Kesempatan
berplesir ke Provins datang tak terduga.
Pada
hari terakhir April 2005, Sandy tiba-tiba mengejutkan saya dengan
pertanyaan, “Mau enggak pergi ke Provins? Kebetulan teman gue,
Sam, mau ke sana besok.”
Provins
(baca: pro-vang, dengan r sedikit kumur-kumur). Nama yang belum
pernah saya dengar. Oh, itu kota tua yang terjaga keaslian dan keasriannya, lokasinya di luar Paris.
Naik mobil, kira-kira satu setengah jam mencapainya; naik kereta
Transilien dari Paris Est/Gare de l’Est, dengan tiket Paris Visite
zona 1-6, sama saja. Ya, Paris bukan hanya berlimpah objek wisata di
dalam kotanya. Di dekatnya pun ada saja yang perlu
dikunjungi, kalau tidak rugi jauh-jauh ke Paris. Selain Disneyland
dan Versailles, ada Provins, cite médievale atau kota dari
abad pertengahan, tepatnya dari abad ke-12 dan 13 yang peninggalannya
terjaga. Sejak 2001, Provins diakui sebagai pusaka dunia oleh UNESCO.
Akhirnya,
pada Minggu pagi, saya dan Ita, teman Sandy yang juga asal Indonesia,
ikut Sam bermobil ke Provins. Belum lagi sampai di tujuan, sekali
lagi saya dibuat takjub keindahan Prancis. Mobil melintasi pertanian
penghasil moster (mustard), saus kuning penyedap rasa hot
dog itu lho. Di kanan-kiri jalan bermekaran bunga-bunga moster.
Perjalanan kami diiringi lautan bunga kuning! Satu pemandangan baru
lagi, langsung membuat saya meminta Sam meminggirkan mobil sejenak
untuk foto-foto, hahaha. Untung Sam mau.
***
Tibalah
kami di Provins. Kota yang di masa jayanya terkenal dengan arena
perdagangan yang melibatkan banyak pedagang hingga dari Italia. Masuk
ke Provins, bak masuk ke dunia lain. Atmosfer abad pertengahan telah
menyapa melalui gerbang bertinggi lebih 25 meter – yang terus
memanjang menjadi benteng hingga 5 km – yang dulunya dibangun demi
keamanan penduduk juga para pedagang yang berkumpul di Provins. Baru
saja melewati gerbang, saya membatin, Provins is very cute!
Rumah-rumah tua berbingkai kayu yang terawat, tidak lapuk dimakan
zaman, pemandangan yang menyegarkan mata yang penat disuguhi pusat
perbelanjaan mewah dengan objek-objek wisata artifisial.
Untuk mengunjungi Provins, dikenakan tiket masuk. Mengantongi tiket itu, bebas memasuki setiap objek wisata di dalamnya. Khusus untuk pertunjukan khas abad pertengahan - pertunjukan kesatria berkuda, atraksi rajawali, atraksi senjata para kesatria - ada tarif tambahan. Tour
César, menara yang merapat ke benteng dan menjadi simbol Provins,
pertama kami kunjungi. Fungsinya di masa lalu sebagai penjara, menara
pengintai, dan tempat berlindung ketika perang berkobar. Beralih ke
Grange aux Dîmes (Tithe Barn), bangunan yang di era perdagangan
Provins adalah pasar. Kini sebagai objek wisata, bawah tanah Grange
aux Dîmes menjadi lokasi eksebisi aktivitas perdagangan di abad
ke-12 dan 13, terwakili antara lain melalui karakter pedagang Italia,
pedagang wol, pembuat tembikar, dll.
Setelah
melongok bagian dalam Gereja St Quiriace, juga dari abad ke-13, kami
mengarah ke Place du Châtel, di mana terpancang Croix des Changes
atau tugu bersalib yang dulunya lokasi pembacaan pengumuman penting.
Kami menepi di sebuah restoran di seberangnya, melemaskan kaki seraya
makan es krim. Setelahnya, Sam mengajak menonton pertunjukan Légende
des Chevaliers (Legend of the Knights); tentang penyambutan
kembalinya Pangeran Thibaud IV dari Perang Salib, yang diinterupsi
teror musuh-musuhnya dalam upaya penaklukan Provins. Memang untuk
menonton mesti keluar beberapa euro lagi, tapi tangguuung,
besok-besok belum tentu ada yang mau mengajak ke Provins, hehehe.
![]() |
| Pertunjukan Légende des Chevaliers. |
Bah,
ternyata bahasa pengantar Légende des Chevaliers adalah
bahasa Prancis! Ya iyalah, ini Prancis, kali. Jadi, ya beberapa
kali saya nginyem karena kecolongan jalan cerita yang
dialognya tak saya tangkap, hah. Tapi secara keseluruhan pertunjukan
45 menit itu cukup menghibur, dengan para pemain berkostum ala abad
pertengahan dan beberapa leluconnya – yang untungnya,
kadang-kadang, masih bisa saya cerna.
Oh ya,
sebagai buah tangan, beli produk olahan mawar khas Provins, yang
bernama Latin rosa gallica atau dalam bahasa Inggrisnya rose
of Provins – mawar ini, katanya, asalnya juga berupa buah
tangan Thibaud IV dari perjalanan Perang Salib. Ada sabun mawar, madu
mawar, dan kalau berminat mencoba, ada juga es krim rasa mawar! Di
Kebun Mawar Provins yang juga mengembangkan banyak varietas mawar
lain, mawar Provins merekah berlimpah setiap Mei-Juni.
Keluar
dari Provins, hari masih sore. Ya, beberapa jam saja cukuplah untuk
menambah 1 kota lagi dalam riwayat perjalanan saya (hore!) dan
menambah wawasan tentang abad pertengahan di Prancis. Abad
pertengahan yang masih bernapas melalui bangunan, tugu, dan
pertunjukannya.

No comments:
Post a Comment