Wednesday, June 27, 2012

"Soundtrack of My Journey"

Duh, penting banget posting tulisan kayak begini. Ini gara-gara mengecek tangga lagu Italia dan mendapati lagu "Come Se Non Fosse Stato Mai Amore"-nya Laura Pausini dibawakan ulang oleh Marco Carta. Jadi ingat pada 5 Mei 2005, ketika saya terkapar di Roma, Italia. Mungkin karena terus kena udara dingin di Milan dan Roma, saya terserang flu dan memutuskan beristirahat saja seharian itu di apartemen yang ditinggali teman saya, Widya. Nah, sembari tidur-tiduran di ruang tamu, saya mengecek seluruh saluran TV. Saya menemukan MTV Italia yang antara lain menayangkan video klip Laura Pausini menyanyikan "Come Se Non Fosse Stato Mai Amore" - yang kemudian membuat saya memutuskan membeli album yang memuatnya, Resta in Ascolto, yang versi bahasa Spanyolnya mengantar Laura menyabet predikat Penyanyi Pop Wanita Terbaik Grammy Latin - dan entah kanal apa yang menyiarkan telenovela lawas Corazón Salvaje yang pada pertengahan 1990-an ngetop di Indonesia dengan judul Hati Yang Berduri, hahaha.
Eh, tapi soundtrack jalan-jalan saya tahun itu bukan "Come Se Non Fosse Stato Mai Amore". Melainkan "Dovevo Dirti Molte Cose". Lagu rock alternatif milik band Velvet, yang cukup eksis tapi sepertinya tidak sepopuler Marco Carta apalagi Laura Pausini. Lagu ini tentu saja saya kenal melalui MTV Italia. Maka esoknya saya langsung meminta Widya mengantar ke toko CD di Stasiun Termini, pusat stasiun metro di Roma. Di sana, yang saya lakukan tentu saja membeli album Velvet dan Laura. 
Saya suka "Dovevo Dirti Molte Cose", yang artinya "Aku Harus Mengatakan Banyak Hal Kepadamu" itu murni karena musiknya. Lha, memangnya saya harus mengatakan banyak hal kepada siapa dalam perjalanan itu? Aspetta. Mungkin kepada Valerio, agar tidak membiarkan saya tersasar berjam-jam di Milano, hikshiks. Berikut lagu-lagu yang terngiang-ngiang di kepala saya dalam sekian perjalanan.

Meksiko, tahun 2000
"I Wanna Be With You" (Mandy Moore)
Kok lagu berbahasa Inggris, bukannya Spanyol yang jadi bahasa ibu di Meksiko dan kawasan Amerika Latin umumnya? Lagu ini berdengung di mana-mana selama saya sebulan berada di Mexico City ketika itu. Di mobil, di pusat perbelanjaan. Lagi ngetop banget dah. Tapi bukan berarti saya ingin bersama seseorang waktu itu. Rombongan cowok yang bersama saya bikin saya ampun-ampunan (sungguh, ampuuun...), aktor telenovela pun menurut saya enggak ada yang menarik, hahaha, parah. Eh, Fernando Colunga dan Jaime Camil menarik, sih, tapi ya sudah, sekian. 

"A 1000 X Hora" (Lynda)
Baca: "A Mil Por Hora". Lagu soundtrack telenovela yang remaja yang tengah disukai saat itu, Primer Amor (A 1000 X Hora), yang dibintangi Kuno Becker - yang kemudian menjadi pemeran utama trilogi Goal! yang ikut melibatkan pesepak bola kenamaan seperti Raúl González, Zinedine Zidane, Iker Casillas, dan Fredrik Ljungberg. (Tunggu. Kalau tahun itu saya ketemu Kuno, saya bisa jadi bakal naksir berat dia, hahaha.) Refrein "A 1000 X Hora" yang mengentak, juga bagian awalnya, "Hay tantos pensamientos que habitan en mi cabeza (Ada banyak pikiran yang menempati kepalaku)," lengket banget di kepala. Jangan sedih jangan bimbang, cuma refrein "a mil... a mil por hora" dan awalan di atas lirik yang saya hafal, hahaha. Saya suka musiknya yang bersemangat. Makanya saya senang banget, sebelum kembali ke Indonesia, Televisa membekali saya album soundtrack telenovela Primer Amor. Meskipun sesungguhnya sampai hari ini saya juga enggak ngerti apa makna "A 1000 X Hora" yang adalah sebuah ungkapan itu, halah.


"Yo Te Amo" (Chayanne)
Kok jadi berderet, ya soundtrack perjalanan saya tahun ini? Lah siapa suruh saya dititipkan sebulan di Meksiko, hehehe. Tiga minggu di sana saya meraung-raung minta pulang, tapi kantor tidak memperbolehkan karena tugas belum selesai. Sudah begitu, masih kudu mengirim tulisan dari sana. Pas lagi mandi, pernah pintu kamar mandi digedor-gedor si Panji Gundul Pacul, "Tulisan lo ditagih sekarang!" Apes. Untungnya Pak Asa, salah satu petinggi KBRI yang ternyata adalah kakak seorang teman, Erich, memperbolehkan saya meminjam salah satu komputer di ruangannya. Yak, balik lagi, "Yo Te Amo" pada akhirnya populer di Indonesia pada 2003, karena menghiasi serial Mandarin yang dahsyat popularitasnya, Meteor Garden 2 - yang beberapa adegannya bertempat di Barcelona, Spanyol. Sebenarnya Chayanne bukan penyanyi asal Spanyol, melainkan Puerto Riko. Jadi kenapa MG2 tidak pakai lagu Alejandro Sanz atau Enrique Iglesias? Tapi "Yo Te Amo" yang artinya "Aku Cinta Kamu" itu (nah, ini lagi, waktu itu aku tidak mencintai siapa-siapa, aku hanya ingin pulaaaaaaanggg) terus hinggap di kepala - gara-gara MTV Latin tentunya. Sampai di Tanah Air, saya jadi kepikiran CD Chayanne dengan "Yo Te Amo" itu dan tertarik mengoleksinya. Untungnya 2 bulan kemudian seorang teman yang saya kenal di Mexico City, Mbak Ratna, pulkam. Jadilah saya menitip CD Simplemente-nya Chayanne.


Meksiko, 2003
"Mala Gente" (Juanes)
Di Mexico City cuma 10 hari dan jadwalnya padat parah - ditunggu di Televisa setiap pagi jam 9 atau 10, baru balik ke hotel jam 10-11 malam - waktu saya memantau MTV Latin sempit. Saya pun tidak memborong bertumpuk CD sebagaimana 3 tahun sebelumnya; yang saya beli cuma Un Día Normal-nya Juanes, Natalia Lafourcade (milik penyanyi bernama sama), dan album lamanya Shakira dan Enrique. Lagu yang nempel banget, apesnya, "Mala Gente"-nya Juanes. Lagu rock yang liriknya enggak banget deh, menyumpah-nyumpah. Eh, tapi saya pernah lho nyumpahin orang pakai refrein lagu ini, wekekek.


Eropa, 2005
"Dovevo Dirti Molte Cose" (Velvet)
No TV di rumah Mama Sandy, jadi no MTV di Paris. Pindah ke Roma, ketemu MTV Italia. Seperti saya tulis di atas, jadilah "Dovevo Dirti Molte Cose" soundtrack jalan-jalan saya di Eropa.

"Barcelona" (Russell Watson featuring Shaun Ryder)
Pero, por supuesto! Tentu saja. Lagu ini yang membuat saya datang jauh-jauh ke Barcelona. Jauh dari Prancis dan Italia, apalagi dari Indonesia. Tapi Barcelona mengejutkan saya. Saya terkejut, banyak banget orang lalu-lalang di Barcelona, sebagian besar turis. Sampai pusing saya dibuatnya. Saya juga terkejut, karena begitu menjauh dari lautan orang itu, saya baru menyadari betapa cantiknya Barcelona. Saya jadi teringat potongan percakapan saya dengan Vicki, wisatawan asal Amerika, di sebuah kafe.
Vicki: Bagaimana menurutmu tentang Barcelona? Baguskah?
Saya (yang pusing dengan keramaian di sana-sini): Menurutku, sih enggak. Barcelona kurang teratur.
Vicki: Oh, kalau menurutku, Barcelona justru sangat teratur. Lihat saja, kantor pariwisatanya sigap memberi segala informasi. (Dan itu adalah BENAR.)
Ya, dalam bus Eurolines yang membawa saya kembali ke Paris, barulah saya menghargai Barcelona. Barcelona yang luar biasa ramai itu tempat yang ramah bagi orang asing seperti saya. Penduduk yang suportif pada wisatawan yang tertarik pada kota mereka, Parc Güell yang cantik, Barri Gòtic yang antik, klub sepak bola yang fanatik, sayang saya tersesat saat mencari Montjuïc, Barcelona adalah tempat yang berkarakter, unik, dan hangat. Pantas orang mengabadikannya dalam lagu yang indah.



Eropa, 2006
"Abrazar La Vida" (Luis Fonsi)
Hasil dari perjalanan tahun lalu, saya getol mencari tahu lagu-lagu berbahasa Italia ditambah Spanyol yang asyik. Salah satu hasilnya memperkenalkan saya kepada penyanyi Puerto Riko bersuara empuk, Luis Fonsi. Karena tahun ini saya tidak mengarah ke Spanyol maupun Italia, saya mencari CD Fonsi, yang mana saja, di Paris. Tapi nihil. Karyawan toko CD sebenarnya menawarkan untuk memesankan dari tempat lain, tapi makan waktu 5 hari; sementara saya bertandang ke Paris 2 hari saja.




Thailand, 2009
"Indietro" (Tiziano Ferro)
No particular reason. Saat itu saya baru saja menerima CD Alla Mia Età-nya Tiziano Ferro dari teman saya di Belanda, Hari. Lalu lagi senang-senangnya mendengarkan salah satu lagu, "Indietro". Satu dari sedikit lagu romantisnya penyanyi favorit saya itu, jadi saya senang mendengarkannya berulang-ulang. Saya ingat banget selalu menyetel lagu ini sebelum tidur, terutama waktu bermalam di Pattaya - habis hotelnya agak creepy hehehe.




Eropa, 2010
"Estate" (Negramaro)
Belum resmi masuk musim panas ketika saya datang lagi. Bahkan meski hampir masuk musim panas, hujan terus mengguyur Eropa. Hujan di Milan, Paris, Munich, angin kencang di Eindhoven. Tapi hati saya tetap bernyanyi. Dan yang saya terus nyanyikan adalah "Estate" (baca: es-ta-te, bukan es-teit!) milik Negramaro, yang artinya "Musim Panas". Itu sesungguhnya lagu rilisan 2005, tapi baru saya kenal. Lagi pula mood-nya cocok dengan suasana yang saya rasakan saat itu: "E il segno di un'estate che vorrei potesse non finire mai." Kurang lebih artinya: "Itulah tandanya sebuah musim panas yang tak pernah ingin kuakhiri." Yah, itu artinya saya keasyikan berlibur. Saya mencari CD yang memuat lagu ini, Mentre Tutto Scorre, di Milan, tapi tidak menemukannya, hiks. Juga tidak menemukan CD-nya Zero Assoluto dan Tony Maiello.


Korea, 2011
Kagak pakai soundtrack! Pasalnya sebelum berangkat, saya bertukar ponsel dengan teman saya si Abeba. Ponsel saya tidak dilengkapi fasilitas 3G, sementara ponsel yang bisa berfungsi di jaringan Korea hanyalah yang 3G. Saya manyun membuka playlist di ponsel teman saya yang minus lagu Italia dan Spanyol. Dan si Abeba juga manyun membuka playlist di ponsel saya yang berisikan nyaris semuanya lagu-lagu Italia dan Spanyol, hahaha. 

Wednesday, June 13, 2012

Provins, Atmosfer Abad Pertengahan

Saya belum pernah benar-benar menulis tentang perjalanan ke Provins, ya? 
Kesempatan berplesir ke Provins datang tak terduga.
Pada hari terakhir April 2005, Sandy tiba-tiba mengejutkan saya dengan pertanyaan, “Mau enggak pergi ke Provins? Kebetulan teman gue, Sam, mau ke sana besok.”
Provins (baca: pro-vang, dengan r sedikit kumur-kumur). Nama yang belum pernah saya dengar. Oh, itu kota tua yang terjaga keaslian dan keasriannya, lokasinya di luar Paris. Naik mobil, kira-kira satu setengah jam mencapainya; naik kereta Transilien dari Paris Est/Gare de l’Est, dengan tiket Paris Visite zona 1-6, sama saja. Ya, Paris bukan hanya berlimpah objek wisata di dalam kotanya. Di dekatnya pun ada saja yang perlu dikunjungi, kalau tidak rugi jauh-jauh ke Paris. Selain Disneyland dan Versailles, ada Provins, cite médievale atau kota dari abad pertengahan, tepatnya dari abad ke-12 dan 13 yang peninggalannya terjaga. Sejak 2001, Provins diakui sebagai pusaka dunia oleh UNESCO.
Akhirnya, pada Minggu pagi, saya dan Ita, teman Sandy yang juga asal Indonesia, ikut Sam bermobil ke Provins. Belum lagi sampai di tujuan, sekali lagi saya dibuat takjub keindahan Prancis. Mobil melintasi pertanian penghasil moster (mustard), saus kuning penyedap rasa hot dog itu lho. Di kanan-kiri jalan bermekaran bunga-bunga moster. Perjalanan kami diiringi lautan bunga kuning! Satu pemandangan baru lagi, langsung membuat saya meminta Sam meminggirkan mobil sejenak untuk foto-foto, hahaha. Untung Sam mau.

***

Tibalah kami di Provins. Kota yang di masa jayanya terkenal dengan arena perdagangan yang melibatkan banyak pedagang hingga dari Italia. Masuk ke Provins, bak masuk ke dunia lain. Atmosfer abad pertengahan telah menyapa melalui gerbang bertinggi lebih 25 meter – yang terus memanjang menjadi benteng hingga 5 km – yang dulunya dibangun demi keamanan penduduk juga para pedagang yang berkumpul di Provins. Baru saja melewati gerbang, saya membatin, Provins is very cute! Rumah-rumah tua berbingkai kayu yang terawat, tidak lapuk dimakan zaman, pemandangan yang menyegarkan mata yang penat disuguhi pusat perbelanjaan mewah dengan objek-objek wisata artifisial.
Untuk mengunjungi Provins, dikenakan tiket masuk. Mengantongi tiket itu, bebas memasuki setiap objek wisata di dalamnya. Khusus untuk pertunjukan khas abad pertengahan - pertunjukan kesatria berkuda, atraksi rajawali, atraksi senjata para kesatria - ada tarif tambahan. Tour César, menara yang merapat ke benteng dan menjadi simbol Provins, pertama kami kunjungi. Fungsinya di masa lalu sebagai penjara, menara pengintai, dan tempat berlindung ketika perang berkobar. Beralih ke Grange aux Dîmes (Tithe Barn), bangunan yang di era perdagangan Provins adalah pasar. Kini sebagai objek wisata, bawah tanah Grange aux Dîmes menjadi lokasi eksebisi aktivitas perdagangan di abad ke-12 dan 13, terwakili antara lain melalui karakter pedagang Italia, pedagang wol, pembuat tembikar, dll.
Setelah melongok bagian dalam Gereja St Quiriace, juga dari abad ke-13, kami mengarah ke Place du Châtel, di mana terpancang Croix des Changes atau tugu bersalib yang dulunya lokasi pembacaan pengumuman penting. Kami menepi di sebuah restoran di seberangnya, melemaskan kaki seraya makan es krim. Setelahnya, Sam mengajak menonton pertunjukan Légende des Chevaliers (Legend of the Knights); tentang penyambutan kembalinya Pangeran Thibaud IV dari Perang Salib, yang diinterupsi teror musuh-musuhnya dalam upaya penaklukan Provins. Memang untuk menonton mesti keluar beberapa euro lagi, tapi tangguuung, besok-besok belum tentu ada yang mau mengajak ke Provins, hehehe.
Pertunjukan Légende des Chevaliers.

Bah, ternyata bahasa pengantar Légende des Chevaliers adalah bahasa Prancis! Ya iyalah, ini Prancis, kali. Jadi, ya beberapa kali saya nginyem karena kecolongan jalan cerita yang dialognya tak saya tangkap, hah. Tapi secara keseluruhan pertunjukan 45 menit itu cukup menghibur, dengan para pemain berkostum ala abad pertengahan dan beberapa leluconnya – yang untungnya, kadang-kadang, masih bisa saya cerna.
Oh ya, sebagai buah tangan, beli produk olahan mawar khas Provins, yang bernama Latin rosa gallica atau dalam bahasa Inggrisnya rose of Provins – mawar ini, katanya, asalnya juga berupa buah tangan Thibaud IV dari perjalanan Perang Salib. Ada sabun mawar, madu mawar, dan kalau berminat mencoba, ada juga es krim rasa mawar! Di Kebun Mawar Provins yang juga mengembangkan banyak varietas mawar lain, mawar Provins merekah berlimpah setiap Mei-Juni.
Keluar dari Provins, hari masih sore. Ya, beberapa jam saja cukuplah untuk menambah 1 kota lagi dalam riwayat perjalanan saya (hore!) dan menambah wawasan tentang abad pertengahan di Prancis. Abad pertengahan yang masih bernapas melalui bangunan, tugu, dan pertunjukannya.

Tuesday, June 12, 2012

Malaikat di Masjid Paris

Terjadi 7 tahun lalu. Saya masih mengingatnya dengan terang. 
Siang itu, tepat di pengujung April 2005, Sandy bertanya apakah saya ingin salat di Masjid Paris (Grande Mosquée de Paris). Sungguh perhatian Sandy. Beneran dia semua yang mengatur jadwal saya di Paris tahun 2005 itu. Saya mah tinggal ngikut….
Karena bukan pemeluk Islam, Sandy menunggu di kafe masjid. Masjid itu punya ruang yang terbuka untuk siapa saja, seperti kafe dan toko suvenir. Toko suvenirnya bahkan menjual suvenir agama lainnya. “Ini caranya merangkul umat agama lain,” bisik Sandy.
Saya sempat gentar masuk ke tempat salat perempuan. Pasalnya, sekumpulan perempuan di sudut ruangan, yang sedang mengaji, berjilbab atau setidaknya berkerudung. Seorang dari mereka, menyadari kecanggungan saya, mengisyaratkan kepada saya untuk masuk.
Selesai salat, saya membereskan mukena berbahan parasut yang gampang dikemas. Saat itulah seorang perempuan yang sepertinya berasal dari Afrika Utara menegur. Dalam bahasa Prancis perempuan bernama Hakima itu bertanya, di mana saya membeli perangkat alat salat yang habis saya pakai. Saya menjelaskan sebisa mungkin, tapi dia tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Bali? Tidak juga. Seorang perempuan berjilbab yang sedari tadi duduk di belakang kami rupanya diam-diam mengikuti percakapan kami. Dia ikut membantu menjelaskan.
Hakima tertarik pada mukena saya. Mulanya saya terpikir untuk membelikan mukena serupa, lalu mengirimkan ke alamatnya di Paris. Tapi, ya Tuhan, pantas Bali saja dia tidak tahu. Hakima meminta perempuan di belakang kami untuk menuliskan alamatnya. Perempuan itu dengan sabar mengabulkan permintaannya. Dia, yang juga fasih berbahasa Inggris, sabar mendampingi saya dan Hakima bernegosiasi, ketika saya berubah pikiran dan memutuskan memberikan saja mukena parasut itu kepada Hakima. Toh untuk salat, saya masih bisa pinjam sarung Sandy dan pakai kerudung.
Berkat jasa perempuan berjilbab itu, saya dan Hakima mencapai kesepakatan: dia terima mukena saya, dan sebagai balasan dia berikan eau de toilette-nya. Saya menolak 5 euro yang disodorkannya tapi tidak eau de toilette, untuk menghormatinya. Selesai bernegosiasi, saya mengucapkan terima kasih kepada perempuan yang membantu kami. Saya bahkan menawarkan mengiriminya mukena, tapi dia tidak pernah menjawabnya. Dia hanya tersenyum.
Saya perhatikan wajahnya yang sederhana, juga kuku-kuku tangannya yang tidak terawat. Walau sederhana, raut wajahnya halus sekali. Sehalus suaranya saat bicara. Belum pernah seumur-umur saya melihat wajah dewasa demikian halusnya. Dia permisi meninggalkan kami duluan. Tidak lama kemudian, giliran saya berpamitan kepada Hakima. Di luar, saya melihat perempuan itu menghentikan langkahnya dan tersenyum kepada saya, sebelum dia melewati gerbang masjid. Entah siapa perempuan itu, karena dia bukanlah teman mengaji Hakima.Mungkin dia iba melihat Hakima, mungkin dia memang ramah, mungkin juga hari itu saya bertemu dengan malaikat.