Siang
itu, tepat di pengujung April 2005, Sandy bertanya apakah saya ingin
salat di Masjid Paris (Grande Mosquée de Paris). Sungguh perhatian Sandy. Beneran
dia semua yang mengatur jadwal saya di Paris tahun 2005 itu. Saya mah
tinggal ngikut….
Karena
bukan pemeluk Islam, Sandy menunggu di kafe masjid. Masjid itu punya
ruang yang terbuka untuk siapa saja, seperti kafe dan toko suvenir.
Toko suvenirnya bahkan menjual suvenir agama lainnya. “Ini caranya
merangkul umat agama lain,” bisik Sandy.
Saya
sempat gentar masuk ke tempat salat perempuan. Pasalnya, sekumpulan
perempuan di sudut ruangan, yang sedang mengaji, berjilbab atau
setidaknya berkerudung. Seorang dari mereka, menyadari kecanggungan
saya, mengisyaratkan kepada saya untuk masuk.
Selesai
salat, saya membereskan mukena berbahan parasut yang gampang dikemas.
Saat itulah seorang perempuan yang sepertinya berasal dari Afrika
Utara menegur. Dalam bahasa Prancis perempuan bernama Hakima itu
bertanya, di mana saya membeli perangkat alat salat yang habis saya
pakai. Saya menjelaskan sebisa mungkin, tapi dia tidak tahu apa-apa
tentang Indonesia. Bali? Tidak juga. Seorang perempuan berjilbab yang
sedari tadi duduk di belakang kami rupanya diam-diam mengikuti
percakapan kami. Dia ikut membantu menjelaskan.
Hakima
tertarik pada mukena saya. Mulanya saya terpikir untuk membelikan
mukena serupa, lalu mengirimkan ke alamatnya di Paris. Tapi, ya
Tuhan, pantas Bali saja dia tidak tahu. Hakima meminta perempuan di
belakang kami untuk menuliskan alamatnya. Perempuan itu dengan sabar
mengabulkan permintaannya. Dia, yang juga fasih berbahasa Inggris, sabar mendampingi saya dan Hakima bernegosiasi, ketika saya
berubah pikiran dan memutuskan memberikan saja mukena parasut itu
kepada Hakima. Toh untuk salat, saya masih bisa pinjam sarung Sandy
dan pakai kerudung.
Berkat
jasa perempuan berjilbab itu, saya dan Hakima mencapai kesepakatan:
dia terima mukena saya, dan sebagai balasan dia berikan eau de
toilette-nya. Saya menolak 5 euro yang disodorkannya tapi tidak
eau de toilette, untuk menghormatinya. Selesai bernegosiasi,
saya mengucapkan terima kasih kepada perempuan yang membantu kami.
Saya bahkan menawarkan mengiriminya mukena, tapi dia tidak pernah
menjawabnya. Dia hanya tersenyum.
Saya
perhatikan wajahnya yang sederhana, juga kuku-kuku tangannya yang
tidak terawat. Walau sederhana, raut wajahnya halus sekali. Sehalus
suaranya saat bicara. Belum pernah seumur-umur saya melihat wajah
dewasa demikian halusnya. Dia permisi meninggalkan kami duluan. Tidak
lama kemudian, giliran saya berpamitan kepada Hakima. Di luar, saya melihat perempuan itu menghentikan langkahnya dan tersenyum
kepada saya, sebelum dia melewati gerbang masjid. Entah siapa
perempuan itu, karena dia bukanlah teman mengaji Hakima.Mungkin dia iba melihat
Hakima, mungkin dia memang ramah, mungkin juga hari itu saya
bertemu dengan malaikat.
No comments:
Post a Comment