cover.
Yang lucu, kami sampai pada kesimpulan yang sama tentang satu bangsa (sebaiknya tidak saya tulis di sini). Itu terjadi setelah Natasha, salah satu dari mereka, bertanya kota mana saja di Eropa yang sudah saya singgahi. Ketika saya menyebut kota itu, Natasha memotong, “Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang di sana? I don’t like them. They're snob.” Really? Saya dibuatnya terkejut lagi. Karena saya juga tidak menyukai mereka. Ketika Natasha mengajukan argumennya, saya bisa mengerti. Tepat seperti itulah perasaan saya. Bayangkan saja, dari sekian banyak orang di kota itu, masa yang saya kategorikan baik cuma tetangga teman saya, yang pasangan kakek-nenek? Dan jangan kira teman saya betah tinggal di situ. Ketika saya tanyakan kemungkinannya menetap dan menikahi pria lokal, dia langsung memandang saya dengan ngeri: ”Enggak maulah, gue mau nikah sama orang Indonesia!” Padahal, duh, kalau jalan-jalan, dia yang ribut tentang gantengnya cowok-cowok lokal. ”Ka, lihat tuh, sopir bus aja ganteng banget!” begitu contoh kehebohannya. Tapi tekadnya buat tidak terlibat dengan pria lokal tetap bulat. Dan, hampir 2 tahun kemudian dari hari itu, dia menikahi seorang pria Indonesia : ).
Impresi dingin juga melekat dalam benak saya tentang Jerman. Iya, sampai sekarang pun saya masih berpendapat bahwa Jerman itu dingin (maksudnya cuacanya tetap saja dingin, walau mau masuk musim panas), bangunan-bangunannya sama dingin (kebanyakan bentuknya kotak-kotak), orang-orangnya apalagi. Sumpah, saya enggak terkesan sama sekali dengan salah satu dari mereka yang mencoba menabrak teman saya dengan sepeda. Pokoknya Jerman, dalam segala segi, nyaris semua dingin! Eh, kecuali 2 keajaiban: Wolfgang dan Biss. Yang pertama, ya siapa lagi kalau bukan suaminya Dedes itu – sampai sekarang saya masih terkagum-kagum, ada makhluk seramah itu. Yang kedua, majalah yang menurut oknum H diciptakan buat mengakomodasi orang-orang yang enggak punya pekerjaan. Biss banyak digenggam sejumlah penjual di pusat kota Munich, Marienplatz-Odeonsplatz. Sekitar 500 meter sekali, boleh dibilang kelihatan orang menawarkan Biss. Pemandangan yang lumayan mencolok, apalagi area jualan mereka tak dilengkapi media cetak lain dan kios. Ya, adanya cuma seorang pria – kadang ditemani anjing – menggenggam beberapa eksemplar Biss.
Sejarah terbitnya Biss, kalau enggak salah nih, berawal dari banyak pabrik dialihkan ke China yang biaya pekerjanya lebih murah – pantas Perancis sempat menentang China juga Amerika. Alhasil banyak orang Jerman kehilangan pekerjaan. Nah, buat mereka yang enggak mau merepotkan negara, disediakanlah Biss. Konon seluruh keuntungan dari penjualan majalah itu – yang konon juga artikelnya ditangani penulis serius (duh konon melulu, mesti dicek nih benar atau enggak!) – buat para penjual. Yang beli majalah itu, kata oknum H lagi, ada saja, walau motifnya entah suka, butuh, atau kasihan.
Hmmm, dari kisah Biss itulah, setidaknya ada simpati saya buat Jerman. Tapi negara sebelumnya, tetap tidaaaaaaaaakkkkk (keukeuh, hehehe)! Soal impresi yang salah itu, juga saya temukan pada orang Perancis. Padahal sebelum menginjak Paris, satu-satunya orang Perancis yang tampangnya enggak jutek cuma M Ghislain de Rozieres yang mengajar saya dan teman-teman waktu kuliah dulu. Eh, tapi siapa coba yang paling sering menolong saya di Eropa? Orang Perancis. Dan itu mereka lakukan sebelum mendengar satu patah kata pun dalam bahasa Perancis terlontar dari mulut saya! Misalnya, cewek asal Grenoble yang duduk di hadapan saya dalam kereta Eurostar Milan-Roma, yang tanpa saya minta menawarkan untuk membenahi travel bag saya ke tempat penyimpanan tas - yang tak mampu saya jangkau karena terlalu tinggi buat saya : (. Juga beberapa orang lain - seperti cewek yang membantu saya membeli tiket lewat mesin tapi kok gagal juga (apalagi saya yang enggak pernah berurusan dengan mesin begituan), belum lagi Julien, pacarnya teman saya, Sandy, yang masak ini-itu buat nyenang-nyenangin saya! Huoh, enggak nyangka deh Paris itu full senyum! Apalagi hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine... jadi saya pasti bakal balik lagi ke sana!

Parfum-parfum CDG

Bandara Dubai, Uni Emirat Arab, 20 Mei 2005, jam 04.00 waktu setempat, di bangku tunggu penumpang. Satu jam menjelang kepulangan saya ke Jakarta, dengan penerbangan Emirates.
”Where are you going?” tanya seorang pria dengan rambut mulai memutih, tersisir rapi ke belakang – saya perkirakan usianya 50 tahunan.
Saya mulai merespons pertanyaannya dengan senyuman. Habis, si Bapak ini tampangnya sedikit Jawa. Dia terkecoh rambut cokelat saya, rupanya. Maka, saya dengan santai menyahut, ”Ke Jakarta, Pak.”
Bapak itu terkejut. ”Lho, orang Indonesia toh,” katanya. Saya mengangguk. Lalu kami berbasa-basi, saling bertanya dari mana saja dan dengan siapa. Dia makin terkejut saat tahu saya jalan sendirian ke Eropa. Sementara ke benua yang sama, dia ikut tur bersama beberapa puluh rekannya. Ya ampun, Pak, saya bukan pelopor jalan-jalan ke Eropa sendirian, juga bukan yang terakhir. Bahkan di kalangan teman baik saya sendiri. Manda dan Risna yang mengawali, saya cuma terinspirasi.

***

Dan itu bukan interaksi pertama saya dengan orang Indonesia di bandara luar negeri – maksudnya yang belum saya kenal sebelumnya. Yang pertama terjadi lebih dari 2 tahun sebelumnya, sekitar pertengahan April 2003. Waktu itu saya dan Panji sedang transit di Bandara Charles de Gaulle (CDG), Paris. Waktu transit yang cukup panjang, 6 jam, memungkinkan saya hunting suvenir di Terminal B yang tak seberapa luas itu. Tapi cukup luas lho buat menampung koleksi ratusan parfum. (Seorang penulis rubrik kecantikan menyebut, CDG dan Bandara Vancouver punya koleksi makeup terlengkap.)
Ya, di situ saya mencoba-coba parfum sampai ”mabuk” dengan seorang kenalan dadakan, Sulianto. Kebetulan, orang-orang Indonesia yang transit di CDG, berasal dari negara keberangkatan yang tak lazim jadi tujuan wisata. Seperti sekelompok cowok bertampang cuek yang main gaple (di CDG!), yang dalam perjalanan menjauhi tempat kerja mereka, Pantai Gading. Atau saya dan Panji dari Meksiko. Atau Sulianto yang habis dikirim ke Ekuador oleh kantornya, Astra. Selagi Panji mengobrol dengan cowok-cowok dari Pantai Gading itu, saya dan Sulianto memutuskan membunuh waktu dengan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan main-main parfum. Habis Perancis, kan terkenal sebagai negeri penghasil parfum. Lagi pula siapa tahu, siapa tahu lho, parfum di CDG lebih murah.
Eh, ternyata enggak juga. Setidaknya parfum yang saya pakai, harganya sama saja dengan di Jakarta. Tapi Sulianto ngotot membeli sebotol parfum dengan kemasan ungu – saya lupa mereknya – karena dipesan temannya. Nah, sebelum membungkus parfum itu, asyiklah kami menyemprotkan aneka parfum ke pergelangan tangan. Habis setiap jengkal pergelangan tangan – sampai kami bingung, parfum mana yang disemprotkan ke mana, hihihi – barulah kami beralih ke kertas tester. Sumpah saking banyak, saya cuma ingat satu parfum: Glow by Jennifer Lopez. Pasti berkesanlah, soalnya waktu itu baru dirilis sama JLo dan dipajang di depan jalan masuk gerai.
Sayang sampai di situ saja saya interaksi saya dengan Sulianto. Soalnya di pesawat tempat duduk kami terpisah jauh; kami di sektor depan kabin ekonomi, sedangkan dia jauh di belakang. Dan saya pun tak menemukannya ketika sudah sampai Bandara Soekarno-Hatta - sibuk mengurusi diri sendiri, mana kartu imigrasi saya terselip. Yah, mana tahu nanti kita main-main di bandara lagi. Di Bandara Internasional OR Tambo misalnya? Maunya tuh.

Wednesday, June 20, 2007

Tradisi Pinjam Baju

“Haaa… Tante Ika, bajunya baru,” kata Rizka sembari menunjuk foto di mana saya mengenakan kaos lengan tiga perempat berwarna putih garis-garis biru muda.
“Bukan,” sahut saya mesem-mesem. “Itu baju teman gue, Manda.”

”Ka, bagus deh kalau lo pakai kaus ini,” Ita mengacu pada kaus bercorak dedaunan yang saya pakai waktu jalan-jalan sore di Paris, 6 Juni 2006.
”Punya Sandy,” kata saya capek. ”Bukan cuma kausnya. Jaket sama celana jinsnya juga.”

”Ini pasti bukan punya elo,” kata Deedee yakin waktu melihat saya pakai mantel hitam panjang dalam foto di Salzburg.
Pinter. Buat apa saya, yang berdomisili di Indonesia, koleksi mantel?

Teman-teman saya yang tinggal di luar negeri – entah buat keperluan kerja maupun ikut suami – tak pernah bosan meminjamkan baju pada saya. Juga tak bosan mengingatkan saya agar jangan memenuhi koper dengan baju, setiap kali menengok mereka. Walau Sandy curiga sebetulnya saya lebih berhasrat menengok Paris, menengok pertandingan bola, menengok Alpen (ya, ya, Eropa selalu menggoda), sampai-sampai dia bilang, ”Gue kira mau nengokin gue, ternyata nengokin bola (World Cup 2006 maksudnya).” Hehehe. Bercanda, San. Ya sudah, alhasil dalam sebagian hasil foto di Eropa, saya terlihat mengenakan baju teman Sandy, Manda, Dedes. Mungkin juga Rita, kalau saja waktu itu Rita sudah tinggal di Paris. Bahkan Hari : ). Habis ukuran tubuh kami tak jauh beda. Tak hanya baju, saya juga suka pinjam tas buat sekadar jalan-jalan. Untuk tas, yang jadi korban Widya dan Dedes. Widya enggak punya kesempatan buat berkontribusi dalam soal baju, kecuali baju tidur. Soalnya ketika saya di Roma, cuaca panas terus. Alhasil saya tak perlu pakaian ekstra buat membalut kaus atau jaket saya yang standar Indonesia. Jaket yang suka bikin gemas teman-teman saya. Yang jangankan buat musim dingin, buat musim semi yang cuacanya tak menentu pun diragukan kehangatannya.
Suatu sore saya menolak pakai mantel panjang Sandy dan bertahan dengan jaket Indonesia dua lapis. Sandy memutar matanya, ”Terserah.” Anami, temannya, bertanya khawatir, ”Memang kuat (cuma pakai) jaket begitu?” Tapi saya bersikeras. Mereka akhirnya membiarkan saya membungkus diri (cuma) dengan sehelai kaus oranye dan dua jaket standar Indonesia.
Keluar apartemen lama Sandy di kawasan Ermont-Eaubonne, pinggir Paris, saya baru pakai satu jaket. Brrr, ternyata udara sore itu dingin juga. Jaket yang satu lagi pun saya pindahkan dari genggaman ke tubuh saya. Satu jam kemudian, setelah menempuh perjalanan dengan metro, saya dan Sandy berpisah dengan Anami. Kami pun menghabiskan sore terakhir saya di Paris 2 tahun lalu itu antara lain dengan mengunjungi apa tuh ya, semacam museum Iptek gitu deh kalau nggak salah (San, koreksi dong!), melihat Eiffel yang bercahaya di malam hari, naik metro tanpa pengemudi (M14), dan makan crepe. Saya memang minta Sandy agar mengantar saya beli crepe. Masa sudah jauh-jauh ke Paris, tapi melewatkan camilan khas ini. Tapi belum lagi mengunyah crepe, saya sudah mengeluh. ”San, pulang saja yuk, dingin,” kata saya. Waktu itu gelap baru menyelimuti langit, sekitar pukul 9.30 malam (waktu saya di sana sedang musim semi, dengan malam baru turun sekitar pukul 9 lewat). Sandy langsung memelototi saya sambil ngedumel, ”Udah gue bilang kan, pakai mantel yang panjang, enggak percaya. Sekarang kedinginan kan.” Tapi teuteup, jajan crepe nggak boleh lupa. Jadi sambil menggigil kedinginan, saya mengikuti Sandy ke Saint-Michel buat beli crepe marron alias crepe kacang merah kesukaan orang Prancis yang memang lezat! Jajanan kaki lima saja rasanya selangit, apalagi yang di restoran.
Sejak saat itu, saya enggak ngeyel lagi kalau disuruh pakai mantel panjang. Seperti waktu Manda menyuruh saya mengganti jaket hitam bertudung andalan saya dengan mantel hitam panjangnya. ”Jaket Indonesia kayak begini mana bisa dipakai di sini!” katanya. Hihihi, itu bukan jaket Indonesia Man, tapi dibeli di Meksiko. Tapi sumpah deh, enggak bakal saya sok tahu lagi.