Saturday, June 11, 2011

Setahun Kemarin

Setahun kemarin.
Tanggal 9-11 Juni 2010, saya berada di Paris. Menandai kunjungan ketiga saya ke ibu kota Prancis, dan ke apartemen Sandy, hehehe.
Sandy yang baik hati selalu menawarkan kamarnya setiap kali saya datang ke Paris. Paris tak pernah luput dari perjalanan saya di Eropa. Tiga kali ke Eropa, ya tiga kali juga ke Paris. Malah sempat-sempatnya transit sekali, sebelum akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di Paris 6 tahun silam. Gimana ya... seperti mungkin pernah saya tulis atau katakan, hati saya sudah kecemplung di Sungai Seine boo....
Saya berangkat ke Paris dari Munich. Perjalanan yang rasanya aneh. Soalnya biasanya di Munich, ke mana saya pergi, biasanya diantar teman saya, Dedes, dan suaminya, Wolfgang. (Tuh, teman-teman saya memang sangat sangat baik hati, kan.) Tapi karena keadaan tidak memungkinkan - Dedes mendadak harus masuk ke rumah sakit - saya menuju Hauptbahnhof alias stasiun besar Munich sendirian. Pagi-pagi bener pulak. Berhubung kereta yang saya naiki bertolak dari Hauptbahnhof jam setengah 7 pagi, jam setengah 6 pagi saya sudah harus berjalan menuju stasiun U-bahn alias kereta bawah tanah Jerman terdekat apartemen Dedes, Dulferstrasse, huhuhu. Perjalanan ke Hauptbahnhof soalnya butuh waktu hampir setengah jam, belum ditambah jalan kaki dari apartemen ke Stasiun Dulferstrasse 10 menitan.
Tapi saya ikhlas jalan pagi-pagi banget begitu. Soalnya saya bakal segera tahu rasanya naik kereta idaman saya bertahun-tahun, TGV alias train à grande vitesse alias kereta tercepat Prancis, hehehe.... TGV ini dulu heboh bener dibahas di buku pegangan kuliah saya di Sastra Prancis, jadinya penasaran berat melanda. Kemarin-kemarin, karena pesan tiket transportasi antarkota dan antarnegara mendadak, saya ogah pesan tiket TGV. Soalnya kalau belinya mendadak, yang diberlakukan tarif standar yang mahaaaalll, di atas 100 euro untuk kelas 2. Nah, tahun lalu itu, karena belinya 3 minggu sebelum keberangkatan ke Paris, masih berlaku potongan tarif dan tiket saya peroleh dengan harga 69 euro. Enggak murah juga sih - paling murah kalau memesan 2 bulan sebelumnya, bisa dapat harga 29 euro! Tapi, ya mendingan bangetlah dibanding di atas 100.
Karena pengalaman naik TGV sekaligus menandai pengalaman pertama saya naik kereta supercepat, di dalam kereta, ya saya rada norak. Saya sangat menikmati sensasi kecepatannya, terutama ketika TGV sudah berada di wilayah Prancis. Biasanya naik bus Eurolines Munich-Paris sekitar 12 jam, dengan TGV 5 jam saja! Padahal, jarak Munich-Paris sebanding dengan Jakarta-Surabaya lho. Selain itu, sempat-sempatnya saya memotret bangku dan gerbong TGV, hahaha. Diam-diam tentu saja, malu hati sama rombongan anak-anak SD di Munich yang mau tur ke Paris.
Motret TGV diem-diem, hehehe.
Perhentian terakhir TGV adalah salah satu stasiun tersibuk Paris yang bernama Gare de l'Est (di tiket, nama yang tercantum adalah Paris Est) atau stasiun timur. Stasiun besar yang saya kenal sebelumnya hanya Gare du Nord atau stasiun utara, jadi ini juga kali pertama saya berurusan dengan Gare de l'Est. Rasanya tak sabar untuk menghirup udara luar Paris, tapi rasanya aneh juga. Soalnya ini juga kali pertama saya tiba di Paris tanpa ada yang menjemput - biasanya Sandy juga hobi mengantar jemput saya. Tapi Mama Sandy yang baru punya bayi lagi ini sudah memberi petunjuk untuk mencapai Stasiun Metro Dugommier, stasiun yang dekat banget dengan apartemennya. 
Sendirian di dalam metro Paris, saya sempat ketakutan saat seorang pria yang membawa seekor anjing Golden Retriever duduk persis di sebelah saya. Mak, eike pan takut sama anjing! Anjingnya sudah jelas berbaring di antara kaki saya dan kaki pria itu. Tapi sumpah saya syok habis waktu pria itu berpaling ke arah saya dan bertanya, "Habis ini stasiun apa, ya?" Ternyata pria itu tuna netra! Pantas saja dia ke mana-mana ditemani si Golden Retriever. Duh, salah banget saya. Karena saking fokus dan ketakutan pada si anjing, saya sampai mengabaikan pria di sebelah saya. Maaf banget banget, Pak. Setelah mengucapkan merci beaucoup terima kasih banyak, pria itu kemudian berdiri, menyeret anjingnya ke arah pintu metro, dan kemudian turun di Gare d'Austerlitz. 

***

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan saya di Stasiun Dugommier. Apartemen Sandy dari stasiun ternyata mudah dicari. Sekitar jam 14.00 waktu Paris, saya menjejakkan kaki di apartemen baru Sandy, hehehe. Ya enggak baru juga sih, baru saya kenal deh. Sampai 2007, Sandy dan suaminya, Julien yang kami panggil Ijul, tinggal di kawasan suburban Paris yang bernama Ermont-Eaubonne. 
Sambil mengemong putra bungsunya yang baru lahir akhir April, Viktor, Sandy bertanya, "Mau jalan-jalan ke mana lagi? Mau ke Eiffel lagi?" Dengan sombongnya saya menjawab, "Jangan dong, bosen. Gue juga bingung San, gue mau lihat apa lagi, ya di sini?" (Plaaak! Tampar si Ika, hahaha.)
Karena cuaca hari itu juga tidak mendukung - mana enak sih jalan-jalan di Paris kehujanan - saya dan Sandy, selain bergosip sambil makan melon dan sepotong quiche lorraine - Sandy tidak pernah lupa kesukaan saya yang satu ini, yang dalam versinya adalah quiche halal, tidak pakai daging babi, hehehe - agenda hari itu hanya mengunjungi toserba-supermarket Monoprix di seberang Stasiun Dugommier. Dan sudut mata saya menangkap logo Yves Rocher di samping Monoprix. Je serai la, I'll be there!

***

Besok pagi dan siangnya, hujan kembali turun. Huft, musim apa sih ini? Untungnya sekitar jam 14.00 giliran matahari menampakkan diri, menyusut hujan. Dan berlangsunglah agenda yang paling saya sukai di kunjungan Paris kali ini. Sandy mengajak saya menyusuri sebuah taman di dekat apartemennya, Promenade Plantee.
Hasilnya... j'adore Promenade Plantee, trop! Promenade Plantee adalah taman berbunga yang menjulang di atas Paris. Bayangkan saja jalan layang dengan kedua sisinya dirambati aneka bunga, nah seperti itulah Promenade Plantee. Jalur berbunga ini di beberapa bagiannya berfasilitaskan bangku, buat sekadar duduk, mengobrol, atau menikmati udara segar. Mengapa wujudnya agak mirip jalan layang, sebabnya taman sepanjang 4,5 km yang mengarah ke Bastille ini dulunya jalur kereta barang. Jalur yang terabaikan ini di awal abad ke-19 mulai menjelma sebagai taman berbunga, dengan bagian bawahnya yang tidak kalah cantik berupa Viaduc des Arts atau deretan toko yang memajang barang seni kontemporer. Begitu cantiknya Promenade Plantee sampai diabadikan dalam film Before Sunset-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy, lho.
Promenade Plantée yang menawan!

Viaduc des Arts, penyangga Promenade Plantée yang menjulang di atas Paris.

Sampai di Bastille, saya dan Sandy kembali ke apartemen melalui tepi Sungai Seine. Eh, lagi ada demo imigran di Bastille, sepertinya imigran asal Afrika. Saya ingat salah satu spanduk mereka berbunyi, "Kami butuh makan." Bastille katanya sih sering jadi lokasi demo, mengingat sejarahnya sebagai simbol pembebasan Prancis dari rezim monarki pada 1789. 
Sorenya, duh, hujan lagi! Hujan sungguh tidak lazim mewarnai peralihan musim semi ke musim panas. Tapi tahun lalu itu, cuaca memang kacau. Bukan hanya hujan, suhu belasan derajat masih menyambangi Paris, Munich, dan kota-kota di Italia. Padahal 5 tahun lalu, awal apalagi pertengahan Juni itu cuaca sudah mulai panas - kecuali di kota-kota yang dekat dengan Pegunungan Alpen barangkali, ya, seperti Vaduz, ibu kota Liechtenstein. 
Akan tetapi, hujan, ya biarlah ya. Saya mesti menuntaskan janjian dengan Rita, seorang teman kuliah saya yang bekerja di Paris. Sandy mengantar saya menemui Rita di Bercy Village - sembari nyempet-nyempetin juga melongok Yves Rocher, hehehe. Bercy Village adalah tempat kongko yang unik, yang menyerupai area pedesaan di Perancis dengan jalan berbatu-batu dan toko serta kafe mungil di kanan-kirinya. Unik karena di tengah jalannya masih tampak jelas bekas jalur rel! Setelah menyelidik lebih lanjut di Internet, ternyata Bercy Village ini dulunya gudang anggur. Dan rel itu adalah jalur transportasi pengangkut anggur.
Saya pun makin kagum dengan pemerintah Paris, Prancis, siapa pun itu, yang mengubah sesuatu yang dianggap tak berguna, seperti bekas gudang anggur ini, menjadi kawasan yang cantik dan menarik bagi wisawatan. Dan kawasan Bercy bukan hanya punya Bercy Village yang komersial, tapi juga Parc de Bercy atau Taman Bercy seluas 14 hektar juga dengan koleksi bunga dan anggur - menghormati riwayat Bercy dengan gudang anggurnya - tempat orang bersantai tanpa dipungut bayaran. Salah satu bagian Parc de Bercy adalah Jardin de Yitzhak Rabin atau Kebun Yitzhak Rabin, yang didedikasikan bagi PM Israel yang terbunuh pada 1995, Yitzhak Rabin - setahu saya dia PM Israel yang gencar mendamaikan negerinya dengan Palestina. Di taman ini ditanam berbagai varietas mawar.
Selesai dengan kawasan Bercy, saya ikut Rita makan malam di kawasan Place d'Italie, sementara Sandy kembali ke apartemen. Sebelum itu, saya kira Place d'Italie, mengacu pada namanya, adalah wilayahnya orang-orang Italia. Eh, salah lagi. Justru di dekat alun-alunnya itulah ngampar berbagai restoran Asia, hehehe. Salah satu restoran Vietnam di dekat alun-alun jadi favorit teman-teman saya di Paris. Oh iya, teman saya yang berdomisili di Paris bukan cuma Rita dan Sandy lho. Ada Ami, Dwi, Minnie, Yeri, Yanthie, kalau mau ditambah masih ada Azizah di Marseilles, kota di selatan Prancis. Sayangnya waktu itu tidak mungkin menemui semua. Ami sedang pelesir ke Den Haag, Belanda; Minnie sibuk kerja; Yeri menemui pacarnya di Inggris; lha Yanthie malah sedang ada di Indonesia. Sebenarnya saya dan Sandy mengagendakan menemui Dwi di tokonya tapi lupaaa, payah.
Di restoran Vietnam itu, menu yang saya dan Rita pesan adalah... mi ayam! Hahaha. Pengin tahu saja seperti apa sih wujud mi ayam ala Prancis. Oh, minya sama saja dengan yang kita kenal, cuma seperti tenggelam dalam kuahnya. Tapi kami tak bisa berlama-lama di restoran yang tak seberapa besar itu, karena antreannya lumayan panjang. Kasihan, soalnya orang-orang itu menunggunya di luar restoran, sementara cuaca menjelang malam mulai dingin.

***
Hari terakhir di Paris.
Saya pengiiin banget makan crepe. Terkesan banget sama crepe marron atau crepe isi kacang merah khas Prancis yang saya beli di pinggir jalan 4 tahun silam. Tapi kata Sandy, di dekat apartemennya enggak ada crepe enak. Jadinya kami makan siang dengan paella, semacam nasi goreng ala Spanyol dengan campuran aneka seafood, yang dijual di pasar kaget di dekat apartemen Sandy. Tapi paella-nya kurang enak. Ya sudahlah.
Pasar kaget di Paris bisa dibilang pasar murah. (Eh enggak cuma di Paris, tapi juga di Eropa umumnya.) Pasarnya tidak buka setiap hari, dan memang barang-barang yang dipasarkan di situ terbilang murah. Saya sempat-sempatnya membeli kaus kaki 2 euro dapat 3 pasang, hihihi. Juga pashmina dan syal satuannya dengan harga yang sama! Di situ saya juga jajan churros, camilan manis ala Spanyol, 1 euro dapat 3 batang. Lha sebenarnya ini pasar murah di mana sih, kok jajanannya ala Spanyol yah, hehehe.
Menjelang sore, Sandy memperkenalkan saya kepada butik murah Marc by Marc Jacobs (lihat artikel "Marc Jacobs 10€"). Menambah kaya wawasan belanja di Paris, hehehe. Gara-gara kelewat terpukau dengan butik murah itulah saya lupa menengok toko Dwi, maapken yah. Yang bikin saya terharu, Sandy rupanya tidak lupa saya "meraung-raung" minta crepe. Kembali ke apartemen, Ijul yang jago masak rupanya telah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat crepe. Dia menyajikan makan malam berupa crepe cokelat-keju dan daging, dan memaksa saya melahap 4 potong! Hahaha. Saya hanya sanggup menghabiskan 3 (ya iyalah segitu aja sudah lebay). Crepe buatan Ijul beneran enak! Makanya begitu mendengar ada sebuah kafe di sebuah mal elite di Jakarta yang menyajikan crepe (katanya) enak seharga 50 ribuan, saya dengan tegas menolak mencicipinya. Iciihh... enakan crepe buatan asli Prancis, gratis!
Hari semakin gelap. Waktunya mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga Sandy, dan kepada Paris. Sendirian saya kembali mengarungi jalur metro bawah tanah, kali ini bukan ke Gare de l'Est, melainkan Gallieni, pos bus antarnegara Eropa, Eurolines. Jam 21.30, saya keluar dari apartemen Sandy yang hangat, untuk menyongsong bus Eurolines tujuan Eindhoven yang akan berangkat 1,5 jam setelahnya, seraya berucap janji akan kembali dalam hati. Semoga.


Wednesday, June 8, 2011

Bergaya Eksekutif dengan Kereta Kelas 1


Tahun 2005, keliling Eropa (Barat) saya lebih sering menggunakan jasa Eurolines. Tahun 2006, kebanyakan diantar Dedes dan Wolfgang, hehehe. Nah, tahun 2010 lalu, saya ingin mencoba suasana baru.
Karena ada jeda 3 minggu antara kepastian mendapatkan visa dan jadwal keberangkatan – yang lalu-lalu hitungannya harian – maka masih memungkinkan untuk mencicipi tarif murah kereta Eropa. Dibanding bus, tarif standar kereta jauh lebih mahal. Namun apabila dibeli jauh lebih awal, apalagi 1-2 bulan sebelum perjalanan, tarifnya miring lho. Tarif kereta Amsterdam-Munich atau sebaliknya misalnya, dengan kedua kota berjarak lebih dari 800 km (ibarat Jakarta-Surabaya), 29 euro saja! Begitu pula dengan Paris-Munich dll. Kalau harga aslinya mah, yang berlaku kalau bangku bertarif murah sudah habis dipesan atau kalau pemesanan dilakukan mendadak, ampun-ampunan deh untuk kota-kota yang berjarak jauh apalagi beda negara; sudah pasti di atas 100 euro. Oh ya, harga-harga ini untuk tiket kelas 2, ya. Tapi jangan salah, kereta kelas 2 di Eropa itu nyaman lho.
Pemesanan 3 minggu sebelum berangkat memberi saya harga yang lumayanlah – saat itu tiket 29-39 euro sudah tak tersisa. Untuk perjalanan Munich-Paris naik TGV (train a grand vitesse) – kereta yang di buku pegangan kuliah saya, Archipel, digadang-gadang sebagai kereta tercepat, hahaha – saya membayar 69 euro. Lumayan juga merasakan sensasi naik TGV yang masih merupakan salah satu kereta tercepat di dunia itu, sampai terharu, hihihi.
Tiket TGV di tangan, saya malah makin penasaran. Begitu mengecek ketersediaan tiket Amsterdam-Munich, mata saya terantuk pada tiket kelas 1. Angka 109 euro tidak murah, tapi, ya tetap lumayan dibandingkan angka aslinya, 200-an euro! Hah, banyak alasan. Baiklah, mari sekali-sekali bergaya eksekutif.
Melakukan pemesanan melalui laman kereta Jerman, bahn.de (Deutsche Bahn), untuk gampangnya saya meminta tolong Wolf. Oh ya, bahn.de ini andalan banget deh dalam reservasi bangku kereta. Percaya enggak percaya, tarif tiket laman ini cenderung lebih murah ketimbang laman kereta negara lain, padahal untuk tujuan, kereta, dan jam yang sama. Pantas di forum-forum wisata, banyak yang menyarankan untuk mengecek jadwal dan tarif melalui bahn.de.
Yap, jadilah tiket 109 euro saya kantongi. Berangkat sekitar jam setengah 7 malam dari Amsterdam, tiba di Munich sekitar pukul setengah 6 pagi. Diselingi transit 2 jam di Frankfurt, untuk ganti kereta dari ICE (Intercity-Express) ke IC (Intercity).
Saya baru tahu, ternyata Wolf memesankan bangku khusus kompartemen. Sebelum ini, baru sekali saya bersinggungan dengan kompartemen: di kereta IC Italia, dengan komposisi 6 bangku – 3 berhadapan dengan 3. Waktu itu kelima tetangga saya orang Austria, 3 di antaranya anak muda yang tinggi besar. Mana nyaman sih duduk diapit mereka – posisi bangku saya di tengah – ditambah nyaris bersentuhan kaki dengan cowok di hadapan saya. Untungnya, dalam trayek IC Roma-Munich itu, anak-anak muda itu turun duluan di Innsbruck, Austria. Legaaa....
Akan tetapi kompartemen kelas 1 ini = heaven! (Harap memaklumi kenorakan ini, hihihi.) Namanya kelas 1, ya iyalah segalanya lebih longgar. Bangku lebar, ruang untuk kaki lebar, satu kompartemen hanya terdiri dari 4 bangku. Bangkunya kulit, lagi. Berasa eksekutif bener deh! Karena keretanya sepi penumpang, alhasil dari hanya 2 kompartemen berbangku kulit biru, isinya saya seorang. Kapan lagi jadi penguasa kompartemen kelas 1, sendirian, hohoho. Karena kurang tidur setelah berputar-putar antara Eindhoven, Maastricht, dan Amsterdam, saya mencoba memejamkan mata. Tawaran minum dari kru kereta saya abaikan. (Bukan karena tak ingin tidur terganggu. Melainkan karena ketidaktahuan saya bahwa tawaran minum itu gratis. Kelas 1 sih kelas 1, teuteup buat yang lain-lain enggak modal, hahaha.)
Eh, tapi kok mata sulit terpicing. Ya sudah, saya berusaha menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, mumpung hari belum gelap; Utrecht, Duesseldorf, dan terutama Koeln yang manis masuk jalurnya si ICE. Setelah transit di Stasiun Bandara Frankfurt 2 jam, sekitar pukul 01.00 pagi hari berikutnya saya meneruskan perjalanan ke Munich. Bangkunya nyaman juga, karena bangku single dan tidak perlu bersenggolan dengan penumpang di kanan-kiri. Karena sudah masuk hari berikutnya dan saya belum tidur juga, ngantuk abis pasti. Tapi tidur saya gelisah. Sebentar-sebentar bangun. Kenapa sih ini?
Oh, baiklah. Pada akhirnya saya harus mengakui, bangku berjok kulit tidak nyaman bagi saya. Masih lebih enak bangku berlapis kain di kelas 2. Halah, memang dasar enggak bakat jadi eksekutif!

Wednesday, December 15, 2010

Masyarakat Praha yang "Charming"

Praha, bagi saya adalah kota yang magis. 
Setiap sudutnya menyihir saya. Tak henti berdecak kagum saya dibuatnya. Bukan hanya kotanya yang charming, menurut saya. Tapi juga masyarakatnya yang ramah. Mungkin juga karena saya hanya di sana dalam rentang waktu 24 jam, jadi saya hanya melihat yang indah-indahnya saja. Mungkin juga karena saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang helpful.
Enam polisi yang bersiaga di depan Terminal Florenc – dengan hanya seorang yang sedikit berbahasa Inggris – berusaha membantu saya menemukan hotel saya. Kendati arahan dari mereka membuat saya sukses tersesat 2 jam, hehehe. Lalu staf-staf restoran cepat saji melayani dengan baik walau saya tidak bisa berbahasa Ceko sepatah kata pun. Serius, satu kata pun saya tak tahu. Saya baru ngeh akan satu kata, saat seorang bocah laki-laki kurang lebih berusia 7 tahun menyapa saya di jalan seraya mengangkat tangannya: Ahoj!” (baca: ahoy.) Maksudnya, mengatakan “halo”. Ow, saya rasanya pernah mendengar kata itu di salah satu episode The Amazing Race
Tempat saya kesasar dan bertemu si bocah ahoj.
 
Jangan lupakan jasa Ladka, resepsionis Hotel Florenc yang sangat sigap dan fasih berbahasa Inggris. Ketika saya baru tiba dan bilang cuma akan menginap semalam, dia bertindak layaknya staf pusat informasi wisata. Dia keluarkan peta Praha yang mudah dipahami wisatawan dari lacinya, lalu dia jelaskan bagaimana caranya mencapai pusat Kota Praha. Dia tidak keberatan melayani pertanyaan-pertanyaan standar saya tentang wisata, yang pastinya sudah ditanyakan orang lain - yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa dia enggak bekerja di kantor pariwisata saja, ya? Mana bahasa Inggrisnya bagus begitu.Yang bikin saya terharu, besoknya dia menampakkan wajah kaget ketika saya berpamitan. "Masa kau cuma semalam di sini?" katanya tak percaya kemudian mengecek data saya di komputernya, padahal saat itu juga dia sedang melayani check in belasan cewek-cewek Perancis! Dengan orang-orang seperti Ladka dan panoramanya, Praha sungguh meninggalkan kesan sangat manis!



Thursday, November 4, 2010

Let The Music Vibrate, Barcelona!

Suasana hati saya agak sendu hari ini. Gara-garanya, teringat pada Barcelona.
Sudah 5 tahun lebih lewat sejak saya mengunjungi Barcelona. Alasan saya datang ke sana sederhana sekali. Gara-gara lagu indah berjudul "Barcelona". Yang dinyanyikan Freddie Mercury - kemudian direkam ulang Russell Watson featuring Shaun Ryder - maupun Fariz RM. 
Terutama lagu yang pertama. Yang mana seruan Shaun Ryder - let the music vibrate, Barcelona! - terngiang-ngiang di telinga hari ini.
Sayang letak Barcelona agak jauh dari tengah Eropa. Bagi saya yang ogah bangeeeettttsss menempuh perjalanan antarnegara Eropa via pesawat - karena WNI biasa diribetin di imigrasi bandara - ya apa boleh buat, sejak 5 tahun lalu belum lagi balik ke BCN. Enggak sanggup mesti mengarah ke BCN naik bus atau kereta lebih dari 12 jam, lalu keluar dari BCN lagi ke tujuan berikutnya, Italia atau Jerman, dengan waktu yang sama. Ih.
Hari ini saya mengenang perjalanan nekat sendirian ke sana, tanpa tahu pasti tempat wisata mana yang akan saya tuju - bahkan setelah menggenggam petanya di pusat info wisata BCN. Saya beruntung di hostel sekamar dengan perempuan-perempuan mancanegara yang baik hati, yang memberi saya info ke mana saya harus pergi, bahkan jalan bareng mereka. 
Dan... saya tak menyangka, Barcelona ketika cuacanya mulai panas - saya ke sana menjelang pengujung musim semi - disesaki manusia! Berdirilah di Plaça Catalunya, dengan arah pandangan ke La Rambla. Kios koran, bunga, kafe di kedua sisi La Rambla tak lagi nampak, tertelan lautan manusia! (Lautan yang sebagian besar isinya turis.) Sungguh gilaaaakk. Mana hostel tempat saya menginap 2 malam letaknya di salah satu sudut La Rambla pula. Berjalan dari Hostel Habana Home ke Stasiun Metro Liceu - menurut keterangan profil hostel, kalau menuju hostel naik metro, turunnya di Liceu - jelas harus menembus barikade manusia itu, yang mana di antaranya sudah pasti terselip pencopet. Ribet. Maka, ketika tiba harinya saya harus meninggalkan BCN dan kembali ke Paris, pakai acara survei dulu, lebih dekat mana dengan hostel, Liceu atau Stasiun Drassanes yang ternyata letaknya juga di jajaran La Rambla? Hasilnya: Drassanes. Habana Home - seandainya masih eksis sih ini hostel, kok cari-cari di internet hasilnya enggak jelas ya? - mungkin harus merevisi penunjuk arahnya nih.
Lebih parah lagi, saya mulanya mengira dari Plaça Catalunya menuju La Rambla harus naik metro - dari Stasiun Catalunya ke Liceu. Maka terbuang sia-sialah tiket sekali jalan senilai 1,1 euro (waktu itu). Wong Stasiun Catalunya dan Liceu nyatanya letaknya berseberangan jalan aja gitu!
Tapi itulah pengalaman. Pengalaman yang membuat sendu karena kangen, pengalaman yang alhamdulillah pernah saya rasakan, pengalaman yang entah akankah terulang lagi. Barcelona dengan pengalaman baru, kenalan baru, manusia dan manusia di La Rambla, Parc de la Ciutadella - di mana-mana!,  warna-warni Parc Güell, kemegahan Sagrada Familia, the music did vibrate in Barcelona. Bon viatge, buen viaje - judul blog ini pun diambil dari dua bahasa yang berlaku di BCN, Katalan dan Spanyol. 
If God is willing...

Wednesday, October 6, 2010

Di Sini Memang Selalu Musim Dingin!

Saya selalu menyukai pemandangan Alpen. Dan saya berdoa supaya suatu hari bisa melihat kembali Alpen di Italia utara, Dolomite, yang berbatu-batu kelabu dengan salju di atasnya. Kalau Alpen di Swiss yang tersohor, sepanjang mata memandang sih ya, berupa pegunungan berpohon-pohon dengan tentu saja salju abadi membungkus puncaknya.
Saya kali pertama melihat si Dolomite yang megah dan kokoh di Bolzano, dalam perjalanan kereta Roma-Munich 5 tahun lalu. Gilak, Dolomite menjulang persis di sisi kanan rel! Mulut saya ternganga, mata saya tak bisa lepas dari magnet Dolomite.
Saya jumpa lagi dengan Dolomite Juni lalu, dalam rute bus Bologna-Munich. Saya enggak tahu bakal lewat Dolomite atau enggak. Lagian, kan saya menempuh perjalanan malam, jadi kalaupun lewat, pasti saya enggak ngeh.
Ternyata bukan cuma lewat. Jam 5 pagi, sopir Eurolines menghentikan busnya di jalur Brenner Pass – tapi entah di kota mana itu persisnya – dan memberi pengumuman dalam bahasa Italia, akan rehat selama 30 menit di situ. Dalam rutenya, bus Eurolines berhenti minimal sekali untuk rehat penumpang maupun sopir, juga mengangkut dan menurunkan penumpang – bus Munich-Praha contohnya, berhenti di Regensburg (Jerman) untuk mengambil penumpang sekaligus rehat. Rehatnya biasanya dilewatkan di sebuah pom bensin dengan fasilitas minimarket, toilet, syukur-syukur ada kafe 24 jam. Nah, rehatnya bus Eurolines Bologna itu dilakukan persis di depan Dolomite! Jam 5 pagi, turun dari bus langsung menghadap Dolomite, waduh, enggak banget deh. Semua orang menggigil kedinginan. Lha apalagi saya yang berasal dari negara tropis. Dengan gigi gemeretuk, kaki gemetaran, saya menghambur ke toilet, bersama beberapa penumpang lain. Seorang kakek Italia mengeluh, “Ini kayak musim dingin!” Disahuti si sopir dengan santai, “Di sini memang selalu musim dingin.”
Kelar urusan toilet, saya kembali ke bus dengan terburu-buru, karena dinginnya itu lho. Namun sebelum menaikinya, walau dengan tetap menggigil, saya sempatkan sebentar mengagumi keindahan Dolomite yang terhampar tepat di depan mata. Betapa cantiknya, walau kegelapan masih menaungi. Dan sepanjang 2 jam tersisa menuju Munich, saya urung memejamkan mata lagi karena merasa sayang menyia-nyiakan pemandangan Alpen di sepanjang jalan, apalagi besok sorenya saya sudah harus terbang pulang ke Jakarta. Karena kelelahan mencari-cari lokasi perhentian bus di Bologna juga kurang tidur, alhasil begitu sampai apartemen Dedes, bukannya mandi, saya molor sampai jam 12 siang!

Antara Lucia, Anak-anaknya, dan Musik

Lucia, host saya di Borgomanero, Italia utara, punya banyak kisah menarik, karena dia banyak bicara. Oh, saya tidak terganggu dengan ocehannya. Justru saya senang mendengarnya mengocehkan ini-itu dalam bahasa Italia.
Kisah tentang Elizabeth dan keluarga Napolinya di Borgomanero menarik. Menarik pula awal persahabatannya dengan Elizabeth. “Waktu baru datang ke Italia, Elizabeth butuh orang yang mau mengajarinya bahasa Italia gratis dan saya juga butuh orang yang mau membantu saya mengajari bahasa Inggris tanpa dibayar,” begitu kisahnya. Dari situlah persahabatan terjalin, sampai kini mereka berdua berusia 50-an.
Kisah keluarga Lucia sendiri tak kalah menarik. Lucia yang cerai dari suaminya ini membesarkan 2 anak yang memiliki kiprah masing-masing di dunia musik. Padahal Lucia tidak pernah menyeriusi musik. Putra bungsunya yang masih tinggal dengannya, Roberto – di Italia hubungan keluarga sangat erat, sehingga masih banyak lajang di usia 20-30-an, termasuk teman saya di Milan, Valerio, tinggal bersama orangtua – bergabung dalam band yang menyanyikan lagu-lagu penyanyi terkenal Italia, Gianna Nannini. Putri sulungnya, Mara, malah pernah memenangi kompetisi menyanyi lokal pada era kaset. Dua lagunya, salah satu yang saya ingat karena melodinya gampang dicerna, “Non Te La Do”, dikasetkan oleh perusahaan rekaman lokal. sebagai hadiah kemenangan Dan sebatas itu saja kiprah Mara.
Vokal Mara menurut saya lebih daripada lumayan. Bahkan lebih baik dibandingkan beberapa kontestan X Factor Italia. “Tapi Mara tidak mau meneruskan ke jenjang selanjutnya. Dia tidak tertarik menjadi penyanyi besar. Besar yang harus dikorbankan untuk menjadi besar,” katanya, mengenai putrinya yang kini tinggal bersama pacarnya di kota lain.
Maka, “Non Te La Do” hanya tersisa dalam bentuk kaset. Seandainya saja ada versi CD atau MP3-nya, pastilah lagu bernada ceria itu akan jadi kenang-kenangan manis dari Borgomanero, kota kecil di Italia utara yang kotanya berbentuk perempatan jalan dan luasnya, dengan bukit-bukitnya, hanya 30 km persegi. Apalagi satu-satunya toko CD di Borgomanero segera tutup, karena kurang laku dan pemiliknya, yang juga teman Lucia – semuanya sepertinya saling mengenal di kota kecil itu – akan mengalihkan usahanya ke bidang fashion. Makin sepilah Borgomanero dari musik, kecuali mungkin kalau Roby – panggilan Roberto – manggung dengan bandnya.

Tuesday, October 5, 2010

Saltum di Meksiko

Tahun 2000 kali pertama saya merasakan musim gugur. Really? Eh cuma imbasnya musim gugur ding, di Mexico City. (Imbasnya saja kena suhu 7 derajat Celsius, bagaimana yang betulan?) Namanya baru kenal musim gugur, jadinya rada norak. Kalau lagi di dalam KBRI - tempat saya dan 4 teman menginap selama tugas wawancara artis Televisa - sih enak, ada pemanas. Tapi kacaunya, dapur KBRI terpisah dari gedung utama KBRI. Nah, kalau mau makan malam, kami mesti ke dapur, dong. Jaraknya sih enggak jauh, ya paling 20 meteran. Tapi angin dingin yang menusuk membuat kami mesti pakai ancang-ancang menuju ke dapur. Sesaat sebelum membuka pintu gedung KBRI, kami biasanya bersiaga, "satu, dua, tiga," disambung berteriak, "lariiiiiiiiiiiiiiiii!" begitu pintu terbuka.
Walau letaknya masih di negara sama, Mexico City dan Acapulco suhunya beda. Acapulco kurang lebih kayak di Indonesia, kenalnya musim hujan dan kemarau. Karena itu waktu ke Acapulco kami keenakan. Pakai kaus lengan pendek, celana pendek, yuuuuukkkk. Alhasil kami lupa ganti kostum waktu balik ke KBRI di Mexico City. Mas Robi baru sadar waktu ditugaskan membuka pagar KBRI - karena duduknya paling dekat pintu - agar mobil kami bisa masuk. "Anjriiiiiittt... saltum bo!" serunya menyumpah-nyumpah.
Dan sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan, KBRI membuatkan saya semacam rumah-rumahan dari kayu di luar lantai 4 yang cukup luas, supaya saya tidak perlu tidur berdesakkan dengan cowok-cowok enggak jelas itu. Dilengkapi tempat tidur dan TV, mestinya enak dan leluasa banget dong saya di rumah-rumahan itu. Tapi ya ampun, cuma semalam saya tahan. Enggak nyangka, bermalam di rumah kayu dingiiiiiinnn banget. Besoknya saya langsung mengungsi ke sofa depan ruang kerja Pak siapa itu di lantai 4 - walau  jadinya mesti bangun pagi-pagi biar yang punya ruang enggak syok, begitu sampai di kantor disuguhkan pemandangan saya masih beler, hehehe. Tapi lumayanlah rumah-rumahan itu masih saya manfaatkan sebagai tempat ganti baju - parahnya kamar mandi kami letaknya juga di gedung berbeda - dan TV-nya bisa buat menonton video klip MTV Latin.

Carte de Fidélité, Carte d'Identité

Kali kedua ke Paris, 4 tahun lalu, saya minta Sandy enggak usah menjemput. Saya masih hafal kok jalan ke apartemen Sandy di Ermont-Eaubonne (dulu, sekarang sih sudah pindah ke tengah Paris), sampai kode masuk apartemen. Tapi sungguh bijak Sandy memaksa menjemput di Terminal Gallieni - saya naik Eurolines dari Munich, Jerman. Soalnya kemampuan bahasa Perancis saya enggak bisa dipertanggungjawabkan, hehehe.
Selain keliling Paris bersama Sandy, sebetulnya saya waktu itu - juga tahun sebelumnya - pengin jalan-jalan sendirian beberapa jam saja. Tapi mungkinkah dengan bahasa Perancis yang kacau-balau? Ya mungkin saja, tapi hasilnya pasti ada kejadian memalukan. Terpisah dengan Sandy beberapa meter saja gelagapan, apalagi berkilometer-kilometer jadinya. Misalnya waktu ditanya jalan oleh seorang perempuan tua - Sandy waktu itu sedang ada di boks telepon umum - atau ditanya mau beli buku apa waktu kami mencari buku untuk Naning.
Yang paling memalukan, waktu beli parfum di Yves Rocher Gare du Nord. Waktu membayar, saya tidak ditemani Sandy yang masih melihat-lihat parfum di sisi lain toko. Kasir bertanya, apakah saya punya carte de fidélité alias kartu pelanggan? Dan karena bahasa Perancis saya benar-benar kacrut, saya pikir dia menanyakan carte d'identité! Maka tanpa perasaan berdosa saya ulurkan paspor saya. Alhasil, kasir itu  dan seorang staf lain tertawa terbahak-bahak! Sadarlah saya apa yang terjadi. Huhuhu... memalukan sekali. 
Agak cemas kejadian sama tololnya berulang, Juni kemarin balik ke Paris, saya jadi enggak berani masuk ke Yves Rocher di seberang stasiun metro Dugommier, dekat apartemen Sandy di Paris, sendirian. Karena Sandy sedang sibuk mengeluarkan kereta bayinya yang berumur 1,5 bulan, Viktor, dari apartemen, dia menyuruh saya dan anak sulungnya yang 10 tahun, Lukas, jalan duluan. Jadilah saya belanja dengan penerjemah bocah 10 tahun, hahaha. Terima kasih Mama Sandy, yang mewajibkan Lukas bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.

Terminal Bus Tak Bernama

Saya biasanya naik-turun bus Eurolines di kota-kota besar dan terkenal. Paris, Barcelona, Munich. Kota-kota itu memiliki terminal bus yang besar pula, dengan lokasi dan petunjuk jelas, dan dengan kesibukan yang tak henti meski tengah malam atau subuh. Bahkan terminal-terminal itu begitu mudahnya dicapai dengan moda transportasi semiliar umat alias metro. Terminal Eurolines Paris Gallieni misalnya, bersebelahan dengan Stasiun Gallieni. Begitu pula dengan Terminal Barcelona Sants, di samping Stasiun Sants.
Maka saya yakin, di kota mana pun, terminal Eurolines pasti besar, jelas, dan ramai. Ketika akses dengan kereta dari dan ke kota tertentu ribet, Eurolines jadi satu-satunya jalan keluar. Saya pede memesan tiket Eurolines dari Bologna (Italia) untuk kembali ke Munich. Apalagi dari hasil selancar forum-forum travel di Internet, diperoleh info bahwa terminal di Bologna berada dekat stasiun.
Dekat sih. Letaknya di seberang stasiun. Tapi bukan terminal itu namanya. Perhentian Eurolines di Bologna hanya berupa plang jalan dengan gambar bus, berada di depan deretan pertokoan. Ya, plang hanya dengan gambar bus, tanpa tulisan Eurolines sehuruf pun! Padahal, sekitar 200 meter ke kanan, berdirilah sebuah terminal besar dengan loket pembelian tiket Eurolines di dalamnya, tapi tidak melayani pengangkutan penumpang Eurolines. Saya dan seorang kenalan saya di Bologna, Zeinab yang asal Iran, mondar-mandir 1,5 jam di sekitar terminal-stasiun untuk mencari tahu di manakah letak perhentian Eurolines. Bertanya kepada staf terminal, sopir taksi, pelayan toko, namun tak ada yang menjelaskan dengan pasti.
Akhirnya Zeinab berpatokan pada alamat yang tertera di lembaran tiket saya. “Kau lihat,” katanya saat kami berada di seberang stasiun, “toko ini beralamat nomor 63. Di tiketmu, katanya perhentiannya nomor 62. Jadi seharusnya di sebelah toko ini. Aku rasa – dia menunjuk plang bus – kau seharusnya menunggu di sini.” Karena malam makin larut dan bus dalam kota Bologna – moda transportasi andalan kota ini adalah bus, bukan metro – makin jarang lewat, Zeinab, yang menemani saya selama hampir 4 jam singgah di Bologna, berpamitan. “Ingat saja, nomor 62,” tegasnya. “Lagi pula kau, kan sudah tahu bentuk busnya seperti apa dan tak mungkin kau satu-satunya penumpang yang naik dari sini, jadi pasang mata. Ci salutiamo.”
Jam 23.30 malam, saya terdampar di depan Stasiun Bologna, sendirian, tak tahu pasti arah. Kalau tepat waktu, bus akan tiba di perhentian-yang-entah-di-mana itu setengah jam setelahnya. Mumpung masih ada waktu, saya berlari kembali ke terminal, memastikan kata-kata Zeinab benar. Yap, seorang sopir bus yang saya temui di dalam menyatakan, letaknya memang di depan deretan pertokoan itu. Saya berlari kembali ke sana dan melihat sebuah keluarga, dengan beberapa travel bag, tengah berdiri di samping plang bus. Saya cuma bisa berdoa, semoga Zeinab benar.
Alhamdulillah… walau petunjuknya kacrut, alamat bernomor 62 tidak berbohong. Bus Eurolines menampakkan badannya yang besar tepat waktu dan berhenti persis di sisi plang bus itu. Saya pun kembali ke Munich dengan selamat dan dengan tekad, kalau diberi rezeki kembali ke Eropa lagi, hanya akan naik-turun Eurolines di kota-kota besar!

Monday, October 4, 2010

Bahasa Daerah Napoli

Gara-gara mendiang Luciano Pavarotti dan konser-konsernya, saya jadi senang mendengarkan lagu-lagu daerah Napoli, daerah di selatan Italia. Sebabnya, lagu-lagu ini asli dalam bahasa Napolitan (atau Neapolitan?) yang bagi saya unik, dengan huruf dobel di awal kata dan banyaknya tanda petik di atas. Misalnya “’O Surdato ‘Nnamurato” (kalau dalam bahasa Italia seharusnya “Il Soldato Innamorato” alias serdadu yang jatuh cinta).

Quanta notte nun te veco,
nun te sento 'int'a sti bbracce,
nun te vaso chesta faccia,
nun t'astregno forte 'mbraccio a me?!
Ma, scetánnome 'a sti suonne,
mme faje chiagnere pe' te...

Belum beberapa lagu lagi yang saya kenal - masih dari Pavarotti - seperti “Funiculì Funiculà” dan “Torna a Surriento (alias kembali ke Sorrento, kota di selatan Italia).
Karena lagu-lagu Napolitan yang dinyanyikan Pavarotti  dan penyanyi tenor lainnya itu legendaris dan sudah kapan tahu dibikinnya, saya menduga bahasa Napolitan itu sudah lama punah dan hanya tersisa dalam bentuk literatur atau lagu. Habis seumur-umur mana pernah saya mendengar orang berbincang dalam bahasa Napolitan. Tidak juga di layar RAI International, stasiun televisi Italia yang siarannya bisa disaksikan di jaringan televisi berbayar.
Maka saya kaget ketika Lucia, host saya dalam perjalanan di Italia Juni lalu, mengatakan bahwa temannya yang menikah dengan pria Napoli, Elizabeth, setiap Rabu mengadakan jamuan ala Napoli di restorannya dan berbincang dalam bahasa Napolitan dengan keluarga suaminya. Elizabeth asalnya dari Inggris, tapi sudah menetap di Italia sejak berumur 20-an.
“Hah? Bahasa Napolitan itu masih dipakai? Kirain cuma ada di lagu,” begitu saya bereaksi. Menurut Lucia, keluarga asli Napoli menjaga tradisi berbicara dalam bahasa daerah mereka, sekalipun mereka telah pindah ke utara Italia seperti keluarga suami Elizabeth. Kurang lebih mirip teman saya, Sandy, yang sejak belasan tahun lalu berdomisili di Paris tapi tidak melupakan akarnya. Ketika saya bertanya apakah putranya yang sekarang berumur 10 tahun, Lukas, bisa bicara bahasa Indonesia, dengan galak dia menjawab, “Harus bisa! Ibunya orang Indonesia!”

Koin untuk Troli


Belanja di Eropa, terutama di supermarket, bikin canggung, bingung, sampai agak stres. Padahal saya harus berurusan dengan supermarket. Entah beli air kemasan untuk bekal perjalanan atau beli oleh-oleh seperti cokelat dan keju. Tapi adab belanja yang berbeda-beda di tiap supermarket, minta ampun deh.
Lima tahun lalu saya bolak-balik ke supermarket di area Ermont-Eaubonne, pinggiran Paris, di mana Sandy dulu berdomisili. Yang bikin canggung, supermarket ini punya jam istirahat siang: jam 13.00 sampai jam 14.30. Mungkin begitu, ya tradisi supermarket di pinggir kota besar atau di kota kecil. Soalnya di kota-kota besar yang saya kunjungi sih enggak ada supermarket model begini.
Kalau soal hasil belanja yang harus kita masukkan sendiri ke kantong plastik yang tersedia di ujung tiap kasir, maklumi saja. Soalnya tugas kasir supermarket di Eropa, ya hanya melayani pembayaran.
Yang ribet, belum tentu pula kantong plastiknya gratis. Begitulah peraturan di sebuah supermarket di Marienplatz, empat tahun lalu – kini supermarketnya, karena krisis ekonomi, sudah ditutup. Alhasil kalau belanja di sana, mendingan modal kantong sendiri. Maksudnya mendukung go green. Karena mendukung program go green itulah Yves Rocher juga tidak menyediakan kantong plastik. Kalau pelanggan membeli banyak produk, barulah mereka menghadiahkan tas ringan bermotif bunga untuk menampung belanjaan.
Kemarin dua kali saya ke Yves Rocher di Munich – juga di Marienplatz – untuk membeli parfum. Pada kunjungan pertama, karena belanjaan saya lumayan banyak, saya senang banget mendapatkan tas cantik itu. Nah, pada kunjungan kedua, saya ngarep mendapat tas itu lagi, hehehe. Maka walau si kasir telah selesai menghitung nilai belanjaan saya, saya tidak juga beranjak dari depannya. Kasir sebelah, yang melihat saya tidak pergi juga, menegur saya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan dengan nada galak. “Kami tidak punya plastik! Anda bisa memasukkan semua itu ke dalam tas Anda sendiri.” Hiks hiks, sedih, misi membeli oleh-oleh selesai, misi mendapat dua tas gagal. 
Wawasan tentang adab belanja bertambah ketika menemani Mami, ibu mertua Dedes, belanja di supermarket di dekat apartemen Dedes, Rewe. Di Rewe itu, Mami berniat beli macam-macam. Saya pun kecipratan cokelat dan keripik, hore. Karena itu Mami bilang, sebaiknya belanja pakai troli saja. Lalu saya melihatnya merogoh koin 1 euro dari dalam dompet kecilnya, lantas mencemplungkannya ke lubang kecil di kiri atas troli. Barulah troli terlepas dari barisannya dan bisa ditarik Mami dengan mudah.
Oh, begitu toh?
Syukurlah supermarket itu juga menyediakan keranjang belanja, buat dipakai gratis. Ketika saya ke sana sendirian, tentu saja saya pilih barang gratis, hihihi. Lagian belanjaan saya enggak heboh.
Supermarket di ujung satunya, Aldi, lain lagi ceritanya. Dedes menganjurkan saya membeli cokelat di Aldi, karena lebih murah. Mungkin karena harga barang lebih murah itulah, jadinya Aldi tidak menyediakan keranjang gratis. Sial. Ya sudahlah, 1 euro untuk koin itu toh tergantikan cokelat Merci sekantong, yang habis diraup rekan-rekan sekantor dalam hitungan detik.

Friday, October 1, 2010

Prancis vs Italia

Pantas final Piala Dunia 2006 yang menghadapkan Prancis versus Italia begitu kacaunya. Pantas Zinedine Zidane dikartu merah, pantas Marco Materazzi dianggap penjahat. 
Dan Lucia yang ramah itu pun meracau waktu kami sekapal dengan orang-orang tua Prancis dalam perjalanan kembali dari Pulau San Giulio ke Orta. Gara-garanya, seorang nenek berblazer kuning yang duduk di sebelah kiri saya bertanya-tanya kepada saya dalam bahasa Prancis. Saya masih bisa menanggapi pertanyaan basa-basinya. Tapi Lucia menampakkan muka tak suka.
Lucia berbisik kepada saya, dalam bahasa Italia. "Kenapa sih mereka bicara dalam bahasa Prancis? Ini, kan Italia. Mereka bukan sedang di Prancis." Kayaknya si nenek enggak ngerti artinya, buktinya dia cuek saja tuh. 
Sehari sebelumnya, di kereta Milan-Arona. Dua cewek sedang mengobrol dalam bahasa asing. Lucia menerka, mereka pakai bahasa Spanyol. "Adoro lo spagnolo. Saya cinta bahasa Spanyol. Apa kamu pernah belajar bahasa Peancis?" dia bertanya kepada saya. Saya menjawab, ya. Dia mendengus, "Saya tak suka bahasa Prancis. Jelek. Yang kedengaran sangat indah bagi saya bahasa Spanyol." 
Oke, saya jadi penasaran. Ada apa sih antara Italia dan Prancis?
1. Bersaing di dunia mode
Ada 4 kiblat dunia mode: Milan, Paris, New York, London. Tapi yang dianggap paling bergengsi pelaku mode, Milan dan Paris. Di Paris ada Avenue des Champs-Elysées, Milan juga punya Via Montenapoleone.
2. Penghasil wine atau anggur terbaik
Nah, yang ini saya enggak tahu persis, tapi begitulah menurut orang-orang, hehehe - saya baru bisa menjawab kalau ditanya di mana bisa mendapatkan apfelstrudel terbaik.
3. Nice dan Corsica diambil alih Prancis
Nice dan Corsica yang dulunya merupakan tanah Italia, kemudian direbut Prancis. Jadi, ya... begitulah.
4. Prancis dan Italia bertetangga
Beberapa negara bertetangga saling tak menyukai. Indo-Malay, contohnya? Juga Belanda-Jerman.
5. Bahasa paling romantis
Bahasa Italia dan Prancis serumpun dalam kelompok bahasa Roman yang berakar dari bahasa Latin. Tata bahasanya banyak kemiripannya, walau pelafalannya jauh berbeda. Buat saya sama-sama terdengar romantis, dan rasanya begitu juga buat banyak orang lain. Jadi, mana yang paling romantis?
Ya, cukup sebegitulah yang saya tahu. Belum lagi ditambah kefanatikan tim sepak bola masing-masing, tapi kesebelasan mana sih yang enggak punya fans fanatik?
Akan tetapi selalu ada pengecualian. Tidak semua orang Italia membenci Prancis, begitu sebaliknya. Lima tahun lalu saya bertemu dengan seorang cewek asal Grenoble, Prancis, yang berkereta ke Roma untuk menemui pacar Italianya.
Bagaimana dengan saya dalam menghadapi perseteruan Prancis-Italia ini? Saya mencintai Paris, sebesar saya mencintai bahasa Italia. Adil, kan?